How To Love You

How To Love You
Bab 212



Tidak lama kemudian, Bi Lastri datang sambil membawa 1 botol kecil minyak kayu putih dan segelas teh hangat. Bi Lastri pun kemudian meletakkan nampan kecil yang ia bawa itu di atas meja.


"Bi! Tolong buatkan bubur dan bawa kemari secepatnya," titah Miko.


"Baik, Den," ucap Bi Lastri mengerti. Ia pun segera beranjak meninggalkan ruangan itu.


Miko meraih botol hijau bening yang tadi diletakkan oleh bi Lastri di atas meja. Ia lalu menuangkan beberapa tetes minyak kayu putih diujung jarinya kemudian mengoleskannya diujung hidung Tantri.


Pelan-pelan Tantri mulai bergeming dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan-lahan ia mulai membuka sedikit matanya sambil memegangi kepalanya. Ia merasa kepalanya sedikit pusing.


Aku dimana? Kenapa Kak Miko juga ada disini? Batin Tantri. Ia masih merasa kebingungan karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.


"Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga. Kamu membuatku khawatir," ucap Miko.


Akhirnya ia bisa bernapas lega melihat Tantri siuman.


"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Tantri sembari berusaha bangkit dari posisinya.


"Pelan-pelan," ucap Miko sambil membantu Tantri bangun dan membuatnya bersandar di sandaran sofa yang empuk dan nyaman.


"Tadi kamu pingsan," lanjut Miko menjawab pertanyaan Tantri.


"Pingsan?" Tantri masih merasa kebingungan. Ia masih belum mengingat semua kejadian sebelum ia kehilangan kesadarannya tadi.


"Iya. Kata dokter kamu kecapekan dan telat makan," jelas Miko.


"Ini! Minum teh hangat ini dulu supaya kamu merasa agak enakan," Miko memberikan segelas teh hangat yang dibuatkan oleh Bi Lastri tadi. Tantri pun kemudian meneguk teh itu hingga dibawah setengahnya. Miko hanya bisa tersenyum melihatnya.


"Ini karena kamu bandel. Tadi siang kamu dipaksa makan tapi kamu cuma makan 2 sendok nasi saja. Bagaimana kalau sudah begini? Siapa yang akan disalahkan?" ujar Miko mulai meluapkan kekesalannya karena gadis itu tidak menuruti perintahnya tadi siang.


"Kalau keluarga kamu tahu kamu pingsan gara-gara kamu telat makan, pasti mereka mengira kalau aku tidak memberi kamu makan. Padahal kenyataannya yang bandel itu kamu. Kamu tidak mau menurut apa kataku," cerocos Miko.


"Maaf," ucap Tantri lirih sambil menekuk wajahnya. Ia sadar kalau ia salah karena tidak menuruti pria didepannya.


"Maaf, maaf. Dasar bandel!" gerutu Miko seraya mencubit hidung Tantri.


"Sakit, Kak. Kenapa sih, Kak Miko hobbi banget nyubit hidung aku?" protes Tantri sambil memegangi hidungnya yang kesakitan akibat ulah Miko.


"Kata Mama, tadi siang kamu juga membantu orang-orang menyiapkan persiapan acara. Setelah acara selesai, kamu juga membantu mereka membersihkan sisa-sisa acara. Apa itu benar?" tanya Miko mulai menginterogasi Tantri.


"He'em," gumam Tantri sambil menganggukkan kepalanya yang sudah ia tekuk dari tadi. Ia seperti anak kecil yang telah melakukan kesalahan dan takut dimarahi emaknya.


"Lain kali kamu jangan pernah melakukan pekerjaan seperti itu lagi," tegas Miko.


"Kak, aku ngebantuin mereka karena aku bosan dikamar. Daripada karatan dikamar mending aku bantuin bi Lastri sama yang lainnya dibawah," jawab Tantri ingin membela dirinya sendiri.


"Kalau kamu bosan dikamar, kamu bisa ke kamarku," kata Miko.


"Ngapain?" tanya Tantri pelan.


