How To Love You

How To Love You
Bab 121



"Tasya, apa kabar?" tanya laki-laki tampan itu lirih dengan suara bergetar menahan tangis.


Tasya tidak menggubris pertanyaan laki-laki itu. Ia masih belum percaya dengan apa yang ia lihat dihadapannya dengan mata kepalanya sendiri.


"Ya Allah, kenapa dia bisa tiba-tiba muncul disini?" batin Tasya.


Cukup lama mereka diam seribu bahasa disana. Mereka hanya saling menatap tanpa berkata sepatah katapun. Terakhir kali mereka bertemu saat mereka memutuskan untuk berpisah baik-baik waktu itu. Saat tanggal pernikahan laki-laki itu sudah ditetapkan dan hanya tersisa waktu 2 minggu lagi.


"Tasya, aku sangat merindukanmu. Sungguh sangat merindukanmu. Ingin rasanya ku memelukmu dan tak ingin melepaskanmu lagi. Maafkan aku, aku menyesal tidak bisa memperjuangkan cinta kita dulu." batin laki-laki itu pilu mengingat masa lalunya.


Laki-laki itu merasakan rindu yang teramat mendalam pada gadis cantik yang mengenakan gaun pengantin dihadapannya. Namun apalah daya, rindu itu sudah terlarang untuk hinggap dihatinya. Karena mereka berdua sekarang sudah sama-sama membina rumah tangganya masing-masing.


"Kamu terlihat sangat cantik hari ini," ujar laki-laki itu saat ia sudah berhasil mengusai dirinya.


"Te terima kasih, Fathur!"


"Selamat atas pernikahanmu!" seru Fathur.


"Terima kasih! Kenapa kamu, bisa ada disini?" tanya Tasya penasaran.


"Aku menemani, Fani datang ke pesta kalian,"


"Eh, kok bisa? Siapa yang mengundangnya?" tanya Tasya bingung.


"Hendra yang mengundangnya. Mereka teman baik." jawab Fathur.


"Oh."


"Kenapa, Kak Hendra tidak pernah cerita kalau dia berteman dengan dr. Fani?" batin Tasya.


Mereka berdua kembali terdiam. Suasana canggung kembali melanda mereka.


"Aku harus meninggalkan tempat ini sekarang juga. Pasti Kak Hendra sudah menungguku disana. Aku tidak mau membuatnya khawatir." batin Tasya.


"Permisi, Fathur! Aku harus kembali ke pesta. Pasti orang-orang sudah menungguku." pamit Tasya.


Tasya lalu beranjak meninggalkan tempat itu. Ia tidak mau suaminya mengkhawatirkannya. Dan ia juga takut bisa terbawa perasaan jika ia berlama-lama dengan masa lalunya ditempat itu.


"Tunggu, Tasya!" seru Fathur saat Tasya sudah melewatinya sekitar jarak 3 meter.


"Maaf, aku masih ingin bertanya sesuatu padamu," ujar Fathur saat melihat Tasya berhenti.


"Apa yang ingin kamu tanyakan? Cepat katakan, karena aku sedang buru-buru." tanya Tasya tanpa berbalik sedikitpun dari posisinya.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Fathur.


"Tentu saja. Aku tidak punya alasan untuk tidak bahagia." jawab Tasya mantap namun masih tetap pada posisinya.


"Syukurlah. Apa kamuuu, sudah mencintai suamimu?" tanya Fathur pelan.


"Tentu saja. Aku saaangat mencintai suamiku. Dia suami yang sangat baik. Dan dia juga mampu memperlakukanku dengan saaangat sangat baik. Dia memang sangat pantas untuk mendapatkan cintaku. Apalagi jika aku mengingat semua perjuangan-perjuangannya dulu."


Fathur tersenyum kecut mendengar jawaban Tasya.


"Jadiii, apa aku tidak pantas untuk kamu cintai?"


