
Note: Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.
...----------------...
"Ayo kita cari makanan disini. Kamu mau makan apa Nia?" tanya Radit saat ia menuntun Tania untuk masuk kedalam sebuah food court.
"Terserah kamu aja." jawab Tania. Sebenarnya sekarang dirinya sedang tidak berselera makan.
"Kamu tunggu disini yah sayang. Aku mau memilih makanan dulu." ucap Radit sambil mendudukkan Tania di kursi. Tania hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
Saat Radit meninggalka Tania untuk memesan makanan untuk mereka berdua. Tania terlihat sedih dan murung. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sekarang Ia sadar bahwa selama ini ia sudah salah menyukai seseorang. Ia sudah salah menilai sosok Yuda.
Selama ini Yuda adalah sosok pria yang sangat baik, sopan, perhatian, pengertian dan tahu cara menghargai wanita. Ternyata semua itu hanyalah kedok semata untuk menaklukkan hati wanita yang ia incar. Salah satu targetnya adalah Tania. Tapi beruntung karena Tania belum disentuh sedikitpun oleh si Yuda, padahal tinggal sedikit lagi. Hampir saja ia jatuh ke perangkap Yuda. Biasanya setelah Yuda berhasil menaklukkan hati wanita incarannya, ia akan melancarkan aksi bejatnya.
Tania duduk sambil termenung. Ia baru ingat kalau Radit sudah memberitahu dan memperingatinya waktu itu tentang kelakuan busuk Yuda. Tapi dirinya malah tidak mempercayai ucapan Radit. Ia merasa sangat berterima kasih pada Radit karena Radit begitu peduli padanya.
Radit datang menghampiri Tania sambil membawa sebuah nampan berisi 2 cup besar minuman dan 2 kotak cemilan.
"Ayo pilih mana suka. Aku sengaja loh memilih rasa yang berbeda. Aku nggak tahu kamu suka makanan apa." ujar Radit saat duduk di kursi samping Tania.
"Aku suka apa aja kok." jawab Tania sambil mengambil 1 cup minuman.
"Termasuk aku?" canda Radit mencoba menghibur Tania.
"Bisa aja kamu Dit. Oh iya makasih yah." ujar Tania sambil tersenyum tipis.
"Untuk?" tanya Radit. Ia tidak tahu untuk apa Tania berterima kasih padanya.
"Yah, untuk semuanya." jawab Tania.
Radit mengeryitkan dahinya. Ia masih belum mengerti maksud ucapan terima kasih Tania.
"Terima kasih karena kamu sudah peduli padaku. Aku harusnya mempercayai ucapanmu tentang Kak Yuda tadi malam. Dan maaf, karena aku sudah menuduh kamu cemburu pada Kak Yuda." jelas Tania.
"Makasih juga karena kamu tadi datang menolongku disaat aku nggak tau harus berbuat apa didalam sana. Aku nggak tau apa yang akan terjadi kalau kamu nggak datang." jelas Tania lagi lalu menghisap sedotan minumannya.
"Aku juga minta maaf yah Dit. Karena aku sering kasar ke kamu." ucap Tania merasa bersalah.
"Oh iya sekali lagi. Terima kasih untuk ini." ucap Tania sambil menunjuk makanan dan minuman yang ada di hadapannya.
Radit membalasnya dengan tersenyum. Ia merasa senang karena Tania akhirnya menyadari kesalahannya.
"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Aku melakukan ini karena aku pikir ini memang sudah kewajibanku melindungi kekasihku." balas Radit.
"Dan untuk permintaan maafmu. Aku sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf padaku." jelas Radit.
Radit menggenggam tangan Tania.
"Nia. Asal kamu tau. Aku sayang banget sama kamu Nia. Aku juga tulus mencintai kamu. Kamu jangan mutusin aku yah. Aku sadar kamu mau jadi pacarku karena terpaksa. Aku harap itu nggak menjadi alasan untuk kamu membenciku. Aku melakukan semua ini karena aku ingin melindungi kamu dari niat busuk si Yuda. Aku nggak rela kamu sampai dinodai oleh lelaki manapun, termasuk dia." jelas Radit.
"Nia. Aku harap kamu juga mau belajar mencintaiku mulai sekarang." ucap Radit penuh harap seraya menatap dalam kedua iris mata Tania.
Perlahan Tania menarik tangannya dari genggaman Radit. Ia bisa melihat kesungguhan dimata lelaki itu.
"Maaf Dit. Kalau untuk itu aku nggak bisa janji." ucap Tania.
Radit terlihat sedikit kecewa mendengar jawaban dari gadis pujaan hatinya itu.
"Tapi kamu tenang aja. Aku nggak bakal mutusin kamu kok. Aku juga udah nggak benci lagi sama kamu. Kita jalani saja hubungan kita ini seperti air mengalir. Siapa tau kedepannya kita cocok." jelas Tania sambil tersenyum ke arah Radit.
Senyum manis kembali tersungging di bibir Radit. Ia sangat senang sekaligus bahagia mendengar ucapan Tania.
"Aaa." Radit menyodorkan makanan ke depan mulut Tania.
"Apaan sih Dit? Aku bisa makan sendiri kok." tolak Tania.
"Sudah. Buka mulutmu. Orang pacaran memang begini kalau lagi makan berdua. Ini namanya makan romantis sayang." jelas Radit.
"Emang kamu pernah?" sindir Tania. Ia tahu kalau Radit sebelumnya belum pernah berpacaran dengan gadis mana pun, mengingat cerita Bu Risna, mamanya Radit.
"Nggak. Tapi aku mau belajar semuanya sama kamu sayang. Ayo cepat buka mulutmu! Aaa." seru Radit.
Tania pun akhirnya menurut dan membuka mulutnya. Radit sangat senang karena akhirnya Tania mau membuka mulutnya.
"Sekarang kamu lagi yang nyuapin aku. Aaa." Radit membuka mulutnya minta disuapi oleh Tania.
Tiba-tiba muncul ide jail Tania untuk mengerjai Radit. Ia pun lalu mengambil makanan dengan sendok lalu menyodorkan kedepan mulut Radit. Radit merasa senang karena Tania mau menyuapinya. Baru saja ia mau menggigit makanan itu, tapi Tania malah membelokkan sendoknya ke kiri dan ke kanan.
"Nia. Kamu curang." kata Radit sambil terus mencoba menangkap makanan itu dengan mulutnya.
"Tangkap kalau bisa. Hahaha." Tania seperti menggoda anak kecil yang sedang makan.
Begitu seterusnya hingga akhirnya Radit kesal dan menangkap tangan Tania lalu menggigit makanannya. Tania tertawa senang karena berhasil mengerjai Radit. Radit merasa sangat bahagia karena akhirnya ia bisa melihat gadis yang ia cintai itu tertawa.
"Nia. Aku akan melakukan apapun agar kamu terus tertawa seperti sekarang ini." batin Radit.
Setelah mereka selesai makan, Radit mengajak Tania untuk bermain di time zone. Mereka memutuskan untuk nonton film di lain waktu.
Radit memenangkan sebuah boneka di mesin capit untuk Tania. Setelah cukup puas bermain, mereka pun akhirnya pulang sebelum hari mulai gelap. Diperjalanan pulang, Tania memeluk boneka panda kecil yang dimenangkan oleh Radit untuknya. Radit tersenyum bahagia melihat Tania menyukai hadiahnya.