"Yah, nonton drakor kek. Apa kek gitu. Tergantung apa hobbimu," jawab Miko.


"Oh. Eh, kita dimana sih, Kak? Kok silau banget gini," tanya Tantri sambil menyapukan pandangannya melihat ke sekeliling. Ia masih belum ingat dimana ia berada saat itu.


"Kita di lagi dikamarnya Mama. Apa kamu lupa?" jawab Miko.


Tantri mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ia pingsan. Ia kembali terkejut setelah mengingat penyebab ia begitu shock sampai-sampai kehilangan kesadarannya.


"Astaga! Cincin."


Gadis itu pun seketika teringat dengan cincin yang disematkan oleh Bu Melda di jari tangannya. Matanya menyorot benda berkilau yang melingkar manis di jari tengah kanannya tersebut.


"Cincin? Cincin apa?" tanya Miko penasaran.


Tantri pun kemudian menunjukkan cincin itu pada Miko.


"Siapa yang sudah mengikatmu? Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Miko sedikit gusar. Ia tidak rela ada yang mengikat gadis pujaannya itu. Tapi setahunya Tantri tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun kecuali dirinya.


"Tenang dulu, Kak. Ini mamanya, Kak Miko yang ngasih," jawab Tantri lirih.


"Apa?"


Miko begitu terkejut. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu harus senang atau sedih. Yang jelas, ia bisa melihat raut sendu diwajah gadis pujaannya itu.


"Untuk apa Mama memberikanmu cincin emas ini? Ini lebih mirip cincin tunangan ataupun cincin kawin," ucap Miko seraya memeriksa cincin itu di tangan Tantri.


"Katanya ...." Tantri merasa tidak sanggup mengatakannya.


"Katanya apa, Tri? Ayo katakan padaku! Tidak apa," tanya Miko penasaran. Ia melihat gadis itu sedikit lagi meneteskan air matanya.


"Hei, jangan menangis! Ayo cepat katakan padaku! Jangan buat aku penasaran. Apa yang Mama katakan padamu, Tri? Hem," tanya Miko penasaran. Setelah cukup lama terdiam, Tantri pun kemudian berusaha menjelaskan pada Miko.


"Katanya ... aku mau ... aku mau dijodohin sama, Kak Miko," jawab Tantri. Air matanya pun kini tertumpah.


Ini yang aku takutkan. Kenapa Mama cepat sekali mengambil tindakan? Sekarang waktunya masih belum tepat. Batin Miko.


Ia merasa kasihan melihat pujaan hatinya bersedih. Meskipun ia sangat ingin memiliki gadis itu, tapi ia tidak mau egois dengan memaksakan kehendaknya seperti yang dilakukan oleh mamanya.


"Sudah, jangan menangis," bujuk Miko sambil mengusap air mata Tantri yang merembes dipipinya.


"Kak Miko! Kita harus bagaimana? Huhuhu," tanya Tantri. Tangisannya semakin pecah saja.


"Sudah, berhentilah menangis," bujuk Miko sembari tidak berhenti menyeka air mata gadis itu.


"Me-mangnya, Kak Miko mau a-pa dijodohin sa-ma anak ke-cil kayak aku? Ng-gak, kan? Lagian di ja-man mo-dern kayak seka-rang ini, masa ma-sih ada per-jodohan seperti itu. Kan ud-ah nggak ja-man la-gi, Kak," ujar Tantri terputus-putus karena ia terus-terusan saja menangis.


"Sudah, berhentilah menangis. Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Aku juga tidak akan memaksamu," ucap Miko membuat Tantri mendongakkan kepalanya.


"Serius?" tanya Tantri ingin memastikan kalau Miko sedang tidak bercanda.


"He'em," gumam Miko sambil tersenyum dipaksakan.


Apakah ini pertanda gadis didepannya itu sedang menolaknya? Pikir Miko.


"Terus bagaimana dengan cincin ini? Apa aku harus mengembalikannya?" tanya Tantri meminta pendapat Miko.


"Kalau itu aku tidak tau. Nanti kamu tanya sendiri langsung pada mama," jawab Miko.