Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 103 – KESANGSIAN TIUS



“Master! Ada berita gawat dari Painfinn!”


Albert nampak berlari menuju ke ruangan kerja Helios dengan membawa sebuah surat di tangannya.


Itu adalah surat dari Curtiz yang menginformasikan bahwa Talia baru saja diserang oleh sekelompok pembunuh bayaran di Kota Painfinn walaupun serangan itu sendiri gagal berkat Alice yang mempertaruhkan nyawanya.


Begitu Albert memperhatikan, tampak Helios mondar-mandir di ruang kerjanya.


“Master?”


“Ya, aku sudah tahu itu. Tapi aku harus bagaimana?”


Helios sudah tahu lebih dulu akan serangan itu walaupun tanpa kabar dari Curtiz.


Tidak, bahkan dia menyaksikan sendiri kejadiannya lewat para familiar burung es-nya yang terkoneksi dengan penglihatannya yang dia tempatkan berjaga di sekeliling mansion.


Helios tidak turun tangan saat itu karena menilai ini adalah kesempatan bagus bagi Alice untuk berevolusi dan itu ternyata terbukti berhasil. Kini Alice telah berhasil melawan traumanya dan bahkan mencapai ranah magic swordsman.


Namun, Helios ragu dalam mengambil keputusan. Tentu saja dia sangat mengkhawatirkan Talia dan calon bayi yang sedang dikandungnya dan ingin bergegas menuju ke Kota Painfinn demi memastikan sendiri keselamatan istri dan calon bayinya itu.


Akan tetapi jika dia melakukan hal itu, mutlak jikalau sampai ada apa-apa terjadi pada kakaknya di Kerajaan Cabalcus, Helios tidak bisa lagi segera mengambil tindakan sejak untuk terbang dari Kota Painfinn menuju ke ibukota Kerajaan Cabalcus sampai mencapai waktu hampir dua hari.


Semakin jauh jarak dirinya dari familiarnya, walaupun itu tidak terlalu mempengaruhi performa pengamatannya sebagai alat pengamat, sebagai alat tempur, familiar itu akan semakin lemah dalam mode tempurnya. Jikalau sampai kakaknya berhadapan dengan pembunuh bayaran kelas tinggi, semuanya telah akan sangat terlambat.


Dan peluangnya tidak kecil itu akan terjadi sejak cara paling efektif untuk menguasai tiga kerajaan bagian selatan benua, tiga kerajaan terakhir di Benua Ernoa yang belum dikuasai oleh kekaisaran, adalah tentu saja dengan merenggangkan tali persahabatan di antara ketiga kerajaan.


Lalu cara yang paling efektif dari semua itu adalah dengan menghancurkan pertemuan diplomatik dari ketiga kerajaan itu sendiri, misalnya dengan melakukan assasinasi terhadap utusan kerajaan lain, termasuk Kerajaan Meglovia, di mana Tius bertindak sebagai perwakilannya.


Tetapi kemudian, sebagai seorang calon ayah dan sebagai seorang suami, Helios tidak dapat menahan keegoisannya. Dia jauh lebih mengkhawatirkan keselamatan istri dan calon bayinya melebihi keselamatan kakak kandungnya sendiri itu.


“Baiklah, ayo kita pergi. Panggil Yasmin, lalu kita akan segera pulang ke Kota Painfinn.”


Helios pun membuat keputusan.


***


Sementara itu di Kerajaan Cabalcus,


“Suasananya benar-benar aneh ya belakangan ini, Yang Mulia.”


Swein fou Lambarg mampu segera menyadari suasana mencekam dalam diam pada tiap ekspresi para hadirin di pertemuan diplomatik yang baru-baru ini diadakan di tempat tersebut.


“Yah, mau bagaimana lagi. Putra Mahkota Kekaisaran Vlonhard, Albexus Star Vlonhard, yang selama ini bisa kita ajak jalan damai tiba-tiba saja terbunuh secara misterius. Tidak berselang lama setelah itu, bahkan Rahib Magnus Slafonn, kepala kuil suci sekte penyembah bintang di Kerajaan Ignitia juga turut meninggal secara misterius di mana seluruh tubuhnya dimutilasi. Semuanya menjadi kacau.”


Hanya kepada pengawal setia sekaligus sahabat baiknya itu saja, Tius Star Meglovia mampu mengungkapkan pendapatnya secara jujur tanpa berupaya menjaga citra bijaknya.


“Apakah sudah tidak memungkinkan kita mengupayakan jalan damai, Yang Mulia?”


“Atau Yang Mulia, mungkin mereka hanya takut saja dengan kekuasaan mutlak Kaisar Ethanus sejak pondasi utama mereka telah runtuh, jadi mereka memilih bersikap netral sejak posisi mereka tidak lagi diuntungkan?”


“Entahlah, kuharap Duke Hugord van Litrum masih bisa diajak kerjasama sejak dia adalah pendukung utama Putra Mahkota Albexus sebelumnya, sekaligus ketua faksi bangsawan timur laut kekaisaran yang juga punya cukup kekuatan besar menekan sang kaisar secara politik.”


