
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
Tasya dan Hendra pun sama-sama berbaring di tempat tidur. Kaki Tasya keram karena pahanya dijadikan bantal oleh Hendra dalam kurun waktu yang cukup lama tadi. Kini Hendra membaringkan Tasya dilengannya sambil memeluknya. Tasya pun membalas pelukan suaminya. Mereka berbaring sambil bercengkrama.
"Sayang. Aku penasaran, kenapa kamu bisa mau punya rumah sendiri? Padahal rumah orang tuamu sangatlah besar dan kamu juga anak tunggal." tanya Tasya sambil telunjuknya berputar-putar di dada Hendra seperti menggambar sesuatu.
"Apa kamu benar- benar ingin tahu?" tanya Hendra balik.
"Iya sayang. Karena aku juga penasaran kenapa kamu tiba-tiba punya rumah sendiri." jelasnya.
"Baiklah. Aku akan menjawabnya. Itu semua karena kamu." jawaban Hendra makin membuatnya bingung dan penasaran.
"Karena aku? Memangnya aku kenapa sayang?" Tasya mengernyitkan dahinya karena bingung mendengar jawaban Hendra sambil ia menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Karena dari dulu aku memang sudah berniat menikahimu." jelas Hendra lalu mengecup kening istrinya dan mengeratkan pelukannya.
"Apa hanya karena itu sayang? Bukankah orang tuamu sudah punya rumah yang sangat besar, untuk apa lagi kamu membangun rumah? Kita kan juga bisa tinggal disini setelah menikah." ujar Tasya.
"Ini kan rumah orang tuaku. Kalau rumah kita itu, aku bangun dari hasil jerih payahku sendiri. Rumah itu aku persembahkan untuk kamu dan anak-anak kita kelak." jelas Hendra.
"Lalu bagaimana kalau seandainya aku tidak menikah denganmu? Rumah itu akan kamu apakan sayang?" ujar Tasya berandai-andai.
"Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan buruk itu, karena aku memang tidak ingin hal seperti itu terjadi. Bahkan setelah kamu menolakku pun waktu itu, aku masih tetap yakin kalau suatu saat, kamu pasti akan menjadi milikku seutuhnya. Aku yakin dengan hatiku. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan mengulang kesalahanku saat aku mengejarmu dulu tanpa tindakan yang berarti. Makanya setelah pertemuan kita beberapa saat lalu, aku langsung menemui ayahku dan memintanya melamarmu untukku secepatnya."
Flash back on
Sore itu setelah Hendra pulang dari menemui Tasya dirumahnya, Hendra tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia melajukan motornya ke rumah orang tuanya dengan perasaan yang sangat bahagia. Ia lalu berlari masuk setelah memarkirkan motornya dihalaman depan rumah orang tuanya.
"Ma ... ma ... mama." teriak Hendra.
"Ada apa sih Hend teriak-teriak. Bikin kaget saja." ujar Bu Arini yang baru turun di tangga mendengar teriakan anaknya.
"Ma, papa mana?" tanya Hendra.
"Ada di atas, ada apa sih nak?" tanya Bu Arini yang kebingungan melihat tingkah anaknya.
"Ma ayo kita ke atas menemui papa, Hendra ingin mengatakan sesuatu hal yang penting pada kalian. Kabar baik!" seru Hendra sambil merangkul bahu mamanya mengajaknya naik ke lantai atas kembali.
"Pa." sapa Hendra.
"Hem." sahut Pak Gunawan yang sedang duduk di kursi pijat sambil memejamkan matanya.
"Ma duduklah." mendudukkan bu Arini di sofa sembari ia juga ikut duduk.
"Ada apa sih Hend?" tanya Bu Arini. Ia bingung sekaligus penasaran karena sebelumnya anaknya tidak pernah seperti ini.
"Pa. Hendra ingin berbicara sesuatu hal yang sangat penting pada kalian berdua. Kabar baik." ujar Hendra dengan wajah berseri.
Mendengar anaknya berkata kabar baik, Pak Gunawan pun penasaran dan segera membuka matanya. Ia bangun berpindah tempat duduk di seberang anak dan istrinya.
"Bagaimana aku mulai mengatakannya yah?" batin Hendra.
"Mm ... aku ... aku mau meminta papa melamarkan seorang gadis untukku." ujarnya bersemangat.
Pak Gunawan dan Bu Arini terlihat sangat senang. Karena mereka memang sudah lama menginginkan anaknya segera menikah.
"Benarkah yang mama dengar ini?" tanya Bu Arini masih kurang percaya.
"Pa. Sebentar lagi kita akan punya mantu pa. Ah jadi nggak sabar pengen nimang cucu." imbuh Bu Arini dengan perasaan sangat bahagia. Pak Gunawan juga tidak kalah bahagianya.
"Lalu siapa sebenarnya gadis yang ingin kamu nikahi itu Hend? Kamu kan belum memperkenalkannya pada kami." ujar Pak Gunawan. Ada sedikit kekhawatiran yang tersirat diwajahnya. Takut anaknya salah pilih calon pendamping hidup.
"Eh iya, siapa gadis itu Hend? Kamu belum pernah membawanya kemari." ujar Bu Arini ikut khawatir juga.
"Pa ma. Sudah tidak ada waktu lagi untuk membawanya kemari." jelas Hendra. Papa dan mamanya saling lirik karena kurang mengerti maksud perkataan anaknya.
"Bukankah Hendra, sudah pernah bilang kalau kalian juga mengenalnya." imbuh Hendra.
"Memangnya siapa sebenarnya gadis itu Hend?" tanya Bu Arini penasaran.
"Iya Hendra, siapa?" timpal Pak Gunawan tidak kalah penasarannya.
"Mm ... dia adalah mantan karyawan di tokonya om Rahmat." jawab Hendra.
"Mm ... apa maksudmu Tasya, anaknya Rudi." tanya Bu Arini mencoba menebak.
Hendra mengangguk sambil tersenyum. Seketika wajah papa dan mamanya berubah jadi lega dan terlihat bahagia kembali, semua kekhawatiran lenyap sudah seketika.
"Syukurlah nak, kamu pandai memilih calon istri. Dia gadis yang sangat cantik dan juga baik." ujar Bu Arini sambil mengelus dadanya karena lega lepas dari ketegangan.
"Jadi kapan kamu mau papa melamar gadis pilihanmu itu?" tanya Pak Gunawan serius.
"Nanti malam pa." jawab Hendra.
"Baiklah, kita berangkat nanti malam." ucap Pak Gunawan.
"Tapi pa, kalau lamaran kita diterima ... Hendra mau akadnya di percepat pa. Kalau bisa paling lambat 2 minggu lagi." ujar Hendra pelan karena malu-malu seraya mematuk-matukkan kedua jari telunjuknya.
"Hahaha. Ternyata kamu tidak sabaran juga rupanya. Baiklah." Pak Gunawan tergelak mendengar ucapan anaknya.
"Hendra ... Hendra." ujar Bu Arini geleng-geleng kepala mendengar keinginan anaknya.
Hendra hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum malu-malu.
Flash back off