How To Love You

How To Love You
Bab 118



Tania membanting sepatu itu ke lantai. Radit tertawa kecil melihatnya seraya berkata dalam hati.


"Sepertinya dia benar-benar marah. Nia, kamu bener-bener ngemesin banget sih kalo lagi marah. Ternyata cewek kalo lagi cemburu ternyata seperti itu yah. Biar barang pemberian cowoknya di jadiin pelampiasan juga. Hehe." batin Radit.


Tania pun meraih sepasang sepatu yang sudah ia banting tadi ke lantai dengan kedua tangannya.


"Sepatu, maafin aku yah. Kalo sekiranya nanti aku tempatin kamu pada tempat yang bukan seharusnya."


"Kalo seandainya nanti aku nemuin dua orang menyebalkan itu mesra-mesraan lagi seperti tadi malam. Maaf, kalo aku harus menggunakan kalian untuk menghajar kedua orang itu."


"Dan maaf juga kalo aku harus nimpukin wajah mereka menggunakan kalian. Kalian harus bantuin aku untuk membuat wajah mereka babak belur, biar tau rasa."


Mendengar ucapan Tania, Radit malah tergelak seraya berjalan menuju ke arah Tania. Entah kenapa gadisnya itu terlihat semakin menggemaskan menurutnya saat lagi cemburu seperti itu.


Tania kaget bukan main. Ia tidak menyangka kalau Radit ada disitu. Ia berpikir tadi kalo ia hanya sendiri di kamar itu dan tidak ada orang lain. Ia sangat heran melihat Radit yang tiba-tiba muncul begitu saja didalam kamar tersebut. Bagaimana mungkin Radit bisa masuk? Sedangkan kunci kamarnya masih ia pegang, pikir Tania.


"Se sejak kapan kamu ada disana? Siapa yang membukakanmu pintu?"


"Sejak tadi. Yang bukain pintu yah, mba-mba tukang rias tadi."


"Apa?"


"Berarti si br*ngsek ini sudah melihat dan mendengarkan semuanya." batin Tania kesal.


"Kamu cantik sekali, sayang. Aku jadi makin cinta sama kamu."


Radit pun lalu duduk dengan jarak kurang lebih 1 meter dari tempat Tania duduk sekarang.


"Jangan mendekat! Dan mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi,"


"Nia, Nia. Kamu lucu banget kalo lagi cemburu. Hehe. Jadi gemes akunya."


"Siapa juga yang cemburu? Ngapain juga aku harus cemburu? Nggak penting banget." sanggah Tania.


Tania buru-buru memakai flat shoes tersebut. Ia ingin segera keluar meninggalkan kamar itu. Ia tidak ingin berlama-lama didalam sana bersama laki-laki yang katanya ia benci namun didalam hatinya masih sangat ia cintai.


Setelah selesai, Tania lalu meraih tas dan smartphonenya. Ia kemudian segera berlari dengan cepat menuju pintu hendak meninggalkan Radit. Spontan Radit ikut berlari mengejarnya seraya berteriak.


"Nia, jangan pergi! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,"


Namun terlambat sudah, Tania cukup cepat berlari keluar hingga Radit tidak bisa mencegahnya. Aksi kejar-kejaran pun sempat terjadi. Namun tidak berlangsung lama karena kaki jenjang Radit bisa dengan mudahnya menyusul langkah Tania seberapa cepat pun ia berlari.


Radit menarik tangan Tania lalu menyandarkan tubuh Tania ke tembok. Ia lalu mengurung Tania dengan kedua tangannya untuk mencegahnya kabur lagi. Namun Tania tidak diam begitu saja. Ia memberontak minta dilepaskan oleh Radit.


"Lepasin aku Dit! Lepasin!"


"Nggak, sayang. Kita harus bicara sekarang. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." jelas Radit seraya menatap lekat wajah cantik yang ada dihadapannya dengan penuh cinta.


"Aku bilang, jangan panggil aku seperti itu lagi, mengerti! Dan nggak ada yang perlu dijelasin. Semuanya udah jelas. Aku melihatnya dengan mata kepala aku sendiri, Dit." ucap Tania dengan suara lantang lalu memalingkan wajahnya tidak mau menatap Radit.


