Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 174 – PENGAKUAN RAHASIA YASMIN



Aku menengahi konflik di antara petugas administrator dan para paladin di wilayah Lugwein tersebut.


Pada dasarnya, aku tahu ini kelicikan dari para paladin untuk mencari nama dengan menjelek-jelekkan pemerintahanku di hadapan rakyat. Namun masalah mendasarnya tidak berubah. Ini semua karena kekhawatiran rakyat akan serbuan monster terbang yang datang dari utara benua.


Itu berarti pula bahwa selama masalah monster di Benua Arteik itu teratasi, semuanya juga akan ikut teratasi. Rakyat di wilayah Lugwein akan tenang dan para paladin juga tidak punya celah lagi untuk mengkritikku.


Aku pun bertanya kepada Dokter Minerva apakah memungkinkan bagi kami untuk segera berteleportasi ke tempat yang belum pernah kami kunjungi seperti Benua Arteik.


“Itu tidak memungkinkan bagi teleporter untuk berteleportasi ke tempat yang belum pernah dikunjunginya, Yang Mulia.”


“Begitu rupanya.”


Aku segera kecewa terhadap ucapan Dokter Minerva itu. Akan tetapi,


“Tapi aku sudah pernah sebelumnya ke sana, Yang Mulia. Jadi itu memungkinkan.”


Aku tidak menduga bahwa sepak terjang petualangan Dokter Minerva sudah sejauh itu bahkan sampai ke benua terdingin sekalipun.


-Wooosh.


Dalam waktu singkat, aku, Yasmin, dan Dokter Minerva sudah berada di ujung selatan Benua Utara Arteik tersebut.


Aku meminta kepada Dokter Minerva untuk menunggu di tempat pendaratan kami saja, sementara biar aku dan Yasmin yang akan menyusuri ke daerah lebih dalam dari Benua Arteik yang diselubungi oleh es itu.


Dokter Minerva langung setuju. Tampaknya, dia lebih tertarik meneliti relik dan bangkai-bangkai dari makhluk laut dingin di sana.


“Ah, sungguh pemandangan yang indah! Banyak hewan-hewan aneh di benua ini yang sangat menarik perhatianku.”


“…”


Aku berupaya mencairkan suasana dengan mengajak Yasmin mengobrol duluan. Namun, dia hanya menanggapiku dengan anggukan.


Seperti yang kukatakan, di sini terdapat banyak hewan aneh dengan ukuran raksasa melebihi para hewan yang ada di benua lain. Itu karena mana alam di sini begitu murni sehingga memungkinkan bagi para hewan berevolusi menjadi hewan sihir dengan mudah atau yang lazim dikenal oleh penduduk biasa dengan sebutan monster.


Yasmin kura-kuraku adalah salah satu dari mereka. Namun berbeda dari monster yang terkontaminasi dengan mana mati, hewan sihir dengan mana alam seharusnya tidak berbahaya. Mereka pada dasarnya jinak dan tidak akan menyerang manusia, kecuali jika mereka diganggu duluan.


Itulah sebabnya keberadaan para hewan sihir di Benua Arteik benar-benar sangat membantu mencegah invasi para demon di benua barat dari arah utara.


Ah, aku lebih senang menyebut mereka sebagai hewan sihir ketimbang monster untuk membedakan mereka terhadap monster jahat yang terkontaminasi mana mati itu. Sayangnya, penelitian mengenai tamer belum terlalu berkembang di Benua Ernoa karena sentimen publik yang menyamakan mereka terhadap summoner yang bekerjasama dengan monster jahat, padahal sejatinya hewan-hewan sihir itu berbeda.


Aku pun bukannya punya banyak waktu untuk bisa kugunakan demi mengembangkan penelitian itu sejak bergelut dengan obat-obatan saja dengan posisiku sebagai kaisar adalah sudah merupakan hal yang tak lazim dilakukan, terlebih aku belum pernah mempelajari secara langsung ilmu mengenai taming.


Itulah sebabnya sampai saat ini pengetahuan mengenai hewan sihir masih belum berkembang di Benua Ernoa. Lagipula keberadaan hewan-hewan sihir sendiri cukup langka karena hanya bisa tercipta di tempat yang memiliki kemurnian mana alam yang tinggi seperti di Benua Arteik ini atau di pegunungan-pegunungan yang jarang terjamah oleh manusia.


Kembali ke persoalan, kemunculan monster-monster terbang yang terkontaminasi mana mati yang berasal dari Benua Arteik. Ini adalah sesuatu yang tak lazim, kecuali jika ada tangan-tangan jahil yang telah merusak keseimbangan alam.


“Ah, aku sangat merindukan Yasmin!”


“Master, aku kan ada di sisi Master saat ini.”


“Hahahaha. Maksudku bukan Yasmin maidku, tetapi Yasmin kura-kuraku. Ketika ke sini, aku jadi teringat pernah berjanji padanya jika suatu saat aku menginjakkan kaki ke Benua Arteik, maka aku akan mengembalikannya ke habitatnya. Tapi sekarang janji itu tak mungkin lagi dapat kupenuhi sejak kura-kura itu telah menghilang tepat setelah kemunculanmu, Yasmin.”


“…”


Sekali lagi Yasmin hanya diam tanpa menjawab pertanyaanku itu.


“Nah, Yasmin, kamu tahu kan bahwa aku sangat mempercayaimu?”


“Tentu saja, Master. Begitu pula aku yang sangat mempercayai Master.”