Tasya terperangah mendengar pertanyaan Fathur. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Hei! Kamu ini bicara apa, sih? Apa kamu lupa siapa aku dan juga siapa kamu? Kita ini sudah sama-sama menikah, Fathur. Kalau pun ada yang harus kita cintai, yaitu pasangan kita masing-masing. Bukan orang lain." jelas Tasya.


"Daaan, asal kamu tahu. Aku sudah lama mengikhlaskanmu. Bahkan sebelum aku menikah dengan Kak Hendra. Kita ini ditakdirkan untuk tidak berjodoh. Kita harus terima itu dengan besar hati,"


"Jadi, kamu sudah benar-benar melepaskanku, Tasya." batin Fathur.


Fathur jatuh terduduk dilantai. Rasanya kedua kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya. Ia duduk bersimpuh dihadapan Tasya. Ia merasa tidak sanggup mengetahui kenyataan bahwa gadis yang sangat ia cintai itu sudah tidak mencintainya lagi.


"Fathur! Apa yang kamu lakukan? Ayo berdiri! Nanti ada yang liat, orang-orang bisa salah paham jika melihat kamu seperti ini." perintah Tasya seraya mengitarkan pandangannya melihat ke sekeliling.


"Aku sudah berusaha, Tasya. Aku sudah berusaha. Tapi aku tetap tidak bisa. Aku sangat sulit melupakanmu. Sangat sulit melupakan semua kenangan indah yang pernah kita lalui bersama. Aku merasa sakit hati melihat kamu bahagia dengan orang lain,"


"Aku dihantui rasa bersalah saat aku mengingat betapa bodohnya aku, tidak bisa berjuang untuk mempertahankan cinta kita. Aku menyesal tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sangat menyesal," ucap Fathur seraya menunduk mengingat kesalahannya dimasa lalu.


"Sudahlah, Fathur. Ikhlaskan saja, kamu juga harus berusaha lebih keras lagi untuk menerima semua ini. Ini semua takdir Allah. Apa kamu lupa itu? Bukankah waktu itu aku dan kamu sudah sepakat untuk saling mengikhlaskan satu sama lain sebelum kita berpisah?"


"Iya, aku tau. Aku sudah mencobanya tapi, aku tetap tidak bisa. Seberapa keras pun aku mencoba tapi tetap tidak berhasil. Selama ini aku selalu berusaha untuk menerima Fani dalam kehidupanku, tapiii rasanya sangat sulit. Meskipun aku bisa berperan seolah-olah aku ini seorang suami dan calon ayah yang baik untuk mereka,"


"Tunggu dulu! Apakah istrimu sedang hamil anakmu?"


Fathur menjawabnya dengan anggukan.


"Astagfirullah, Fathur! Kamu ini sudah gila yah?" ucap Tasya tidak habis pikir seraya mengusap wajahnya.


"Entah kenapa sekarang aku merasa kamu itu tidak seperti, Fathur yang dulu aku kenal. Kenapa kamu bisa berpikiran sempit begini, sih?"


"Kamu dan dr. Fani sudah hampir setengah tahun menikah dan hidup bersama. Apalagi sekarang dia sedang mengandung anakmu. Lalu apa yang membuat kamu masih belum bisa mencintainya juga? Hah?!"


Fathur terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Tasya.


"Fathur! Kamu harus melupakanku, dan melepaskanku dengan ikhlas. Aku sudah bahagia dengan rumah tanggaku. Jadi, kamu pun juga harus bahagia dengan rumah tanggamu. Kamu tidak boleh seperti ini terus,"


"Oh iya, aku turut bahagia atas kehamilan istrimu. Dan aku mengucapkan selamat karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah."


"Mulai sekarang, jadilah suami yang baik dan ayah yang baik untuk mereka. Kamu tidak perlu berpura-pura lagi. Lakukanlah dengan sepenuh hati karena itu memang kewajibanmu."


Tiba-tiba, suara seorang laki-laki mengagetkan mereka,


"Sayang!"