Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 60 – PENAMPILAN HEROIK YASMIN DAN LEON



Yasmin tanpa hesitasi maju melayangkan sekali lagi tinju overpower-nya kepada gargoyle. Namun, sesosok ghost yang satu lagi datang merangkak dengan keempat kakinya… ataukah mungkin lebih tepat jika itu disebut tangan?


Ghost itu menghalangi Yasmin melakukan serangannya melalui lidahnya yang terjulur keluar. Bukannya Yasmin takut serangannya itu akan kalah terhadap tangkisan ghost yang terakhir, hanya saja tampilan ghost itu begitu menjijikkan sehingga Yasmin pun jijik jika sampai tangannya itu menyentuh lidah sang ghost. Dialah ghost wewekgombel.


Perpaduan serangan gargoyle di udara serta wewekgombel yang merangkak di atas tanah sama sekali tidak menggoyahkan Yasmin. Dia tetap mampu berkonsentrasi pada pertarungannya itu walau serangan datang dari dua arah.


Akan tetapi di luar dugaan, bukan ke arah gargoyle maupun wewekgombel, serangan tinju maut Yasmin kini mengincar, melainkan sesuatu apa yang ada di belakangnya.


“Hei, kalian goblok ya?!”


“Buaaaaak!”


Seraya mengucapkan kalimat tersebut, Yasmin meninju tepat ke arah di belakang Horse. Hampir saja Horse kencing di celana akibat serangan Yasmin yang begitu cepat tersebut.


Horse sejatinya adalah salah satu prajurit bayangan Leon yang telah melalui penempaan latihan yang sangat berat di luar batas kemanusiaan yang juga telah terlatih dalam melakukan serangan cepat.


Tetapi walau dengan skill-nya itu, dia tetap tak mampu mengikuti pergerakan Yasmin yang sangat lincah dan cepat yang menyerang ke arah tiga titik serangan yang saling berjauhan satu sama lain secara berturut-turut.


Horse pun menoleh ke belakang. Betapa kagetnya dia ketika dia mendapati bahwa di belakangnya itu telah ada Pooka yang mungkin saja jika tadi Yasmin tidak menyerangnya, dirinya pun akan bernasib sama dengan Rat atau bahkan lebih buruk lagi.


Itu bukanlah di mana kekagetan Horse berhenti. Tidak hanya Horse, tetapi juga semua anggota prajurit bayangan Leon yang ada di situ terkaget dibuatnya. Hanya dalam satu pukulan, Yasmin telah meluluh-lantakkan seluruh isi perut Pooka.


Di saat itulah, panggilan Leon melalui alat komunikasi merpatinya tiba di tangan Sheep.


Itu adalah panggilan untuk mundur dari Leon dan membiarkan sisa monsternya ditangani oleh Yasmin seorang, perkara telah hadir di tempat lain monster yang lebih mengancam. Kali ini, itu adalah makhluk dari dungeon titan, lagi-lagi dungeon yang berasal dari hutan monster Kekaisaran Vlonhard.


Terlebih, itu bukan sembarangan titan, melainkan titan kehancuran, Perses, yang memiliki rank heroic tingkat tinggi.


“Bagaimana bisa begitu? Bagaimana bisa kita menyerahkan perlindungan di sini kepada wanita lemah lembut itu?”


Dog menatap kaget tak percaya akan komentar tak terduga dari Horse yang biasanya terlihat cool itu. Tidak, bukan itu yang lebih membuatnya kaget.


“Kak, kamu buta ya? Darimana-nya wanita itu kamu sebut lemah dan lembut?” Balas Dog sembari menunjuk ke arah Yasmin yang sedang membantai monster gargoyle dan wewekgombel dengan tanpa belas kasihan. Bahkan dari jauh, justru terlihat bahwa Yasmin-lah yang monsternya.


“Sudah, sudah. Ini perintah dari Master kita. Ingat apa prinsip prajurit bayangan Pangeran Leon?”


Terhadap ucapan Sheep itu semuanya pun menjawab serentak kecuali Rat yang masih terkapar tak berdaya, “Memenuhi segala keinginan Master dan menghancurkan siapa saja musuh yang diinginkannya tanpa bertanya alasannya.”


“Kalian sudah paham sendiri rupanya. Lagipula seperti yang Dog bilang tadi, kalian tidak perlu mengkhawatirkan wanita itu sebab dia bukan wanita sembarangan. Dia adalah anak buah langsung Yang Mulia Pangeran Helios yang kedua.”


“Jadi dia witch yang dirumorkan di ibukota tersebut?”


