How To Love You

How To Love You
Bab 151



Radit dan Tania masih berada didalam mobil. Sedangkan Hendra dan Tasya sudah turun duluan. Mereka ingin menyapa tamu mereka yang sempat mereka tinggal selama beberapa jam.


"Assalamu'alaikum, Kak Miko," sapa Tasya sembari tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya ke arah Miko.


"Wa'alaikum salam," balas Miko sembari melakukan hal yang sama seperti Tasya.


"Hai, Mik, apa kabar?" sapa Hendra.


"Ck, Elo Hend. Gue baru pertama kali datang ke rumah Lo, dan Lo udah ninggalin gue sendirian. Begini cara Lo memperlakukan sahabat Lo sendiri yang datang bertamu ke rumah Lo," protes Miko sembari berdecak kesal.


"Sorry banget, Mik. Gue sama istri Gue ada urusan penting yang nggak bisa ditunda lagi," jelas Hendra.


Urusan penting menurut sudut pandang Hendra adalah menyelesaikan masalah Radit dan Tania. Sekaligus masalahnya sendiri yang sudah lama mengidam makan martabak durian semenjak 2 minggu yang lalu. Tapi baru kesampaian tadi saat mereka dalam perjalanan pulang. Ia sudah tidak sabar lagi, jadinya ia menyantap martabaknya didalam mobil.


"Urusan penting apa sih emangnya? Sampe Lo tega ninggalin Gue dirumah Lo berdua doang sama Bi Ani," tanya Miko penasaran.


"Kalo Lo mau tau jawabannya. Ayo ikut Gue masuk," ajak Hendra.


Hendra dan Tasya masuk ke dalam rumah mereka sambil membawa makanan yang mereka beli tadi. Sebelum Miko ikut menyusul masuk, terlebih dahulu ia mengarahkan pendangannya ke arah mobil Hendra yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia tahu Tania masih ada didalam sana bersama Radit. Tapi ia tidak mengerti mengapa kedua anak itu belum turun juga dari mobil. Setelah beberapa saat menunggu tapi yang ditunggu tidak kunjung keluar juga. Ia pun memutuskan untuk menyusul tuan rumah masuk ke dalam.


Sementara itu, Radit dari tadi melarang Tania untuk keluar dari mobil. Ia tahu kalau Miko sedang menunggu kekasihnya itu. Setelah melihat Miko masuk, barulah mereka berdua turun dari mobil. Radit membawa kardus berisi buah-buahan yang diberikan oleh Pak Udin tadi sore.


Ruang Makan


Tasya, Tania dan juga Bi Ani sedang mengeluarkan jajanan dari dalam kantongannya. Hendra dan Miko ada diruang keluarga. Sedangkan Radit tidak mau lagi jauh-jauh dari Tania semenjak mereka berbaikan. Ia selalu mengekor kemana pun Tania pergi.


"Yaa Allah, Kak, makanan sebanyak ini mau diapain?" tanya Tania.


Tania menggelengkan kepalanya melihat kakaknya yang membeli banyak sekali jenis makanan. Kurang lebih ada sekitar 20 jenis jajanan.


"Yah dimakan lah, Dek, masa mau diliatin doang," jawab Tasya.


"Bukan begitu maksud aku Kak. Mana sanggup kita habisin makanan sebanyak ini." jelas Tania.


"Yah kita bagi-bagiin aja sebagian ke tetangga. Biar nggak mubazir," ujar Tasya.


"Iya juga yah Kak."


"Oh iya, kamu mau bermalam disini apa nggak?" tanya Tasya pada Tania.


"Aku sih terserah Kak." jawab Tania.


"Yah udah deh Kak." balas Tania.


"Kamu mau bermalam, kan Dit?" tanya Tasya.


"Iya, Kak." jawab Radit mantap.


"Nggak mungkin lah aku nggak bermalam disini kalo si pepacor itu ada dirumah ini. Aku nggak mau dia mengambil kesempatan saat aku nggak ada didekat Tania." batin Radit.


"Ngomong-ngomong, ada yang udah baikan nih kayaknya," ledek Tasya pada Radit dan Tania.


Keduanya hanya tersenyum malu-malu. Tanpa mereka jawab pun Tasya sudah tahu jawabannya.


"Yah udah, Dek, bantuin kakak bawain minumannya keluar dong." kata Tasya sambil ia juga membawa sebuah nampan berisi 2 piring kue keluar.


"Oh, iya Kak. Baik." jawab Tania.


"Sini, biar aku aja." ujar Radit seraya menyambar nampan yang berisi beberapa gelas minuman dari tangan Tania.


"Eh," Tania tidak bisa berkata apa-apa karena seketika nampan itu sudah berpindah ke tangan Radit.


"Nia sayang, kamu tunggu disini dulu yah. Jangan keluar! Kita makan romantis disini aja. Biar Bi Ani yang jadi obat nyamuknya, iya kan Bi?" canda Radit.


"Hehehe. Terserah Den Radit saja. Bibi juga nggak keberatan kok kalo di anggap sebagai obat nyamuk." balas Bi Ani.


Radit pun kemudian mengantar minuman itu ke ruang keluarga. Ia melarang Tania keluar karena ia tidak mau Tania bertemu dengan Miko. Radit sangat tidak suka dengan cara Miko memandang kekasihnya itu.


"Bi, jangan diambil hati yah ucapan Radit barusan," ujar Tania.


Tania takut Bi Ani akan tersinggung karena ucapan Radit barusan.


"Ah, nggak kok Non. Den Radit dari dulu emang gitu orangnya, suka bercanda." ujar Bi Ani.


Tidak lama kemudian, Radit pun kembali ke ruang makan.


"Ayo Bi, sini gabung!" ajak Tania.


"Iya Bi, sini! Nggak apa-apa," lanjut Radit.


Mereka bertiga pun lalu menikmati jajanan bersama. Sementara itu di ruang keluarga, Miko selalu melirik ke arah dalam. Ia menunggu Tania keluar untuk bergabung bersama mereka. Tapi sudah hampir 1 jam Tania belum juga menampakkan batang hidungnya.