How To Love You

How To Love You
Bab 194



Bandara, Kota SKG


Miko dan Tantri berjalan bersama sambil membawa koper mereka masing-masing menuju


pintu keluar bandara. Pak Yadi supir pribadi Bu Melda sudah menunggu mereka diluar. Bu Melda adalah mama kandung Miko.


Sambil berjalan, Miko merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Ia ingin menelpon Pak Yadi.


"Halo, Pak. Saya sedang menuju pintu keluar. Bapak dimana?" tanya Miko pada Pak Yadi yang ada diseberang telepon.


"Saya sudah menunggu diluar, Tuan." jawab Pak Yadi.


"Oh, yah sudah kalau begitu." kata Miko lalu memutus sambungan telpon mereka.


Di perjalanan


"Tuan Miko mau diantar kemana? Ke rumah atau ke apartemen," tanya Pak Yadi.


"Ke apartemen saya saja, Pak." jawab Miko.


"Baik, Tuan."


Laki-laki paruh baya itu pun melajukan mobil yang ia kemudikan menuju apartemen Miko yang terletak di pusat kota. Setelah mobil melaju selama hampir 2 jam, sampailah mereka di tempat tujuan. Pak Yadi membantu membawakan koper Tantri naik ke lantai 7 dimana unit apartemen Miko berada.


"Saya permisi dulu, Tuan." pamit Pak Yadi pada Miko setelah mereka sampai didepan pintu apartemen Miko.


"Iya, Pak. Terima kasih dan hati-hati dijalan!" ucap Miko. Setelah Pak Yadi pergi, Miko dan Tantri pun segera masuk kedalam apartemen.


"Yang itu kamarmu dan yang disebelahnya itu kamarku." ucap Miko sambil menunjuk kamar yang bersebelahan. Tantri mengangguk pertanda mengerti.


"Masuklah ke kamarmu dan istirahatlah! Kamu pasti capek." perintah Miko.


"Iya, Kak." jawab Tantri. Mereka berdua pun kemudian masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Tantri merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan pegal-pegal setelah melalui perjalan jauh yang cukup melelahkan. Setelah memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai di tempat tujuan dalam keadaan selamat dan baik-baik saja pada kedua orang tua dan kakak-kakaknya, ia pun kemudian memejamkan matanya yang terasa sangat mengantuk sedari tadi.


Diperjalanan tadi, Tantri tidak pernah dan tidak bisa tidur karena Miko terus saja mengajaknya mengobrol. Seperti biasanya, mereka berdua tidak pernah kehabisan bahan untuk dijadikan topik pembicaraan saat bersama. Tidak butuh waktu lama untuk gadis itu bisa terlelap.


Beberapa jam kemudian, Miko terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam digital yang ada di meja nakas disamping tempat tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Bangun tidur perutnya tiba-tiba saja terasa lapar. Ia pun kemudian memesan makanan secara online melalui aplikasi smartphonenya. Selesai membasuh mukanya di kamar mandi, ia pun keluar menghampiri pintu kamar Tantri.


"Tok tok tok."


"Tantri! Tri! Tantrii!" panggil Miko sambil mengetuk pintu kamar Tantri. Sudah beberapa kali ia memanggil, namun ia tidak mendapatkan respon sedikit pun. Ia pun kemudian memutar gagang pintu dan ternyata pintu kamar itu tidak dikunci oleh Tantri. Perlahan-lahan Miko mulai membuka pintu kamar tersebut. Ia melihat gadis itu sedang tertidur dengan lelapnya diatas tempat tidur.


"Pasti dia kecapekan. Nanti saja aku bangunkan kalau makanannya sudah datang." batin Miko sambil menutup pintu kamar kembali. Ia merasa tidak tega membangunkan gadis itu saat itu juga. Ia pun kemudian berjalan menuju sofa. Ia  duduk disana sambil menunggu pesanan makanannya datang.


Beberapa saat kemudian, "Ting tong."


Miko segera beranjak membuka pintu saat mendengar ada yang menekan bel diluar sana. Tidak berselang lama, ia kembali sambil membawa paper bag ditangannya. Ia pun kemudian meletakkan paper bag itu di atas meja makan. Setelah memindahkan isi kotak makanan yang ada didalam paper bag itu kedalam piring, ia pun kemudian beranjak membangunkan Tantri kembali.


"Tri, bangun," ucap Miko sambil menepuk pelan pipi gadis itu.


"Hem." gumam Tantri sambil mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Miko yang duduk dibibir tempat tidur tepat disampingnya.