“Horse! Jaga ucapanmu! Ayo kita turuti saja perintah sang Master untuk mundur di sini. Kamu dan Pig segera ikut aku. Dog, kamu bawa dulu Rat ke rumah sakit lantas segera menyusul.”


“Siap”


“Siap”


“Siap”


Dalam sekejap, mereka berlima pun menghilang dalam bayangan dari tempat tersebut.


Dan sesuai apa yang dikatakan Sheep, Yasmin mampu mengalahkan sisa dua ghost pula tanpa mengeluarkan keringat.


***


“Yang Mulia Pangeran Leon, tunggu sebentar! Jangan gegabah! Lagian apa yang ada di hadapan kita itu adalah monster berank heroik tingkat tinggi.”


Dialah Perses, monster berank heroic tingkat tinggi yang memiliki bentuk mirip manusia raksasa dengan seluruh badannya tampak hitam seperti gunung berapi yang berisi lava.


Jilk mencoba menenangkan Leon, tetapi senyum Leon tersebut berubah menjadi semakin gila.


“Justru dengan lawan yang semakin kuat itulah, pertarungan akan menjadi semakin menarik. Lagipula di sini adalah daerah pegunungan yang tak terpakai. Kakak mungkin akan marah karena merusak tanki persediaan air bersih kota, namun sejak di sini tidak ada penduduk satu pun, aku jadinya bebas mengamuk.”


Jilk pun akhirnya menyerah untuk menasihati Leon yang keras kepala lantas kelima pengikut Leon yang lain mulai mengikutinya di belakang.


Badan Perses yang berapi-api membuat kelima yang lain agak sulit untuk mendekatinya. Hanya Leon-lah yang memiliki dasar elemen api yang cukup tahan untuk menghadapinya. Itu pun, dia mulai ngos-ngosan di dalam panas membara di sekeliling Perses yang melebihi prediksinya itu.


“Cih, sesuai rank-nya di level heroic tingkat atas, monster ini jauh lebih kuat dari yang pernah kita lawan sebelum-sebelumnya. Tidakkah kau juga setuju itu, Tiger?”


“Oi, Tiger, Monkey, jangan hanya bicara di sana! Bantu kami juga untuk bertahan! Tidakkah kalian malu di hadapan Master?!”


“Cih, si Oxen itu selalu saja mencari muka di hadapan Master, tetapi tetap saja Rooster dan Snake-lah yang menjadi favoritnya.”


Di tengah para prajurit bayangannya yang lain mulai kehilangan momentumnya, hanya Jilk-lah seorang yang tetap mampu mensupport Leon dengan baik. Perpaduan pedang tajam ala swordsman Leon dan dagger secepat kilat ala assassin Jilk, menyatu dengan indah bagaikan suatu harmoni tarian.


Leon menyerang di depan memimpin pasukannya dengan gagah di mana Jilk menyupport-nya tepat di belakang. Sesekali, Rooster, Oxen, dan Monkey memberikan support dari jauh. Hanya Tiger-lah satu-satunya di antara prajurit bayangan yang tak mampu berada terlalu dekat dengan Perses sejak elemennya adalah air yang sangat bertolak belakang dengan elemen api Perses.


Leon bertarung dengan gagah berani melalui pedangnya yang bersinar biru yang indah. Leon bersalto dan memanjati tubuh monster yang setinggi sekitar empat puluh meter itu atau sesekali menggunakan pancang besi dari kerangka tanki buatan Helios untuk menampung air bersih tersebut demi menggapai bagian tubuh monster yang tinggi untuk melukainya.


Leon bagaikan serangga lebah yang sedang mencari gara-gara dengan manusia ketika memetik bunga kesukaannya. Dia terlihat sangat lemah di mata sang titan, namun sejatinya tiap serangan Leon itu sangatlah menyengat baginya.


Sedikit demi sedikit, luka-luka di tubuh sang monster terakumulasi dan sang monster pun mulai meraung kesakitan.


Monster itu menepuk-nepuk ke sekeliling tubuhnya demi membunuh para serangga yang menyakiti kulitnya itu. Akan tetapi, berkat kelincahan Leon dan juga keahlian mengarahkan pasukan bayangan yang lain dari Jilk, mereka semua dapat selamat dari terpaan sang monster titan tersebut.


Leon pun lebih leluasa menarikan tarian pedangnya yang indah, menampakkan kilauan cahaya biru di pedangnya dengan lebih bersinar, semuanya berkat dukungan dari Jilk sang veteran.


