Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 34 – KEBENCIAN TIDAK BERDASAR



Kota Megdia, ibukota Kerajaan Meglovia, adalah tempat yang cukup ramai walaupun di malam hari. Bahkan bisa dikatakan, tempat itu adalah tempat dengan nuansa malam teromantis di seantero Benua Ernoa.


Itulah sebabnya, aku memanfaatkan malam itu untuk mengajak Talia berjalan-jalan sebentar sebelum akan kembali berpisah dengannya.


Akan tetapi, walau malam telah larut dan kebanyakan seseorang tidak akan sanggup untuk melihat wajah orang lain dengan jelas, warna rambutku yang hitam pekat serta warna rambut Talia yang silver yang merupakan ciri khas dari keluarga bangsawan Growmyerre terlalu mencolok untuk tak dapat dikenali dengan sekali melihatnya.


Identitas kami pasti akan segera ketahuan hanya dengan melihat warna rambut kami sejak warna rambut hitam dan silver adalah langka di Kerajaan Meglovia.


Itulah sebabnya kami pun menutupi warna rambut kami dengan artifak sihir yang cukup mirip dengan artifak sihir yang dulu digunakan oleh Alice untuk menyamarkan warna rambut kuning cerahnya menjadi terlihat coklat. Di samping itu, kami turut menutupi wajah kami dengan topeng yang hanya menutupi bagian atas wajah yang cukup sering dipakai oleh orang-orang ibukota yang hendak bepergian ke jalanan sembari menutupi identitas mereka.


Sosok Talia yang begitu anggun terlihat sangat mempesona di mataku. Sesekali dia tersenyum dengan manis di saat akan memilih berbagai pernak-pernik aksesori berkilauan di jalanan ibukota. Ah, sungguh pemandangan yang menyejukkan hati.


Tiada hari yang lebih membahagiakan dalam hidupku selain saat ini di mana aku dapat menyaksikan berbagai ekspresi Talia yang tak biasanya aku saksikan yang terlihat begitu penuh kesenangan.


Namun, perhatian kami tiba-tiba tertuju pada suatu pemandangan yang tak mengenakkan hati untuk dipandang. Sekelompok pemuda yang terdiri dari lima orang membuli sesosok kakek-kakek buta yang tampak merupakan seorang pengemis jalanan.


“Hei, apa yang kalian yang lakukan?!” Tanpa pikir panjang, aku pun menghampiri tempat itu untuk menolong sang kakek.


“Hah, ada urusan apa kau dengan kami?!” Salah satu di antara kelima pemuda itu pun berteriak kepadaku yang hampir mengundang perhatian semua orang di jalanan.


Aku yang tak ingin menarik perhatian yang tidak perlu lantas segera mengambil sikap. Sebelum kelima pemuda itu berbuat keributan yang lebih besar, aku segera mencederai otot-otot mereka dalam diam melalui ilmu taijutsu yang aku pelajari dari guruku yang berasal dari benua timur Asium. Aku turut melukai pita suara mereka agar mereka pula tak sanggup untuk berteriak.


Alhasil, mereka pun meronta tanpa suara lantas ketakutan dan segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa perlu membuat keributan lebih lagi.


Setelah berandalan itu pergi, aku dan Talia pun memandu sang kakek ke suatu tempat yang lebih nyaman. Talia kemudian segera mengobatinya dengan sihir api suci miliknya.


Setelah agak baikan, sang kakek tiba-tiba saja meronta kelaparan. Melihat itu, aku pun segera membawakannya makanan yang aku bisa beli dari stan penjaja makanan terdekat untuk kuberikan kepadanya.


Akan tetapi, sang kakek kembali mengeluh bahwa tangannya sakit sehingga tidak dapat menyuapi dirinya sendiri. Aku pun kemudian menyuapi langsung sang kakek.


Setelah kusuapi, sang kakek pun akhirnya bisa tenang. Namun, itu hanya berlangsung beberapa saat. Sesaat kemudian, sang kakek kembali mengeluhkan hal yang lain. Namun, itu bukan tentang keadaan fisiknya lagi, melainkan tentang mengutuk seseorang yang paling dia benci di Kerajaan Meglovia.


“Lihatlah pemuda-pemuda kurang ajar itu tadi, Nak. Begitulah keadaan kerajaan saat ini, dipenuhi oleh orang-orang kurang ajar seperti mereka. Ini semua karena raja kerajaan ini terlalu baik memperlakukan si tiran sialan itu, si Helios.”


