How To Love You

How To Love You
Bab 50



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


Sekarang Tasya sudah selesai perawatan. Butuh waktu berjam-jam hingga semua rangkaian perawatan selesai dilakukan. Tasya sudah lengkap kembali dengan hijabnya. Ia membangunkan Hendra yang ketiduran karena menunggunya lumayan lama.


"Sayang. Sayang bangun." panggil Tasya membangunkan Hendra sambil menyentuh pipi Hendra dengan lembut.


"Eh, sudah selesai sayang?" tanya Hendra yang kaget karena dibangunkan.


"Iya sayang sisa pembayaran." ujar Tasya.


Hendra pun bangun dan menuju kasir.


"Berapa semuanya mba?" tanya Hendra seraya mengambil dompetnya di saku celananya.


"Semuanya Rp 2.×××.××× mas." jawab kasir salon.


Hendra mengeluarkan sejumlah uang tunai sesuai jumlah yang disebutkan kasir tersebut.


"Alamak itu gaji aku dua bulan di toko dulu. Apakah cantik harus semahal itu?" batin Tasya.


"Sayang. Ayo kita pulang." ajak Hendra lalu merangkul bahu istrinya berjalan keluar menuju mobil.


Dalam perjalanan pulang mereka singgah membeli makanan untuk makan malam mereka. Karena dari tadi mereka sudah keroncongan. Sesampainya dirumah, Tasya memindahkan makanan itu dipiring setelah memasukkan barang-barang belanjaannya yang perlu dimasukkan kedalam kulkas.


"Sayang. Ayo makan!" ujarnya memanggil Hendra yang sedang asyik bermain dengan si Puss. Kucing yang mereka ambil di jalanan tadi siang.


Mereka pun makan bersama seperti biasa. Satu piring berdua dan saling suap. Sisa makanannya mereka berikan pada Puss setelah mereka kenyang.


"Makan yang banyak yah Puss, agar kamu cepat besar." ucap Tasya sambil mengelus-elus kucing kecil yang sedang makan itu.


"Sayang ayo kita naik ke kamar." ajak Hendra.


Mereka pun naik bersama setelah menyimpan Puss di kardusnya kembali.


"Sayang. Aku mau mandi dulu. Kamu bersiap-siaplah, aku ingin memangsamu." goda Hendra dengan senyum nakalnya lalu masuk ke kamar mandi.


Wajah Tasya berubah jadi merah. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena tidak mungkin ia menolak keinginan suaminya.


"Jangan lupa ganti bajumu dengan baju tidur yang sudah ku siapkan untukmu." imbuhnya setelah berada di ambang pintu kamar mandi. Ia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal.


"Apa? Aku harus memakai baju tidur memalukan itu sekarang!" batin Tasya. Wajahnya semakin bersemu merah.


"Yah sudahlah. Untuk apa juga aku harus malu. Toh dia juga sudah sering melihatnya." batinnya lagi. Lalu segera mengambil satu buah baju tidur berwarna merah hati lalu mengganti bajunya dengan baju tidur itu.


Tasya melihat pantulan dirinya di cermin setelah mengenakan baju tidurnya. Ia memperhatikan dirinya yang sudah berubah jadi semakin cantik setelah pulang dari salon.


"Wah, orang-orang di salon itu benar-benar mengubahku jadi semakin cantik. Kulitku terasa semakin halus dan lembut. Dan rambut ku juga seperti rambut artis-artis korea. Hehe. Kukuku pun terlihat indah dan bersih." ujarnya tersenyum sambil berputar-putar di depan cermin.


"Aku beruntung sekali mendapatkan suami seperti kak Hendra. Yaa Allah terima kasih telah memberiku jodoh sebaik kak Hendra. Dan, aku mohon ya Allah titipkan perasaan cinta yang besar dihatiku untuknya." pinta Tasya sambil masih berdiri di depan cermin.


Hendra keluar dari kamar mandi sambil bersiul-siul memegang handuk sambil mengeringkan rambutnya. Ia melihat Tasya sedang berdiri di depan cermin yang sudah siap dengan baju tidur seksinya.


"Maa syaa Allah cantiknya istriku. Sungguh indah ciptaanmu yaa Allah." batinnya terpesona melihat istrinya yang sudah berubah jadi semakin cantik dan seksi.


Hendra tidak sengaja menjatuhkan handuk ditangannya. Ia segera menghampiri istrinya dengan sesuatu yang sudah menonjol dibalik handuk yang ia lilitkan di pinggangnya.


"Yah ampun dia mendekat. Dia mendekat. Tenang Tasya tenang. Dia suamimu."  batin Tasya. Ia berusaha menenagkan dirinya karena jantungnya berdebar sangat kencang.


"Sa sayang. Kenapa tidak mengeringkan rambutmu dulu. Lantainya kan jadi basah." ujar Tasya. Ia mencoba mengatasi kegugupannya.


"Aku sudah tidak sempat sayang. Kamu sangat mempesona, dan sangat menggodaku. Aku jadi tidak kuasa mengendalikan diriku. Kamu terlihat semakin cantik sayang." kata Hendra lalu memeluk pinggang Tasya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


"Sa sayang. Ini semua berkat kamu. Kamu yang mengubahku menjadi seperti ini. Terima kasih sayang." ujar Tasya gugup sambil meletakkan kedua tangannya didada Hendra yang bidang. Ia masih merasa deg-degan.


Hendra tersenyum lalu berkata, "Apa kamu suka dimanja? Aku melakukan semua ini untuk menyenangkan mataku juga. Memandang istriku yang sangat cantik seperti bidadari setiap saat pasti membuatku selalu betah dirumah." membelai pipi Tasya dengan lembut lalu mencium bibirnya.


"Apa? Betah dirumah? Apa kamu tidak punya pekerjaan lain selain mencumbuiku seperti ini setiap kamu menginginkannya? Huft." batin Tasya.


"Sayang. Tunggu sebentar. Rambutmu masih sangat basah. Sebentar aku ambilkan handuk untuk mengeringkannya sebentar." Tasya melepaskan pelukan Hendra lalu berlari kecil mengambil handuk yang dijatuhkan Hendra tadi.


"Sayang turunkan kepalamu." ujar Tasya. Lalu menggosok rambut Hendra dengan handuk setelah Hendra menundukkan kepalanya.


Setelah selesai Hendra mengambil handuk itu dan melemparnya ke sembarang arah. Ia kembali menciumi bibir istrinya dengan penuh gairah. Desah napasnya semakin memburu, sebelah tangannya memainkan gundukan yang ada di dada istrinya. Hendra menggiringnya ke tempat tidur. Tasya membiarkan Hendra melakukan keinginannya. Ia menerima setiap perlakuan lembut Hendra tanpa memberikan perlawanan. Dan terjadilah 'kikuk-kikuk'.


"Hei Puss. Kamu ini sebenarnya makan apa sih? Kenapa kamu kuat sekali? Tenagamu juga tidak ada habis-habisnya. Aku capek tahu meladenimu seperti ini terus. Huft. Andai aku bisa menolak, pasti sudah aku lakukan. Tapi sayang aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku takut dilaknat para malaikat sampai pagi. Kan ngeri juga." batin Tasya.


Setelah sama-sama puas melakukan pergerumulan panas hingga beberapa kali ronde. Mereka pun akhirnya terlelap. Hendra memeluk Tasya dari belakang, ia meletakkan tangannya di tempat favoritnya yaitu di gunung kembar istrinya.