"Cup."


"Radiiit, apa yang kamu lakukan? Dasar cowok br*ngsek, baj*ngan, berani sekali kamu menciumku."


Sontak saja mata Tania terbelalak dan semakin murka dibuatnya. Ia semakin meronta ingin melepaskan diri dari kurungan tangan Radit. Namun sekeras apapun ia berusaha, sekuat apapun ia memukul Radit namun ia tetap tidak bisa lolos dari kurungan Radit.


"Maaf, Nia, kalau aku membuatmu marah. Tapi aku menjadikan kecupan di pipimu ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah cemburu padaku."


"Hah? GR banget sih kamu, Dit. Siapa juga yang cemburu?" bohong Tania.


Secara otomatis blush on alami di pipi Tania muncul dengan sendirinya. Tapi tidak terlihat begitu jelas karena rona wajahnya ditutupi oleh make up dan blush on dengan warna yang senada dengan warna blush on alaminya.


Radit semakin gemas dibuatnya. Menurut Radit, Tania seperti maling yang jelas-jelas sudah kepergok tapi masih tidak mau mengaku juga.


"Ya kamu lah, sayang. Siapa lagi?"


"Sudah aku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Aku muak sama kamu, Dit. Aku benci sama kamu dan aku mau sekarang kita putus!"


"Jderrr."


Radit bagai tersambar petir mendengar ucapan Tania barusan. Ia tidak pernah menyangka kalau akibat dari keisengannya akan berbuah seperti ini. Ia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Nggak, nggak, Nia. Jangan pernah kamu ucapkan kata-kata itu lagi. Aku nggak mau denger kata-kata itu lagi. Aku nggak mau pisah sama kamu. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, sayang. Aku sayang banget sama kamu dan aku cinta banget sama kamu, Nia sayang."


"Hentikan! Aku tegaskan sekali lagi sama kamu, Dit. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Karena sekarang kita bukan siapa-siapa lagi. Kita sudah put--."


"Cup."


Radit membungkam bibir Tania dengan bibirnya, namun tanpa lum**an sedikitpun. Ia hanya menempelkan bibirnya di bibir tipis milik gadis yang menyandang status sebagai pacarnya tersebut. Agar supaya bibir itu tidak lagi melontarkan kata-kata yang mampu menyayat hatinya.


Mata Tania terbelalak kaget. Jantung keduanya berdegup sangat kencang seperti ingin loncat keluar dari tempat persembunyiannya. Pertemuan antar bibir itu merupakan kali pertama untuk mereka berdua. Tania mendorong Radit dengan sekuat tenaga hingga Radit terhuyung dan hampir terjatuh.


"Plak."


Tania menampar pipi Radit. Ia yang tadinya sudah marah, kini dibuat semakin marah atas perlakuan Radit yang begitu berani padanya.


"Kurang ajar kamu, Dit. Br*ngsek! Kamu mengambil ciuman pertamaku."


Radit malah tersenyum puas mendengar ucapan Tania sambil memegangi pipinya yang perih dan panas akibat dari tamparan Tania.


"Kamu juga sudah mengambil ciuman pertamaku. Berarti kita impas, kan?"


"Ergh, aku benci sama kamu, Dit."


Tania lalu pergi meninggalkan Radit. Ia merasa sangat marah pada Radit saat ini. Radit melihat kepergian Tania dengan senyuman cerah secerah sinar mentari. Ia merasa sangat bahagia telah mendapatkan dan memberikan ciuman pertamanya pada gadis kesayangannya itu. Tangan yang tadinya memegangi pipinya yang kesakitan, kini beralih menyentuh bibirnya. Ia juga tidak pernah menyangka kalau dirinya bisa seberani itu pada Tania. Mungkin hal itu terjadi karena keduanya sama-sama emosi tadi.


Radit dan Tania tidak sadar, kalau sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari tadi. Bibir laki-laki itu tersenyum miring melihat pertengkaran sepasang kekasih tersebut. Laki-laki itu langsung menarik kesimpulan kalau hubungan pasangan kekasih tersebut sudah berakhir sekarang.