
Untuk mewujudkan kedamaian dunia ini, aku sebagai pahlawan harus menyingkirkan Raja Iblis dan Tower untuk selamanya. Namun aku sadar benar akan kemampuanku saat ini.
Aku mungkin unggul dalam sudut pandang manusia, bahkan kini aku bisa mengalahkan seorang grand master tanpa mengedipkan mata, bahkan sekarang menghadapi Kanazawa Junoichi Sensei bukan lagi apa-apa buatku, tetapi aku yang sangat kuat dalam pandangan seorang manusia yang seperti itu pun belum mencapai bahkan untuk sekadar secuil dari kekuatan Raja Iblis.
Walau demikian, kelas hero adalah kelas yang spesial di mana setelah treat itu muncul, maka perkembangan kekuatanmu ketika berlatih akan secepat monster. Itulah sebabnya, ini bukanlah suatu keadaan yang benar-benar putus asa. Aku hanya harus berlatih sekuat tenaga agar bisa menyamai kekuatan Raja Iblis secepatnya.
Begitu aku memantapkan tekad untuk menjadi hero yang sesungguhnya, tentu saja di saat itu pula aku harus menyerah menjadi manusia. Tidak akan ada manusia di dunia ini yang mau hidup berdampingan bersama dengan nuklir berjalan, bukan? Namun, aku rela menjadi seorang monster sekalipun dengan menanggalkan kemanusiaanku jika dengan melakukannya aku bisa memberikan tempat hidup yang damai bagi para istri dan anak-anakku.
-Slash, slash.
Aku berlatih pagi, siang, petang, malam, lalu kembali ke pagi hari lagi di hari berikutnya mengayunkan pedangku dengan mengurangi sebisa mungkin proporsi istirahatku. Semuanya hanya untuk satu tujuan, menjadi semakin kuat secepat mungkin.
Semenjak Ibunda Theia menggapai tanganku saat itu, aku telah terlepas dari kutukanku yang tak pernah bisa tidur. Jika aku menginginkannya, kini aku dapat tertidur lelap. Walau demikian, aku mengabaikan waktu tidurku kembali untuk saat ini perihal tidur hanya akan menghambat perkembangan latihanku.
Aku bisa bertambah kuat berkali-kali lipat dengan semakin banyak kumengorbankan waktu tidurku. Mana mungkin aku membiarkan diriku tidur lagi setelah mengetahui hal itu, bukan?
Jika ada jeda waktu istirahat, maka aku akan cenderung untuk memilih bertemu dengan para istri dan anak-anakku sebagai penghiburanku yang akan menambah semangatku dalam berlatih.
-Trang, kang.
Aku terus berlatih menggunakan boneka kayu sebagai objek sasaran latihanku perihal tak ada lagi manusia di dunia ini yang mampu menyamaiku dalam hal kekuatan. Bahkan Alice, sosok manusia terkuat kedua setelah diriku yang bisa kukenal, kini tidak mampu menyamai bahkan seper dua puluh kekuatanku.
Ini sangat memilukan perihal dengan semakin aku menempuh jalan untuk menjadi lebih kuat, maka aku akan menjadi semakin sendirian di dunia ini. Jika bukan karena harapan kebahagiaan menanti di depan sana bersama dengan semua orang yang kucintai dengan lenyapnya Raja Iblis, mentalku pasti sudah lama akan hancur.
Hari-hari berlalu dan terus berlalu. Aku hanya terus latihan tenpa henti dengan tekad yang kuat untuk mengalahkan Raja Iblis. Hingga pada suatu waktu, hal yang tak kuduga-kuda itu pun terjadi. Hari itu adalah hari latihanku seperti hari-hari latihan sebelumnya yang biasa, semilir angin yang biasa, sinar matahari yang membakar kulit seperti biasa, bau pepohonan seperti biasa, serta hiruk-pikuk perkotaan yang bisa samar-samar terdengarkan dari jauh seperti biasa.
