
Radit dan Tania sedang duduk berdua diruang tamu, sedangkan yang lainnya ada diteras.
"Nia sayang, Om Rudi juga ngijinin aku loh bermalam disini malam ini," ujar Radit.
"Kamu ngapain sih, Dit pake acara bermalam-bermalam segala? Langsung pulang aja sana, rumah kamu kan dekat." balas Tania.
"Loh, sayang, kok kamu malah ngusir aku sih?" protes Radit.
"Bukannya ngusir, apa kata orang nanti?" jelas Tania.
"Yah, kan bukan cuma aku yang nginap sayang, kita ramai-ramai. Boleh yah, boleh yah sayang." ujar Radit memohon pada Tania dengan wajah memelas.
"Masalahnya kamu mau tidur dimana nanti? Kamar yang kosong itu cuma 1 doang, kan ada Kak Miko juga." jelas Tania.
"Nggak apa-apa, nggak ada masalah. Aku tidur dikamar, dia tidur didepan tv. Beres, kan?" jawab Radit dengan entengnya.
"Ih, kamu ini. Mikir dong, Dit. Mana mau Kak Miko tidur ditempat begituan? Dia itu orang kota Dit, orang kaya pula. Mana pernah dia tidur di kasur lantai yang tipis seperti itu?" jelas Tania.
"Nggak apa-apa toh sayang. Sekali-kali kan dia juga harus belajar beradaptasi dengan kehidupan orang desa seperti kita." balas Radit tidak mau kalah.
"Tau ah, aku mau tidur. Selamat malam!" ucap Tania tidak mau berdebat lagi dengan Radit karena menurutnya sia-sia saja ia menjelaskan semuanya pada pemuda itu. Ia tahu betul bagaimana sifat dan karakter Radit.
"Eh, cepat banget tidurnya sayang," kata Radit.
Sebenarnya Radit masih mau mengobrol dengan Tania.
"Aku udah ngantuk Dit. Sana, kamu gabung sama yang lainnya. Jangan ngekor mulu kayak anak ayam sama induknya." kata Tania.
"Aish, aku malas. Mending aku juga masuk kamar, biar nggak keduluan ngambil tempat sama orang lain." balas Radit.
"Terserah deh." ucap Tania.
Mereka berdua pun sama-sama masuk kedalam kamar. Tania masuk ke kamarnya, sedangkan Radit masuk ke dalam kamar Tama.
****
Keesokan harinya, Pukul 04.30
Radit setengah sadar dari tidurnya, namun matanya masih enggan untuk terbuka. Rasanya kedua kelopak matanya itu masih terasa berat untuk terbuka melihat keadaan dunia pagi itu untuk pertama kalinya. Dengan mata yang masih terpejam, ia lalu berusaha menarik sesuatu yang ada disampingnya yang ia pikir adalah guling. Radit merasa ada yang aneh dengan guling tersebut.
Ternyata yang disangka guling itu adalah Miko, Miko tidur disamping Radit tadi malam tanpa disadari dan diketahui kehadirannya oleh Radit. Miko takut tidur di kasur lantai depan tv sendirian. Ia pun lalu memilih masuk dan tidur satu ranjang dengan Radit.
Menyadari ada tangan yang meraba-raba tubuhnya dari dada hingga ke perutnya, Miko pun akhirnya terjaga dari tidurnya. Pelan-pelan ia membuka matanya lalu melihat sebuah tangan yang sudah kemana-mana diatas tubuhnya. Miko terkejut dan spontan ia terbangun dan berteriak sekeras-kerasnya.
"Huaa!!!" teriak Miko.
Radit tersentak kaget, spontan ia juga bangun dan ikutan berteriak sekeras-kerasnya seperti Miko.
"Aaa!!!" teriak Radit juga.
Radit sangat terkejut karena kehadiran Miko disampingnya. Karena yang ia tahu, ia hanya tidur sendirian dikamar itu.
Mendengar teriakan kedua lelaki itu, seisi rumah beserta para tetangga juga ikut tersentak kaget dibuatnya. Bu Indah dan Tania yang sudah melakukan aktifitasnya di dapur segera berlari ke depan pintu kamar yang mereka tempati. Sedangkan yang lainnya yang tadinya masih belum terjaga dari tidurnya tiba-tiba saja bangun dan berhambur keluar dari kamar mereka masing-masing.
"Ada apa?"
Hanya kata itu yang keluar dari mulut orang-orang yang kaget mendengar teriakan kedua laki-laki itu di pagi buta seperti saat itu. Sedangkan didalam kamar, Radit dan Miko sudah sama-sama sadar.
"Apa yang mau kamu lakukan padaku?" tanya Miko sambil memeluk dadanya.
"Eh, jangan salah yah aku ini laki-laki normal. Seharusnya aku yang nanya, ngapain kamu ada disini?" ucap Radit balik bertanya.
"Yah tidurlah, kamu pikir ngapain lagi?" balas Miko.
Begitulah perdebatan mereka seterusnya, dan tidak ada yang mau mengalah satu pun. Hingga akhirnya seisi rumah berkumpul didepan kamar yang mereka tempati sembari mengetuk pintu.
"Tok tok tok." Pak Rudi mengetuk pintu kamar yang mereka tempati membuat perdebatan mereka diatas ranjang sana terhenti.
Tidak berselang lama, Miko muncul setelah pintu kamar terbuka. Disusul oleh Radit yang juga ikut keluar dari dalam kamar.
"Kalian kenapa?"
Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut orang-orang yang sedang berkumpul menunggui mereka. Bukannya menjawab, Radit malah meminta air minum pada Tania. Mungkin saking kagetnya dia yang terpaksa terbangun karena tersentak kaget mendengar teriakan Miko.
Tania masuk kedalam dapur mengambilkan air minum untuk Radit. Radit mengekor dibelakangnya, sedangkan Miko memilih untuk duduk di kursi ruang tamu sambil berusaha menormalkan detak jantungnya yang hampir saja keluar dari tempat persembunyiannya tadi.
Setelah Miko terlihat sedikit lebih tenang, barulah Pak Rudi bertanya padanya tentang apa sebenarnya yang terjadi. Miko pun mulai menceritakan kejadiannya secara detail tanpa dikurangi ataupun ditambah sedikit pun. Mendengar ceritanya tersebut membuat semua orang terkekeh dan menertawainya dengan Radit.