
Albert murung.
Dia baru mengetahui bahwa rupanya dia bukanlah satu-satunya yang dihadiahi kalung spesial itu dari masternya.
“Tenang saja, Tuan Albert. Kamu masih jauh lebih baik daripadaku. Aku saja sama sekali tidak dihadiahi kalung itu.”
Walaupun Nunu mengucapkan kalimat itu seakan menghibur Albert, hal itu hanya dapat terlihat dia sedang meledeknya perihal sebuah cincin yang tidak ada duanya yang juga merupakan hadiah pemberian dari Helios untuknya sedang dia goyang-goyangkan ke atas memperlihatkan bentuknya dengan seksama terlihat sedang pamer.
Nunu tidak menerima hadiah kalung. Walau demikian, dia menjadi satu-satunya yang dihadiahi cincin itu oleh masternya. Hal itu malah membuat Albert semakin iri.
“Cih. Yakin kau akan bersikap kekanak-kanakan begitu? Aku malah justru ragu kalau Pangeran Kedua sendiri menganggap penting arti pemberiannya. Lagipula apa sejak awal si pangeran dingin itu punya hati untuk menyayangi para pengawalnya? Aku berani bertaruh bahwa kalian semua tidak lebih hanya sekadar bidak baginya.”
Codi meledek Albert yang menampakkan kesetiaan yang baginya terlalu berlebihan kepada Helios.
“Hei, Codi. Ucapanmu itu sudah keterlaluan…”
“Bruk.”
Nunu menghentikan komentarnya di tengah-tengah perihal secara tiba-tiba saja, Albert melayangkan bogeman mentah ke arah Codi.
“Kamu sendiri bagaimana, hah?! Apa menurutmu pangeran ketiga yang kejam itu menganggap kamu sebagai keluarganya? Dia palingan menganggapmu penting tidak lebih karena kamu merupakan senjata yang dapat diandalkan baginya! Berbeda dengan Yang Mulia Pangeran Helios! Kami sudah hidup bersama selama sebelas tahun! Sang Pangeran… Sang Pangeran setidaknya akan menganggap aku sudah seperti keluarganya sendiri!”
Codi segera berdiri kembali ketika sempat tersungkur ke tanah setelah menerima bogeman mentah dari Albert.
“Heh, yakin kamu berpikiran seperti itu? Di luar dugaan, kamu ternyata cukup tidak tahu malu juga ya, Albert?”
“Apa kau bilang?!”
Albert sekali lagi hendak melayangkan bogeman mentahnya kepada Codi, namun Nunu segera menghalaunya.
“Hei, hentikan itu dong, Tuan Albert! Kenapa kalian malah bertengkar di saat-saat seperti ini? Alice, kamu juga bantu dong.”
Nunu melirik ke arah Alice untuk meminta bantuan. Namun, disadarinyalah bahwa Alice hanya sebelas dua belas dengan Albert.
“Benar. Mau kuapakan orang yang telah berani-beraninya menghina Master.” Ujar Alice dengan tatapan tajamnya yang membunuh sembari mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Walau demikian, tiada sama sekali di ruangan itu yang takut akan ayunan pedang Alice yang tak pernah tepat kena sasaran.
***
Sementara para pengawalnya di luar bertengkar, Helios melanjutkan perjalanannya mengitari lorong tempat dia ditarik secara paksa masuk ke dalamnya. Helios bisa mendengarkan suara raungan yang teramat sangat menyeramkan menggema di sepanjang lorong.
Walau demikian, pemikirannya tidak bisa lepas akan memori sekilas yang dia terima dari familiarnya yang sempat connect bareng sedetik dua detik sewaktu Helios ditarik secara paksa masuk ke dalam ruangan tersebut.
Kota Painfinn sedang dalam situasi kacau-balau, ditambah banyak korban berjatuhan di mana-mana. Melihat itu semua, Helios tidak dapat menahan kegelisahannya dan ingin segera kembali ke kota dengan meninggalkan misinya.
Andai dia bisa melakukan itu, pasti sudah dia lakukan. Sayangnya, itu tidak memungkinkan sejak dia terperangkap oleh sang witch Milanda.
“Bukan saatnya aku mengkhawatirkan hal itu. Sekarang, aku hanya harus fokus pada penstabilan keadaan di wilayah hutan monster sejak tiada yang dapat kulakukan pada keadaanku saat ini. Lagipula di kota saat ini ada Leon dan anak buahnya. Aku percaya pada mereka. Aku yakin mereka akan sanggup untuk mengamankan situasi kota lebih baik daripada aku.”
Berbekal dengan keyakinan itu, Helios lebih mampu melangkahkan kakinya dengan ringan.
“Leon, adikku yang bodoh. Kuharap kamu akan baik-baik saja. Aku titip Kota Painfinn padamu.”
***
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi di kota ini?”
Venia menatap lurus dari balik jendela di kantor rumah sakitnya di lantai dua tentang pemandangan mencekam ledakan api yang terjadi jauh di perbatasan kota.