Akhirnya, Leon sampai ke puncak kepala sang titan lantas hendak melukai matanya. Bagaimana pun hebatnya monster, berdasarkan pengalaman-pengalamannya, pastilah bagian matanya itu sangat mudah untuk dihancurkan, sekaligus menghambat pergerakan monster dengan indera penglihatannya dibatasi.


Akan tetapi di luar dugaannya, pedangnya itu yang justru hampir meleleh ketika mengenai mata sang titan Perses.


Leon terpukul mundur. Namun dia tidak menyerah. Dengan semangatnya yang tetap membara, Leon melanjutkan perjuangannya menghadapi sang titan Perses.


Namun demikian, lama bertarung, stamina Leon mulai tampak terkuras drastis, terlebih setelah dia juga sempat menghadapi dua monster yang lain sebelum ke tempat sang titan itu berada.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian, Rooster tiba-tiba menyadari ada keanehan pada salah satu bagian tubuh Perses. Itu lebih lunak jika dibandingkan dengan bagian tubuhnya yang lain.


Jika itu monster yang menyerupai bentuk manusia yang lain seperti goblin atau orc, maka kelemahan mereka seharusnya ada di ubun-ubun, leher, atau perut. Akan tetapi berapa kali pun mereka mencoba untuk melukai bagian-bagian itu, itu tetaplah kokoh dari tebasan mereka. Hanya serangan Leon dan Jilk-lah yang efektif sedikit melukainya, namun itu tetaplah tak seberapa pula sejak sang monster memiliki skill pemulihan yang tinggi.


Namun, apa yang kali ini Rooster lihat berbeda. Bagian itu lebih lunak dan ketika dia lukai, regerasinya lambat.


“Yang Mulia Pangeran, coba Anda lukai bagian dada empat meter ke bawah dari bagian lehernya!”


Leon sebenarnya tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh Rooster itu. Namun sejak Leon sangat mempercayainya dan juga dia saat itu telah kehilangan segala cara dan kepalanya mulai berkunang-kunang akibat keletihan, tanpa pikir panjang lagi, Leon mengikuti saran Rooster tersebut.


“Tusukan kilat cahaya.”


Di luar dugaannya, tusukan itu dengan mudah menembus kulit Perses kali ini yang awalnya sangat sulit untuk ditembus di tempat lain itu. Namun, Jilk pun segera merasakan marabahaya.


“Awas, Yang Mulia Pangeran!”


Jilk dengan sigap menarik mundur sang pangeran yang hampir kehilangan dayanya dalam pertempuran akibat kelebihan dalam penggunaan tenaganya.


Leon pun menoleh ke belakang.


Rupanya, dari satu retakan yang dibuat oleh Leon itu, retakan menjalar yang bagai bangunan kehilangan titik beratnya, batu-batu yang menyusun tubuh Perses mulai memisah lantas ambruk berserakan ke mana-mana oleh momentum panas tubuhnya sendiri.


Beberapa pecahan mengarah ke arah Leon, tetapi Jilk berusaha melindunginya melalui tubuh rentanya dengan segenap jiwanya. Leon berhasil selamat, walau ada tumbukan yang cukup parah mengenai Leon. Tetapi separah-parahnya luka Leon, luka di tubuh Jilk lebih memprihatinkan.


Semua prajurit bayangan itu pun segera berkumpul ke sisi Leon untuk memastikan perawatan Master mereka.


“Ukh. Bagaimana dengan mosnternya?”


“Sudah dikalahkan dengan baik oleh Anda, Pangeran.”


“Baguslah. Tapi ngomong-ngomong, rombongan Sheep belum juga sampai rupanya. Mereka itu harus dipotong gajinya, sampai pertarungan selesai pun belum sama sekali menunjukkan batang hidungnya. Terlebih-lebih Dragon, sama sekali tidak ada kabar lagi darinya setelah diminta mengawasi mata-mata itu…”


Ekspresi Leon seketika menegang. Dia baru tersadar kembali akan eksistensi Damian, bahaya yang lebih laten dibandingkan puluhan monster yang menyerang yang diduganya besar kemungkinan merupakan dalang utama semua serangan monster-monster itu.


Memenuhi harapan Leon, sebuah suara langkah kaki datang mendekat ke arahnya. Bersamaan dengan itu, lima kepala pun bergulir ke hadapan Leon.


“Apa Yang Mulia Pangeran mencari ini?” Dialah Damian yang menyapa Leon dengan tampang yang menjijikkan.


Betapa Leon kaget perihal apa yang dilempar oleh Damian ke hadapannya itu adalah kepala Sheep, Pig, Horse, Dog, dan Dragon, kepala kelima prajurit bayangannya.