
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
Radit terbahak melihat Tania yang ketakutan. Ia berhasil mengerjai Tania yang keras kepala itu.
"Hahaha." Radit tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Ia sudah kembali ke posisi duduknya semula.
Tania menghentikan tangisannya karena heran dengan sikap Radit yang tiba-tiba menertawainya.
"Kenapa tertawa." tanya Tania heran sambil mengusap air matanya yang sempat lolos tadi.
"Hahaha. Kamu lucu sekali Nia." jawab Radit.
"Lucu kenapa?" tanya Tania lagi semakin heran. Ia tidak mengerti kenapa Radit menertawainya.
"Apa yang tadi kamu pikirkan? Memangnya kamu pikir aku mau melakukan apa padamu, hah?" tanya Radit sambil masih tertawa.
"Bukannya kamu mau melakukan 'itu' padaku." jawab Tania.
"Aku nggak nyangka Nia, Hahaha." Radit tidak sanggup menyelesaikan ucapannya.
"Nggak nyangka gimana maksud kamu?" tanya Tania heran. Kini dia sudah melupakan ketakutan dan kekhawatirannya tadi.
"Aku nggak nyangka kalau kamu pandai berpikiran mesum juga. Buahahaha." ujar Radit. Tawanya semakin menjadi-jadi, sampai-sampai air matanya menetes diujung matanya. Tidak tahu kenapa ia merasa sangat senang karena berhasil mengerjai gadis keras kepala itu.
"Kurang ajar." Tania melempar Radit dengan kotak tissu yang ada di dashboard mobil. Ia sangat kesal, marah bercampur malu mendengar ucapan Radit.
"Iya. Maaf maaf." ucap Radit seraya berusaha menghentikan tawanya.
Tania cemberut sambil melipat kedua tangannya didada.
"Kamu masih marah padaku?" tanya Radit memastikan.
"Auu." jawab Tania ketus sambil menatap kearah jendela.
"Oh. Jadi malam ini kita bermalam disini aja yah." canda Radit menggoda Tania.
"Eh, jangan." ucap Tania cepat.
"Aku udah nggak marah lagi kok. Ayo kita pulang sekarang." imbuh Tania.
"Iya beneran. Hiii." jawab Tania sambil mengulas senyum paksa dibibirnya.
"Baiklah. Sebelum aku melajukan mobilnya, aku ingin kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur." jelas Radit sambil mengatur kursinya seperti semula.
"Apa itu?" tanya Tania.
"Ada hubungan apa kamu sama Yuda?" tanya Radit penasaran.
"Aku aku nggak ada hubungan apa-apa kok sama Kak Yuda." jawab Tania.
"Nggak ada hubungan? Lalu kenapa tadi kamu memintaku untuk menjelaskan semuanya pada Yuda? Apa kamu menyukainya?" tanya Radit.
Tania mengangguk. Ia memang sudah menyukai Yuda sejak ia masih siswi baru di SMK.
Radit sangat kecewa melihat jawaban Tania. Ia tidak rela melihat gadis yang ia cintai menyukai orang lain. Apalagi orang yang disukai gadis itu adalah Yuda. Radit tahu Yuda itu laki-laki yang seperti apa. Yuda seorang fuc*k boy yang suka mengambil mahkota para gadis yang berhasil jadi mangsanya. Setelah mengambil apa yang ia mau, ia enggan untuk bertanggung jawab.
"Jangan. Dia nggak pantas untuk kamu." ucap Radit kesal bercampur cemburu.
"Kenapa? Kak Yuda orang baik, jadi nggak ada salahnya kan aku menyukainya. Dan sepertinya dia juga menyukaiku." balas Tania seraya tersenyum.
"Kalau aku bilang jangan yah jangan. Nia, kamu belum tahu aja. Yuda itu cowok brengs*k, dia suka menodai wanita dan parahnya lagi dia nggak mau bertanggung jawab. Sudah banyak gadis polos yang menjadi korbannya, aku nggak mau kamu jadi salah satunya. Aku nggak rela Nia, aku nggak rela." ucap Radit dengan nada tinggi. Ia mencoba menekankan ucapannya agar Tania bisa mengerti.
"Ah nggak mungkin Kak Yuda seperti itu. Aku sudah lama kenal sama dia. Dia itu cowok yang sangat baik dan bahkan sangat perhatian." bela Tania.
"Nia. Kamu ini benar-benar kepala batu yah kalau dibilangin. Kalau aku bilang jangan yah jangan." Radit semakin kesal menghadapi Tania. Ia semakin bingung, bagaimana cara menjelaskan pada gadis itu agar dia mau percaya.
"Bilang aja kamu cemburu." gumam Tania.
"Iya. Aku memang cemburu. Asal kamu tahu, meskipun kamu pernah menolakku 5 tahun yang lalu, tapi aku masih menyukaimu sampai sekarang. Tapi bukan karena itu aku melarangmu menyukai Yuda, apalagi sampai dekat-dekat dengannya. Kamu hanya belum tahu aja, Yuda itu cowok seperti apa. Karena mata kamu sudah ditutupi dengan kebaikan dan perhatian palsu dari Yuda, yang mana setiap gadis yang ia perlakukan seperti itu pasti akan klepek-klepek." cerocos Radit.
Tania tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mengingat kalau Radit memang pernah menyatakan perasaannya pada dirinya. Tapi dia menolak karena ia sendiri tidak memiliki perasaan apa-apa pada Radit. Ia pikir Radit sudah mengubur dalam-dalam perasaan itu. Mengingat kejadian itu sudah lumayan lama saat mereka masih sama-sama SMP. Ia pikir cinta Radit padanya hanya sekedar cinta monyet belaka karena waktu itu mereka masih sama-sama ABG. Tania baru saja berulang tahun yang ke 13 waktu itu sedangkan Radit baru berusia 15 tahun. Ternyata anggapannya salah, Radit masih belum bisa melupakannya. Dan sampai sekarang Radit masih menyimpan rasa yang sama untuknya.
"Nia. Cepat atau lambat kamu pasti akan tahu, siapa yang benar-benar tulus mencintaimu dan siapa yang enggak." ucap Radit seraya menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan mobilnya menyusuri jalan pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Setelah mobil Radit sampai didepan rumah Tania,
"Makasih." ucap Tania seraya melepas safety belt lalu turun dari mobil tanpa menoleh ke arah Radit sekalipun.
Radit hanya geleng-geleng kepala sambil mendengus kesal melihat sikap Tania padanya. Setelah Tania hilang ditelan pintu, barulah ia melajukan mobilnya pulang kerumahnya yang letaknya tidak jauh dari situ.