How To Love You

How To Love You
Bab 169



Hendra dan Tasya sedang duduk di sofa ruang keluarga sembari menunggu kedatangan Radit. Tidak lama kemudian Miko keluar dari kamarnya sambil bersiul-siul. Hendra dan Tasya yang menyadari sikap Miko yang tidak seperti biasanya itu pun menoleh dan melihat ke arahnya. Tuan dan nyonya rumah itu menatap penampilan Miko yang terlihat jauh berbeda dari sebelumnya dari atas sampai ke bawah secara berulang-ulang.


"Sayang. Kamu juga merasa ada yang berubah tidak dengan penampilan Kak Miko malam ini?" tanya Tasya.


Tasya merasa heran melihat penampilan Miko yang lain dari biasanya. Saat di Kota SKG, Tasya lebih sering melihat miko mengenakan pakaian formal. Semenjak Miko datang ke rumah mereka, Tasya sering melihat Miko mengenakan pakaian santai saat dirumah. Tapi malam itu Miko memang terlihat sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Penampilannya persis seperti anak remaja jaman sekarang.


Cinta benar-benar luar biasa. Cinta bisa membuat seseorang mengubah segalanya, termasuk penampilan. Batin Hendra sembari tersenyum melihat penampakan baru sahabatnya itu.


"Wajarlah sayang seseorang merubah penampilannya. Mungkin Miko mau merasakan suasana yang baru dan berbeda selama ia tinggal disini nanti," jawab Hendra.


Hendra tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada istrinya. Ia tidak mau Tasya tahu kalau Miko sedang mendekati Tantri karena ia takut kalau Tasya tidak akan menyetujuinya. Apalagi usia keduanya terpaut cukup jauh. Bukan hanya itu, Tantri juga masih duduk di bangku kelas XI SMK. Tasya pasti mau adik bungsunya itu fokus dengan pelajaran di sekolahnya, bukan malah menjalin hubungan dengan lawan jenis.


Miko mengambil tempat duduk di sofa seberang Hendra dan Tasya sambil menyilangkan kedua kakinya.


"Kak Miko!" panggil Tasya.


"Iya," sahut Miko.


"Kak Miko merubah penampilan yah?" tanya Tasya.


"Iya, sedikit. Bagaimana menurutmu?" tanya Miko meminta pendapat Tasya.


"Bagus. Keren. Cocok kok, Kak Miko terlihat jauh lebih muda dari sebelum-sebelumnya. Atau lebih tepatnya style Kak Miko persis seperti gaya anak remaja jaman sekarang," jawab Tasya mengemukakan pendapatnya.


Miko tersenyum puas mendengar pujian dari Tasya. Mereka berdua tidak sadar kalau Hendra menatap tajam ke arah mereka secara bergantian.


"Ehem." Hendra sengaja berdehem cukup keras.


"Kamu kenapa sayang? Mau aku ambilkan air minum?" tanya Tasya.


"Tidak, tidak sayang, tidak usah." tolak Hendra.


"Ehem. Sayang, apa kamu juga mau aku merubah penampilanku agar aku juga terlihat lebih muda sampai orang-orang menyangka kalau kita itu seumuran?" tanya Hendra pada istrinya.


"Hah?!" Tasya melongo mendengar pernyataan suaminya.


Mendengar ucapan Hendra, Miko hanya mengulum tawanya. Ia baru sadar kalau ternyata sahabatnya itu cemburu karena Tasya memuji penampilannya barusan.


"Iya sayang. Aku kan lebih tua 5 tahun dari kamu, bagaimana kalau aku juga merubah penampilanku agar aku juga terlihat lebih keren dari sekarang?" tanya Hendra meminta pendapat istrinya.


