How To Love You

How To Love You
Bab 191



"Kamu menyuruhku memakai jaket warna pink?" tanya Miko tidak percaya. Seumur hidup, ia tidak pernah sekalipun memakai pakaian dengan warna feminim seperti itu. Malah gadis didepannya itu tanpa rasa bersalah sedikit pun memberikan pakaian berwarna merah muda itu padanya.


"Iya. Memangnya, Kak Miko mau gosong kalo ke sawah cuma pake baju kaos lengan pendek begini," kata Tantri sambil menarik ujung lengan baju Miko.


"Tantri, yang masalah itu bukan jaketnya. Tapi warna jaketnya. Ada warna lain tidak?" jelas Miko dengan penuh penekanan.


"Nggak ada, Kak. Ini udah yang paling besar. Ada kok warna kuning di lemari tapi kekecilan buat Kak Miko. Lengannya aja pasti nggak muat soalnya lengan Kak Miko kan besar banget," jelas Tantri. Miko hanya menghembuskan napasnya dengan kasar mendengarkan penjelasan Tantri.


"Ayo cepetan pakai, Kak. Nggak ada yang liat, kok. Lagian disawah juga nggak banyak orang, jadi Kak Miko nggak usah khawatir bakalan ada yang ngetawain." kata Tantri sambil mulai memasang jaket itu ditangan Miko. Ia memasang jaket itu seperti seorang ibu yang memasangkan jaket pada anaknya.


"Kalau bukan karena kamu, aku pasti tidak akan sudi memakai jaket warna pink ini." batin Miko tersenyum sambil memperhatikan gadis itu memakaikan jaket padanya. Ia merasa sangat bahagia dengan perlakuan dan perhatian kecil yang diberikan oleh gadis itu. Meskipun sebenarnya tadi ia sempat kesal, tapi karena jaket itu milik gadis yang dicintainya, ia pun akhirnya rela memakainya. Apalagi si pemilik jaket sendiri yang memakaikannya untuknya.


"Oke selesai!" seru Tantri. Miko yang sedang melamun sambil menatap lekat wajah cantik gadis itu tidak mendengarkan seruannya.


"Ayo berangkat!" ajak Tantri.


"Kak Miko! Ayo berangkat!" panggil Tantri sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Miko membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


"Em," gumam Miko sambil mengernyitkan dahinya. Ia tidak mendengarkan ucapan gadis yang ada dihadapannya itu.


"Kak Miko lagi mikirin apa sih? Kok malah ngelamun,"


"Bukan apa-apa. Ayo berangkat!" jawab Miko malu-malu sambil mengalihkan topik pembicaraan.


"Ayo!" Tantri pun segera berjalan keluar menuju teras dimana motornya terparkir. Langkahnya terhenti saat Miko menarik tangannya.


"Ada apa, Kak?" tanya Tantri sambil mendongak menatap wajah Miko.


"Kamu mau kemana? Kita lewat belakang rumah saja,"


"Kalo kita lewat belakang, memangnya Kak Miko kuat jalan kaki apa?"


"Ck, gadis ini terlalu menganggapku lemah." gumam Miko sambil berdecak.


"1 Km itu tidak seberapa, Tri. Bahkan menggendongmu sampai ke sawah pun aku sanggup," ucap Miko tidak mau dianggap remeh.


"Hahaha. Aku cuma bercanda, Kak. Yah udah, ayo jalan!" Tantri pun berjalan menuju pintu belakang rumahnya. Miko melangkahkan kakinya cukup cepat untuk menyusul langkah gadis itu. Setelah jarak mereka cukup dekat, Miko kembali menarik tangannya membuat gadis itu kembali menghentikan langkahnya.


"Kita berjalan sambil bergandengan tangan, yah. Aku takut tersesat." jawab Miko.


"Kak Miko bisa aja. Yah udah, ayo!" ucap Tantri sembari terkekeh. Mereka pun berangkat ke sawah dengan berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Sepanjang perjalanan, hati Miko terasa berbunga-bunga. Kedua sudut bibirnya terus saja terangkat. Ia menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat. Rasanya ia tidak rela melepasnya. Berharap waktu berputar dengan sangat lambat agar mereka bisa bersama lebih lama lagi.


***


Setelah Hendra memarkirkan mobilnya di tempat parkir, mereka pun segera turun lalu berjalan sambil bergandengan menuju pintu masuk tempat perbelanjaan yang mereka kunjungi tersebut. Tidak disangka saat mereka hendak masuk, tiba-tiba dari arah berlawanan Andi menarik pintu ingin keluar dari tempat itu. Andi baru saja selesai berbelanja dan ia bermaksud untuk pulang.


"Andi!" ucap Hendra saat melihat sosok sahabat sekaligus teman kerjanya dulu di SMP yang hendak keluar dari tempat itu.


"Eh, Hendra, Tasya!" seru Andi sambil mengembangkan senyum sumringah di wajahnya. Ia lalu beranjak keluar dari tempat itu. Hendra dan Tasya mundur beberapa langkah untuk memberikan jalan pada Andi.


"Apa kabar? Kebetulan sekali kita ketemu disini, yah." tanya Andi pada pasangan suami istri tersebut.


"Alhamdulillah, kabar kami berdua baik. Bagaimana denganmu?" jawab Hendra.


"Alhamdulillah, kabarku juga baik." ucap Andi.


Hendra dan Andi sudah lama tidak bertemu. Terakhir kali mereka bertemu saat resepsi pernikahan Hendra dan Tasya di Kota SKG sekitar 3 bulan yang lalu.


"Sayang, aku masuk belanja dulu, yah. Kalian mengobrol lah dulu disini," ucap Tasya.


"Iya, sayang. Tapi ingat, jangan mengangkat barang yang berat-berat. Panggil aku kalau kamu perlu bantuan,"


"Iya, sayang." jawab Tasya. Ia pun kemudian masuk ke dalam tempat perbelanjaan meninggalkan Hendra dan Andi yang mulai mengobrol disana.


Setelah masuk, Tasya segera mengambil satu buah troli. Ia kemudian mulai mendorong keranjang belanja berbentuk kereta dorong tersebut sambil membaca catatan belanjaannya. Perlahan-lahan ia mulai berkeliling mencari apa yang ia butuhkan. Satu per satu barang kebutuhan rumah tangga mulai masuk mengisi keranjang belanja yang awalnya kosong kini sudah terisi setengahnya.


Tasya terlalu fokus memilih barang-barang kebutuhan rumah tangga yang ada dicatatannya. Ia tidak sadar kalau seorang pemuda sedang memperhatikannya saat ia pertama kali masuk ke tempat itu.


"Tasya, kamu masih saja cantik seperti dulu. Pesonamu nggak pernah luntur." batin pemuda itu.


Pemuda itu sadar kalau Tasya tidak menyadari keberadaannya. Ia pun kemudian memutuskan untuk menyapa Tasya duluan.


"Tasya!" panggil pemuda itu. Tasya yang mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dari arah belakang pun menoleh ke sumber suara. Tasya tersenyum melihat sosok yang ia kenal cukup baik sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas.