Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 124 – INVASI WILAYAH RODRIGUEZ (bag. 7)



‘Albert, ingatlah latihanmu selama ini. Kamu seharusnya bukan lagi orang yang lemah!’


Albert menggumamkan kalimat itu untuk dirinya sendiri.


Dia mulai kelelahan.


Bertarung dengan lebih dari dua ratus prajurit biasa, bagaimana pun tetap akan menyita stamina yang besar, ditambah lawan Albert kini adalah sesama swords master, dua yang selevel dengannya, dan dua lagi hanya satu level lebih rendah. Albert jelas terpojok.


Namun pemuda itu belum menyerah.


Dia menegakkan pedangnya kuat-kuat sejajar dengan bahunya.


Terlihat tiga lawan kembali menyerang. Itu adalah para lawan selain Charlot.


Satu swords master level 4 di sebelah kanan, sisanya adalah yang berlevel 5.


“Ingat, Albert. Setiap bagian tubuhmu adalah senjatamu. Jangan terpaku pada pedangmu. Pedang hanyalah salah satu bagian tubuhmu saja.”


Albert mengingat baik-baik nasihat dari gurunya itu di dalam hatinya.


Lalu ketika para swords master itu menyerangnya, Albert dengan lihainya menggunakan kaki kanannya untuk menggoyahkan tubuh sang swords master berlevel 4 untuk menghalau sang lawan yang lebih kuat di posisi tengah.


Sepersekian detik itu di kala kedua musuhnya masih berada dalam posisi kebingungan, Albert tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Dia fokus pada lawan yang ada di sebelah kirinya.


Nampak jelas jurus menusuk horisontal diarahkan kepada Albert.


Albert memiringkan pedangnya 45 derajat ke sebelah kanan pedang lawannya untuk mengubah alur serangan sang lawan. Sejak pedang Albert adalah pedang yang besar dan kokoh, pertahanannya sama sekali tak tergoyahkan oleh pedang lawan.


“Tapi mesti kamu juga ingat, Albert, bahwa karena pedang juga adalah salah satu bagian dari tubuhmu, maka jangan sekali-kali pernah kau lepaskan.”


Albert menerapkan saran dari sang guru dengan sangat baik. Ketajaman senjata memang penting, namun Albert tahu apa yang lebih penting dari semua itu.


Kekokohan pegangan.


Setajam apapun senjatamu, jika sampai itu terlepas dari tanganmu, maka seketika itu akan game over.


Itulah mengapa hal yang pertama kali dilatih oleh Albert adalah bagaimana cara memegang pedang, alih-alih bagaimana cara menyerang.


Apa artinya?


Itu berarti Albert sangat memperhatikan kekokohan pegangan pedangnya melebihi apapun sehingga lawan biasa takkan mungkin menggoyahkan pegangan pedang Albert dari tangannya.


Ketika pedang lawan terjebak oleh kuncian pedang Albert, di situlah lawan baru menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan, namun semuanya telah terlambat.


Albert tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dari posisi defensif, dia segera beralih ke posisi ofensif, memanfaatkan kelengahan musuh yang tak dapat lagi melindungi dirinya dengan pedangnya untuk menebas leher musuh.


Mereka adalah sama-sama master pedang berlevel 5. Walau tanpa pedang, aura tebal melindungi bagian luar tubuh sang lawan. Akan tetapi, itu bukan apa-apa di balik ketajaman pedang aura milik Albert.


Albert paling memperhatikan pegangan pedangnya, namun bukan berarti dia mengabaikan ketajaman pedangnya.


Apa yang paling efektif membunuh musuh adalah ketajaman pedang.


Dengan pemikirannya yang sering dikatakan idiot oleh masternya itu, Albert pun suatu ketika berpikir. Jika auranya memang lebih tipis daripada aura lawan, bagaimana kalau memanfaatkan ketipisan itu saja secara optimal?


Tipis tidak berarti lemah. Sesuai dengan rumus fisika yang tidak dia mengerti, tetapi dia hanya pernah mengingat sang master berucap, semakin tipis suatu objek, semakin bagus ketajamannya hanya saja itu akan berhasil jika mempertahankan kekokohannya agar tidak patah.


Pedang Albert besar dan kokoh sehingga tidak mungkin patah. Apa yang harus dilakukannya dengan auranya hanyalah mengasah ujungnya agar setipis dan seruncing mungkin. Dengan demikian, walau menggunakan aura yang tipis sekalipun, itu pasti akan bekerja.


Albert seketika dapat mengungguli lawannya yang memiliki aura yang lebih tebal darinya.


Aura pedang tipis milik Albert yang tajam dan bergerigi mulai mengoyak-ngoyak pertahanan aura tersebut.


Dan sesuatu yang tak diduga-duga oleh lawan pun terjadi. Aura sang lawan menunjukkan keretakan dan akhirnya pecah berkeping-keping.


