Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 99 – AKSI PENOLAKAN PELAJAR



-Srerereret, srerereret, srerereret.


-Tuk.


Helios di tengah kesibukannya menggerakkan pulpen di tangannya menangani setumpuk dokumen yang ada di atas mejanya, tiba-tiba saja menghentikan gerakannya di tengah-tengah dengan suara tusukan pulpen yang keras di atas kertas.


“Albert, ada apa kamu senyum-senyum sejak tadi? Apa ada sesuatu di wajahku atau semacamnya?”


Itu karena Helios merasakan bulu kuduknya merinding menyadari Albert yang sejak dari tadi ada di belakangnya cengar-cengir secara tidak jelas.


“Tidak ada apa-apa, Master. Maafkan hamba.”


Berbeda dengan ucapannya, Albert tidak menghentikan sengirannya.


-Tuak.


Pulpen dipatahkan lantas Helios mengarahkan tatapannya yang kesal ke arah Albert.


“Bilang sekarang atau kuhukum lagi pisah kamar selama seminggu.”


“Tidak, jangan! Asal jangan itu, Master! Benar, bukan apa-apa kok.”


“Jadi, kenapa sedari tadi kamu cengar-cengir tidak jelas?”


Albert menggaruk pelipisnya dengan canggung sembari tersenyum penuh arti. Matanya yang sendu mengarahkan tatapannya ke arah dokumen-dokumen yang bertumpuk di atas meja Helios.


“Aku hanya berpikir, senang rasanya melihat Master dengan keadaan sekarang. Master sekarang benar-benar terlihat seperti seorang pangeran. Padahal rasanya baru tiga tahun yang lalu kita masih terkurung di istana yang kumuh dan tak bisa pergi ke mana-mana dengan bebas. Syukurlah sekarang para warga telah melihat nilai Master yang sebenarnya.”


Albert tersenyum cerah menunjukkan betapa tulusnya ucapan itu diucapkannya kepada Helios.


Namun, melihat ketulusan Albert itu, timbul rasa bersalah di dalam diri Helios. Itu berarti dia telah gagal sampai tiga tahun lalu membuat bawahan setia yang selalu mengikutinya sejak berusia 7 tahun itu hidup dengan layak. Helios selama ini telah menjadi pangeran hanya sekadar nama saja, bagaikan tawanan yang terkurung dalam bingkai sangkar. Masih mending jika sangkar itu indah, itu hanyalah sangkar yang kumuh.


Segala kebutuhan keuangan dan pendidikannya telah dipenuhi sejak kecil, walau begitu, Helios masih merasa ada yang kurang di tengah kurungan di dalam istana kumuh itu. Pengakuan, pergaulan, persahabatan. Beruntung Helios memiliki Talia dan Albert selama itu di sisinya. Jika tidak demikian, entah kesepian seperti apa yang sudah akan dialaminya hidup sendirian di dalam sangkar kumuh itu.


“Apa yang kamu bilang, Albert? Justru karena pangeran tiran seperti aku ini juga sampai dibutuhkan di sini, itu menunjukkan betapa kacaunya situasi kerajaan saat ini. Aku hanya berharap agar ketegangan benua segera mereda dan benua kembali damai lagi. Dengan demikian, kita bisa kembali lagi ke Kota Painfinn dan hidup tenang di sana.”


Tampak ekspresi Albert memuram mendengarkan jawaban Helios itu.


“Aku tidak suka Master jika berkata seperti itu. Master bukan tiran! Master adalah pemimpin terbaik yang pernah aku kenal.”


Senyum lembut terpancar di sudut bibir Helios. Bagaimana pun dia tampak berusaha menolaknya, Helios sebenarnya senang bahwa ada orang seperti Albert di sisinya yang sangat mempercayainya.


-turxnxnxjdk fkvn fk kfdxjs


Tiba-tiba terdengar suara berisik di luar. Helios dan Albert yang penasaran pun mengintip dari balik jendela lantai dua istana tersebut.


Itu adalah para murid akademi royal, tempat di mana Ilene baru saja melulusi pendidikannya. Mereka sedang berdemonstrasi di depan pintu gerbang istana.


Suara mereka samar-samar karena suara berisik saling bercampur satu sama lain, tetapi jelas apa yang tertulis dari papan demo yang mereka pegang, “Menolak ras iblis menginjakkan kaki di Kerajaan Meglovia.”


Terlihat ekspresi Helios berkedut. Dia marah. Namun, sebelum sempat dia mengeluarkan isi hatinya, Albert duluanlah yang mewakilinya.


“Para anak-anak kurang ajar itu. Berani-beraninya mereka berkata begitu kepada Master. Ini jelas penghinaan kepada keluarga kerajaan. Ini pasti lagi-lagi ulah kuil suci lagi!”


-Duak.


Suara pintu tiba-tiba terbuka.


“Aku tahu mungkin kamu tersinggung Kak Helios, tetapi jangan marah dulu.”


