
Setelahnya, Albert dan Albexus akhirnya membuka mulut mereka dan mulai bercerita padaku tentang bagaimana mereka berdua bisa selamat setelah dikira meninggal oleh semua orang.
Rupanya, Leon-lah yang selama ini bertindak di belakang layar menyelamatkan mereka. Tepat sesaat tentara Kaisar Ethanus akan menghabisi Albexus, begitu pula Damian akan menghabisi Albert, Leon menggunakan tipuannya untuk menukar tubuh mereka dengan tubuh lain yang mirip melalui sorcery objek yang Leon kuasai setelah menjadi pelayan Isis.
Albert dan Albexus selama ini hesitasi untuk membicarakannya padaku karena mereka ingin melindungi identitas Leon yang saat itu masih menjadi antek-antek iblis di bawah nama Noel Dumberman.
Namun sejak identitas Leon akhirnya ketahuan olehku, tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menyembunyikan hal itu.
Mendengarnya aku merasa lega.
Leon tak sekalipun terlepas dari jalan kebenaran walaupun terbelenggu oleh jeratan iblis.
Akan tetapi,
“Dengan kekuatan itu, mengapa kau juga tak menyelamatkan Kak Tius dan Ilene?”
“Ah, maaf, Leon. Anggap saja aku tak pernah mengatakan apa-apa.”
“Dengan kamu berada di sini saja, aku sudah sangat bahagia, adikku.”
Aku kelepasan mengungkapkan isi hatiku yang tak sepantasnya kuucapkan kepada Leon.
Bagaimanapun, itu adalah keteledoranku sehingga Kak Tius dan Ilene sampai meninggal.
Untuk menimpakan tanggung jawab itu kepada Leon yang saat itu juga harus menyembunyikan niatnya dengan taruhan nyawanya terhadap Raja Iblis dan Isis, bukankah aku benar-benar tak tahu malu?
“Tidak, Kak. Kakak pantas menyalahkanku kok.”
“Andai saja aku juga mengawasi mereka, aku pasti akan bisa menyelamatkan mereka.”
“Sayangnya selama ini aku hanya fokus mengawasi Kakak dan para terpilih lainnya sehingga semuanya sudah terlambat begitu aku juga menerima kabar tentang kematian Kak Tius dan Ilene.”
“Tidak, Leon! Bagaimana bisa itu salahmu?”
Namun Leon hanya tersenyum sendu padaku.
Dan seakan suara ini membisu, aku tak dapat mengatakan apa-apa lagi.
Sama halnya aku yang menyalahkan diriku sendiri, begitu pula pasti yang dirasakan oleh Leon ketika mengetahui berita kematian saudara-saudara kandungnya.
Lagipula, tiada gunanya lagi membicarakan hal ini sekarang sejak Kak Tius dan Ilene sudah lama beristirahat dengan tenang di alam sana.
Pagi itu, kami pun mulai mengadakan rapat singkat tentang persiapan pertahanan menghadapi serangan bangsa demon di barat.
Aku dengan segera mengumumkan secara resmi tentang berita Leon, pangeran Kekaisaran Meglovia, yang masih hidup kepada publik.
Aku lantas dengan segera pula menempatkan Leon untuk menjadi pemimpin eksklusif militer kekaisaran demi persiapan perang tersebut dengan berkoordinasi kepada Paman Alcus von Maxwell sebagai pimpinan militer kekaisaran resmi.
Dokter Minerva menghentikan sejenak segala risetnya dan bersedia menerima jabatan pimpinan pasukan sihir untuk sementara waktu demi persiapan perang itu pula.
Albexus dengan identitas baru karena berniat untuk menyembunyikan identitasnya sampai akhir kutempatkan pada barisan pasukan kuil suci yang nantinya memiliki peranan yang sangat besar baik di barisan depan maupun di barisan belakang pasukan dengan kemampuan sihir suci mereka, terutama sihir pemulihan.
“Albert, apakah ini tidak masalah buatmu?”
“Inilah yang terbaik, Master, sejak aku memang sudah dinyatakan meninggal.”
“Tapi setidaknya Allios harus tahu kalau ayahnya masih hidup.”
“Apa gunanya lagi hal tersebut di kala aku tidak dapat menjadi ayah yang baik untuknya.”
“Menjadi ayah yang baik atau tidak bukan kamu yang bisa memutuskannya, tetapi Allios, Albert!”
Namun, Albert tiba-tiba bertekuk lutut sembari membenamkan kepalanya di kedua lututnya.
Bayi yang besar itu tiba-tiba saja menangis.
“Aku hanya tidak tahu bagaimana menjadi ayah yang baik untuknya. Aku selama ini hanya menyiksanya dengan alasan kematian Lilia yang padahal tidak ada sangkut pautnya dengannya. Aku hanya menjadi sosok ayah yang kejam bagi Allios. Untuk apa pula Allios menginginkan ayah yang seperti itu.”
Aku pun menepuk pundak Albert lembut seraya berkata.
“Maka jadilah ayah yang baik untuknya mulai sekarang, Albert. Mumpung kamu telah diberikan kesempatan kedua untuk itu.”
Namun ujung-ujungnya, Albert tetap bersikeras untuk menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya. Namun, dia memilih untuk tetap menemui Allios walaupun dengan identitas lain, yakni sebagai calon guru berpedangnya.
