How To Love You

How To Love You
Bab 190



"Kayaknya aku mendengar suara mesin mobil, Kak Hendra deh. Tadi kayaknya mobilnya berhenti di depan rumah, tapi kok sekarang malah jalan lagi." batin Tania yang sedang menyapu diruang tamu rumahnya. Ia pun kemudian menyandarkan sapu yang sedang ia gunakan untuk bersih-bersih di sofa. Ia lalu berjalan menuju ke arah pintu. Ia ingin mengecek apa itu benar mobil kakak iparnya atau bukan.


"Benar, itu mobil Kak Hendra. Tapi mereka kok nggak mampir, padahal mereka udah berhenti tadi." batin Tania bingung saat melihat mobil Hendra mulai menjauh dari tempat itu. Ia yakin kalau kakak dan kakak iparnya lah yang ada didalam mobil itu. Ia belum melihat tulisan yang ditempel suaminya dibagian depan pintu rumah mereka.


Tania menutup pintu rumahnya setelah mobil putih itu hilang dari pandangannya. Ia lalu kembali melanjutkan pekerjaan bersih-bersihnya yang tadi sempat ia tinggalkan sebentar. Setelah semua pekerjaannya beres, ia pun menghampiri Radit yang sedang duduk di sofa sambil bermain game di smartphonenya.


"Sayang!" panggil Tania lalu duduk di sofa disamping Radit.


"Iya, sayang. Ada apa?" tanya Radit sambil meletakkan ponselnya disamping pahanya. Ia berhenti bermain game saat melihat istrinya datang menghampiri.


"Tadi waktu aku nyapu diruang tamu, aku dengar mobil Kak Hendra berhenti di depan rumah kita. Nah, aku nungguin nih mereka minta dibukain pintu. Eh nggak taunya, nggak lama kemudian mobil mereka jalan lagi. Kira-kira kenapa yah mereka nggak jadi mampir?"


"Mungkin mereka sedang buru-buru, sayang. Makanya mereka nggak sempat mampir ke rumah kita," ucap Radit memberikan jawaban yang masuk akal pada istrinya.


"Aku yakin, mereka pasti membaca tulisan yang aku tempel didepan pintu, makanya mereka nggak jadi mampir. Tulisan itu ampuh juga ternyata." batin Radit sambil tersenyum didalam hatinya.


"Tapi aneh loh, sayang karena mobil mereka sempat berhenti tepat didepan rumah kita tadi. Nggak mungkin kan mereka menyangka kalau kita nggak ada dirumah makanya mereka mengurungkan niat untuk mampir kesini." ujar Tania yang masih tidak habis pikir.


"Sayang, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Radit mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan istrinya karena ia tahu semua jawabannya. Ia tidak mengatakan yang sebenarnya karena takut istrinya akan marah padanya gara-gara kelakuan konyolnya itu.


"Iya, semuanya sudah beres. Kenapa?" jawab Tania.


"Ayo kita naik ke kamar!" ajak Radit sembari menyunggingkan senyuman termanisnya.


"Ngapain dikamar jam segini? Kita aja belum 2 jam bangun tidur loh, sayang." kata Tania.


"Yah nggak apa-apa, sayang. Pengantin baru seperti kita memang lebih banyak menghabiskan waktunya berduaan didalam kamar selama berhari-hari. Kita kan nggak pergi berbulan madu. Jadi, sebagai gantinya kita bulan madu dirumah aja, didalam kamar. Bagaimana sayang?" cerocos Radit sambil menaik turunkan alisnya.


"Ish, dasar genit!" ucap Tania malu-malu sambil mencubit lengan suaminya. Radit pun menarik tangan istrinya berjalan menuju tangga hendak naik ke kamar mereka. Tania hanya mengikuti langkah Radit kemana suaminya itu membawanya.


***


Kediaman Pak Rudi dan Keluarga


Tantri sedang mencuci di kamar mandi, sedangkan Miko menungguinya di meja makan. Pak Rudi dan Bu Indah sedang pergi ke sawah. Sedangkan Tama sedang mengurus rencana pernikahannya dengan Dewi yang ingin segera mereka selenggarakan dalam waktu dekat.


"Om Rudi sama Tante Indah kemana,Tri?" tanya Miko setelah menyeruput kopi yang sudah dibuatkan oleh Tantri sebelum gadis itu mencuci pakaiannya.


"Menanam padi?"


"Iya, karena sekarang lagi musim hujan jadi cocok untuk menanam padi," jelas Tantri.


"Oh begitu. Jam berapa mereka pulang nanti?" tanya Miko. Mumpung ia lagi berkunjung ke rumah orang tua Tantri, ia ingin melakukan pendekatan dengan calon mertuanya di masa depan, pikirnya.


"Biasanya kalo lagi musim tanam begini, Ayah sama ibu pulangnya sebelum maghrib." jawab Tantri.


"Hah, kenapa bisa begitu? Lalu dimana mereka makan dan beristirahat?" tanya Miko takjub sekaligus terkejut.


"Yah emang gitu. Kan ada rumah-rumah sawah, Kak. Jadi, mereka istirahatnya disana," jelas Tantri.


"Oh, Sawahnya jauh tidak,"


"Nggak juga, Kak. Kalo lewat belakang rumah mungkin sekitar 1 Km dari sini. Kalo lewat jalan tani agak jauh, mungkin sekitar 3 Km lebih dari sini." jelas Tantri.


"Oh begitu. Nanti setelah cucianmu kelar, ayo kita jalan-jalan ke sawah!"


"Hah?! Kak Miko yakin, jam segini?"


"Yakin lah. Memangnya kenapa?"


"Di sawah tuh jam segini terik banget, Kak, panas banget tau. Kulit, Kak Miko bisa terbakar nanti,"


"Tidak apa-apa. Paling seminggu sudah balik lagi seperti semula,"


"Yah udah. Terserah, Kak Miko aja."


Beberapa saat kemudian, pekerjaan Tantri sudah selesai. Ia pun segera masuk kedalam kamarnya untuk mengambil sweater didalam lemarinya. Tidak lupa juga ia mengambil satu buah jaket berukuran besar miliknya untuk dipakai oleh Miko.


"Pakai ini dulu, Kak," kata Tantri sambil menyodorkan jaket berwarna baby pink ke arah Miko.


"Apa ini?" tanya Miko sambil mengeryitkan keningnya. Dari warnanya saja sudah membuatnya enggan untuk memakainya.


"Jaket."