
Di dapur.
Tasya mulai mencari bahan makanan di dalam kulkas. Di dalam kulkas besar dua pintu tersebut, tersedia banyak sekali bahan makanan beserta sayur dan buah-buahan.
"Kamu mau makan apa Sayang?" Tasya bertanya pada Hendra yang sedang duduk memperhatikannya di salah satu kursi meja makan.
"Terserah kamu, Sayang. Aku akan memakan apa pun yang dimasak oleh istriku."
"Mau saya buatkan minum, Sayang?" tanya Tasya.
"Boleh."
Setelah mendapatkan persetujuan dari Hendra, Tasya pun segera membuatkan segelas minuman berperisa jeruk, serta dia juga mengambil beberapa potong cake yang tersedia di dalam kulkas, lalu meletakkannya di meja makan tepat di depan suaminya.
Hendra tersenyum bahagia melihat Tasya melayaninya.
Aku beruntung sekali punya istri sepertimu. Sudah cantik, pintar masak, pandai melayani suami, dan yang terpenting masih bersegel. Hehe.
Tapi sayang, kamu belum mencintaiku, andai kamu sudah mencintaiku, aku pasti akan menjadi laki-laki paling bahagia di muka bumi ini. Meski pun sebenarnya sekarang aku sudah bahagia bisa memilikimu, tapi kebahagian ini akan terasa sangat sempurna jika kamu juga mencintaiku sama seperti aku mencintaimu.
Sementara itu, Tasya segera memulai aktifitasnya di dapur. Pertama-tama ia mencuci beras hingga bersih lalu memasukkannya ke dalam rice cooker.
Setelah itu dia mengambil daging ayam fillet di dalam frezeer untuk diungkep.
"Sayang, apa kamu suka pedas?" tanya Tasya.
"Aku suka, Sayang, tapi bukan yang pedas sekali."
Tasya bisa langsung mengerti maksud suaminya. Dia pun segera melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Sesekali Hendra mengabadikan momen tersebut, dia merasa sangat bahagia. Dulu, saat Tasya masih bekerja di toko, Hendra memang sering mengambil foto Tasya secara sembunyi-sembunyi, takut yang difoto marah kalau sampai dia ketahuan. Sekarang, tidak ada lagi yang perlu dia takutkan. Dia bisa mengambil foto Tasya sebanyak yang dia suka, tanpa perlu sembunyi-sembunyi. Toh, sekarang Tasya sudah resmi menjadi istrinya.
Melihat istrinya sibuk sendiri, Hendra pun memutuskan untuk menghampiri hendak menawarkan bantuan.
Tasya tersentak kaget saat Hendra tiba-tiba saja memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya tersebut.
Astagfirullah. Bikin orang kaget saja.
"Kamu mau masak apa, Sayang?" tanya Hendra.
"Sa-saya mau bikin perkedel jagung, sayang. Ka-mu suka?"
Tasya merasa deg-degan mendapat perlakuan seperti itu dari Hendra.
"Tentu saja, Sayang. Aku suka semua yang kamu masak."
Hendra mencium pipi istrinya setelah mengucapkan kalimat itu, sampai-sampai Tasya dibuat merinding karena merasa geli dengan sentuhan Hendra.
Saat itu tidak ada kain hijab yang menutupi telinga dan leher Tasya, jadi dia bisa merasakan dengan jelas saat kulit mereka berdua saling bersentuhan.
"Sa-yang, bisa tolong lepaskan pelukanmu?" pinta Tasya. Dia sudah tidak tahan dengan rasa geli yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Hendra.
Hendra masih belum melepas pelukannya, bahkan kali ini Tasya merasa mulut Hendra semakin dekat dengan telinganya. Bahkan hembusan napas pria itu bisa begitu jelas terasa mengenai daun telinganya.
Ya Allah, aku benar-benar sudah gak tahan dengan rasa geli ini.
"Ti-dak, Sayang. Hanya saja, saya sulit bergerak."
"Apa kamu butuh bantuanku? Aku bisa membantumu sedikit."
"Memangnya kamu bisa, Sayang?" tanya Tasya.
"Akan aku coba. Kamu hanya perlu menjelaskan langkah-langkahnya," jawab Hendra.
"Kalau begitu ... apa kamu bisa mengulek sambal, Sayang?" tanya Tasya lagi.