Semuanya serba biasa. Namun, jikalau ada yang tidak biasa di hari itu, itu adalah kunjungan sosok tertentu yang sama sekali tak kuduga-duga.
“Kau berlatih keras demi mengalahkan Raja Iblis kami, tapi apa kau pikir latihanmu itu sudah efisien?”
“Noel Dumberman!”
Aku seketika tidak bisa lagi menjaga ekspresi tenangku lantas meneriakkan namanya begitu kumelihat sosok itu tepat berdiri di hadapanku.
Noel Dumberman, sosok monster yang telah mempecundangiku sebelumnya.
Aku tengah lengah. Aku membiarkan kewaspadaanku menurun sehingga sosok itu bisa menyergap ke arahku tanpa aku sadari.
Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana sosok itu telah mempecundangiku sebelumnya. Namun, aku telah berlatih keras selama ini. Apakah kekuatan yang kukumpulkan saat ini telah cukup untuk mengalahkannya?
Tidak. Noel Dumberman jauh lebih kuat dari apa yang bisa kubayangkan. Dengan kekuatanku sekarang, dia bisa membunuhku kapan saja.
Apa yang harus kulakukan?
Akankah aku harus kabur dengan menggulung ekorku tepat di antara kedua kakiku?
Tidak. Akan terlalu beresiko untuk melakukannya sejak dia bisa saja menyerang punggungku ketika kumencoba untuk kabur.
Aku melihatnya sejenak dalam waspada.
Karena dia malah memilih untuk mengajakku mengobrol alih-alih menyerangku secara tiba-tiba di saat aku tidak menyadari kedatangannya, , bisakah kusimpulkan bahwa kedatangannya kali ini bukanlah demi tujuan untuk bertarung?
Dengan tetap tidak menurunkan kewaspadaanku, aku pun membalas perkataannya itu.
“Sebaiknya kau tunggu saja. Akan kubalas kesombongan Raja Iblis-mu itu karena telah membiarkanku hidup di saat aku masih lemah untuk segera memotong urat nadi di lehernya suatu saat.”
Noel Dumberman perlahan melangkah mendekat ke arahku. Aku pun menyiapkan ancang-ancang waspada sebagai jaga-jaga kalau dia tiba-tiba akan menyerang.
“Ck. Bahkan kau tidak punya lagi teman latihan yang setara di dunia manusia ini untuk mengimbangi kekuatanmu. Kau benar-benar hero yang menyedihkan.”
“…”
Aku menatapnya dengan waspada, tetapi apa yang dikatakan selanjutnya benar-benar membuatku menganga agape.
“Jadi bagaimana kalau aku yang menjadi lawan latihanmu? Akan kubantu kau latihan agar kekuatanmu meningkat setidaknya sehingga bisa sedikit mendekati Raja Iblis kami yang agung.”
Aku tentu curiga pada niat baik yang datang dari orang yang paling licik seantero jagad raya itu.
“Apa tujuanmu melakukannya? Jika kau anak buah Raja Iblis, bukankah kau seharusnya melindunginya? Mengapa kau justru bersikap baik padaku?”
“Hahahahahaha!”
Mendengar ucapanku itu, secara tak kuduga, dia malah tertawa terbahak-bahak dalam suaranya yang mengerikan itu yang benar-benar pantas baginya dalam wujud seorang monster.
“Bersikap baik kepada seorang manusia? Jangan sombong kau, manusia! Mana mungkin aku akan bersikap baik pada manusia rendahan seperti kalian! Aku semata-mata melakukan ini agar Raja Iblis kami yang telah lama hidup dalam kesendirian akhirnya akan memperoleh mainan dalam kondisi terbagus yang bisa diperolehnya.”
“Ini semata-mata kulakukan agar Raja Iblis kami yang selama ini hidup dalam kebosanan akhirnya akan dapat memperoleh penghiburan terindah di dalam hidupnya.”
Entah itu karena perasaan takut atau murni hanya karena perasaan jijik, tetapi suara menggelegar Noel Dumberman yang begitu menjijikkan itu seketika membuat keringat dinginku jatuh.
