How To Love You

How To Love You
SAH!



Jam sudah menunjukkan waktu pukul 10:30 pagi. Tidak lama lagi mempelai pria dan rombongannya akan datang. Kesepakatan kedua belah pihak keluarga, ijab qabul dilangsungkan pukul 11:00 pagi. Berarti sisa setengah jam lagi.


Suasana rumah pak Rudi dan bu Indah sudah ramai dihadiri sanak saudara, para kerabat dari jauh, serta para tetangga. Mereka bersenda gurau sambil menikmati jamuan yang telah dihidangkan.


Saat ini Tasya sedang sendiri di dalam kamarnya. Dia mondar-mandir ke sana ke mari tanpa ada maksud dan tujuan yang jelas. Mengingat tidak lama lagi dia akan melepas masa lajangnya, gadis itu pun merasa merasa sangat gugup dan deg-degan. Apalagi pernikahannya begitu tiba-tiba, dia belum mempersiapkan diri sepenuhnya.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuat Tasya menghentikan langkah kakinya yang sudah ke sana ke mari sedari tadi.


"Masuk! Pintunya gak dikunci!"


Tasya segera duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Tasya ... persiapkan dirimu, Nak. Sebentar lagi rombongan mempelai pria datang. Mereka sudah ada di jalan menuju kemari," kata tante Dia. Tante Dia adalah adik dari bu Indah.


"I-iya, Tante." Tasya menjawab dengan gugup.


"Tante Dia, bisa minta tolong panggilkan Dewi teman saya."


Di saat seperti ini, Tasya membutuhkan sosok Dewi untuk menemani di sampingnya. Sahabat rasa saudara yang selalu bisa mensupportnya dalam keadaan apa pun.


"Iya, sebentar Tante panggilkan," kata tante Dia lalu menutup pintu kamar Tasya kembali.


Tidak lama kemudian Dewi pun datang.


"Ada apa?" tanya Dewi sembari duduk di samping Tasya.


"Wi, gimana ini aku gugup banget? Deg-degan juga." Tasya mencium tangannya yang sudah kedinginan dari tadi.


"Kamu tenang dulu ya. Semuanya pasti akan baik-baik aja dan berjalan dengan lancar. Coba tarik dulu napasmu dalam-dalam lalu keluarkan," kata Dewi sambil menenangkan sahabatnya itu.


Tasya pun mengikuti intruksi yang diberikan oleh Dewi secara berulang-ulang.


"Gimana, udah agak mendingan?" tanya Dewi.


Tasya menjawab dengan anggukan.


Sementara itu diluar rumah, rombongan mempelai pria sudah sampai. Hendra terlihat sangat tampan dan mempesona dengan setelan jas berwarna putih yang melekat dan membalut tubuhnya. Ditambah peci berwarna senada yang bertengger di kepalanya.


Rombongan mempelai pria disambut hangat oleh keluarga mempelai wanita. Mereka semua disambut dengan tari-tarian serta alunan musik tradisional sesuai dengan adat yang berlaku didaerah tersebut.


Beberapa saat kemudian, Hendra beserta penghulu dan ayah mertuanya sudah duduk saling berhadapan. Ditemani para saksi dan juga disaksikan rombongan mempelai pria dan seluruh tamu yang hadir. Mereka semua tidak sabar ingin segera menyaksikan momen sakral tersebut.


Tasya berjalan ke arahnya menuju diapit oleh ibunya dan Dewi. Gadis itu terlihat berjalan sambil menundukkan kepalnya karena malu-malu.


Setelah Tasya sampai dan duduk tepat di samping Hendra, Hendra melirik gadis yang sebentar lagi akan dia nikahi itu sambil tersenyum bahagia.


Hendra merasa sangat puas melihat calon istrinya itu sudah disulap bak bidadari oleh perias yang dia sewa. Serta kebaya pengantin berwarna putih tulang yang terlihat simpel namun tetap terlihat elegan juga semakin menambah kecantikan gadis tersebut.


Syukurlah. Aku tidak salah memilih perias untukmu, serta designer ternama untuk merancang baju pengantin kita.


