
Pagi-pagi sekali Radit sudah mendapat panggilan dari mamanya. Bu Risna menelpon Radit dan memintanya untuk mengantarnya ke Desa Xx untuk menjeguk saudara ibunya yang sedang sakit parah. Pak Rahmat sedang sibuk, jadi ia tidak sempat mengantar istrinya kesana. Pak Rahmat lalu menyuruh istrinya untuk meminta anak laki-laki mereka satu-satunya yang mengantarnya kesana.
Dengan berat hati Radit meninggalkan rumah yang ditempatinya beristirahat semalaman. Sebenarnya, Radit sangat tidak rela meninggalkan rumah itu karena Miko masih ada disana. Ia masih ingin sekali tetap berada disana, menjaga dan melindungi gadis kesayangannya dari gangguan seseorang yang ia beri gelar Pepacor. Tapi apalah daya, titah sang mama tidak bisa dibantah. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, ia harus tetap menuruti perintah dari sang ibunda.
Tania mengantar kepulangan Radit sampai dihalaman depan rumahnya. Sebelum Radit pergi, ia berkali-kali berpesan pada kekasihnya itu.
"Sayang, kamu jangan nakal, yah! Jaga diri, jaga mata, dan jaga hati saat aku nggak ada disamping kamu." pesan Radit pada Tania.
"Iya, bawel." jawab Tania seraya tersenyum.
"I love you." ucap Radit sembari membalas senyum Tania.
Ingin sekali rasanya Radit memeluk erat dan mencium gadis kesayangannya itu sebelum ia pergi. Tapi ia tidak melakukannya karena ia takut Tania akan marah lagi padanya. Ia harus bersabar menunggu sampai mereka benar-benar menjadi kekasih yang halal. Ia hanya harus bersabar menunggu sebentar lagi karena ia yakin kalau Tania tidak akan memberikan jawaban yang mengecewakan kali ini.
"Love you too." balas Tania.
Radit pun segera tancap gas menuju rumahnya. Setelah Radit hilang dari pandangan Tania, barulah Tania beranjak hendak masuk kedalam rumah. Ia melihat Miko sedang duduk sendiri diteras rumahnya. Entah sejak kapan laki-laki itu ada disana. Yang jelas, belum ada siapa-siapa disana saat ia dan Radit keluar tadi.
"Aku rasa ini adalah waktu yang tepat. Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk mengembalikan dompet pemberian Kak Miko waktu itu." batin Tania.
Tania pun segera berjalan masuk kedalam kamarnya. Ia mengambil sebuah paper bag berukuran sedang didalam lemarinya. Paper bag tersebut berisi sebuah kotak yang isinya adalah dompet bermerek hadiah yang diberikan oleh Miko waktu itu pada Tania saat mereka ada di bandara.
Tania melangkah keluar menuju teras depan rumah dimana Miko sedang berada disana saat itu.
"Kak Miko!" Panggil Tania pelan.
"Hm, iya." jawab Miko sembari menoleh ke arah Tania.
Miko merasa sangat senang didalam hatinya karena akhirnya Tania mau menyapanya. Sebab dari kemarin, semenjak ada Radit, Tania tidak pernah menyapanya sekali pun.
"Akuuuu, mau ngembaliin ini, Kak." ucap Tania sembari meletakkan paper bag itu di atas meja depan Miko.
"Loh, kenapa? Bukannya waktu itu kamu sudah janji mau menerimanya?" tanya Miko.
Miko merasa kecewa karena Tania selalu menolak pemberiannya. Sebelumnya ia sudah senang karena Tania sudah mengiyakan akan menerima hadiah tersebut. Tapi kenapa Tania malah mau mengembalikannya lagi? Pikir Miko.
"Maaf Kak, aku berubah pikiran. Aku nggak mau Radit marah lagi sama aku kalo sekiranya Radit melihat hadiah ini dan tau kalo ini dari Kak Miko." jawab Tania jujur sembari menunduk karena merasa sedikit tidak enak pada Miko.
"Oh, jadi semua ini gara-gara bocah ingusan itu lagi." batin Miko sembari mendengus kasar.
"Tania, aku pantang menerima kembali barang yang sudah aku berikan pada orang lain." jelas Miko.
"Tapi Kak, aku beneran nggak bisa menerima hadiah ini. Hadiah ini terlalu mahal," ucap Tania.
Miko begitu berharap gadis itu mau menerima dan menghargai pemberiannya.
"Tapi maaf Kak Miko, aku bukannya nggak menghargai pemberian Kak Miko. Tapi aku benar-benar nggak bisa menerima hadiah ini. Sekali lagi, aku minta maaf," ucap Tania seraya menunduk.
"Aku kan sudah bilang, aku pantang menerima kembali barang yang sudah aku berikan pada orang lain." jelas Miko mencoba menekankan ucapannya agar Tania mau mengerti.
Tiba-tiba, Tantri muncul dari dalam dan menyambar paper bag itu. Ternyata Tantri mendengar pembicaraan mereka dari tadi.
"Apaan sih, nolak mulu dari tadi. Sini, hadiahnya buat aku aja yah Kak Miko." ucap Tantri.
"Tantri, balikin nggak. Sini!" seru Tania.
"Ih, tunggu sebentar Kak! Aku kan juga penasaran pengen liat apa isinya." balas Tantri seraya membuka kotak itu dengan cepat.
"Wow dompet Chanel guys. Cantik banget, pasti mehong," ucap Tantri terpesona dengan isi kotak itu.
"Balikin nggak, itu punyanya Kak Miko tau." kata Tania pada Tantri.
"Bukan, itu bukan punyaku. Aku sudah memberikannya pada Tania." ujar Miko.
"Kalo begitu, dompet ini buat aku aja yah Kak Miko. Soalnya Kak Tania juga nggak mau nerima." ujar Tantri.
"Jangan! Kalau kamu mau, aku bisa membelikan apapun yang kamu mau sepuasnya. Tapi tolong, kembalikan dompet itu pada Tania." jelas Miko.
"Benarkah?" tanya Tantri ingin memastikan kalau Miko benar-benar serius dengan ucapannya.
"Iya, aku serius. Ayo kembalikan pada Tania sekarang juga," jawab Miko.
Tantri pun kemudian mengembalikan dompet itu pada Tania. Tapi Tania si keras kepala tetap bersikeras tidak mau menerimanya.
"Yah sudah, kalau kamu tetap tidak mau menerimanya. Begini saja, kamu berikan saja dompet itu pada Tante Indah." putus Miko kemudian.
Miko sudah menyerah dengan sikap keras kepala Tania. Ia juga tidak mungkin memaksa seseorang untuk menerima hadiah pemberiannya karena jelas-jelas orang tersebut memang tidak mau menerima hadiah darinya sama sekali.
"Kak Miko, aku mau dibeliinnya nanti yah. Pokoknya aku nggak mau tau, sepulang sekolah nanti, Kak Miko harus bawa aku ke mall." tegas Tantri.
Tantri sudah tidak sabar ingin berbelanja di mall dan memilih barang-barang yang ia suka. Anak itu memang sedikit materialistis, berbanding terbalik dengan kedua kakak perempuannya.
"Iya, iya. Kabari aku kalau kamu sudah pulang sekolah, nanti aku jemput." balas Miko.
"Oke Kak! Aku berangkat ke sekolah dulu yah. Dah," pamit Tantri. Ia pun lalu meluncur ke sekolah menggunakan skuter matic kesayangannya.