Itu adalah Yasmin yang masuk sembari membawa teh, tapi bukan dia yang barusan bersuara. Sumber suara berasal dari orang yang tepat berada di belakangnya. Itu adalah Ilene yang masuk bersama pelayan setianya, Mellina Rosse Icozborne, ke ruang kerja Helios tersebut.


“Haaaaaaaah.” Ilene mengembuskan nafasnya dengan panjang.


“Mereka tidak bermaksud menyinggung Kakak, lagian siapa yang berani setelah melihat sampai rahib yang merupakan orang nomor dua di kuil suci saja sampai dihukum mati karena melakukannya terang-terangan.”


Tatapan Ilene bertambah tajam.


“Mereka bermaksud mendemo kedatangan Paman Algebra kemari.”


“Eh, Paman Algebra akan datang?”


“Siapa Beliau, Master?”


“Oh iya, kamu belum ada waktu pertunanganku dengan Talia sewaktu aku berusia 5 tahun ya, Albert. Dia adalah pamanku, kakak pertama Ayahanda Alfreon, Algebra Star Ignitia.”


“Star… Eh, dia seorang putra mahkota?”


Mendengar jawaban Albert, Helios pun tiba-tiba memukul jidatnya sendiri.


“Wahai Albert, walau otakmu itu terbatas, kuharap setidaknya kamu membaca sedikit sejarah benua. Berbeda dengan kerajaan lain, raja di Kerajaan Ignitia dianugerahi nama tengah Star dan putra mahkotanya sebagai Little-star.”


“Kok bisa gitu, Master?”


“Tahu sendiri kan kuil suci sekte apa yang berkembang di Kerajaan Ignitia?”


“Sekte pemuja bintang?”


“Itu sebabnya tingkatan tertinggi bagi mereka adalah bintang itu sendiri, makanya rajanya dianugerahi nama tengah Star.”


“Bukan itu yang penting… Jadi Paman Master juga seorang raja?!”


“Duh, kamu benar-benar tidak tahu apa-apa ya, Albert, padahal kita sudah hidup bersama selama 13 tahun.”


Helios kemudian melirik kepada Ilene.


“Jadi, aku bisa menduga mungkin Paman datang kemari karena mengkhawatirkan keadaan Ayahanda yang sakit-sakitan. Tetapi… ada apa dengan situasi di luar? Bukankah masalah rasisme terhadap Kerajaan Ignitia sudah teratasi sejak kita membentuk aliansi tiga kerajaan selatan? Bukankah waktu terjadi krisis pangan, merekalah yang paling aktif menawarkan bantuan kepada kita? Bukankah ini sama saja air susu dibalas air kutukan?!”


Melihat Helios yang marah, Ilene menjadi gemetar. Bagaimana pun, bola mata Helios yang sedalam dan segelap abyss sangat menyeramkan ketika dia marah.


Mellina pun menenangkan Ilene yang ketakutan lantas menggantikannya menjawab pertanyaan Helios tersebut.


“Maafkan jika hamba ini menyela, Yang Mulia Pangeran. Tuan Putri sudah melakukan yang terbaik selama berada di akademi. Namun belakangan ini berkembang paham anti-ras mirip iblis di kalangan para pelajar, tidak hanya di akademi royal saja, termasuk di akademi sihir dan akademi ksatria juga.”


“Bagaimana bisa paham itu masuk di kerajaan tanpa kuketahui?”


Helios jelas saja bingung karena dia merasa selama ini telah mengawasi kerajaan dengan baik dengan familiarnya walaupun menetap di Kota Painfinn maupun sejak terkurung di istana kumuh. Darimana pemahaman itu tiba-tiba saja muncul?


“Tuan Putri Ilene sudah pernah menyelidikinya. Tampaknya itu dimulai dari slogan-logan yang direklamekan para pedagang, termasuk juga terdapat di label produk mereka. Tuan putri sudah menyita tiap barang dagangan yang mengandung paham rasisme tersebut, termasuk menghukum dengan layak para distributor yang telah mengedarkannya, tetapi itu tidak berhenti di sana. Banyak selebaran yang beredar entah dari mana yang tidak bisa kita deteksi asalnya.”


“Lantas mengapa selama ini kalian tidak pernah membicarakannya padaku?”


“Itu…”


“Cepat jawab saja.”


“Itu Putra Mahkota Tius dan juga almarhum Yang Mulia Pangeran Leon yang melarang Ilene mengatakannya. Tapi itu bukan tanpa alasan. Salah bergerak, Yang Mulia Pangeran bisa ikut terlibat ke dalamnya sejak Yang Mulia Pangeran juga memiliki ciri-ciri fisik yang sama seperti yang dirumorkan sebagai ras iblis.”


Helios tak dapat menolak perkataan itu karena dia paham benar bahwa Tius dan mendiang Leon melakukan itu karena hanya mengkhawatirkan keselamatan Helios saja.


Walau demikian, Helios merasa dikhianati karena selama ini telah menjadi pangeran yang terkurung dalam istana kumuh tanpa kekuatan apa-apa. Dan walaupun ketika telah memiliki kekuatan, para saudara dan saudarinya tetap menganggapnya sebagai anak kecil yang harus dilindungi.