
Usai shalat ashar, Miko menjemput Tantri dirumahnya menggunakan mobil Hendra. Tantri sudah siap dan menunggunya di teras.
"Ayo jalan!" seru Miko saat ia melihat Tantri sudah siap dan menunggunya di teras.
Tantri pun segera berlari dan masuk ke dalam mobil. Tantri terlihat sangat senang dan bersemangat sore itu.
"Kamu tau jalannya tidak?" canda Miko.
"Enak aja, yah taulah Kak." ucap Tantri sembari memasang safety belt.
"Yah sudah, sekarang kita kemana?" tanya Miko.
"Lurus aja dulu," jawab Tantri.
Miko pun lalu melajukan mobilnya. Tantri sebagai penunjuk jalannya karena Miko belum tahu jalan di daerah itu. Ini pertama kalinya ia kesana.
45 Menit kemudian, sampailah mereka di sebuah mall yang paling dekat didaerah itu.
"Jauh juga yah mallnya." ucap Miko.
"Ini udah mall yang paling dekat Kak." jelas Tantri.
"Oh, begitu." ucap Miko mengerti
"Yah udah, ayo masuk!" ajak Tantri sembari memeluk lengan Miko. Ia sudah menganggap Miko seperti kakaknya sendiri. Ia memperlakukan Miko sama seperti ia memperlakukan Tama, kakak laki-laki satu-satunya.
Miko tersenyum melihat perlakuan Tantri padanya. Entah mengapa ia merasa gemas pada gadis yang terpaut usia 10 tahun itu dengannya. Ia merasa seperti punya seorang adik perempuan. Miko dua bersaudara dan ĺia hanya memiliki seorang kakak laki-laki. Selama ini ia iri dengan Kevin karena Kevin punya adik perempuan yang bisa diajak jalan-jalan.
Sesampainya didalam mall,
"Kamu mau beli apa?" tanya Miko.
"Mm, apa yah? Aku juga masih bingung sih sebenarnya, Kak." jawab Tantri.
Setelah beberapa saat berjalan di dalam mall, Tantri melihat toko sepatu. Ia pun lalu mengajak Miko kesana.
"Kak Miko, kita kesana aja yuk, Kak!" ajak Tantri sambil menunjuk toko yang ia maksud.
"Ayo!" balas Miko.
Saat mereka sedang berjalan menuju toko tersebut, tiba-tiba seseorang berteriak memanggil nama Tantri.
"Tantri!" panggil seorang gadis yang kira-kira seumuran dengan Tantri.
Tantri menoleh ke arah asal suara karena ia sadar seseorang sedang memanggil namanya. Tantri tersenyum melihat sosok sahabatnya tersebut yang sedang berlari ke arahnnya.
"Sherin, Sherina!" seru Tantri.
"Kamu kenal?" tanya Miko.
"Iya Kak, itu Sherina teman sekelas sekaligus sahabat aku." jelas Tantri.
"Tumben kita ketemu disini, Tri." ucap Sherina.
"Halo Kak Miko, namaku Sherina." ucap Sherina memperkenalkan dirinya.
"Senang bertemu denganmu, Sherina." balas Miko.
Sherina menatap Miko dan Tantri secara bergantian. Ia menatap keduanya dengan tatapan penuh curiga karena ia melihat keduanya tampak begitu mesra. Tantri tidak pernah melepas tangannya yang bergelayut di lengan Miko dari tadi.
"Sherin, kamu kesini sama siapa?" tanya Tantri.
"Biasa, sama yayang Aldo," jawab Sherina.
"Aish, pacaran mulu kamu kerjaannya. Nggak di kelas, nggak di kantin, nggak di mall, nggak dimana-mana, kerjaannya cuma yang satu itu. Nggak bosan apa pacaran mulu?" cerocos Tantri.
"Hehehe. Yah enggak lah. Kamu nggak tau aja Tri rasanya pacaran sama yang seumuran. Seru banget tau." ujar Sherina.
"Apanya yang seru?" gumam Tantri tapi masih bisa di dengar oleh Miko dan Sherina.
"Yang jelasnya lebih seru daripada pacaran sama Om-om." ucap Sherina dengan nada meledek.
"Dah, sampai ketemu besok," ucap Sherina lagi lalu kabur begitu saja setelah mengatai Miko om-om.
Miko dan Tantri membulatkan matanya, iris mata keduanya bertemu mendengar ucapan Sherina. Tantri terkejut mendengar penuturan sahabatnya itu, begitu juga dengan Miko. Tantri lalu mengarahkan pandangannya pada tangannya yang sudah bergelayut di lengan Miko dari tadi. Sekarang ia baru sadar, kenapa Sherina bisa berkata seperti itu. Seketika ia merasa tidak enak dan canggung pada Miko.
"Eh, maaf Kak." ucap Tantri seraya melepas tangannya.
"Kenapa?" tanya Miko sembari tersenyum.
Miko bisa menebak kenapa Tantri tiba-tiba melepaskan tangannya.
"Maafin teman aku yah Kak. Dia emang suka kayak gitu, kalo ngomong suka nggak pake rem. Anaknya emang rese." jelas Tantri.
"Tidak apa-apa. Jangan terlalu memikirkan ucapan orang lain. Ayo kita belanja sekarang!" ajak Miko sembari merangkul bahu Tantri.
Miko tidak peduli dengan anggapan orang lain tentang dirinya yang memacari anak abg. Karena menurutnya ia tidak seperti itu, jadi ia tidak perlu marah atau bahkan sampai tersinggung. Yang jelas saat ini ia hanya menganggap Tantri seperti adik perempuannya sendiri, tidak lebih.
Setelah Tantri selesai berbelanja sepuasnya, Miko dan Tantri pun memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 05.30 sore.
"Kamu yakin ini sudah cukup?" tanya Miko sambil mengangkat paper bag yang ada ditangannya sejajar dengan dada.
"Iya Kak, udah banyak banget. Makasih yah, Kak Miko baik banget." jawab Tantri sembari tersenyum senang karena Miko benar-benar membelikannya banyak barang.
"Yakin?" tanya Miko lagi ingin memastikan.
"Iya Kak, yakin banget. Kalo aku nambah lagi, bisa-bisa Kak Miko nanti bangkrut lagi." canda Tantri.
"Hahaha tidak mungkin. Masa begitu saja bangkrut. Ada-ada saja kamu," balas Miko sembari mengelus-elus kasar kepala Tantri yang dututupi oleh hijab.
"Hehehe. Bercanda Kak, jangan dianggap serius. Ayo kita pulang, udah sore banget nih?" ajak Tantri sembari melirik jam tangannya.
"Yah sudah, ayo."
Mereka pun lalu berjalan bersama menuju parkiran dimana mereka memarkirkan mobilnya tadi. Miko membawa empat buah paper bag ditangannya, sedangkan Tantri hanya membawa satu buah paper bag saja.