“Jika saja aku yang menjadi raja, aku pasti sudah dari dulu menyeret anak yang durhaka sepertinya ke guillotine untuk kupenggal kepalanya lalu kuarak keliling ibukota. Si sialan itu, lihat saja matanya yang dingin itu yang terlihat siap untuk membunuh orang kapan saja. Bagaimana bisa kriminal sepertinya dibiarkan bebas berkeliaran di ibukota. Itu sebabnya para kriminal lain tidak lagi ketakutan dan jadi bebas berbuat kejahatan di sana-sini.”


Aku tak tahu tentang bagaimana sang kakek yang buta bisa melihat tatapan mataku yang dingin itu. Namun jujur, perkataan sang kakek itu benar-benar membuka mataku bahwa betapa selama ini aku begitu tertutup sehingga warga kerajaan pun salah mengartikan sikapku. Tapi apa daya perihal kuil suci selalu saja membatasi pergerakanku di sana-sini jika aku berada dalam ibukota.


Perasaanku sedikit terluka, tetapi kusadar itu bukanlah salah sang kakek perihal itu semua timbul lantaran rumor buruk yang tersebar mengenai diriku di seantero Kerajaan Meglovia ini.


Itulah sebabnya, di saat kulihat Talia hendak mengatakan sesuatu mengenai hal tersebut kepada sang kakek, aku segera menghentikannya. Tampak Talia juga segera menyadari kompleksitas perasaanku itu dan memutuskan pula untuk tak memperpanjang lagi persoalannya.


Aku harus tumbuh lebih kuat lagi yang cukup untuk melindungi diriku sendiri bersama dengan orang-orang yang kucintai.


***


“Puaaaak!”


Terlihat di ruangan itu, Leon tiba-tiba saja memukul meja dengan penuh amarah.


“Apa kalian bilang?! Tidak ada dari kalian yang sanggup untuk menggantikan si Helios sialan itu menjadi pimpinan Kota Painfinn?! Tidakkah kalian sadar akan akibatnya?! Si sialan itu akan membangun kekuatannya di sana dan menjadi duri dalam rencana kita!”


Leon marah pada para pengikut di faksinya yang tak satu pun di antara mereka yang bersedia menjadi voluntir untuk menggantikan Helios sebagai pemimpin Kota Painfinn untuk menghalangi pergerakan Helios membangun kekuatannya di sana.


“Tapi Yang Mulia Pangeran, walaupun Pangeran Helios bisa membangun kekuatannya di sana, dia tetap akan sulit memperoleh mahkota sejak kuil suci membatasi pergerakannya. Di samping itu, walau Kota Painfinn sudah tenang dibandingkan sebelumnya, kita masih tak dapat memastikan soal ancaman monster yang akan terjadi di masa mendatang. Bagaimana pun, resikonya terlalu berbahaya dibanding keuntungannya, Yang Mulia Pangeran.”


“Benar kata Marquise Tellborne, Yang Mulia Pangeran. Sebaiknya saat ini, kita lebih memprioritaskan perhatian kita kepada faksi Putra Mahkota.”


“Dasar pengecut kalian semua! Kalian bisa bicara santai seperti itu karena kalian tidak kenal saja dengan si sampah sialan itu. Dia itu orang yang sangat licik dan penuh perhitungan. Kuyakin, dia telah merencanakan hal yang busuk di belakang untuk bersiap merebut tahta. Tidakkah kalian juga sadar akan isi ramalan itu tentang bagaimana nantinya dia akan memenangkan tahta pada akhirnya?!”


“Padahal ini adalah kesempatan emas untuk menjatuhkan dirinya yang mulai naik daun semenjak kita bisa menggunakan insiden the king of undead itu untuk menjatuhkannya semenjak bukankah itu alasan pada awalnya istana memanggilnya. Tapi kini semuanya berubah sejak dia mampu menghentikan anomalitas di hutan monster.”


“Begitu kalian tersadar, bukan si Tius atau Ilene yang akan mengancam faksi kita, tetapi itu si Helios, si licik itu. Dan ketika kalian tersadar, semuanya sudah terlambat. Audiensi dengan raja besok adalah kesempatan kita satu-satunya untuk menghentikan momentum si Helios sialan itu.”


Leon marah akan kepengecutan anggota-anggota faksi di bawah naungannya. Walau demikian, semua anggota faksinya hanya mengalihkan pandangan dalam ketakutan pada mata mengancam Leon tersebut.