Pastinya akan ada banyak yang curiga mengapa pula anak yang baru berusia kurang dari lima tahun sudah mendapatkan guru berpedang, tetapi yang jelas Albert senang dengan itu, itu sudah cukup bagiku.
Tiada urgensitas pula bagiku untuk menyembunyikan identitas Albert.
Semuanya hanya demi kenyamanan Albert belaka.
***
Persiapan perang menghadapi Raja Iblis dan para demon semakin intens seiring dengan akan semakin dekatnya pula waktu yang dijanjikan tersebut.
Namun masih ada masalah yang tertinggal di Benua Asium.
Jika dibiarkan, mereka pastinya akan menggunakan peluang kami yang sibuk menghadapi para demon dengan menyerang di belakang kami.
Aku harus meruntuhkan kedua negara itu yang menjadi pusat dari semua ini.
Tidak, tepatnya kedua pemimpin mereka.
Perdana Menteri Han Xinqiang dari Kekaisaran Tong Kong dan Presiden Ishida Yamamoto dan Negara Republik Joupun.
Pertama-tama, mari kita mulai dari Perdana Menteri Han Xinqiang terlebih dahulu.
Tidak sulit untuk menjatuhkannya.
Keterlibatannya dengan Isis, sang witch yang tak bisa dibantah lagi sebagai pengikut Raja Iblis akan menjadi bukti yang sangat konkrit untuk meyakinkan penduduk di negerinya bahwa dia adalah termasuk antek-antek dari Raja Iblis.
Aku tidak perlu turut campur tangan sendiri.
Sejak Perdana Menteri Han Xinqiang punya banyak musuh politik di negerinya sendiri, biarlah para musuhnya itu yang melanggengkan rencanaku untuk menjatuhkannya.
“Serahkan ini kepada Kaisar Mio Long, lalu awasi pergerakannya bagaimana dia menggunakannya.”
Setelah menyerahkan berkas-berkas itu kepada pasukan rahasiaku, aku pun melanjutkan jalan-jalan pagiku memanfaatkan sisa-sisa waktu damai ini sebaik mungkin.
“Ah, Yang Mulia, hormat hamba kepada yang bersinar paling terang di seluruh Kekaisaran Meglovia, Yang Mulia Kaisar Helios sun Meglovia.”
Aku tiba-tiba berpapasan dengannya lalu memberiku salam dengan penuh hormat yang terus terang itu membuatku sedikit tak nyaman ketika dilakukan di luar, terlebih jika dilakukan oleh orang yang aku kenal.
“Ah, tidak perlu seformal itu kok, Kerrie. Bangunlah.”
“Sesuai perintah keagungannya.”
Pertemuan yang benar-benar canggung terutama ketika aku telah lama tidak lagi melihatnya.
“Bagaimana keadaan di klinik? Semuanya lancar-lancar saja kan?”
“Ya, begitulah, Yang Mulia. Semuanya berkat kebijakan Anda sehingga Dokter Venia semakin terbantu di klinik.”
“Syukurlah kalau begitu. Tapi ngapain kamu di sini pagi-pagi buta begini?”
“Aku baru saja mengunjungi nisan rekan-rekanku yang tewas, Yang Mulia, terutama kini mereka ketambahan dua rekan yang baru bergabung lainnya, Snake dan Rooster.”
Tampak raut sedih di wajah Kerrie sembari mengatakan hal itu.
Kalau dipikir-pikir kembali, kematian Codi (Snake) dan Hestia (Rooster) adalah semua salahku yang kala itu mengungkapkan keberadaan Leon pada mereka 3 tahun yang lalu di wilayah hutan monster di perbatasan Kota Tarz.
Andai saja mereka tak pernah tahu keberadaan Leon saat itu, mereka pasti tak akan pernah menyelidikinya sedari awal sehingga mereka tentunya masih akan hidup sampai dengan sekarang.
Namun karena jasa-jasa mereka pulalah, kini aku akhirnya berjumpa kembali dengan adikku, Leon, itu.
Mereka telah menjalankan tugas mereka sebagai pengawal Leon sampai akhir dengan baik.
Aku hanya mampu menghargai jasa-jasa mereka.
Kerrie pun kemudian menunduk pelan padaku sebelum akhirnya pergi ke ujung jalan hingga tak terlihat lagi.
Saat ini aku berada di Kota Painfinn.
Tiada tujuan lain selain mempersiapkan para monster di wilayah hutan monster sebagai salah satu senjata untuk menghadapi invasi bangsa demon yang akan datang tidak lama lagi.
Selain itu,
“Kamu datang lagi, sang terpilih.”
Walau aku datang di wilayah Kota Painfinn, tetapi yang datang menyapaku kali ini bukanlah Milanda, melainkan Arxena.
“Mohon bantuannya sekali lagi untuk hari ini, Tuan Arxena.”
“Aku tidak akan segan-segan berbuat kasar padamu lho selama pelatihanmu, jadi bersiap-siaplah.”
“Dengan senang hati, Tuan Arxena.”
Sama seperti yang lain berlatih untuk meningkatkan kemampuan mereka menjelang perang besar di depan mata, aku pun sama.
Aku menggunakan waktu sebaik mungkin untuk meningkatkan skill bertarungku di bawah arahan salah satu anggota party pahlawan pertama, sang penakluk Arxena.