How To Love You

How To Love You
Benah Hati



Disebuah gedung besar sedang diselenggarakan pesta pernikahan meriah yang bernuansa glamour. Berbagai makanan enak tersaji di sana. Alunan musik dan lagu romantis mengiringi meriahnya pesta tersebut. Semua orang terlihat senang dan bahagia, kecuali mempelai pria.


Mempelai pria itu terlihat sangat tampan dan mempesona dengan setelan jas berwarna coklat keemasan yang sedang dia kenakan. Tapi sayangnya raut wajahnya tidak menampakkan rona kebahagiaan sama sekali. Kedua sudut bibirnya tidak pernah melengkung ke atas sedikit pun selama pesta pernikahannya digelar. Berbanding terbalik dengan mempelai wanitanya. Dengan ramah dan penuh senyuman bahagia gadis cantik itu menyambut para tamu undangan yang datang mengucapkan selamat pada mereka berdua.


Hari ini dokter Fani terlihat sangat cantik nan anggun bak bidadari yang turun dari khayangan dengan balutan gaun pengantin muslimah yang tengah membalut tubuhnya.


Andai aku berdiri di sini bersama wanita yang aku cintai, pasti hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan selama hidupku. Batin Fathur.


...----------------...


Tasya sekarang sudah kembali ke rumah dan sekarang sudah ada di dalam kamarnya. Gadis itu sendirian menjaga rumah karena Pak Rudi dan Bu kemarin berangkat ke kota Marakas untuk menghadiri pesta pernikahan anak kerabat mereka, yaitu pernikahan Fathur dengan dokter Fani. Kedua adiknya juga belum kembali dari sekolah.


Hari ini Tasya memutuskan untuk tidak pergi ke kampus. Dia ingin melewati hari ini dengan menghibur dirinya sendiri dan belajar membenahi hatinya yang sempat hancur berkeping-keping. Tasya ingin melupakan semua kenangan yang pernah dia lewati bersama Fathur selama lebih dari setengah tahun terakhir. Dia ingin kembali menjadi Tasya yang ceria seperti dulu. Lagipula, dia juga sudah berjanji pada Fathur akan hidup bahagia ke depannya. Gadis itu ingin melakukan hal-hal yang dia sukai, yang penting bisa membuatnya senang dan tertawa. Kali ini dia berusaha menghibur dirinya dengan cara menonton video-video lucu di youtube, membaca novel, dan membaca komik. Dan sekarang dia sudah bisa sedikit tertawa dan terhibur meskipun dia belum bisa tertawa lepas seperti dulu.


Tok tok tok!


"Assalamu'alaikum! Tasya ...! Tasya ...! Apa kamu ada di dalam?"


Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu dari luar dan berteriak mengucapkan salam.


"Eh, itu 'kan suara Dewi," gumam Tasya. Gadis itu segera bangkit dari posisi berbaringnya dan segera berlari keluar untuk membukakan pintu.


Dilihatnya sosok sahabatnya dibalik pintu rumahnya. Tasya merasa sangat senang Dewi datang.


"Dewi."


"Tasy, ya ampun kamu gak apa-apa, 'kan?" tanya Dewi. Gadis itu langsung memeluk sahabatnya, Tasya. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.


Dewi tahu jika hari ini adalah hari pernikahan Fathur, jadi dia sengaja datang untuk menghibur Tasya.


"Aku gak apa-apa kok. Coba liat, sekarang aku udah bisa tersenyum, 'kan?" Tasya memamerkan senyumannya di depan Dewi. Meski pun sebenarnya masih dia paksakan.


"Beneran nih kamu gak apa-apa?" tanya Dewi lagi. Dia ingin memastikan kalau sahabatnya itu memang sedang baik-baik saja.


"Serius. Ayo masuk." Tasya menarik tangan Dewi kemudian membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu lagi ngapain, Tasy? Kamu lagi gak nangis bombay 'kan tadi pas aku datang?" tanya Dewi.


