Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 42 – RUJUKNYA DUA SAUDARA KANDUNG



Setelah itu, aku mendengarkan penjelasan dari Albert.


Rupanya, di tempat kejadian awal-mula monster bermunculan, ditemukan sebuah altar ritual summon monster. Jadi, walaupun monster bermunculan dari hutan monster, para monster itu sejatinya bukan berasal dari hutan monster Kerajaan Meglovia, melainkan dari para monster yang berhasil tersummon ke altar tersebut.


Ini menjawab pertanyaanku sebelumnya tentang keganjilan munculnya para monster dungeon ghost itu yang sangat jauh dari posisi dungeon asalnya.


Namun, yang lebih mencurigakan dari semua itu adalah ditemukannya sidik jari Leon pada altar tersebut ketika Leon sendiri beberapa hari sebelum kejadian tampak mondar-mandir di sekitar tempat kejadian.


Lantas dengan pemikiran Albert yang sederhana itu, dia langsung menyimpulkan bahwa pelaku di balik penyummonan para monster living armor itu tidak lain adalah Leon dengan tujuan untuk membunuhku dalam kekacauan melalui tangan monster.


Tetapi terdapat kecacatan utama dalam hipotesa itu. Keberadaan monster-monster seperti itu tidaklah cukup kuat untuk membunuhku dan seharusnya Leon tahu hal itu lebih dari siapapun.


Lagipula, dua tahun yang lalu di Kekaisaran Vlonhard, telah ditemukan suatu sihir tipe tanah yang mampu memalsukan sidik jari seseorang dengan sangat sempurna. Suatu skema yang sangat sempurna jika ada pelaku yang ingin membuat hubunganku dengan Leon bertambah buruk dengan membuat Leon seakan-akan menjadi pelaku di balik semua insiden ini dengan tujuan untuk membunuhku.


Aku pun menjelaskan deduksiku itu kepada Albert untuk meredam kecurigaannya agar bertindak lebih waspada. Tetapi jawabannya adalah suatu pemikiran rumit tidak terduga yang datang dari otaknya yang sederhana itu.


“Bagaimana jika Pangeran Leon memang sudah memikirkan itu semua bahwa Master akan berpikiran seperti itu? Melihat Master adalah tipe pemikir, dia sengaja merancang skema itu untuk membuat seakan-akan ada orang yang berusaha menjebaknya, tetapi pada kenyataannya dirinya sendirilah yang telah menjebak dirinya sendiri. Dia bagaimana pun adalah seorang pangeran, jadi pastinya dia sudah tahu kalau telah ada sihir untuk memalsukan sidik jari.”


“Lalu dia yang mengetahui keberadaan sihir itu menggunakannya untuk membuat lelucon dengan sidik jari aslinya sendiri dia tinggalkan di tempat kejadian dengan sengaja, lantas mengacaukan kota hanya demi untuk mengejekku. Itu yang mau kau katakan, Albert?”


“Kurang lebih seperti itu, Master.”


“Praaaak!”


Aku pun segera menjitak kepala tidak berguna Albert itu yang sampai memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku tahu penampilan Leon memang gila, tetapi dia tidak akan segila itu untuk membuat lelucon kejam tanpa arti dengan mengorbankan banyak nyawa seperti itu.


Lagipula, informasi tentang sidik jari palsu itu adalah dokumen Kekaisaran Vlonhard yang masih bersifat confidential. Aku sangsi kalau Leon yang lebih tertarik soal kemiliteran daripada urusan negara lain bisa mengetahui hal tersebut.


“Kalau begitu, mungkin saja dia hanya ceroboh dengan meninggalkan sidik jarinya secara tidak sengaja di tempat kejadian? Dan tujuannya hanya untuk mengolok-mengolok Master saja?”


“Dengar ya, Albert. Yang lebih dirugikan dalam serangan gelombang monster kali ini adalah Leon sendiri ketimbang aku sejak dialah yang sekarang menduduki posisi pimpinan kota. Haaaah.”


Aku hanya bisa menghela nafas panjang akan segala deduksi Albert yang sangat tidak berguna itu. Tetapi terima kasih berkatnya, kini aku bisa menemukan informasi berharga tentang situasi terkini yang gagal diperoleh oleh para familiarku yang tersebar yang hanya bisa mengamati situasi tanpa bisa berinteraksi langsung terhadap sumber informasi.


Dengan kata lain, ada seseorang yang kini berusaha mengadu domba antara aku dan Leon. Kalau berpikir tentang siapa yang paling diuntungkan dengan konfrontasi di antara kami berdua, itu adalah Kak Tius. Menurut Ilene, Kak Tius tidaklah sebaik yang aku pikirkan. Menurutnya, Kak Tius adalah sosok yang licik yang siap menggunakan segala cara untuk meraih tujuannya.


Tetapi bagaimana pun aku mengingatnya, aku hanya dapat memikirkan sosok Kakak yang baik saja di ingatanku. Tiada sekalipun terlintas di pikiranku bahwa Kak Tius adalah sosok yang kejam seperti apa yang diutarakan oleh Ilene kepadaku.


Kalau begitu, ini pasti berasal dari party lain yang juga akan diuntungkan. Entah itu kelompok bangsawan di bawah naungan Kak Tius tanpa sepengetahuan Kak Tius ataupun… negara tetangga yang saat ini sedang bertikai dengan negara kami, Kekaisaran Vlonhard.


