How To Love You

How To Love You
Bab 128



Beberapa saat setelah keberangkatan Tasya dan Hendra ke Istanbul. Jadwal penerbangan rombongan keluarga besar Tasya dan Hendra pun hampir tiba. Sebelum mereka masuk ke ruang tunggu, mereka semua mengucapkan banyak terima kasih pada Miko dan Kevin. Terutama pada Miko yang sudah sangat baik sekali pada mereka semua.


Keesokan harinya, mereka baru sampai dirumah masing-masing sebelum adzan subuh. Itu karena perjalanan darat yang mereka tempuh cukup lama memakan waktu berjam-jam.


Pukul 08:00 Pagi, Kamar Tania


"Dret dret, dret dret."


Tania terjaga dari peristirahatannya karena ponselnya berdering. Pelan-pelan ia membuka matanya, ia lalu meraih ponselnya yang ia letakkan di lemari sebelum ia tidur tadi usai shalat subuh.


Matanya yang tadi mengantuk seketika melek saat melihat panggilan video itu dari Miko.


"Astaga! Kenapa, Kak Miko menelpon pagi-pagi begini?" gumam Tania.


Ia mencoba mengabaikan panggilan itu, tapi Miko tidak menyerah menelponnya kembali. Setelah panggilan yang ke empat barulah Tania menjawabnya. Itupun setelah ia mengenakan hijab instan sebagai penutup kepalanya.


"Bismillah," ucap Tania seraya menjawab panggilan Miko.


πŸ“ž Tania : Halo, Assalamu'alaikum, Kak Miko!


πŸ“ž Miko : Wa'alaikum salam, Tania.


Miko tersenyum bahagia melihat gadis yang berhasil mencuri hatinya tersebut.


πŸ“ž Tania : Ada apa, Kak menelpon pagi-pagi begini?


πŸ“ž Miko : Nggaaak. Aku cuma mau nanya, kalian udah nyampe apa belum?


Sebenarnya Miko menanyakan hal tersebut hanya basa-basi. Didalam hatinya sebenarnya ia sedang merindukan Tania.


πŸ“ž Tania : Udah, Kak. Kami sampai tadi sebelum masuk waktu subuh.


πŸ“ž Miko : Ah, yang bener? Memangnya perjalanannya butuh waktu berapa jam?


πŸ“ž Tania : Hampir 8 jam.


πŸ“ž Miko : Lumayan lama juga yah. Kalo aku mau jalan-jalan kesitu, harus nyiapin banyak tenaga dong pastinya.


πŸ“ž Tania : Emang, Kak Miko mau kesini?


πŸ“ž Miko : Rencananya sih, iya. Tapi nggak tau nanti. Oh iya, kamu udah buka hadiah dari aku belum?


πŸ“ž Tania : Hadiah? Oh belum, Kak. Soalnya aku baru aja bangun.


πŸ“ž Miko : Oh yah! Berarti aku ganggu istirahat kamu dong kalo gitu. Yah udah, kamu lanjutin istirahat kamu gih. Kamu pasti capek.


πŸ“ž Tania : Iya, Kak.


πŸ“ž Miko : Assalamu'alaikum!


πŸ“ž Tania : Wa'alaikum salam.


"Tut."


Setelah sambungan panggilan video mereka terputus, Tania pun lalu turun dari tempat tidur dan mengambil paper bag yang ia letakkan dimeja tadi subuh.


"Kira-kira isinya apa, yah?" ucap Tania penasaran seraya mengeluarkan box yang ada didalam paper bag tersebut.


Pelan-pelan ia membuka kotak itu, ia sangat terkejut saat melihat isinya dompet bermerek. Ia pun merasa enggan untuk menerima hadiah tersebut. Ia berencana untuk menyimpannya kembali dan memberikannya pada Miko saat mereka bertemu lagi.


οΏΌ


Tania pun lalu mengirim sebuah pesan di nomor Whatsapp Miko.


πŸ“© Tania : Mohon maaf sebelumnya, KakπŸ™ Bukannya aku nggak menghargai pemberian, Kak Miko. Tapi aku merasa, aku nggak pantas menerimanya.


πŸ“© Tania : In syaa Allah, aku akan mengembalikannya kalo kita bertemu nanti.


πŸ“© Miko : Kenapa?


πŸ“© Miko : Kenapa mau dikembalikan?


πŸ“© Tania : Bukan begitu, Kak.


πŸ“© Tania : Bukannya aku nggak suka. Aku cuma merasa nggak pantas aja menerimanya.


πŸ“© Tania : Aku tau itu dompet mahal, Kak. Harganya pasti jutaan.


πŸ“© Miko : Siapa bilang kamu tidak pantas?


πŸ“© Tania : Nggak ada sih.


πŸ“© Tania : Akunya aja yang ngerasa begitu.


Tiba-tiba, Miko kembali melakukan panggilan video ke nomor Whatsapp Tania.


"Astaga! Kenapa, Kak Miko melakukan panggilan video lagi sih? Aku kan malu," ujar Tania.


Tania merasa ragu untuk mengangkat panggilan Miko. Ia membiarkan ponselnya berdering selama tiga kali.


πŸ“© Miko : Kenapa tidak diangkat?


πŸ“© Miko : Tania, tolong jawab sebentar!


πŸ“© Miko : Aku mohon TaniaπŸ™ Aku perlu bicara sama kamu.


"Kak Miko kenapa sih? Aneh banget," ujar Tania.


Tania yang merasa aneh dengan sikap Miko. Ia belum tahu kalau sebenarnya Miko menyukainya. Selama ini ia hanya menganggap tuduhan Radit tidak berdasar. Ia hanya mengira kalau Radit cemburu pada Miko.


Miko pun kembali melakukan panggilan video. Kali ini Tania pun akhirnya menjawabnya. Miko membujuk Tania untuk menerima hadiah pemberiannya. Berkali-kali Tania menolak, tapi Miko tidak kehilangan cara untuk membujuknya. Hingga akhirnya Tania pun mengalah dan mau menerimanya meskipun terpaksa.


Miko merasa sangat senang karena Tania akhirnya mau menerima hadiah darinya.


πŸ“ž Miko : Makasih yah, Tania!


πŸ“ž Tania : Seharusnya aku yang berterima kasih, Kak.


Miko tersenyum.


πŸ“ž Miko : Yah udah kalo gitu aku tutup dulu yah telponnya.


πŸ“ž Tania : Iya Kak.


πŸ“ž Miko : Assalamu'alaikum.


πŸ“ž Tania : Wa'alaikum salam.


"Tut."


"Tania bodoh, bodoh, bodoh!" ucap Tania merutuki dirinya sendiri.


"Kenapa sih aku nggak nolak aja hadiah ini dari awal?"


"Kenapa aku kemarin langsung nerima gitu aja?"


"Kalo, Radit tau, dia pasti marah besar."


"Nggak, Radit nggak boleh tau kalo dompet ini dari, Kak Miko. Iya, nggak boleh,"


Tania mencoba memikirkan jalan keluar.


"Mending dompet ini aku simpan baik-baik di lemari. Kak Miko kan juga nggak tau kalo aku nggak make dompet ini. Soalnya dia kan juga nggak liat."


Tania pun lalu memasukkan dompet itu kedalam boxnya. Ia lebih mementingkan perasaan Radit ketimbang perasaan Miko. Ia tidak mau Radit marah kalau sampai Radit tahu dompet itu hadiah dari Miko. Ia memang memutuskan menerima hadiah itu dari Miko, tapi ia tidak berjanji untuk memakai dan membawa benda itu kemana pun ia pergi seperti yang diinginkan oleh si pemberi.