Pedang Albert tidak berhenti sampai di situ. Pedangnya terus menembus ke arah dalam hingga mengoyak daging dan tulang sang musuh.


Satu lagi lawan berhasil disingkirkan.


Tetapi kemudian, Albert lengah oleh serangan dadakan yang datang dari Charlot dari arah depannya.


Namun itu tidak terlalu buruk. Di detik-detik terakhir, Albert mampu menghindari serangan mengenai titik vitalnya. Walaupun, serangan itu masih berhasil melukainya di bagian dekat tulang selangkanya.


Albert tampak akan mundur ke belakang dan sekali lagi mengeluarkan teknik andalannya seperti sebelumnya. Albert mulai mengencangkan kuda-kudanya sembari mundur yang membuat lawan seketika turut menjadi waspada.


Namun itu adalah jebakan Albert. Albert sama sekali tidak pernah berniat mundur.


Ataukah itu secara alami adalah gerakan yang tak disadarinya sejak insting Albert menangkap bahwa ‘teknik kelopak sakura’ takkan berfungsi kali ini sehingga segera beralih mode ke bentuk penyerangan brutal.


Tampaknya yang terakhir adalah kemungkinan yang tepat sejak Albert adalah sosok yang begitu polos dalam bertarung.


Apapun alasannya, berkat itu Albert berhasil melancarkan serangan tusukan dengan menajamkan ujung pedangnya ke taraf maksimal.


Albert menusuk ke arah jantung sang swords master berlevel 4. Tidak, serangan itu juga turut menembus sang swords master berlevel 5 yang berada di belakangnya yang tampak tidak menduga serangan Albert yang tiba-tiba itu sehingga dia tidak siap dalam mempersiapkan pertahanan.


Sungguh disayangkan bahwa seorang swords master berlevel 5 yang hebat itu mati dalam kelengahannya. Itulah makanya pepatah mengatakan bahwa penting untuk melatih kekuatan, tetapi tidak kalah pentingnya pula untuk melatih insting bahaya perihal semuanya percuma ketika nyawamu telah melayang.


Albert sadar betul akan hal itu. Tidak jarang dia melihat di istana bahwa ada pendekar pedang yang sangat hebat, namun kemudian dia hanya mati sia-sia di tangan seorang assassin yang bukan siapa-siapa.


Albert telah terbiasa dengan situasi di antara kehidupan dan kematian sejak berada di istana. Kelengahan di istana berarti kematian. Pengalaman itulah yang menempa Albert hingga menjadi sosoknya yang sekarang.


Kini lawan yang tersisa di hadapannya hanyalah Charlot.


“Hahahahahahaha. Siapa sangka bahwa anak yang kurawat sewaktu bayi adalah orang yang kini akan membunuhku.”


“Apa maksudmu?”


Tentu saja seberapa pun Albert berusaha tidak peduli, perkataan seperti itu tetap akan menarik perhatiannya.


“Kamu benar-benar tuan muda yang tak tahu apa-apa ya, Albert van Lugwein?”


“Namaku yang sekarang Albert fou Lugwein.”


“Hei, tahukah kamu mengapa keluarga Lugwein sampai dituduh bidat oleh kuil suci? Itu karena keluaga Albaramaz yang sangat mereka percayai-lah yang telah mengkhianatinya dengan menaruh bukti-bukti palsu di rumah mereka. Duke Lugwein terlalu polos dan bodoh sehingga sangat mudah ditipu. Mengenang kembali kejadian 15 tahun lalu itu, benar-benar ingin membuatku tertawa.”


Albert tampak tak punya tekad lagi untuk menanggapi pernyataan Charlot itu. Dia pun hanya segera melayangkan pedang besarnya kepada Charlot untuk menyerangnya.


Akan tetapi, sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Charlot tak lagi menunjukkan perlawanan. Alhasil, pedang besar Albert begitu saja mengenai Charlot tanpa dia sempat untuk membela diri lagi. Tidak, sedari awal semangat bertarungnya telah sirna.


Charlot pun mati tertebas oleh pedang Albert secara sukarela.


Tetapi sepersekian detik sebelum pedang Albert berhasil mengenai Charlot, Charlot membisikkan sesuatu kepada Albert dan itu pun merupakan sesuatu yang di luar dugaan.


“Maaf.”


Entah apa maksud dari kata maaf itu. Apakah itu sebagai bentuk penyesalannya karena keluarganya telah mengkhianati Duke Lugwein, apakah itu karena dia yang lemah sehingga dia meminta maaf kepada tuannya karena tak sanggup untuk membunuh Albert, hanya Charlot seorang di alam sana-lah yang kini bisa tahu akan jawabannya.


Tubuh Charlot Jackiel Albaramaz telah terbujur kaku tak bernyawa.