
Tok tok tok!
"Eh ada orang. Sebentar saya buka pintunya dulu." ujar Tania seraya beranjak membuka pintu. Dilihatnya Kakak dan kakak iparnya yang berdiri di depan pintu tersebut.
"Eh, kakak udah pulang rupanya. Wah wah wah, aura pengantin barunya benar-benar keluar nih." ujar Tania saat melihat Hendra dan Tasya yang ada dibalik pintu tersebut. Mereka berdua baru saja kembali habis perawatan di salon.
"Bisa aja kamu. Apa tante Risna udah datang dek?" tanya Tasya.
"Iya kak, barusan." jawab Tania seraya berjalan membuntuti pasangan suami istri tersebut.
"Assalamu'alaikum." sapa Hendra dan Tasya.
"Wa'alaikum salam." jawab semua orang yang ada dikamar tersebut.
"Ayo! Sini duduk sayang." ajak Bu Arini pada anak dan menantunya. Sedangkan Tania duduk di pinggir tempat tidur bersama Bu Risna di dekat kaki Radit.
"Tante sampai kesini naik apa?" tanya Hendra pada Bu Risna.
"Naik taxi Hend." jawab Bu Risna.
"Tante kesini sendiri?" tanya Tasya.
"Nggak. Tante kesini sama Chelsea keponakan tante. Itu dia." jawab Bu Arini sambil menunjuk ke arah Chelsea yang sedang duduk di sofa.
Tasya dan Hendra melihat ke arah Chelsea lalu melempar senyum ke arahnya. Chelsea membalas senyum mereka sembari mengangguk sopan.
"Gimana keadaan kamu Dit?" tanya Hendra.
"Alhamdulillah udah baikan kak." jawab Radit.
"Syukurlah kalo begitu. Oh iya Dit, jadi, nanti malam Tania sudah bisa balik lagi ke kamarnya kan?" goda Hendra sambil menaik turunkan alisnya.
"Maunya Radit sih ... Nia temenin aku terus kak." jawab Radit malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil melirik ke arah Tania.
"Dit. Radit. Ngebet nikah mulu. Tunggu kamu lulus kuliah dulu, baru mikirin buat nikah." ucap Bu Risna geleng-geleng kepala mendengar pengakuan anaknya.
"Radit kan sudah besar ma. Jadi sudah siap jadi kepala rumah tangga." ucap Radit malu-malu. Bu Risna tepok jidat mendengar penuturan anaknya.
Semua orang tertawa mendengar penuturan polos Radit. Kecuali Tania dan Chelsea. Jika Tania berubah ekspresi menjadi malu-malu. Berbeda dengan Chelsea, ia merasa sakit hati dan cemburu pada Tania. Ia merasa kalau Tania merebut Radit darinya. Seketika ia menyatakan dalam hati kalau Tania itu adalah musuh besarnya yang harus ia singkirkan segera.
"Tania. Kamu sudah boleh kembali ke kamarmu. Biar nanti malam tante yang mengurus Radit." ujar Bu Risna.
"Oh iya. Sekali lagi, tante berterima kasih sama kamu yah Tania, karena kamu sudah menjaga dan merawat Radit dengan baik saat tante nggak ada." kata Bu Risna sambil memegang dan menepuk punggung tangan Tania yang duduk tidak jauh darinya.
"Iya tante sama-sama." balas Tania.
"Kamu jadi kan kerja di toko setelah kembali dari sini nanti?" tanya Bu Risna.
"Iya tante, in syaa Allah." jawab Tania.
"Bagus. Tante sangat senang mendengarnya." ujar Bu Risna tersenyum senang sambil mengusap pelan bahu Tania.
Chelsea sudah tidak tahan lagi menyaksikan percakapan yang menurutnya tidak penting dari orang-orang disekitarnya tersebut. Ia merasa kalau percakapan mereka semua seperti menusuk telinga, mata dan hatinya. Ia pun lalu pamit meninggalkan tempat itu.
"Permisi. Saya ke kamar dulu, mau istirahat." pamit Chelsea.
"Tante. Aku permisi dulu yah." pamit Chelsea pada Bu Risna.
"Iya Chel, istirahat lah. Kamu pasti capek." balas Bu Risna.
"Mari Kak, mari tante." pamit Chelsea pada Tasya, Hendra dan Bu Arini. Ketiganya hanya mengangguk sambil mengiyakan.
Chelsea sebenarnya anak yang baik, cantik dan juga sopan. Ia menghargai orang-orang yang lebih tua darinya. Hanya saja jika ia bertemu dengan Radit, ia seperti ingin memanjat Radit dan menempel seperti perangko. Dan hal itu membuat Radit kesal dan risih dengan sikap Chelsea tersebut.
Saat di kampus, Radit selalu menghindar dan bersembunyi darinya. Radit merasa malu pada teman-temannya kalau Chelsea selalu menempel padanya. Seolah-olah mereka adalah pasangan kekasih yang saling mencintai satu sama lain, nyatanya tidak seperti itu.
Chelsea sudah menyukai Radit semenjak mereka masih remaja. Chelsea sering menyatakan cintanya pada Radit, tapi Radit selalu menolaknya dengan alasan kalau ia hanya menganggap Chelsea sebagai adiknya dan tidak lebih. Padahal sebenarnya Radit sudah menyukai Tania waktu itu, hanya saja ia tidak mengatakannya pada Chelsea. Chelsea tidak terima alasan Radit begitu saja. Ia yakin kalau Radit nanti akan berhenti menganggapnya sebagai adik dan akan memandangnya sebagai seorang wanita setelah mereka tumbuh dewasa kelak.
Setelah Chelsea sampai dikamarnya di lantai 9. Ia melempar tubuhnya ke atas tempat tidur tanpa membuka tas dan flatshoes yang ia kenakan. Ia merasa sangat marah, sedih dan cemburu bercampur aduk menjadi satu. Ia menangis tersedu-tersedu karena Radit tidak menghargai usahanya yang datang jauh-jauh hanya untuk menjenguk dirinya yang sedang sakit.
"Kamu kenapa sih Dit kasar banget sama aku?" gumamnya terputus-putus sembari masih menangis sesenggukan.
"Kenapa sih kamu nggak ngehargain usaha aku selama ini buat dapetin hati kamu?"
"Kamu tau sendiri kan, aku itu suka banget sama kamu dari dulu."
"Kenapa baru 2 bulan kita nggak ketemu, kamu malah tiba-tiba udah punya pacar aja Dit, kenapa?"
"Apa kurangnya aku dibandingkan pacar kamu itu? Ku akui dia memang cantik, tapi lebih cantikan aku kok."
"Nggak. Aku nggak boleh nyerah begitu aja. Liat aja nanti Dit, aku akan rebut kamu dari cewek itu. Bagaimana pun caranya, aku akan membuat kamu berpaling padaku." ujar Chelsea mantap dengan keputusannya.