
Setelah Hendra kenyang, Tasya memutuskan untuk masuk ke dalam kelasnya.
"Kak Hendra, saya ke kelas dulu ya. Kak Hendra hati-hati di jalan."
"Aku mau mengantar kamu sampai ke depan kelas."
"Eh, gak usah, Kak," tolak Tasya.
"Ayolah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja sampai di kelasmu."
Huft. Ini tuh terlalu berlebihan namanya. Batin Tasya.
"Beneran gak usah, Kak. Di sini juga gak ada yang makan orang kok. Jadi Kak Hendra gak perlu khawatir."
"Ayolah, Sayang. Aku hanya ingin melindungimu dan memastikan kamu selamat sampai di kelasmu. Jadi nanti aku bisa pulang dengan tenang."
Apa? Dia memanggil aku apa? Sayang? Kenapa dia lebay banget sih?
"Mm ... Kak Hendra jangan panggil saya seperti itu. Malu 'kan kalau ada yang dengar nanti." Tasya menggaruk-garuk tengkuknya tidak gatal dan tertutupi kain hijab.
"Kenapa harus malu? Nanti pun kamu juga harus memanggilku seperti itu. Jadi yah ... itung-itung kita berdua latihan mulai sekarang." Hendra tersenyum setelah mengucapkannya.
Senyumnya itu loh. Kok lama-kelamaan aku liat kak Hendra jadi keingat sama kucing sih? Gak tau kenapa? Merasa mirip aja. Ah, aku punya ide, nanti setelah kami menikah aku pengen panggil dia Puss aja. Hehe. Pasti lucu.
Tasya tidak tahu mesti berkata apa lagi. Gadis itu merasa bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang ditutupi oleh hijab. Sampai di sini dia sudah sedikit mengenal sifat Hendra.
Hendra adalah tipe cowok yang over protektif terhadap orang yang dicintainya. Tasya lagi-lagi harus menuruti kemauannya untuk mengantarkan gadis itu sampai di depan kelasnya. K!arena Tasya tahu, menolak pun pasti akan percuma, ujung-ujungnya Hendra pasti akan memaksa juga.
Keduanya berjalan beriringan menuju kelas Tasya di lantai 2 sambil mengobrol.
"Kamu nanti pulang jam berapa?"
"Jam setengah lima, Kak."
"Nanti sore aku jemput ya, Sayangku." Hendra berkata sambil tersenyum.
Sayangku? Kenapa bibirnya itu gampang sekali sih mengucapkan kata itu? Oh iya, aku lupa, dia 'kan mantan playboy, jadi wajar aja kalau dia sefasih itu mengucapkan kata sayang. Batin Tasya.
"Iya, Kak."
Hendra kembali tersenyum. "Nah, gitu dong. Aku senang kalau istriku penurut."
Tasya hanya membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan.
Gimana gak nurut coba? Aku nolak pun juga percuma, semuanya pasti sia-sia. Ujung-ujungnya kamu juga tetap maksa. Huft. Aku gak bisa ngebayangin kehidupan aku nanti setelah menikah sama kamu Puss. Batin Tasya.
"Kita udah sampai, Kak. Ini kelasku." berhenti di depan sebuah kelas.
"Mm ... baiklah. Sekarang masuklah aku ingin memastikan kamu mendarat dengan selamat di bangkumu," kata Hendra.
Apa? Mendarat? Bahasamu ituloh. Kamu kata aku pesawat apa pake mendarat mendarat segala. Hehe. Puss ... Puss. Batin Tasya.
"Kalau gitu saya masuk kelas dulu ya, Kak. Kak Hendra hati-hati di jalan."
Tasya tersenyum lalu melangkah masuk menuju tempat duduknya.
Setelah memastikan Tasya duduk dibangkunya dengan aman, Hendra pun memutuskan untuk pulang.
"Aku pulang ya, Sayangku," pamit Hendra lalu memberikan kiss bye pada Tasya.
Tasya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu diperhatikan oleh teman-temannya dari tadi.
Sementara itu, semua teman-teman dekat Tasya mulai heboh melihat teman sekelas sekaligus temat dekat mereka datang ke kampus di antar oleh seorang pemuda tampan hingga di depan pintu kelas. Para gadis-gadis itu mulai membentuk formasi lingkaran mengelilingi Tasya.
"Tasy, siapa itu? Pacar kamu, ya?" tanya Darshy penasaran.
"Iya, Tasy kasih tahu dong. Dia anak mana?" lanjut Delly.
"Cowok kamu keren banget. Namanya siapa sih?" timpal Icha.
"Eh Tasy, itu penggantinya ... oops, sorry." Jusnhy menyadari kalau dirinya hampir saja salah bicara setelah terkena sikut Jusmhy, saudari kembalinya yang berdiri tepat di sampingnya.
Semua teman-teman terdekat Tasya tahu kalau dia tidak mau mendengar nama Fathur lagi.
"Mm ... aku boleh minta dikenalin nggak, Tasy?" sambung Jusmhy.
"Aku juga dong. Minta dikenalin, boleh, ya? Ya. Sekalian nomor whatsappnya sama akun medsosnya juga. Hehe," timpal Yuni.
Sementara itu, Marnhy dan Imha yang baru datang merasa sangat penasaran melihat teman-temannya yang tengah berkerumun. Mereka yang tidak mau ketinggalan berita yang sedang update pun segera menghampiri.
"Eh eh, ada apa ini? Kasih tau dong ..." ucap Marnhy yang baru bergabung dengan formasi lingkaran tersebut.
"Iya nih. Aku juga penasaran, ada apa sih emangnya?" lanjut Imha yang sama dengan Marnhy, tidak mau ketinggalan.
Tasya yang sudah menutup telinga dari tadi akhirnya menjawab.
"Diaaam! Kalau kalian masih rusuh juga, aku gak mau jawab."
Seketika semua teman-teman Tasya terdiam, GDis itu pun mulai menjelaskan.
"Dia, namanya kak Hendra. Dan dia ... temen aku," ucap Tasya ragu.
Gak mungkin 'kan aku bilang kalau kak Hendra itu calon suami aku. Pasti mereka bakalan tambah heboh lagi. Bisa-bisa satu kampus juga ikutan heboh. Ini aja udah bikin pusing.
Teman-temannya merasa tidak puas dan tidak percaya mendengar jawaban Tasya.
"Ah, aku gak percaya. Kamu pasti bohong, 'kan?" tuding Darshy.
"Iya, aku juga gak percaya. Ayo ngaku aja, Tasy," lanjut Delly sambil ikut menunjuk-nunjuk Tasya.
"Iya, aku juga gak percaya," timpal Icha.
"Aku juga," timpal Yuni.
"Setuju. Mana ada teman yang nganter sampe depan pintu kelas kayak tadi terus bilang, aku pulang ya sayangku," jelas Jusnhy sembari memperagai gaya Hendra berbicara.
"Iya, bener tuh. Terus pake kiss bye segala lagi," kata Jusmhy.
"Apa? Sayangku? Kiss bye? Wah wah wah." Marnhy berkata sambil bertepuk tangan kecil.
"Rugi dong kita, Mar, gak nyaksiin adegannya secara langsung," kata Imha.
Tiba-tiba dosen datang dan memasuki kelas.
"Selamat pagi anak-anak!"
Formasi lingkaran tadi pun seketika bubar. Mereka mengumpat kesal dalam hati karena merasa dibohongi oleh Tasya.
Untunglah nu Rizqi cepat masuk. Jadi untuk sementara aku selamat dari pertanyaan-pertanyaan mereka. Huft. Batin Tasya seraya menghembuskan napas secara kasar.