“Semoga begitu, Yang Mulia.”


“Tapi yang malah tambah bikin runyam, kini beredar rumor di Ignitia bahwa alasan Rahib Magnus sampai dibunuh adalah ketidakterimaan kuil suci ortodoks terhadap para ras berambut hitam beserta sekte kuil suci yang mewakili keberadaan mereka.”


“Dan yang dianggap sebagai dalang dari semua itu adalah tindakan reformasi besar-besaran kuil suci sekte penyembah matahari terhadap gerakan pemusnahan ras demon benua barat melalui penyatuan benua di dalam satu kendali di bawah sentimen Rahib Robell Zarkan dengan menjadikan Kaisar Ethanus sebagai perwakilan umat manusia.”


Pada penjelasan Tius itu, Swein terlihat memiringkan kepalanya karena bingung.


“Aku mengerti bahwa itu menjadi dasar pembenaran Kaisar Ethanus melancarkan agresi terhadap kerajaan lain di benua. Tapi bagaimana bisa itu dikaitkan dengan kematian Rahib Magnus, Yang Mulia?”


“Kamu tahu sendiri kan, baru-baru ini di benua sedang lagi tren-nya menyamakan para ras berambut hitam sebagai ras keturunan iblis. Bahkan hampir saja Raja Ignitia, Paman Algebra, dibunuh di kerajaan kita karena tren itu. Jelas itu bukan pekerjaan amatir, tetapi sesuatu yang direncanakan secara matang oleh sindikat tertentu.”


“Dengan mudah, Kerajaan Ignitia bisa menghubungkan dalang di balik semua kejadian itu. Entah itu benar atau salah, tetapi segalanya terlalu kebetulan karena hal itu menjadi tren tepat saat Rahib Robell menjalankan reformasinya.”


Swein terlihat menunjukkan wajah kusut atas penjelasan Tius tersebut. Sejenak kemudian, dia pun kembali berpendapat.


“Aku hanya tidak mengerti jalan pikiran Kaisar Ethanus. Pemikirannya memang baik untuk menyatukan benua demi menghadapi nubuat kebangkitan raja iblis yang sebentar lagi akan tiba. Tapi apakah harus dengan perang? Bukankah semuanya bisa dibicarakan baik-baik seperti bagaimana persatuan tiga kerajaan selatan ini beroperasi? Kerajaan tidak mesti bersatu, yang penting adalah saling memahami.”


Tius melirik ke arah Swein seakan tatapan matanya mengandung isyarat, ‘betapa naifnya temanku satu ini’, sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya.


“Begitulah keserakahan manusia. Daripada mengalahkan raja iblis dan menghilangkan ras demon selamanya di dunia ini, sang kaisar pastinya lebih tertarik untuk menguasai dunia di dalam genggamannya.”


Lama terdiam, Swein kemudian menambahkan satu lagi komentarnya,


“Sang kaisar bukan pahlawan yang diramalkan, tetapi nekat mengambil perannya itu. Padahal semuanya sudah jelas dalam ramalan bahwa ketika kekacauan sebagai tanda kebangkitan raja iblis telah dekat, pahlawan akan muncul sendiri sesuai dengan tanda-tandanya. Ah, benar, bukannya berdasarkan ramalan, seharusnya Pangeran Helios-lah yang memulai perang seperti ini untuk menghancurkan dunia manusia sebagai tanda awal munculnya pahlawan?”


“Swein!” Tanpa sadar, Swein akhirnya kelepasan dalam berbicara.


Itu sebenarnya memang sudah merupakan pengetahuan umum bagi penganut kuil suci mana pun di belahan Benua Ernoa, namun dalam hati, Tius tidak pernah membenarkan hal itu.


Itulah alasannya Tius sangat membenci keberadaan kuil suci yang jika bukan mengingat statusnya sebagai putra mahkota, pasti sudahlah ditunjukkannya di muka umum kebenciannya itu.


Demi kedamaian kerajaan, Tius menahan rasa bencinya pada kuil suci yang sudah menghancurkan masa depan adiknya, Helios, memperlakukannya sebagai musuh umat manusia masa depan, bahkan di kala Helios saat itu masih berusia 5 tahun dan belum mengerti apa-apa.


Apapun yang orang lain katakan, bagaimana pun Helios dihujat, Tius dalam hatinya tetap mempercayai adik kandungnya itu takkan pernah mengambil pilihan masa depan sesuai dengan apa yang diramalkan untuknya.


Bagi Tius, Helios adalah sosok adik yang baik dan berhati lembut yang takkan mungkin tega melihat perang berkecamuk yang mengambil nyawa banyak orang tak berdosa.


Tius tidak tahu saja bahwa Helios telah dekat dalam memilih masa depan sesuai dengan apa yang diramalkan oleh kuil suci tersebut, dan itu semua perihal dirinya.