
Hendra merasa sangat puas dengan informasi yang baru saja dia peroleh. Pemuda itu merasa sangat lega mengetahui Tasya tidak ingin berpacaran sebelun menikah. Jadi, dia bisa langsung mengambil kesimpulan bahwa Fathur bukanlah kekasih Tasya.
Namun, dia juga merasa iba mengetahui orang yang dia cintai selama ini harus bekerja sendiri dan berjuang sendiri untuk menggapai cita-citanya. Jika dibandingkan dengan dirinya selama ini, dia bisa dengan mudahnya menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak begitu penting.
Setelah berpikir beberapa saat, Hendra pun memutuskan untuk menemui Fathur dan mengajaknya untuk bersaing secara sehat.
..._____________...
Keesokan harinya.
Jum'at pagi di kediaman keluarga Gunawan. Semua anggota keluarga berkumpul untuk sarapan bersama. Diantaranya ada Hendra, pak Gunawan, dan ibu Arini.
"Hend, jadi kapan kamu akan membantu Papa untuk mengelola bisnis, Nak?" tanya pak Gunawan pada putra semata wayangnya itu.
"Tunggu dulu, Pa. Hendra masih belum mendapatkan apa yang Hendra cari selama ini."
Setelah menjawab pertanyaan papanya, Hendra lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Memangnya apa yang kamu cari? Berhentilah bermain-main," kata pak Gunawan.
"Menurut Papa apa?" Hendra malah balik bertanya setelah menelan makanannya.
"Menurut Papa, yang kamu cari bukanlah uang, melainkan seorang gadis. Bukan begitu?"
Hendra tidak menjawab pertanyaan papanya dengan kata-kata. Menurut pemuda itu, senyumannya sudah cukup mewakili.
"Memang sudah seharusnya kamu mencari pendamping hidupmu sendiri, Nak. Mengingat usiamu yang sebentar lagi menginjak 25 tahun. Kamu sudah cukup dewasa untuk mengarungi bahtera rumah tangga," ujar Pak Gunawan.
"Papamu benar, Hend. Sudah seharusnya kamu mencari gadis pilihanmu sendiri. Asalkan yang kamu pilih itu gadis baik-baik, kami tidak akan menentangnya," sambung bu Arini.
"Papa setuju dengan Mamamu. Status sosial calon istrimu tidaklah begitu penting. Yang penting kamu bahagia. Papa dan Mama selalu ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, Nak, kamu anak kami satu-satunya, dan satu-satunya penerus keluarga ini," ucap Pak Gunawan.
"Iya, Mama juga setuju dengan Papamu, Sayang."
"Terima kasih Pa, Ma, atas dukungan kalian. Suatu saat nanti Hendra akan memperkenalkan gadis itu pada kalian. Sebenarnya sih tidak perlu karena kalian juga sudah saling mengenal," ujar Hendra.
Pak Gunawan dan bu Arini merasa kebingungan. Sepasang suami istri itu pun saling lirik, mereka bertanya-tanya dalam hati. Siapa sebenarnya gadis yang putra mereka maksud?
"Memangnya siapa gadis itu, Hend?" tanya Bu Arini penasaran.
Sebelum menjawab, Hendra terlebih dahulu menyelesaikan sarapannya dulu.
"Belum saatnya Mama dan Papa tahu."
"Memangnya kenapa?" tanya Bu Arini. Dia semakin dibuat penasaran oleh putranya itu.
"Karena saat ini dia masih tersesat di hati orang lain. Permisi Pa, Ma, Hendra mau naik ke kamar dulu, mau siap-siap ke sekolah. Silahkan lanjutkan sarapan kalian."
"Maksudnya?" Bu Arini malah semakin kebingungan mendengar jawaban anaknya.
"Sudahlah, Ma. Biarkan saja, biasa anak muda," kata Pak Gunawan.
..._______________...
Pukul 11:00
Sebentar lagi masuk waktu ibadah shalat jum'at. Fathur sudah siap berangkat ke masjid dengan mobilnya. Dia mengenakan baju koko berwarna putih, lengkap dengan sarung dan peci. Dia terlihat sangat tampan dengan penampilannya itu. Wajah tampannya menyejukkan hati setiap orang yang melihatnya.
Aduh duh duh. Kak Fathur ganteng banget. Itu muka apa ubin masjid sih? Kok adem banget. Batin Tasya.
"Assalamu'alaikum," sapa Fathur.
"Wa'alaikum salam, Kak." Tasya menjawab bersamaan dengan Dewi.
"Kamu lagi sibuk, ya?" Fathur bertanya pada Tasya.
"Gak kok, Kak."
"Jadi gimana besok, kamu mau berangkat jam berapa?" tanya Fathur.
"Terserah Kak Fathur aja," jawab Tasya.
"Oke. Kamu sudah mikirin belum besok kita akan pergi ke mana?"
"Udah, Kak. Besok saya mau ngajak Kak Fathur pergi ke kota Singkang. Saya mau liat kampus yang mau saya tempati mendaftar, Kak. Saya sering lewat tapi gak pernah begitu perhatiin."
"Oke. Terserah kamu. Setelah itu kita pergi ke mana lagi?" tanya Fathur.
"Bagaimana kalau abis itu kita pergi nonton? Di Solla Mall ada bioskop."
"Terserah kamu aja. Ke mana pun itu, asalkan kamu senang, aku pasti akan ikutan senang." Fathur berkata sambil tersenyum.
"Loh, kok jawabannya gitu terus sih, Kak? Gimana kalo Kak Fathur gak suka?"
"Gak kok. Kalau kamu suka, aku pasti juga bakalan suka."
Setelah bertemu dengan Tasya sebentar, Fathur pun kemudian melangkah menuju masjid.
..._______________...
Hendra juga ke masjid untuk shalat jum'at. Setelah dia masuk dan melihat Fathur sudah lebih dulu berada di dalam ibadah tersebut. Pemuda itu pun memutuskan untuk menghampiri rivalnya tersebut.
Itu 'kan si Fathur, aku harus mengajaknya berbicara nanti.
Hendra segera menghampiri dan menggelar sejadahnya tepat di samping Fathur.
Fathur juga sadar kalau Hendra adalah orang yang dia lihat di toko kemarin.
Kalau gak salah namanya Hendra, 'kan?
Setelah selesai shalat sunnah tahiyatul masjid, Hendra pun berbisik pada Fathur, "Aku ingin berbicara denganmu nanti di kantin sekolah. Sesuatu hal yang sangat penting."
Fathur jadi kebingungan dibuatnya. Apakah aku punya urusan dengan orang ini?
"Hal penting apa?" tanya Fathur, ikut berbisik.
"Ini mengenai Tasya," jawab Hendra, lalu pindah ke saf terdepan.
Mengenai Tasya? Hm, baiklah. Akhirnya aku mengerti, kenapa orang itu terlihat marah-marah saat aku mengobrol dengan Tasya kemarin. Batin Fathur.
Mau tidak mau Fathur akhirnya mau menerima ajakan Hendra karena ini berkaitan dengan Tasya.