Tetapi mari kita juga taruh kemungkinan dua persen kecurigaan Albert itu terhadap Leon untuk jaga-jaga. Tiada yang salah dengan bersikap lebih berhati-hati.


***


Malam itu, aku diajak berbincang secara pribadi oleh Leon di teras mansion. Dia melarang bahkan untuk Albert dan Yasmin yang biasanya sudah sepaket denganku ikut serta di dalam pertemuan itu.


Tentu saja, Albert menentang keras akan hal itu karena entah rencana jahat seperti apa yang telah disusun oleh Leon untuk mengassasinasi-ku. Walau demikian, aku tetap menerima tawaran itu karena aku tetap percaya kepada adik bodohku itu. Namun sebagai gantinya, kesebelas pengawal bayangan Leon juga harus menyingkir jauh-jauh dari tempat tersebut.


Tetapi apa ini? Tumben adik bodohku itu bersikap sopan kepadaku. Biasanya dia akan meninggikan suaranya sembari mencaci-makiku dengan memanggilku sebagai kakak sampah.


“Itu benar, Leon. Ada sidik jarimu yang tertinggal sebagai bukti di tempat kejadian.”


“Bukankah sidik jari sekarang bisa direkayasa dengan sihir?”


“Oh, aku tak menyangka kamu sampai tahu informasi rahasia dari Kekaisaran Vlonhard itu.”


“Ck. Itu sekarang tidak penting, kan? Jangan bilang Kakak termakan oleh bukti sampah seperti itu.”


“Para penyelidik masih menyelidiki tempat kejadian perkaranya. Akan tetapi aku tahu kok,kecil kemungkinan kamu akan melakukan tindakan seceroboh itu. Hal seperti itu sama sekali bukan style-mu, jadi aku yakin bahwa itu bukan kamu.”


“Ck. Kecil kemungkinan kah? Itu berarti bahwa kamu masih menaruh sedikit curiga kepadaku.”


“Itu wajar kan? Sejak keluarga kerajaan memang diajari untuk saling mencurigai bahkan terlebih-lebih kepada saudara sendiri.”


“Ck. Itu juga aku tahu. Ya sudahlah, Kak. Baca saja dokumen ini.”


Leon pun menyerahkan sebuah dokumen kepadaku. Itu rupanya adalah sebuah dokumen penghambatan gaji beberapa pasukan bantuan dari ibukota di bawah naungan Kak Tius yang masih sementara sedang ditugaskan berpatroli ke daerah perbatasan barat kerajaan.


Itu adalah dokumen penyelidikan tentang jalur distribusi gaji prajurit. Namun apa yang membuatku terkaget adalah hasil penyelidikan dari dokumen itu menyatakan bahwa akulah dalang di balik dari semua insiden tersebut di mana dikatakan bahwa tujuanku adalah besar kemungkinan untuk semakin memperpanas persaingan antara kubu Kak Tius dan Leon yang sedang memperebutkan tahta.


Apa yang lebih membuatku tidak percaya adalah bahwa semua bukti dokumen yang diberikan terlihat begitu asli, bahkan tanda tangan palsu itu pun terlihat benar-benar seperti aku sendirilah yang telah menandatanganinya. Tentu saja itu semua hanyalah tuduhan palsu belaka.


“Leon… ini…”


“Tenang saja, Kak. Aku sama sekali tak mempercayai semua isi dokumen itu. Jelas ada yang berusaha mengadu domba kita. Tetapi apapun itu, jika dia melakukan hal ini kepadaku untuk mencurigai Kakak, maka tidak mustahil bahwa pihak lawan juga melakukan hal yang sebaliknya kepada Kakak. Oleh karena itu, berpikir rasional-lah dan jangan terpancing oleh semuanya.”


Mendengar pengakuan Leon yang biasanya pemarah itu, aku pun tanda sadar berucap, “Terima kasih, Leon, karena telah mempercayai Kakak.”


“Ck. Aku melakukan ini bukan untuk kepentingan Kakak. Aku hanya tidak ingin perihal tuduhan tidak penting ini, Kakak bisa menjadi penghambat potensialku dalam merebut tahta. Tetapi jika saja suatu saat Kakak juga berdiri menghalangi jalanku dalam merebut tahta, maka di saat itu pulalah aku tidak akan segan-segan sama Kakak.”


Yah, apapun itu, salah paham di antara sesama saudara ini akhirnya teratasi juga. Itu semua tentu saja karena kami semua senantiasa berpikiran dingin dan benar-benar selalu menilai situasi secara matang.


Walau demikian, aku cukup sedih karena hubungan aku dan Leon, beserta dengan saudara-saudariku yang lain tetap tak bisa kembali lagi seperti yang dulu.


Ini bukan persoalan ramalan tiran lagi. Seiring waktu berjalan, kami semakin dewasa dan mulai melangkah ke jalan hidup kami masing-masing. Dan aku sebagai yang paling tertinggal di antara mereka bertiga, tentu saja yang paling merasakan kepahitan tersebut.


***


Pagi pun tiba dan kupikir salah pahamku dengan Leon akhirnya bisa teratasi. Namun sekali lagi, muncul masalah baru.


“Lapor Yang Mulia Pangeran Ketiga, para prajurit mengeluh karena tidak dapat memperoleh perbaikan baju perang mereka yang rusak perihal baru saja terjadi longsor di daerah tambang besi, tempat biasanya para pengrajin senjata memperoleh bahan mentahnya.”


Damian masuk memberikan laporannya kepada Leon.