How To Love You

How To Love You
Bab 211



"Tantri! Kamu kenapa, sayang?" tanya Bu Melda saat melihat gadis itu jatuh tergeletak diatas permadani.


"Tantri! Tantri!" panggil Bu Melda.


"Astaga! Dia pingsan," Bu Melda begitu panik mengetahui Tantri pingsan. Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan memberikan reaksi yang berlebihan setelah dirinya mengatakan kalau ia akan menjadikan gadis itu sebagai pendamping hidup putra bungsunya.


"Ya ampun. Kenapa kamu bisa sampai pingsan begini? Tante kan cuma mau kamu jadi menantu Tante. Kenapa reaksimu jadi berlebihan begini, sayang?" ucap Bu Melda tidak habis pikir.


"Tantri bangun, sayang. Ayo bangun!" ucap Bu Melda sambil terus menepuk pelan pipi gadis itu.


"Aduh, kenapa kamu pake acara pingsan segala? Memangnya anak Tante jelek, yah? Tidak, kan? Masa kamu sampai pingsan begini gara-gara mau dijodohin sama anak Tante yang ganteng paripurna itu."


Saking paniknya Bu Melda tidak tahu harus melakukan apa. Ia terus mengoceh sesuatu yang tidak penting agar gadis yang tergelatak lemas dihadapannya itu segera tersadar.


"Bangun dong, sayang! Kamu jangan bikin Tante panik," ucap Bu Melda tidak ada hentinya ia mencoba membangunkan Tantri.


Ceklek. Miko membuka pintu kamar mamanya. Seketika ia menjadi panik melihat gadis pujaan hatinya tergeletak lemas tak berdaya dilantai. Ditambah lagi ia melihat wajah mamanya yang sudah terlihat sangat panik duluan. Tanpa berpikir panjang, Miko segera berlari menghampiri keduanya.


"Ma! Ada apa, Ma? Apa yang terjadi? Tantri kenapa?" ucap Miko memberondongi Bu Melda dengan pertanyaan.


"Tantri pingsan, Mik," jawab Bu Melda.


"Kok bisa?" tanya Miko.


"Mik! Cepat angkat Tantri dan baringkan di sofa," titah Bu Melda. Tanpa berpikir panjang, Miko pun segera mengangkat tubuh gadis itu naik ke atas sofa. Ia lalu membaringkan tubuh Tantri dengan sangat pelan diatas sofa empuk tersebut.


"Tri! Bangun, Tri! Kenapa kamu bisa pingsan begini sih?" ucap Miko sembari menepuk pelan pipi gadis itu.


"Ma! Cepat telpon dokter Bram!" titah Miko sambil terus berusaha membangunkan Tantri.


"Iya, sayang. Astaga, saking paniknya Mama sampai lupa menghubungi dr. Bram." Wanita paruh baya itu pun segera mencari kontak dokter keluarga mereka di ponselnya.


"Halo! Selamat sore, dr. Bram," ucap Bu Melda saat sambungan telponnya dengan dokter keluarganya tersambung.


"Selamat sore, Bu Melda. Apa yang bisa saya bantu?" tanya dr. Bram.


"Dok, tolong segera ke rumah saya. Anak saya pingsan," jawab Bu Melda. Terdengar jelas kalau wanita paruh baya itu masih sangat panik.


"Pingsan? Baik, Bu. Bu Melda tenang dulu, saya akan segera kesana. Kebetulan saya sedang berada di sekitar lokasi tempat tinggal Anda," ucap dr. Bram.


Tidak lama setelah Bu Melda menghubungi dokter Bram, dokter yang sudah berkepala 4 itu pun sudah berada di rumah besar itu. Kebetulan dokter Bram sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Dan ia berada tidak jauh dari lokasi tempat tinggal Bu Melda. Jadi tidak butuh waktu lama untuk ia sampai dirumah itu.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Miko dan Bu Melda bersamaan setelah mereka berdua melihat dr. Bram sudah selesai memeriksa kondisi Tantri.


"Bu, Pak. Kalian tenang saja, gadis ini tidak apa-apa. Sepertinya dia hanya kecapekan dan telat makan saja," jelas dr. Bram.


"Apa?" Bu Melda merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaimana mungkin dirumahnya yang besar nan mewah itu yang tidak pernah kekurangan makanan sedikitpun ternyata masih ada orang yang kelaparan didalamnya. Dan yang lebih mirisnya lagi orang itu adalah calon menantu pilihannya sendiri. ART-nya saja tidak pernah ada satu orang pun yang kelaparan. Bagaimana bisa gadis yang sudah ia pilih untuk menjadi calon pendamping hidup anaknya di masa depan bisa mengalami hal tersebut? pikirnya.


"Apa? Kecapekan dan telat makan, Dok." Miko juga tidak kalah terkejutnya.


Pasti ini gara-gara tadi siang dia cuma makan 2 sendok nasi saja. Dasar gadis bandel! Beginilah akibatnya kalau kamu tidak mau menurut apa kataku, Tri. Batin Miko. Ia hanya bisa mendengus mengetahui penyebab gadis periang itu bisa tumbang.


"Iya. Ditambah lagi mungkin ada sesuatu yang membuatnya begitu shock disaat kondisi tubuhnya sedang lemah," jelas dr. Bram.


"Shock?" ucap Miko sembari melihat ke arah mamanya. Seolah-olah ia bertanya pada wanita yang telah melahirkannya itu mengenai apa sebenarnya yang telah terjadi. Bu Melda hanya membuang mukanya mendapat tatapan seperti itu dari anaknya. Ia tidak mau Miko marah padanya apalagi sampai menyalahkannya. Karena ia melakukan semua itu semata-mata untuk kebahagiaan putranya tersebut.


"Lalu, kapan dia akan siuman, Dok?" tanya Miko tidak sabar.


"Tunggu saja sebentar lagi. Kalau, Anda ingin segera mempercepat prosesnya, berikan saja minyak angin atau sesuatu yang berbau menyengat," jawab dr. Bram.


"Baik, Dok. Terima kasih," ujar Miko.


"Sama-sama. Oh iya, ini resep obat untuk ditebus di apotek. Dan, untuk beberapa hari ke depan biarkan dia beristirahat," jelas dr. Bram sambil memberikan selembar kertas pada Miko.


"Baik, Dok. Saya mengerti," ucap Miko.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit dr. Bram.


"Iya, Dok. Silahkan!" ucap Miko.


"Dokter Bram! Mari saya antar," ucap Bu Melda seraya menghampiri dokter Bram yang hendak beranjak keluar meninggalkan kamarnya.


Setelah keduanya keluar, Miko pun mulai mendekati Tantri. Ia duduk di pinggir sofa sambil menatap lekat wajah gadis yang tak sadarkan diri itu.


"Dasar gadis bandel!" umpat Miko sambil menyentil pelan jidat Tantri.


"Kenapa baru dibelikan handphone begitu saja kamu sudah menyiksa dirimu sendiri?"


"Kenapa mesti tidak enakan segala? Kenapa mesti tidak mau makan segala, huh?"


"Lihat! Gara-gara kamu cuma makan siang 2 sendok nasi saja, kamu jadi pingsan. Dan kamu juga lihat, kan? Kamu sudah membuat kami panik dan khawatir."


"Ayo cepat bangun! Aku ingin menyentil keningmu ini lebih keras lagi," ucap Miko sambil mengusap lembut pipi gadis itu.