"Ayo bangun! Aku sudah memesan makanan. Ayo kita makan bersama," ujar Miko.


"Iya, Kak. Aku mau cuci muka dulu," balas Tantri sambil bangun dari posisinya.


"Yah sudah, kalau begitu aku tunggu kamu di meja makan." ujar Miko.


Selesai mencuci muka, Tantri segera keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Terlihat Miko sedang duduk menunggunya disana.


"Ayo, sini duduk!" ajak Miko sambil menarik kursi di sebelahnya. Tantri kemudian duduk di kursi yang ditarik oleh Miko untuknya. Usai makan bersama, mereka pun berpindah tempat duduk diruang tengah sambil menonton televisi.


"Aku mau keluar, apa kamu mau ikut?" tanya Miko pada Tantri yang duduk di sofa sebelahnya.


"Memangnya, Kak Miko mau kemana?"


"Aku mau belanja kebutuhan sehari-hari. Disini tidak ada satu pun bahan makanan yang tersedia." jawab Miko.


"Aku ikut, Kak. Aku takut sendirian disini."


"Yah sudah, ayo berangkat!"


"Sekarang?" tanya Tantri ingin memastikan.


"Iya. Tunggu apa lagi?" jawab Miko.


"Tunggu sebentar, Kak. Aku mau siap-siap dulu," kata Tantri lalu segera berlari masuk ke dalam kamarnnya.


"Yah sudah, jangan lama-lama," teriak Miko.


"Iya, iya." balas Tantri berteriak didalam kamar. Beberapa menit kemudian, Tantri sudah selesai bersiap-siap. Mereka pun segera berangkat ke supermarket terdekat.


Sesampainya di supermarket, Miko segera mengambil 1 buah troli. Sedangkan Tantri berjalan disampingnya sambil berlari kecil untuk mengikuti langkah kaki Miko yang lebar.


"Kak, pelan-pelan dong jalannya." ucap Tantri.


"Eh, maaf. Aku lupa kalau aku bawa teman," kata Miko sambil tertawa kecil. Ia pun mulai memelankan langkahnya.


"Kak Miko ih," ucap Tantri sambil memanyunkan bibirnya.


"Kita mau belanja apa sih, Kak?" lanjut Tantri bertanya.


"Yah, belanja kebutuhan rumah tangga,"


"Rumah tangga. Kedengarannya lucu yah, Kak." ucap Tantri sambil tertawa geli.


"Apanya yang lucu?" tanya Miko sambil memilih bahan makanan lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanja dorongnya satu per satu.


"Yah, lucu aja. Kita tuh kayak pasangan suami istri yang lagi belanja bulanan tau nggak." jawab Tantri. Miko hanya tersenyum sambil menatap gadis itu dengan penuh makna. Selesai memilih bahan makanan, mereka pun beranjak menuju rak lain yang menyediakan barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya.


"Ayo sini! Pilih barang-barang yang kamu butuhkan. Aku tidak tahu merek shampo dan sabun mana yang sering kamu pakai," kata Miko saat melihat deretan sabun mandi berserta shampo dari berbagai merek yang tersusun rapi di rak supermarket.


"Aku pakai apa aja, Kak."


"Jangan begitu, ayo sini jangan malu-malu. Aku takut salah pilih merek shampo atau sabun nanti. Bagaimana kalau nanti kamu ketombean atau kulitmu jadi kering? Aku tidak mau tanggung jawab loh yah." jelas Miko sambil terkekeh. Ia pun kemudian menarik tangan Tantri untuk mendekat didepan rak. Posisi Miko sekarang sedang berdiri tepat dibelakang Tantri sambil memegang kedua bahu gadis itu.


"Ayo cepat pilih!" seru Miko.


"I-iya, Kak."


Tantri merasa sedikit canggung dengan posisi mereka berdua yang kelihatannya sangat mesra. Siapapun yang melihat pasti menganggap kalau mereka berdua adalah pasangan. Seperti halnya seorang wanita yang sedang mengambil gambar mereka berdua saat itu.


"Cekrek, cekrek." bunyi kamera ponsel milik wanita tersebut.


"Siapa gadis yang sedang bersama Miko? Apa gadis itu pacarnya? Tapi setauku, Miko sudah lama tidak menjalin hubungan dengan gadis manapun. Atau mungkin gadis itu pacar barunya. Tapi sepertinya gadis itu masih terlihat sangat muda. Apa selera Miko yang seperti itu?" batin Wanita itu sambil memasukkan ponselnya kedalam tasnya. Ia pun kemudian berjalan menuju kasir karena memang acara belanjanya sudah selesai.