How To Love You

How To Love You
Bab 63



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.


Tidak lama kemudian Hendra pun turun menghampiri mereka seraya berkata,


"Nih, uang jajan buat kamu." Hendra menyodorkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan pada Tantri.


"Makasih kakak ipar." ucap Tantri seraya mengambil uang yang diberikan Hendra padanya.


"Iya sama-sama." balas Hendra sambil tersenyum.


"Sering-sering yah kakak ipar." canda Tantri sambil tertawa kecil dan mengipas-ngipaskan uangnya.


"Huss kamu ini." tegur Tasya sambil mencubit pelan lengan Tantri.


"Hahaha. Tidak apa-apa sayang." ucap Hendra.


"Kalau kamu butuh uang atau kamu mau membeli sesuatu bilang saja padaku. Tidak usah sungkan, sekarang aku sudah jadi kakakmu juga." jelas Hendra pada Tantri.


"Makasih kak. Oh iya aku jalan dulu yah kak. Dah." pamit Tantri lalu berjalan keluar menuju motorya. Tasya dan Hendra mengantar kepergiaannya sampai di teras rumah mereka.


***


Restoran Jetpur.


Radit dan Tania masuk di salah satu restoran terbesar di daerah itu. Mereka mengambil tempat duduk di sudut ruangan. Setelah itu mereka memesan makanan dan minuman untuk santapan malam mereka. Sembari menunggu pesanan mereka siap. Mereka pun duduk sambil mengobrol.


"Abis ini nanti kamu mau langsung diantar kerumahmu atau ke rumah Kak Hendra dulu?" tanya Radit yang duduk di seberang meja Tania.


"Tunggu aku chat Tantri dulu, siapa tau dia udah pulang." jawab Tania. Lalu mengetikkan sebuah pesan di aplikasi Whatsappnya tertuju pada Tantri. Tidak butuh waktu lama, Tania sudah mendapat balasan dari Tantri.


"Langsung ke rumah aja Dit. Tantri udah pulang tadi sore. Dia bawa motornya pulang." ujar Tania memberitahu Radit.


"Oh iya. Yah udah, nanti aku antar kamu pulang ke rumahmu." balas Radit.


15 Menit kemudian, pesanan mereka sudah datang. Mereka pun lalu menyantap makanan yang mereka pesan tadi. Setelah selesai, Radit membayar makanannya dikasir. Ia menyuruh Tania menunggunya diluar.


"Makasih mba." ucap Radit setelah mendapat uang kembaliannya dari kasir resto. Ia pun melangkah hendak keluar dari restoran. Tiba-tiba langkahnya terhenti melihat pemandangan didepannya. Tania sedang mengobrol dengan seseorang yang ia kenal didekat mobilnya.


"Tania. Kamu sama siapa kesini?" tanya Yuda. Dulu Yuda adalah kakak kelas Tania di SMK. Dia setingkat dengan Radit tapi berbeda jurusan. Tania sudah lama naksir pada Yuda dan selama ini mereka cukup dekat.


"Aku sama temen kak." jawab Tania sambil mengulas senyum dibibirnya. Seketika ia jadi bersemangat bertemu dengan orang yang disukainya.


"Oh. Temen kamu mana? Terus kamu pulangnya nanti naik apa?" tanya Yuda lagi.


"Temenku masih ada didalam kak. Tadi aku nebeng sama dia. Oh iya, Kak Yuda mau makan disini juga? Makanan disini enak loh!" seru Tania.


Yuda tersenyum mendengar penuturan Tania. Ia lalu berkata, "Syukurlah kalau kamu suka. Ini restoran milik orang tuaku."


"Oh yah. Pasti enak jadi Kak Yuda bisa makan enak setiap hari, hehe." ucap Tania.


"Makasih sebelumnya kak. Kak Yuda tau sendiri kan kalau tempat ini terlalu jauh dari tempat tinggalku. Andai jaraknya cuma setengah jam perjalanan pasti aku kesini setiap hari." balas Tania seraya tersenyum.


"Kalau kamu mau, aku bisa nganterin kerumah kamu setiap kamu memintanya." tawar Yuda lagi.


"Nggak. Ngaak usah kak, makasih. Itu namanya nger ..." ucapan Tania belum selesai tiba-tiba Radit datang menghampiri mereka.


"Ehem ehem." deheman Radit memotong percakapan mereka. Tania dan Yuda menatap ke arah Radit. Radit berjalan menghampiri Tania.


"Sayang. Ayo kita pulang. Sudah gelap, nanti papa sama mama khawatir loh sama kamu." ujar Radit seraya merangkul bahu Tania.


Tania membelalakkan matanya mendengar ucapan Radit. Ia juga kaget saat Radit tiba-tiba merangkul bahunya.


"Lepasin nggak!" seru Tania memberontak berusaha melepaskan diri. Namun Radit tidak bergeming, ia malah semakin mempererat rangkulannya.


"Sayang kamu ini benar-benar pemalu yah. Ngapain juga kamu harus malu kalo Yuda liatin kita bermesraan gini." ucap Radit lalu mengecup kepala Tania yang terhalang oleh hijab.


"Hei ap ..." Tania mau protes tapi,


"Diam." bisik Radit sambil sekali lagi mengecup kepala Tania.


Sekali lagi Tania terbelalak melihat perlakuan Radit padanya. Ia mulai kesal dan geram atas perlakuan Radit.


"Kalian pacaran?" tanya Yuda.


"Ng ..." Tania.


Radit menjawab lebih cepat dari Tania,


"Yah. Kami pacaran. Dan rencananya, kami akan menikah setelah aku lulus kuliah." bohong Radit pada Yuda.


Tania ingin menjelaskan kesalah pahaman ini pada Yuda, tapi Radit berbisik dan mengancamnya.


"Kalau kamu tidak mau diam, aku cium betulan kamu nanti." bisik Radit di telinga Tania.


Tania tidak punya pilihan lain. Ia memilih untuk tutup mulut. Ia takut kalau Radit benar-benar menciumnya nanti. Ia tidak mau ciuman pertamanya diambil oleh orang yang tidak ia cintai.


"Sudah yah Yuda. Kami permisi dulu. Sampai ketemu lagi." pamit Radit pada Yuda sambil tersenyum miring. Ia lalu membuka pintu mobilnya dan menyuruh Tania untuk masuk.


Yuda tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya berdiri mematung melihat Tania masuk ke dalam mobil Radit. Ia berpikir kalau semua yang dikatakan Radit itu benar adanya. Karena melihat kedua orang itu sangat mesra dihadapannya.


Tania melihat kearah Yuda, seolah-olah ia ingin menjelaskan pada Yuda kalau ini hanya salah paham. Kenyataannya tidak seperti yang Yuda lihat. Tapi apalah daya, Tania juga takut dengan ancaman Radit.


Setelah mobil yang dikendarai Radit dan Tania berlalu dari pandangan Yuda.


"Sial. Gagal lagi deh usahaku. Padahal tinggal sedikit lagi." ucap Yuda Kesal.


"Tenang Yuda. Bukan Yuda namanya kalo nggak berhasil dapet mangsa malam ini. Aku harus merebut Tania Radit." ujarnya tersenyum misterius lalu melangkah masuk kedalam restoran.