Terlepas dari niatnya, tidak akan ada ruginya bagiku menjadikannya sebagai partner latihan bahkan jika dia adalah seorang musuh sekalipun. Noel Dumberman tidak salah lagi adalah lawan yang lebih kuat berkali-kali dari kekuatanku saat ini yang sampai pada taraf dia bisa membunuhku kapan saja jika dia menginginkannya.
Noel Dumberman tentunya akan menjadi partner latihan terideal yang bisa aku temui saat ini. Selama aku bisa menggunakannya untuk mengembangkan potensi diriku, maka tentu akan kugunakan tanpa pernah kusia-siakan bareng setetespun keringatnya, entah dia kawan, maupun lawan.
Dimulai sejak hari itulah, tiap pagi lalu berakhir di kala senja, Noel Dumberman akan selalu datang di mana pun aku berada untuk melatihku menjadi semakin kuat.
Awalnya, itu adalah latihan yang berat. Namun perlahan, tanpa terasa aku telah terbiasa dengan pace latihannya yang spartan. Dia melatihku begitu tulus sampai-sampai aku meragukan niatnya apakah dia benar-benar melatihku hanya demi meningkatkan kesenangan Raja Iblis?
Tetapi apapun itu, ini bisa berbahaya jika perasaan lunak ini terus berkembang di dalam hatiku.
Aku tak boleh membiarkan sekat dinding yang telah kubangun antara diriku dan Noel Dumberman menjadi runtuh. Suatu saat, kami hanya akan berakhir sebagai musuh sejak kami berada di pihak yang berbeda.
Lalu ketika pertarungan yang ditakdirkan antara kami itu tiba, kuhanya takut kalau perasaanku yang melunak padanya bisa berakibat fatal pada hasil pertarungan sebagai penyebab kekalahanku.
Aku sama sekali tidak boleh lengah. Noel Dumberman adalah musuh yang suatu saat harus aku bunuh.
“Huff… Huff…”
Aku bisa merasakan peningkatan kemampuanku berkali-kali lipat lebih cepat dengan berlatih bersama Noel Dumberman ketimbang aku harus berlatih sendiri. Akan tetapi, latihannya yang spartan itu benar-benar membuatku ngos-ngosan.
Apakah dia justru merancang pembunuhanku melalui dalih latihan alih-alih akan membunuhku secara langsung lewat pertarungan? Aku tidak bisa menghindarkan kecurigaan itu sejak begitu sulitnyalah menyamai pace latihan dari sosok monster bernama Noel Dumberman.
“Hei, Hero! Apa baru begitu saja kau sudah letih, hah?! Di mana tadi semangatmu untuk mengalahkan Raja Iblis kami yang agung?! Jika kemampuanmu hanya segitu, jangankan Raja Iblis, baru menghadapi keempat jenderalnya saja kau sudah akan tumbang duluan!”
Aku benci setiap perkataan yang dilontarkan lewat mulutnya yang bersisik itu. Tangan dan kakiku rasanya mau remuk. Tulang-tulang di tiap persendianku rasanya telah bergeser secara aneh. Semua otot di tubuhku rasanya keram tak tertahankan. Pengikut iblis ini benar-benar menyiksaku sampai ke ubun-ubun.
Namun, aku tidak bisa memungkiri ucapannya itu. Saat ini aku masihlah sangat lemah. Oleh karena itu, tiada waktu bareng sedetik pun untuk berleha-leha. Setiap tetesan waktu yang tersisa harus kumanfaatkan dengan baik untuk menjadi semakin kuat.
“Kau pikir aku siapa, hah?! Dasar monster!”
“Heh, monster kah? Tapi dari sudut pandangku, kalianlah para manusia itu monster sesungguhnya. Tapi lupakanlah, aku suka dengan semangatmu yang sekarang, Hero. Tentunya harus begitu sejak kau hero di dunia ini.”
Dengan senyum sinisnya itu tertuju kepadaku, sekali lagi aku menjadi sasak tinju dalam kesenangan monster itu.