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Pak Penghulu yang langsung diiyakan oleh pak Rudi dan yang lainnya.


Setelah pak Rudi melafalkan akadnya, kini giliran Hendra yang menjawab.


“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.” Hendra menjawabnya dengan lancar, mantap dan dalam satu kali tarikan napas.


Serentak para saksi dan para hadirin berkata sah. Mereka semua memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT karena mereka diberikan kemudahan dan kelancaran untuk melangsungkan acara pernikahan tersebut.


Semua orang yang hadir merasa terharu dan bahagia. Pak Rudi dan pak Gunawan saling berpelukan, begitu pula dengan Bu Indah dan Bu Arini. Sekarang mereka sudah resmi berbesan dan sudah menjadi satu keluarga.


Hendra menitikkan air matanya bahagianya. Dia merasa sangat terharu dan sangat bahagia melebihi apa pun. Kini dia sudah resmi mempersunting gadis pujaan hatinya dan sudah memiliki gadis itu seutuhnya.


Tasya meraih tangan Hendra lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut. Hendra membalas dengan memberikan kecupan di keningnya.


Setelah saling bertukaran cincin, Hendra pun membawa Tasya ke dalam pelukannya. Saat ini dia tengah merasakan bahagia yang teramat sangat.


"Akhirnya, kamu sudah resmi menjadi milikku seutuhnya. Aku berjanji, aku akan menjadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak. Dan aku juga berjanji akan selalu melindungimu dan membahagiakanmu beserta anak-anak kita nanti sampai akhir hayatku." Hendra berbisik sambil memeluk Tasya dengan erat.


"Aamiin. Makasih, Kak."


Seketika hati Tasya menghangat dan terasa sangat nyaman berada di dalam pelukan suaminya. Mungkin sudah ada pertanda kalau dia sudah mulai membuka pintu hatinya untuk membalas cinta Hendra. Meskipun sebenarnya Tasya belum menyadari hal tersebut.


Tasya meyakinkan dirinya sendiri kalau Hendra nanti pasti bisa membahagiakannya. Karena sejauh ini dimatanya, laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya itu adalah tipe pria yang bisa dipegang janji dan ucapannya.


Setelah merasa cukup berpelukan, mereka pun kemudian sungkem pada kedua orang tua mereka.


"Jadilah istri yang baik, yang taat dan berbakti kepada suamimu, Nak." Pak Rudi berpesan sambil mengelus puncak kepala putrinya.


"Baik, Ayah." Tasya menjawab dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu lalu memeluk cinta pertamanya itu.


"Tugas Ayah hanya sampai di sini, Nak Hendra. Jaga dan bimbinglah istrimu dengan baik." Kali ini pak Rudi berpesan pada anak menantunya tersebut.


Hendra mengangguk sopan pertanda mengerti. "Baik Ayah."


"Taati suamimu, Nak, dan jadilah istri yang baik. Layani pula suamimu dengan baik jangan suka membantah perintah suamimu selama dia tidak menyuruhmu bermaksiat," pesan bu Indah, lalu memeluk putrinya tersebut. Air mata keduanya pun tidak terbendung lagi.


Setelah Tasya bergeser Hendra pun sungkem dengan ibu mertuanya.


"Pesan Ibu padamu, Nak Hendra. Perlakukanlah istrimu dengan baik. Jangan pernah sekali-kali kaku membentaknya. Wanita itu akan menjadi lemah ketika dibentak. Jika istrimu melakukan kesalahan, katakan padanya dengan baik-baik agar dia bisa segera memperbaiki kesalahannya," pesan bu Indah pada menantunya.


"Saya mengerti, Bu. Saya berjanji akan memperlakukan anak ibu dengan sangat baik," ucpa Hendra.


Bu Indah tersenyum bahagia dengan mata berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu menepuk pelan bahu menantunya.


Selesai mendapat wejangan dari kedua orang tua mempelai wanita, kini giliran pak Gunawan dan bu Arini yang menitipkan pesan untuk sepasang pengantin baru tersebut.