How To Love You

How To Love You
Bab 209



Miko dan Tantri sudah kembali ke rumah sebelum adzan zhuhur berkumandang. Usai shalat zhuhur, Tantri segera turun ke lantai dasar untuk membantu yang lainnya menyiapkan segala kebutuhan yang perlu di persiapkan untuk menyambut teman-teman arisan Bu Melda.


Pukul setengah lima sore, acara arisan Bu Melda dan teman-temannya pun akhirnya selesai. Acaranya berlangsung dengan sangat lancar. Acara itu diikuti oleh para ibu-ibu sosialita yang berasal dari kalangan atas seperti Bu Melda. Semuanya istri konglomerat. Mereka itu istri-istri dari partner bisnis Pak Afdal. Beberapa di antara mereka datang bersama anak gadis mereka. Mereka ingin mengenalkan anaknya pada anak si pemilik rumah yang kabarnya sudah kembali ke rumah setelah bertahun-tahun minggat.


Sementara Tantri sedang sibuk membantu Bi Lastri dan yang lainnya bersih-bersih. Bu Melda memutuskan untuk menghampiri anaknya dikamarnya di lantai atas. Ia ingin mengajak Miko berbicara mengenai sesuatu hal yang mengganjal dihatinya dan dihati suaminya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Bu Melda melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Miko. Ia melihat Miko sedang sibuk didepan laptopnya. Bu Melda hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anaknya yang masih sibuk bekerja meskipun dihari libur.


"Miko!" panggil Bu Melda.


"Eh, iya, Ma. Ada apa?" jawab Miko seraya memutar kursinya menghadap ke arah mamanya.


"Kamu ini sibuk terus dihari libur. Bagaimana mama bisa punya menantu kalau kamu sibuk bekerja terus?" tanya Bu Melda seraya duduk dipinggir tempat tidur tepat didepan anaknya. Miko hanya menyunggingkan senyum mendengar ucapan mamanya.


"Mik! Tadi kamu sudah berkenalan dengan anak gadis teman Mama, kan. Siapa tahu kamu naksir salah satu dari mereka."


"Ck, Ma! Miko nggak mau dijodoh-jodohin. Miko bisa kok cari calon sendiri."


"Calon apa? Sampai sekarang saja kamu masih sendiri. Kalau kamu naksir salah satu diantara mereka tadi, Mama bisa mengurus pertunangan atau bahkan pernikahan kalian secepatnya."


"MA!" Miko sedikit meninggikan suaranya. Seketika ia dibuat kesal mendengar ucapan mamanya barusan.


"Sepertinya anak teman Mama yang namanya si Anggun itu naksir sama kamu, Mik. Apa kamu nggak mau Mama jodohin sama dia? Dia gadis yang sangat cantik. Dia pasti sangat cocok kalau disandingkan sama kamu," ujar Bu Melda. Ia sedang berusaha memancing putranya agar supaya putranya itu mau mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya bahwa saat itu ia sedang menyukai seorang gadis.


"Itu loh tadi yang pakai gaun warna hijau botol. Bagaimana menurutmu gadis itu, Mik?" tambahnya lagi membuat anaknya semakin jengkel.


"Yang mana, Ma? Yang Miko liat cuma Tantri. Nggak ada cewek lain."


Miko tidak sadar kalau ia membuka kartunya sendiri dan itu membuat Bu Melda yakin akan kecurigaannya selama ini.


"Sepertinya putraku benar-benar menyukai gadis itu," batin Bu Melda.


"Eh, mm ... maksudnya, eh maksud Miko," Miko jadi salah tingkah didepan mamanya. Ia juga tidak tahu harus menjawab apa.


"Miko! Mama ingin bertanya satu hal sama kamu. Apa saat ini kamu sedang menyukai seorang gadis? Kenapa kamu menolak untuk dijodohkan?" tanya Bu Melda ingin memastikan. Ia menunggu anaknya untuk mengatakan bahwa anaknya itu menyukai Tantri.


Miko hanya terdiam. Ia takut mengakui kalau ia menyukai gadis yang tinggal disebelah kamarnya. Ia takut mamanya tidak setuju dan mengusir Tantri pergi dari rumah mereka.


"Nggak ada, Ma." Miko terpaksa berbohong untuk melindungi gadis pujaan hatinya.


"Serius kamu?" Miko menjawabnya dengan anggukan.


"Kalau begitu, Mama akan menjodohkan kamu dengan seorang gadis."


"Ma! Miko nggak mau dijodoh-jodohin, Ma. Miko ini sudah dewasa dan bisa mencari pendamping hidup sendiri."


"Kamu menurut saja apa kata orang tua, Mik. Mama sama Papa tau yang terbaik buat kamu. Dan kami yakin kamu pasti akan bahagia."


"Ma! Tapi Miko nggak mau dijodohin. Miko nggak suka," tegas Miko dengan penuh penekanan.


"Diam kamu, Mik. Mama nggak suka dibantah. Mama sama Papa sudah memilihkan sendiri calon buat kamu. Dan kami yakin kalau kamu pasti akan setuju tanpa perlu kami paksa."


"Tapi, Ma," Miko merasa tubuhnya seketika lemas tak berdaya. Ia tidak bisa membayangkan kehidupannya kedepannya tanpa gadis yang mengisi hari-harinya beberapa bulan terakhir. Lebih baik ia membujang sampai tua daripada ia harus bersanding dengan wanita lain, pikirnya.


"Tidak ada tapi-tapi. Mama sama Papa sangat yakin kalau kamu tidak akan menolak Tantri untuk dijodohkan sama kamu."


"Apa, Ma? Tantri? Miko nggak salah dengar, kan? Miko lagi nggak mimpi, kan?" tanya Miko tidak percaya. Seketika wajah sendunya berubah menjadi sumringah. Ia tidak bisa menyembunyikan binar-binar kebahagiaan yang terpancar diwajahnya.


"Kenapa? Kamu masih mau menolak Tantri juga?"


"NGGAK!" spontan Miko menutup mulutnya sendiri. Bagaimana mungkin ia begitu tidak tahu malu didepan mamanya sendiri. Bu Melda tergelak melihat tingkah malu-malu dari putra bungsunya itu.