Bagus. Semakin cepat kak Hendra membantuku maka akan semakin cepat dia melepaskan pelukannya. Aku benar-benar sudah gak tahan dengan rasa geli ini.
Aduh ... kenapa kak Hendra senang sekali menciumku? Tadi itu membuatku semakin merinding.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan, Sayang? Eh, bukannya kita punya blender untuk menghaluskan bumbu?" ujar Hendra.
"Tidak perlu pakai blender Sayang. Bumbu yang mau dihaluskan tidak banyak kok. Tunggu sebentar saya kupas kulit bawangnya dulu."
Setelah Tasya mengupas kulit bawang dan memotong bawangnya beserta bumbu yang lainnya menjadi kecil-kecil, dia pun lalu meletakkan bahan-bahan bumbu tersebut di atas cobekan.
"Apa cuma ini bahannya, Sayang?" tanyanya.
"Sebenarnya masih ada ketumbar dan bumbu yang lainnya, tapi di sini sudah tersedia dalam bentuk bubuk, jadi kita tidak perlu lagi repot-repot menghaluskannya, Sayang. "
"Oh, begitu rupanya."
Hendra pun mulai mengulek bumbu tersebut.
Tasya tersenyum, sambil menatap wajah suaminya.
Baik sekali. Ini pasti pertama kalinya kak Hendra menyentuh batu ulekan. Lihat saja, tangannya saja bahkan lebih lentik dari tanganku.
...----------------...
Setelah semua masakan siap terhidang di atas meja makan, Tasya pun mengambilkan nasi beserta lauk di piring Hendra. Setelah itu, dia lalu mengambil tempat duduk tepat di samping suaminya.
Baru saja Tasya ingin mengambil makanan untuk dirinya sendiri, Hendra langsung mencegahnya.
"Tidak usah Sayang. Kita makan sepiring berdua saja."
Hendra tersenyum. Dia bermaksud untuk makan romantis berdua bersama istrinya meski pun mereka berdua hanya di rumah saja.
Tasya tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan suaminya. Kalau pun dia menolak, ujung-ujungnya Hendra pasti akan memaksanya untuk menuruti kemauan suaminya tersebut.
"Sayang, coba suapi aku. Aa ...," kata Hendra lalu membuka mulutnya lebar-lebar.
Tidakkah ini kekanak-kanakan? Sudah besar kok masih minta disuapi?
Setelah Tasya menyuapinya, Hendra pun meminta sendok tersebut pada istrinya.
"Sayang, sini sendoknya. Sekarang giliran aku yang menyuapimu."
Aduh, kak Hendra, kak Hendra, ...makan aja kok sampai dibuat seribet ini sih. Kapan kenyangnya kita? Batin Tasya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Hendra.
Sementara itu, Hendra merasa sangat bahagia bisa makan romantis bersama istrinya meski pun mereka hanya di rumah.
"Ah, kenyang sekali. Masakan istriku memang yang paling enak."
Hendra mengacungkan jempol ke arah Tasya setelah itu tangannya beralih mengelus perutnya yang kekenyangan.
Tasya hanya tersenyum lalu membereskan sisa-sisa makanan di meja untuk di cuci piringnya.
"Sayang, seandainya di sini ada kucing, sisa-sisa makanan yang tinggal sedikit seperti ini tidak akan mubassir," kata Tasya.
Tasya memang sangat menyukai hewan jinak berbulu tersebut. Di rumah orang tuanya pun ada beberapa ekor.
"Kamu suka kucing, Sayang?"
Tasya mengangguk.
"Di depan lorong sana banyak kucing liar yang dibuang oleh pemiliknya, kalau kamu mau, kita bisa mengadopsi salah satunya," ujar Hendra yang langsung disetujui oleh Tasya.
Setelah Tasya selesai mencuci piring, Hendra pun mengajaknya untuk naik ke kamar mereka.
Saat mereka memasuki kamar, Tasya langsung mengambil tempat duduk di sofa. Sepertinya sekarang setelah dia menikah dengan Hendra, tempat tidur adalah tempat yang paling horor baginya.
Di tambah lagi ukuran tempat tidur yang dua kali lipat lebih kecil dari tempat tidur di kamarnya. Hal itu membuatnya semakin enggan untuk menghampiri tempat peristirahatan tersebut.