How To Love You

How To Love You
Bab 115



Tania berlari masuk kedalam kamarnya. Tetesan kristal bening tak kuasa lagi ia bendung di pelupuk matanya. Ia merasa marah, sedih, kecewa dan cemburu pada Radit. Ia lalu masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya. Ia tidak mau menangis di tempat tidur karena ia tidak mau mengganggu Tantri yang sedang terlelap. Dan ia juga pasti malu sekali kalau sampai ketahuan oleh adiknya. Ia menangis sesenggukan didalam sana sambil bersandar ditembok kamar mandi.


"Aku benci sama kamu Dit, aku benci." ucap Tania sambil terus menangis dan memeluk kedua kakinya.


"Kenapa sih aku bisa sebodoh ini? Kenapa aku harus jatuh cinta sama kamu? Jelas-jelas awalnya aku cuma terpaksa jadi pacar kamu."


"Tania bodoh, bodoh, bodoh. Dasar bodoh!" ucap Tania memaki dirinya sendiri sambil menarik hijabnya hingga lepas.


"Selama ini aku menghargai kamu, Dit. Aku selalu jaga hati kamu. Aku nggak pernah memandang cowok manapun selain kamu. Tapi ini balasan yang kamu berikan."


"Radit br*ngsek, bajingan. Aku benci kamu. Aku benci ..."


"Aku nggak akan percaya lagi sama kamu. Dasar laki-laki buaya."


Tania terus menangis dan mengucapkan sumpah serapah yang ia tujukan pada Radit. Ia merasa sangat sakit hati melihat Radit bermesraan dengan gadis lain didepan matanya. Sebelumnya ia pernah sakit hati dan kecewa pada Yuda, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang ia rasakan sekarang. Radit adalah pacar pertamanya, ini pertama kalinya ia merasakan dicintai dan mencintai dengan lawan jenis.


***


Kamar Radit


"Yes! Aku berhasil! Nia, Nia. Katanya biasa aja? tapi kok liat aku mesra-mesraan sama cewek lain kamunya malah pergi begitu aja sih. Hahaha. Bilang aja kamu cemburu dan nggak kuat liat aku sama cewek lain." batin Radit senang sambil senyum-senyum sendiri.


Radit merasa sangat senang karena berhasil membuat Tania cemburu padanya. Ia semakin yakin kalau Tania juga mencintainya. Rasanya ia ingin terbang ke langit ke tujuh saking bahagianya cintanya terbalas.


"Aku harus melakukan sesuatu untuk benar-benar bisa merebut kamu dari Tania, Dit. Aku nggak akan melewatkan kesempatan ini. Karena sepertinya kamu juga sudah mulai menaruh perhatian padaku. Kali ini aku akan menggoda kamu dan aku harus membuat kamu mau tidur denganku. Mau nggak mau kamu harus bertanggung jawab. Dengan cara itu aku akan membuat kamu menjadi milikku seutuhnya." batin Chelsea sambil tersenyum dalam hatinya.


Chelsea kegeeran atas perlakuan Radit padanya tadi. Ia tidak tahu kalau sebenarnya Radit hanya memanfaatkannya untuk membuat Tania cemburu.


"Dit. Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Chelsea yang heran melihat tingkah Radit.


"Nggak kok, nggak apa-apa. Chelsea, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu. Ini sudah larut, nggak baik seorang cewek ada dikamar cowok di jam selarut ini." ucap Radit mengusir Chelsea secara halus.


"Loh, kok kamu ngusir aku sih Dit?" tanya Chelsea. Ia heran melihat sikap Radit yang tiba-tiba berubah jadi dingin seperti sebelum-sebelumnya dalam kurun waktu yang begitu singkat.


"Ini demi kebaikan kamu Chelsea. Memangnya kamu nggak takut apa diapa-apain kalo berduaan di kamar cowok seperti ini?" sindir Radit.


"Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk menggoda kamu Dit. Aku nggak mau kehilangan kesempatan emas ini. Aku harus bertindak sekarang." batin Chelsea. Ia pun lalu mulai melingkarkan kedua tangannya dibelakang leher Radit, membuat mata Radit terbelalak kaget melihatnya.


"Chelsea. Hentikan!" teriak Radit sambil mendorong tubuh Chelsea. Ia lalu beranjak menjauhi Chelsea untuk menjaga jarak dengannya. Ia sangat kaget melihat perlakuan Chelsea yang tiba-tiba berubah menjadi begitu agresif padanya. Ia tidak menyangka kalau Chelsea adalah gadis yang seperti itu.


