How To Love You

How To Love You
Bab 96



Radit tertawa mendengar gumaman Tania. Meskipun Tania bergumam tapi Radit bisa mendengarnya dengan jelas.


"Terus kalo kamu ikut sama mereka, berarti kamu jadi nyamuknya dong." ledek Tania.


"Kamu kenapa ketawa? Kamu suka yah diledek?" tanya Tania.


"Nggak. Nggak kok. Cuma lucu aja denger ucapan kamu tadi." jawab Radit seraya masih tertawa.


"Hah? Lucu darimana coba? Oh jadi kamu seneng jadi nyamuk?" tanya Tania lagi.


"Nia ... Nia. Bukan itu. Asal kamu tau yah, Kak Hendra tuh dulu, play ... boy. Ceweknya banyak banget. Setiap kali dia pergi ke tempat itu ceweknya selalu beda." jelas Radit terkekeh mengingat masa lalu Hendra.


"Apa? Playboy? Parah banget. Kasian banget dong kakakku, dapat suami playboy." ucap Tania prihatin.


"Eit. Tunggu dulu. Jangan salah paham dulu Nia," ujar Radit mencoba menjelaskan kesalah pahaman Tania.


"Biar aku perjelas yah, Kak Hendra itu dulu emang playboy. Tapi semenjak dia ketemu kakak ipar pertama kali di toko, dia jadi berubah 180°." jelas Radit.


"Berubah? Maksudnya udah nggak jadi playboy lagi, gitu?" tanya Tania makin penasaran.


"Iya. Bisa dibilang begitu. Kak Hendra itu dulu jatuh cinta pada pandangan pertama pada Kak Tasya. Dia selalu ngejar-ngejar Kak Tasya tapi Kak Tasyanya cuek banget," jelas Radit. "Sama kayak kamu." imbuhnya lagi seraya berbisik.


Tania memicingkan matanya, "Eh Dit, aku masih bisa denger loh." ucapnya sambil menatap tajam ke arah Radit.


"Oh yah? Sorry-sorry. Ternyata telinga kamu tajam juga yah." ucap Radit seraya terkekeh.


"Jangan pasang ekspresi begitu dong Nia. Kan kenyataannya emang gitu." imbuh Radit.


"Oh iya yah. Emang sih, aku pembawaannya emang kayak gitu, hehhe." ujar Tania.


"Kirain cuma ke aku doang. Buktinya sama si ... udah lah nggak usah dibahas, nggak penting." kata Radit. Ia enggan mengucapkan nama Yuda didepan Tania.


"Yah nggak lah. Eh gimana tadi, itu ceritanya Kak Hendra sama Kak Tasya?" tanya Tania penasaran. Ia ingin melanjutkan mendengar kisah kakak dan kakak iparnya.


"Dulu tuh yah, Kak Hendra, apa-apa curhat sama aku. Semuanya tentang kakak ipar. Aku aja sampai bosan dengernya." ujar Radit sambil tertawa.


"Oy yah terus, terus." tanya Tania seraya ikut tertawa. Ia sangat penasaran dengan kisah pasangan suami istri tersebut sebelum mereka akhirnya menikah. Tania tidak tahu banyak tentang kisah kakaknya karena Tasya sangat tertutup untuk urusan percintaannya.


"Dulu waktu kakak ipar berhenti kerja di toko ..." Radit mulai bercerita.


Flash Back On


Seminggu setelah Hendra membawa paksa Tasya pergi ke empang buatan miliknya. Tasya memutuskan untuk berhenti bekerja di toko milik Pak Rahmat, papanya Radit. Tasya ingin fokus mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas.


Mengetahui pujaan hatinya berhenti bekerja, Hendra jadi galau tingkat Dewa. Malam itu, ia duduk di meja kerja Tasya. Melihat ke sekililing dimana gadis itu sering duduk bersama Dewi. Ia sangat merindukan sosok gadis cuek tersebut.


"Dit. Malam ini aku bermalam disini yah." ucap Hendra seraya menjatuhkan dirinya di tempat tidur Radit dengan posisi tengkurap.


"Eh, itu muka apa pakaian kusut? Gitu amat kak mukanya." ledek Radit sambil memainkan game di smartphonenya.


"Dit. Kamu nggak usah pura-pura. Pasti kamu tau sesuatu kan." ucap Hendra yang masih tidak bergerak dari posisinya.


"Iya. Kata papa, pujaan hati kakak mau kuliah makanya berhenti kerja." ujar Radit.


"Aku tau." balas Hendra.


"Lah, terus? Ngapain kakak galau begitu kalo udah tau?" tanya Radit yang heran dengan sikap kakak sepupunya tersebut.


"Bukan itu masalahnya Dit. Masalahnya sekarang adalah, dia suka sama cowok lain. Dia nggak suka sama aku." jawab Hendra lalu membenamkan wajahnya dibantal karena frustasi.


"Loh, bukannya minggu lalu kakak bilang kalau dia sudah ngasih respon." ujar Radit.


"Iya sih. Tapi kalo soal itu, mungkin akunya aja yang kegeeran." balas Hendra.


"Terus kak Hendra mau nyerah gitu aja?" tanya Radit.


"Yah, nggak juga. Kalau untuk sekarang, aku cuma bisa berharap cowok itu bakal nyia-nyiain dia, biar aku bisa punya kesempatan lagi." ucap Hendra penuh harap.


"Terus kakak gimana nanti kedepannya? Apa Kak Hendra masih mau deketin dia?" tanya Radit.


"Kayaknya nggak Dit. Aku kalah taruhan sama cowok itu. Dan aku juga udah janji, kalo aku kalah, aku bakal menjauhi dia dan nggak bakal gangguin dia selama dia masih jalan sama cowok itu." jelas Hendra.


"Idih, gentle juga kamu kak. Itu baru namanya pria sejati." puji Radit.


"Sabar aja kak. Inget kata Afgan, jodoh pasti bertemu ..." ucap Radit seraya menyanyikan sedikit lirik lagu tersebut.


"Bisa aja kamu Dit. Oh iya doain yah, semoga kakak bisa berjodoh sama dia." ujar Hendra seraya tersenyum simpul.


"In syaa Allah kak. Aku selalu doain yang terbaik buat Kak Hendra." balas Radit mencoba menghibur kakak sepupunya.


"Dit. Kalo nanti cowok itu nyia-nyiain dia, aku janji pada diriku sendiri. Aku nggak bakal ngelepasin dia. Dan aku akan melakukan sesuatu tindakan yang nggak akan pernah aku sesali seumur hidupku seperti sebelum-sebelumnya. Selama ini aku udah melakukan hal yang sia-sia selama hampir 2 tahun. Dan aku nggak mau hal itu terulang kembali." jelas Hendra sungguh-sungguh.


"Wah. Kayaknya Kak Hendra serius banget. Emangnya tindakan apa itu kak? Aku jadi penasaran." tanya Radit penasaran.


"Ada deh. Rahasia. Pokoknya, kalau kamu pengen tau beneran, kamu harus bantuin aku doain mereka supaya cepat-cepat putus." ucap Hendra yang berharap hubungan Tasya dan Fathur cepat berakhir.


Flash Back Off