"Ah, kamu, Wi. Gaklah, tadi itu aku lagi nyari hiburan dengan cara membaca novel dan komik online. Seru loh, aku sampe lupa dengan kesedihanku." Kali ini Tasya terlihat lebih bersemangat. Sepertinya kedatangan Dewi benar-benar membawa dampak positif untuk sahabatnya itu.


"Mana mana? Aku juga mau lihat."


"Ini." Tasya menyodorkan ponselnya pada Dewi.


"Hp baru, ya?" tanya Dewi.


Dewi tahu persis dengan ponsel Tasya yang sebelumnya karena itu adalah pemberian dari Fathur.


"Iya. Baru tadi aku beli."


"Udah aku jual. Oh iya, aku tadi juga ganti nomer baru, nanti kamu simpan ya nomer baru aku."


"Hm ... pantas tadi aku coba hubungi kamu tapi gak bisa aktif-aktif. Ternyata udah kamu ganti. Oh iya, hp pemberian si ono 'kan mehong, cap apel digigit, pasti kamu jualnya lumayan, 'kan?"


"Kepo banget sih." Tasya menoyor kepala Dewi dengan pelan.


Dewi terkekeh. "Oh iya, tadi aku pikir tadi kamu pergi ke pestanya ...." Dewi ragu-ragu meneruskan ucapannya, takut sahabatnya kembali sedih.


"Gak, aku gak pergi. Dia melarangku hadir di sana." Nada suara Tasya terdengar lemah dan kembali tidak bersemangat.


"Kamu yang sabar ya." Dewi kembali memeluk sahabatnya lalu menepuk pelan bahunya dengan lembut.


"Iya. Aku memang sedang belajar mengikhlaskan dia, dan aku juga udah janji sama dia kalo aku bakalan hidup bahagia ke depannya. Sekarang aku cuma ingin melakukan hal-hal yang bisa membuat aku senang dan bahagia," jelas Tasya.


Dewi melepaskan pelukannya. Tiba-tiba di otaknya muncul sebuah ide.


"Aku punya ide."


"Ide apa?"


"Tadi kamu bilang mau melakukan hal-hal yang bisa membuat kamu senang, 'kan?"


Tasya mengangguk.


"Bagaimana kalau kamu buka olshop?" usul Dewi.


"Olshop? Olshop apaan?" tanya Tasya, sambil mengerutkan keningnya.


"Kamu 'kan hobbi masak, dan masakan kamu juga enak. Gimana kalau kamu jual makanan secara online aja? Tugas kamu sekarang adalah, kamu harus mem-posting foto-foto makanan di sosial media. Nanti setelah ada yang order, baru deh kamu buatin. Kamu juga bisa menawarkan jasa pengantaran sampe ke rumah pelanggan. Gimana idenya? Bagus, 'kan?" Dewi menaik turunkan alisnya setelah menjelaskan pada Tasya.


"Ide bagus, Wi. Kamu kok pinter banget sih. Aku jadi makin sayang."


Kedua gadis itu terkekeh.


"Aku nanti bakalan bantuin kamu buat promoin jualan kamu di sosial media aku," kata Dewi.


"Aduh, makasih banyak ya, Wi." Sekarang Tasya sudah memamerkan senyuman di wajah cantiknya.


"Itung-itung 'kan bisa nambah pemasukan buat biaya kuliah kamu."


"Iya juga, ya? Lumayan. Makasih banyak ya, Wi, kamu memang sahabat aku yang paling the best top markotop." Tasya berkata sambil kembali memeluk Dewi.


Semenjak saat itu Tasya memulai bisnis kecil-kecilannya sebagai penjual makanan online sambil kuliah. Gadis itu menyediakan 3 buah menu dengan harga terjangkau, lalu membuka orderan di sore hari dan mengantarkan pesanan pelanggan besok pagi-pagi sekali sebelum dia berangkat ke kampus.


Semakin lama pelanggan Tasya semakin banyak, orderan pun setiap harinya semakin meningkat. Tasya menjadi kewalahan jika harus mengerjakannya sendiri, ditambah lagi tugas kuliahnya yang menumpuk. Akhirnya bu Indah ikut turun tangan membantu anaknya memasak orderan pelanggan sebelum masuk waktu shalat subuh.