“Di saat-saat seperti ini, kenapa justru ada pasien yang kabur? Duh, ini membuatku pusing. Apa yang akan aku katakan nanti jika berhadapan dengan Yang Mulia Pangeran Kedua jika dia mengetahui bahwa pengawalnya, Albert, telah kabur dari rumah sakit sejak dua hari yang lalu? Ini benar-benar membuatku pusing.”
“Ukh.”
Dalam kegelisahan Venia itu, dia tiba-tiba mendengarkan suara berisik yang datang dari arah pintu masuk rumah sakitnya.
“Tuan Grodzky, apa yang terjadi?”
“Oh, Venia. Bisakah kamu mengobati luka temanku ini dulu? Bebatuan mengenai kepalanya di saat terjadi guncangan dahsyat ketika menyelidiki material di gua.”
“Oh iya, tentu saja.”
Venia pun segera membantu Grodzky untuk membaringkan teman sesama dwarfnya itu ke salah satu tempat tidur rumah sakit lalu dia pun memulai melakukan treatment padanya. Di saat itu, dia dengan patuh mendengarkan keluh-kesah dari seseorang kakek yang bernama Grodzky tersebut.
“Aku heran. Apa yang sebenarnya terjadi di kota ini? Jelas-jelas monster yang menyerang sampai saat ini adalah monster-monster yang seharusnya hanya muncul di wilayah hutan monster Kekaisaran Vlonhard.”
Venia pun menanggapi pernyataan Grodzky itu dengan ucapan, “Apa mereka bermigrasi sampai kemari dari kekaisaran kali ya?”
Namun, dengan cepat Grodzky menentang pendapat tersebut,
“Tidak mungkin itu terjadi soalnya ada artifak pertahanan yang memisahkan kedua wilayah hutan monster. Apa ini semua lagi-lagi rekayasa Kekaisaran Vlonhard untuk mencaplok tanah Kerajaan Meglovia? Itu mungkin saja mengingat sifat kaisar yang sekarang yang gemar melakukan penaklukan kerajaan sekitar. Lihat saja bagaimana kekaisaran itu telah mencaplok kerajaan kecil seperti Actice, Lopane, dan Rimuru.”
Grodzky pun menoleh ke arah Venia karena lama menunggu jawaban, dia tidak juga memperolehnya.
“Venia, bagaimana menurutmu? Deduksiku itu tepat kan? Mengingat bagaimana kekaisaran dan kerajaan saat ini juga bersitegang…”
Namun Grodzky segera menghentikan ucapannya itu ketika menyadari ekspresi Venia dengan mata yang terbelalak.
“Apa-apaan ini? Mengapa Yasmin juga menghilang? Oh, sungguh, ada apa sebenarnya dengan semua anak buah Pangeran Kedua?!”
Kekesalan Venia menjadi dua kali lipat begitu menyadari bahwa tidak hanya pasiennya, Albert, kini seorang pasiennya lagi, Yasmin, juga telah ikut menghilang dari ruang peristirahatan rumah sakitnya.
***
Sementara itu, Yasmin yang dicari-cari oleh Venia rupanya telah berdiri di salah satu bukit dekat dengan salah satu tempat yang sedang terjadi bencana. Yasmin saat itu masih tampak mengenakan busana pasiennya.
Di hadapannya, kelima prajurit bayangan Leon sedang bertarung melawan tiga ekor monster tipe ghost yakni Pooka dan dua lagi yang muncul belakangan.
“Cih, belum bisa kita mengalahkan yang satu, muncul lagi yang lain.”
“Mereka tidak henti-hentinya bermunculan. Hei, Dog, kamu jangan ketinggalan formasi.”
“Maaf, aku sudah lelah. Hei, Rat, awas!”
“Akh!”
Namun, peringatan dari Dog itu telat direspon oleh Rat. Akibatnya, Pooka dengan kukunya yang tajam berhasil mencakar perutnya lantas hampir mengeluarkan isinya.
“Tidak, jangan. Aaaaaaakh!”
“Rat!!!”
“Bukh.”
Pasir yang beterbangan menghalangi pandangan mereka. Namun, setelah butir debu pasir yang beterbangan mereda, begitu mereka merasa lega. Serangan Pooka gagal mengenai Rat. Itu karena seorang prajurit wanita berpakaian pasien rumah sakit memblokir serangan Pooka itu dengan indah. Dialah Yasmin, sang maid Helios.
“Cih, para monster ini menghancurkan kota yang telah dengan susah payah Master bangun. Aku tidak akan membiarkannya.”
“Hei, Mbak! Awas! Di atasmu!”
Salah satu prajurit bayangan itu segera berteriak begitu melihat salah satu dari ketiga ghost itu hendak menyergap Yasmin dari atas.
Monster itu tidak lain adalah gargoyle, sebuah monster berwujud batu yang bisa terbang dengan sayap batunya.
“Praaaaak!”
Namun dengan tenaga tinjuan overpower Yasmin, gargoyle balik terhempas ke belakang dengan sangat mudahnya.
Semua mata prajurit bayangan Leon itu pun dibuat terkesima oleh penampilan Yasmin tentang bagaimana seorang wanita yang bertubuh ramping dan tampak lemah itu sampai bisa memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.