
"Bukan buat siapa-siapa sih. Tapi aku mau semprot guling aku nantk pakai parfum itu," jelas Tantri.
"Guling? Untuk apa kamu menyemprot guling?" tanya Miko heran.
"Yah aku pengen peluk kalo lagi tidur." jawab Tantri.
"Ck, kenapa anak ini mampu membuatku cemburu tanpa alasan. Apalagi tadi aku sempat cemburu pada guling yang aku sangka adalah laki-laki lain." batin Miko.
"Daripada peluk guling, mending kamu peluk aku saja."
"Kak Miko ih, minta dipeluk. Halalin Adek dulu Bang. Hahaha." canda Tantri. Mendengar hal tersebut, tiba-tiba Miko menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti, Kak?" tanya Tantri heran.
"Serius nih kamu minta dihalalin?" tanya Miko ingin memastikan. Entah mengapa ia sangat berharap gadis itu benar-benar serius dengan ucapannya barusan.
"Ih, Kak Miko nggak bisa diajak bercanda," ucap Tantri sembari menepuk lengan Miko.
"Jadi barusan kamu cuma bercanda, yah?" tanya Miko sedikit kecewa. Namun ia berusaha untuk menyembunyikan hal tersebut agar gadis itu tidak curiga.
"Iya lah. Itu kan meme yang lagi viral, Kak. Kok Kak Miko bisa nggak tau sih,"
"Oh, maaf aku tidak tahu." ucap Miko sembari menggaruk belakang kepalanya.
Padahal tadi aku sudah ngarep. Tapi tidak mungkin juga sih, karena kamu masih sekolah. Paling tidak aku harus menunggu sampai kamu lulus sekolah. Yah, itu pun kalau kamu mau. Kalau tidak, aku harus menunggu sampai kamu dewasa dan siap untuk menikah. Tapi kalau aku menunggu sampai kamu dewasa, bisa keburu tua dong akunya. Batin Miko.
Sesampainya didalam mobil. Sebelum Miko menyalakan mesin mobilnya, ia terlebih dahulu menyuruh Tantri membuka laci dash board mobil yang ada didepan gadis itu.
"Buka!" titah Miko sambil menunjuk dash board mobil dengan ekor matanya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Tantri pun segera membukanya.
"Eh, ini kotak perhiasan, kan? Punya siapa?" tanya Tantri setelah melihat kotak kecil berbentuk hati dengan warna merah menyala didalam laci dash board yang ia buka tersebut.
"Iya, itu untukmu. Aku tidak tahu kamu akan suka atau tidak dengan hadiahnya."
"Memangnya isinya apaan, Kak?" tanya Tantri penasaran.
"Buka saja kalau kamu penasaran."
Tanpa berpikir panjang, Tantri pun segera membuka kotak berwarna merah tersebut.
"Kamu suka?"
"Iya, Kak. Suka banget. Makasih yah."
"Sini aku bantu pakaikan!" ucap Miko seraya mengambil kalung itu di kotaknya.
"Eh?" Tantri tidak bisa berkata apa-apa karena seketika itu juga kalung itu sudah ada ditangan Miko.
"Kemarilah, mendekat sedikit." ujar Miko yang sudah siap melingkarkan kalung itu di leher Tantri yang tertutupi hijab.
Tantri menurut apa kata Miko. Gadis itu mulai menyondongkan sedikit kepalanya kearah Miko. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu.
"Sudah." ucap Miko setelah berhasil memasang pengait kalung itu hanya dalam hitungan detik saja.
"Makasih, Kak." kata Tantri sambil memperbaiki posisi duduknya seperti semula.
"Cantik sekali." ucap Miko tersenyum sembari membayangkan kalung itu melingkar di leher jenjang putih mulus milik Tantri yang ia lihat tadi pagi. Ia pun lalu menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobil tersebut menyusuri jalan pulang.
...----------------...
2 Bulan Kemudian
Banyak perubahan yang terjadi dalam kurun waktu 2 bulan berlalu. Kehidupan Hendra dan Tasya, Radit dan Tania, serta hubungan Miko dan Tantri.
Selama beberapa hari terakhir, saat usia kehamilan Tasya sudah menginjak trimester kedua. Hendra sudah kembali sehat seperti sedia kala dan sudah sembuh dari mengidamnya. Sekarang malah terbalik, Tasya yang tadinya terlihat tangguh saat hamil kini berubah menjadi ibu hamil yang sangat manja pada sang suami. Hal itulah yang diinginkan dan dibayangkan oleh Hendra jauh-jauh hari sebelum tahu istrinya positif hamil. Ia memang sangat ingin memanjakan dan membahagiakan sang istri yang tengah mengandung buah cinta mereka.
Bukan hanya kehidupan Hendra dan Tasya yang berubah, tapi juga hubungan Miko dan Tantri. Semakin hari mereka terlihat semakin dekat dan akrab meski tanpa terikat hubungan apapun karena Miko belum pernah menyatakan cintanya pada gadis itu. Ia tidak menyatakannya karena takut cintanya ditolak, mengingat usia mereka yang terpaut cukup jauh.
Beberapa minggu yang lalu, Tania sudah mengiyakan lamaran Radit. Radit merasa sangat senang dan bahagia sekali melebihi apapun. Sebelumnya ia tidak pernah merasa sebahagia itu karena sebentar lagi gadis pujaan hatinya akan benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.
Pak Rahmat dan Bu Risna selaku orang tua Radit sudah menyiapkan sebuah rumah sebagai hadiah pernikahan anak dan menantu mereka nanti. Meskipun rumahnya berukuran minimalis, tapi letaknya yang tidak jauh dari rumah mereka yang membuat sepasang suami istri itu jadi membelinya. Mereka tidak ingin jauh-jauh dari anak laki-laki mereka satu-satunya. Mereka membeli rumah itu tanpa sepengetahuan Radit dan Tania karena mereka ingin memberikan kejutan pada keduanya dihari bahagia mereka.
Orang-orang terdekat Radit dan Tania sudah sibuk mengurus persiapan pesta pernikahan mereka yang sisa 2 minggu lagi. Ribuan undangan juga sudah tersebar luas kemana-mana. Hingga kabar pernikahan mereka terdengar sampai ke telinga seorang gadis yang sangat tidak menyukai hubungan mereka. Sebelumnya gadis itu memang sudah berjanji akan menghancurkan hubungan mereka berdua. Bahkan disaksikan dengan mata, didengar oleh telinga Radit sendiri secara langsung.
Cinta butanya yang bertepuk sebelah tangan terhadap pemuda itu membuat gadis itu seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Ia tidak terima kalau Radit bahagia dengan gadis lain yang bukan dirinya. Padahal diluar sana, laki-laki yang tampan seperti Radit begitu banyak.