"Sayang, aku lebih suka kamu yang apa adanya. Aku lebih suka kamu yang gagah dan dewasa seperti ini. Aku tidak akan suka jika seandainya nanti kamu juga ikut-ikutan merubah penampilan dan bergaya seperti anak remaja. Kamu tahu sendiri kan kalau sebentar lagi kita akan punya anak. Kalau Kak Miko yang bergaya seperti itu tidak masalah karena dia memang masih single, kalau kamu sudah tidak cocok." jelas Tasya.


Mendengar jawaban sang istri, Hendra lalu mengurungkan niatnya untuk ikut-ikutan merubah penampilannya.


***


Tidak lama setelah kedatangan Radit, mereka pun segera meluncur untuk menjemput Tania dan Tantri. Saat mobil yang dikemudikan oleh Radit sampai didepan rumah Pak Rudi, kedua gadis itu memang sudah nampak menunggu jemputan diteras.


"Dek, ayo! Itu mereka udah datang." ajak Tania.


"Ayolah! Ikut jalan-jalan bareng mereka itu seru tau," ucap Tania sembari menarik tangan Tantri untuk menghampiri mobil yang menjemput mereka.


"Jangan salahkan aku yah Kak kalau aku ketiduran di mobil." ucap Tantri sambil mengikuti langkah Tania yang menyeretnya.


"Iya, nggak apa-apa, kamu tidur aja. Entar kamu juga bakalan dibangunin kok." ujar Tania.


Setelah sampai, Tania segera masuk di jok depan disamping Radit.


"Selamat malam, sayang." sapa Tania pada Radit.


"Malam juga, sayangku." balas Radit sembari tersenyum.


"Woi, aku duduk dimana woi?" ucap Tantri sembari masih berdiri disamping mobil.


Hendra segera turun dari mobil untuk memberikan jalan pada Tantri agar segera naik ke jok paling belakang dimana Miko berada.


"Ayo naik!" seru Hendra.


Tantri pun segera masuk kedalam mobil.


"Dek, Ayah sama Ibu ngijinin kamu, kan?" tanya Tasya pada Tantri.


"Pastinya lah Kak. Buktinya aku ada disini." jawab Tantri.


"Baguslah kalo begitu." lanjut Tasya.


"Hai, kita ketemu lagi." sapa Miko.


"Eh, ada Kak Miko juga ternyata. Kirain tadi aku sendirian yang jadi nyamuknya disini." ucap Tantri sembari tertawa kecil.


"Sama, untung saja ada kamu yang menemaniku disini." balas Miko sembari tersenyum.


"Hehehe. Hoaaaaaaam. Aku boleh tidur nggak Kak? Soalnya aku ngantuk banget nih dari tadi, capek juga habis jalan tadi sore sama Kak Miko," ucap Tantri sembari memperbaiki posisi duduknya.


"Yah sudah, kamu tidur saja dulu. Aku pasti membangunkanmu nanti kalau kita sudah sampai," kata Miko.


"Makasih ya, Kak."


"Kalau kamu mau, kamu boleh tidur sambil bersandar disini," tawar Miko sembari menunjuk bahunya yang menganggur. Sudah lama bahu itu tidak pernah dipakai bersandar oleh seorang gadis.


"Hehehe. Nggak usah Kak, makasih. Aku tidurnya sambil bersandar di sandaran kursi aja," jawab Tantri menolak.


Tidak butuh waktu lama untuk Tantri bisa terlelap. Itu karena ia memang sudah sangat mengantuk dan kelelahan habis jalan berdua dengan Miko tadi sore sepulang sekolah.


Radit melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, tiba-tiba saja ia mengerem mendadak membuat semuanya, kecuali Tantri terkejut serta panik. Akibat dari hal tersebut, Tantri hampir terjatuh. Namun dengan cepat Miko menangkapnya. Ia lalu membaringkan Tantri di pangkuannya. Gadis itu tertidur begitu nyenyaknya, saking nyenyaknya ia tidak menyadari hal tersebut.


"Astagfirullah!" Semuanya merasa sangat terkejut.