
"Kenapa kamu robek? Apa kamu nggak kuat, apa kamu nggak sanggup, apa kamu nggak tahan liat aku nikah sama cewek lain? Iya?" tanya Radit.
Radit merasa sangat puas sekali melihat reaksi Tania.
"Kenapa sih kamu jahat banget? Huhuhu."
Tania kembali menangis. Kali ini tangisannya lebih keras dari sebelumnya.
"Jahat kenapa sih? Aku nggak ngerti deh. Kamu marah aku mau nikah sama cewek lain. Lalu kenapa kamu nolak lamaran aku? Kenapa Nia, kenapa? Jawab aku. Apa alasan kamu nolak aku? Aku pengen dengerin alasan kamu sekarang juga."
"Kamu beneran pengen tau? Hah?! Aku nolak kamu karena aku kesal sama kamu. Aku mau ngasih kamu pelajaran biar kamu tau rasa. Aku nggak suka, setiap kamu cemburu, kamu selalu berbuat kurang ajar sama aku. Aku nggak suka, Dit kamu perlakukan seperti itu. Kamu pikir aku cewek murahan apa?" jelas Tania.
"Yah maka dari itu aku minta maaf," ucap Radit.
"Maaf maaf. Enak aja." ucap Tania sambil masih terus menangis.
"Loh, mau kamu itu apa sih sebenarnya? Aku kasih pertanggung jawaban kamunya nolak, aku minta maaf kamu juga nggak terima. Emang yah perempuan itu makluk yang paling ribet. Aku itu selalu serba salah dimata kamu. Semua yang aku lakuin tuh nggak pernah ada benernya." ujar Radit seraya mendengus kesal.
Tania tidak membalas ucapan Radit. Ia masih tidak bisa berhenti menangis juga.
"Nia, aku mau nanya sama kamu. Kamu itu ikhlas nggak sih aku nikah sama cewek lain?" tanya Radit.
Tania tidak menjawab pertanyaan Radit. Ia terus-terusan saja menangis.
"Jawab aku. Kalau kamu nggak ikhlas, aku bisa batalin sekarang juga."
Tania terkejut mendengar ucapan Radit. Ia mengarahkan pandangannya melihat ke arah pemuda itu.
"Kamu ngomong apa sih Dit? Aku nggak mau jadi perusak pernikahan orang. Asal kamu tau, aku juga sayang sama kamu. Aku juga cinta sama kamu. Tapi aku nggak mau kamu sampai melakukan itu demi aku. Menikahlah Dit, in sha Allah, pelan-pelan aku akan belajar mengikhlaskan kamu." ucap Tania dengan suara khas orang menangis.
Akhirnya, pengakuan itu pun keluar dari mulut Tania. Dan ia mengucapkannya langsung dihadapan Radit. Radit merasa sangat bahagia melebihi apapun. Akhirnya kata-kata yang selama ini ingin ia dengar, diucapkan juga oleh gadis itu. Spontan Radit memeluk Tania. Namun anehnya, gadis itu tidak melakukan perlawanan seperti sebelum-sebelumnya.
"Terima kasih sayang. Aku juga sangat mencintaimu." ucap Radit.
Pelukan mereka berlangsung beberapa saat. Tangisan Tania semakin pecah saat Radit memeluknya. Ia menangis sesenggukan dipelukan pemuda itu. Mungkin ini yang terakhir kalinya ia merasakan pelukan hangat dari orang yang ia cintai selama ini, pikirnya.
"Sayang, aku harap kamu udah nggak marah lagi sama aku. Dan aku harap, kita bisa kembali seperti dulu lagi," ujar Radit.
Tania melepas pelukannya.
"Apa maksud kamu dengan kita bisa kembali seperti dulu lagi? Bukannya kamu bentar lagi mau nikah?" tanya Tania bingung.
Radit terkekeh sambil memegangi perutnya. Membuat Tania mengerutkan kening dan menatapnya heran.
"Kamu kenapa ketawa, Dit? Apanya yang lucu?" tanya Tania.
"Kamu kenapa sih, Dit? Kesambet yah. Istigfar Dit, istigfar." kata Tania.
Radit berusaha untuk berhenti tertawa. Ia pun lalu mencoba menjelaskan yang sebenarnya pada Tania.
"Nia sayang. Aku minta maaf yah sama kamu. Karena yang tadi itu cumaaaaaa, PRANK. Hahaha." ucap Radit lalu kembali tertawa.
Beban dihatinya selama ini, kini sirna lah sudah. Kini Radit bisa kembali tertawa lepas seperti sebelum-sebelumnya. Ia juga sudah kembali ceria seperti dulu karena gadis kesayangannya itu sudah mengakui perasaannya padanya.
Mulut Tania ternganga mendengarkan pengakuan Radit. Ia masih belum sadar dan mengerti maksud dari ucapan pemuda itu.
"Maksud kamu apa sih Dit?" tanya Tania bingung.
"Hahaha. Masa kamu nggak ngerti sih Nia, tadi itu aku cuma ngerjain kamu. Undangannya itu palsu," jelas Radit.
"Apa?" Tania membelalakkan matanya lalu kembali memukul Radit saking jengkelnya.
"Rese banget sih kamu, Dit. Nyebelin banget tau nggak. Aku nyesel tau udah ngakuin perasaan aku ke kamu. Malu-maluin banget. Iiih ..." ucap Tania sambil terus memukuli Radit menggunakan kedua tangannya.
Radit hanya tertawa mendapat pukulan dari kekasihnya itu. Akhirnya mereka berdua kembali berbaikan. Radit kembali mempertanyakan lamarannya pada Tania. Dan Tania pun meminta waktu selama 1 bulan untuk memikirkan jawaban yang tepat untuk lamaran Radit padanya.
***
Tasya dan Hendra sudah hampir setengah jam berkeliling didalam pasar mini. Mereka sudah membeli banyak sekali jenis jajanan. Hendra menenteng 2 kantongan plastik ukuran besar di masing-masing tangannya. Makanan yang mereka beli cukup untuk dimakan warga satu kampung saking banyaknya.
"Sayang, pulang yuk. Aku capek keliling terus dari tadi," ajak Tasya.
Semenjak Tasya hamil, ia merasa tubuhnya gampang sekali lelah.
"Ayo sayang," kata Hendra.
"Semoga kedua anak itu sudah berhasil menyelesaikan masalahnya." batin Hendra.
Setelah Tasya dan Hendra sudah kembali ke mobil. Mereka pun kembali meluncur untuk pulang kerumah. Karena hari sudah hampir petang. Kurang lebih 1 setengah jam kemudian, mereka pun akhirnya memasuki halaman rumah Hendra dan Tasya.
Radit sangat terkejut saat melihat seseorang yang sepertinya tidak asing sedang berdiri di teras menunggu kedatangan mereka. Yah, orang itu adalah Miko, rival Radit.
Eh, aku nggak salah liat kan? Ngapain si pepacor itu ada disini? Batin Radit.
"Eh, itu Kak Miko," kata Tasya.
"Ternyata bener, aku nggak salah liat. Dasar pepacor! Kurang kerjaan banget. Ngapain jauh-jauh kemari kalo cuma mau ngacauin hubungan orang aja?"
Kamu liat aja nanti pepacor, aku nggak bakalan tinggal diam kalau kamu mau merusak hubunganku sama Tania. Batin Radit.