“Kalau begitu, bisakah sekarang kamu jujur tentang siapa kamu sebenarnya? Aku telah mencari-cari selama ini di tiap panti asuhan yang berkaitan dengan kuil suci tentang seseorang yang bernama Yasmin. Namun, itu sama sekali tidak ada yang pas dengan identitasmu sejak warna mata hitam dan rambut hitam seperti kita berdua adalah hal yang langka di wilayah Meglovia.”


“Aku ini memiliki ingatan yang baik. Jadi walaupun aku kala itu tak dapat melihat dengan baik warna rambut seseorang yang berdiri di dekatku karena tertutup oleh mantilla, aku ingat dengan jelas warna matanya bukanlah hitam, melainkan coklat. Kamu bukan salah satu dari kelima pelayan suci yang diutus ke Kota Painfinn saat itu, Yasmin. Jadi, siapa kau sebenarnya?”


“…”


Aku menatap wajah Yasmin baik-baik untuk mendeteksi setiap kemungkinan kebohongan yang dilontarkannya. Namun, Yasmin tetap saja memilih untuk diam.


“Yasmin, sudah kubilang siapapun kamu, aku akan tetap mempercayaimu. Lagipula kita sudah lama bersama selama lebih dari tujuh tahun. Jadi aku meminta padamu untuk jujur saja tanpa ada lagi yang disembunyikan.”


“…”


“Apakah ini ada kaitannya kamu yang terlalu emosian ketika membahas witch? Maaf karena aku tidak sopan bertanya, tetapi, apakah kamu kebetulan juga seorang witch?”


Perkataan yang selama ini berusaha kutahan itu, akhirnya terlepaskan juga di mulutku.


Pada awalnya, aku hanya ingin menaruh Yasmin di sampingku tanpa berharap lebih padanya, apalagi mempercayainya. Seperti yang kukatakan sebelumnya, bagiku hanya Albert dan Talia-lah yang bisa kupercayai di dunia ini. Akan tetapi, lama bersama yang lain sejak dari Kota Painfinn, aku juga ingin mempercayai mereka dan menaruh mereka di hatiku.


Namun aku terlalu takut untuk terluka.


Itulah sebabnya, aku tak ingin lagi ada kebohongan di antara kami, walaupun kejujuran itu nantinya akan terasa sangat pahit.


“Itu benar, Master. Aku seorang witch.”


Perkataan Yasmin seketika meruntuhkan hatiku. Bukan berarti Yasmin bersalah hanya karena dia seorang witch. Namun karena dia seorang witch, itu berarti dia memperoleh kekuatannya dari mana mati yang berarti dia telah pernah memanfaatkan nyawa orang lain untuk kekuatannya.


“Begitu rupanya. Kalau begitu, apakah kebetulan kura-kuraku Yasmin itu sebenarnya juga kamu?”


“Itu benar, Master. Terjadi konflik antara aku dan witch objek lantas aku kalah dalam pertarungan lalu dia mengubah wujudku menjadi kura-kura.”


“Lantas, bagaimana menurutmu tentang kebersamaan kita selama ini? Apakah itu sekadar kepalsuan dan hanya main-main saja di tengah-tengah usia abadimu?”


Mendengar ucapanku itu, Yasmin seketika menggeleng kuat-kuat.


“Mana mungkin seperti itu, Master! Bagiku, Master adalah segalanya!”


Bisakah aku mempercayai ucapan yang datang dari seorang witch itu? Atau akankah aku membiarkan diriku tertipu lebih lama lagi di balik hipnotisnya? Jelas-jelas seharusnya aku tidak pernah mempercayai perkataan apapun yang datang dari seorang hamba Iblis, namun mengapa aku merasa bahwa Yasmin berbeda?


“Tapi bagaimana kalau seandainya witch itu tidak bisa melepasnya walaupun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kekuatan yang sebenarnya sedari awal tidak diinginkannya?!”


Aku kembali mengingat perkataan Yasmin malam itu. Dan sekarang aku paham apa maksudnya. Yasmin pun tidak lain adalah korban dari keserakahan sang Raja Iblis.


Namun masih ada hal yang tidak kumengerti. Bagaimana bisa Yasmin menggunakan mana alam selama ini padahal dia adalah seorang witch? Dia adalah seorang witch yang itu berarti dia sama sekali tidak memiliki mana pool di dalam tubuhnya.


Lantas darimana kekuatan mana alamnya berasal? Aku pun tidak pernah melihatnya pula menggunakan rune sewaktu mengeluarkan jurus.


Namun, bukan itu masalah yang penting untuk dibahas saat ini.


“Syukurlah, aku lega mendengarnya, Yasmin. Kalau begitu, Yasmin tetaplah maid-ku yang berharga terlepas dia adalah seorang witch atau bukan. Benar kan?”


“Master.”


Yasmin memelukku dalam penuh isak tangis. Aku merasa lega. Sangat jarang bagi Yasmin untuk menunjukkan ekspresinya itu. Ini pastinya akan menunjukkan kesungguhan ucapannya itu, asalkan dia sejatinya bukanlah jago akting.


“Apapun yang terjadi, aku adalah sekutu Yasmin.”


“Aku juga, Master. Aku adalah sekutu Master apapun yang terjadi.”


“Jadi bisakah kamu menceritakan tentang masa lalumu dan mengapa kamu bisa sampai berakhir menjadi witch Raja Iblis, Yasmin?”


Yasmin pun mulai menceritakan masa lalunya yang kelam itu. Walau demikian, dia tetap tenang dalam menceritakannya melalui pelukan hangatku.