"Kamu kenapa sih Dit? Kenapa kamu kasar banget sama aku? Bukannya beberapa menit yang lalu kamu sendiri yang sudah memulainya. Kenapa sekarang kamu malah nolak aku mentah-mentah?" tanya Chelsea. Ia merasa sangat malu dan kecewa dengan penolakan Radit.


"Sial. Belum apa-apa rencanaku sudah gagal. Sepertinya kedepannya aku harus bermuka tembok untuk bisa menemuinya lagi." batin Chelsea.


"Heh, asal kamu tau yah. Yang tadi itu, aku cuma manfaatin kamu tau. Aku mau bermesra-mesraan sama kamu, karena aku ingin membuat Tania cemburu. Mengerti!" jelas Radit mencoba menekankan ucapannya.


"Nggak. Aku nggak percaya. Kamu pasti bohong kan, Dit? Itu pasti kebalikannya kan? Kamu kan yang sengaja mau manas-manasin aku dengan cara macarin si Tania itu. Iya kan Dit? Ayo! Ngaku aja, aku nggak bakalan marah kok." seru Chelsea. Ia tidak mau menerima kenyataan. Ia mulai frustasi sekarang, makanya asal ngomong.


"Hahaha. Kamu ini lucu sekali Chelsea. Siapa juga yang mau manas-manasin kamu? Aku sama sekali nggak pernah cinta sama kamu walau sedetik pun. Oh iya asal kamu tau, aku selalu menolak cinta kamu dulu karena Tania. Karena aku sudah mencintai Tania sejak dulu." jelas Radit.


"Apa Dit? Jadi, semua itu gara-gara dia?" tanya Chelsea. Ia semakin geram mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Seketika itu juga rasa bencinya pada Tania semakin berlipat-lipat.


"Yah, itu benar adanya. Aku sudah menyukai Tania selama bertahun-tahun. Jadi aku nggak mungkin ninggalin dia demi kamu. Ecamkan itu."


"Oh iya asal kamu tau, aku nggak suka cewek agresif seperti kamu. Aku tuh sukanya sama cewek yang pandai menjaga dirinya, cewek yang pandai menjaga kehormatannya. Aku nggak suka cewek murahan seperti kamu yang rela merusak kehormatan dan harga dirinya demi cinta yang nggak akan pernah mungkin terbalas sampai kapanpun. Bahkan sampai dunia ini kiamat." tegas Radit sambil menunjuk-nunjuk Chelsea yang jaraknya kurang lebih 3 meter dari tempatnya berdiri.


"Kamu menghinaku Dit. Aku nggak terima kamu hina seperti ini." ucap Chelsea marah bercampur malu.


"Terserah kamu mau terima atau nggak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." balas Radit santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Radit. Asal kamu tau. Kalo aku nggak bisa memiliki kamu, semua wanita didunia ini nggak ada satupun yang boleh memiliki kamu. Tidak terkecuali Tania. Aku akan melakukan apapun untuk menghancurkan hubungan kalian." ancam Chelsea. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.


"Coba saja. Kita liat aja nanti. Kalo kamu berani mengusik hubungan aku sama Tania. Aku nggak akan segan-segan ngehancurin hidup kamu. Aku nggak peduli kalo kamu itu adik sepupu aku atau bukan. Asal kamu yang mulai duluan, akan aku ladeni kamu. Kamu jual aku beli." balas Radit. Ia tidak takut sedikitpun dengan ancaman Chelsea.


"Aku nggak takut dengan ancaman kamu Dit. Biarin aja kita sama-sama hancur. Aku sudah nggak peduli lagi. Hahaha." ucap Chelsea sambil beranjak meninggalkan kamar Radit. Sepertinya ia benar-benar frustasi sekarang.


"Dasar cewek gila. Kalau gila jangan kesini, kerumah sakit jiwa aja sana." maki Radit seraya berteriak.


"Hahaha. Tunggu aja tanggal mainnya Dit. Untuk sementara, mungkin aku akan membiarkan kalian bersenang-senang terlebih dahulu sebelum akhirnya kalian benar-benar aku hancurkan." ancam Chelsea sambil berdiri diambang pintu. Ia lalu membanting pintu kamar Radit dan pergi dari tempat itu. Ia ingin segera mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan hotel tersebut dan kembali ke tempat asalnya.


"Dasar cewek gila. Awas aja kalo kamu sampai benar-benar berani Chelsea. Aku akan menghancurkanmu berkeping-keping." ucap Radit seraya mengepalkan tangannya. Ia dipenuhi dengan amarah saat ini. Mulai detik ini, ia sangat membenci Chelsea.