Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 164 – KUJUNGAN GURU ZIZI



“Master!”


Yasmin segera berlari untuk memapah Helios ketika melihatnya akan terjatuh.


“Ah, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit kelelahan.”


“Justru karena itu, Master, bukankah Anda sebaiknya sedikit istirahat? Bagaimanapun besarnya mana pool Anda, mengendalikan seorang diri lebih dari seratus familiar berwujud seukuran manusia itu pasti tetap akan membebani tubuh Anda.”


“Aku sungguh baik-baik saja, Yasmin. Lebih daripada itu, bagaimana pembicaraan dengan Dokter Minerva?”


“Sayang sekali. Dia juga tidak punya pengetahuan mengenai antibiotik yang Master bicarakan.”


“Para peneliti dari bekas Kerajaan Rimuru juga demikian. Bahkan Anna dan Erick yang mumpuni juga tidak punya ide. Satu-satunya kini harapan kita sisa Guru.”


“Kapan guru Anda itu akan tiba, Master?”


“Katanya sebentar lagi setelah mempersiapkan apa yang perlu dibawanya dari Ignitia.”


“Kalau begitu, bagaimana jika memanfaatkan waktu sebentar untuk istirahat, Master? Aku akan memulihkan sedikit sirkuit mana Anda yang tegang.”


“Akan kulakukan. Mohon bantuannya, Yasmin.”


“Master tidak perlu sungkan terhadapku.”


Yasmin pun segera memapah Helios yang sedikit kehilangan tenaga ke kamar peristirahatannya. Terlihat samar karena wajahnya yang tanpa ekspresi, namun Yasmin sedikit tersenyum. Dia seketika merasakan kebahagiaan begitu Helios bergantung kepadanya.


***


Sekitar empat sampai lima jam kemudian, sang guru yang dinanti-nanti pun tiba. Guru Zizi datang bersama Rowen.


“Ck. Apa-apaan dengan wajah kusutmu itu, Helios? Bagaimana kamu akan menyembuhkan penyakit pasien jika kamu saja tidak bisa menjaga kesehatan dirimu?! Tidak ingatkah kamu bahwa prinsip seorang herbalis itu adalah mengutamakan kesehatan sendiri demi menyembuhkan lebih banyak pasien?!”


“Ah, Guru. Lama tidak jumpa.”


Terlihat wajah penuh nostalgia pada ekspresi Helios begitu melihat kembali sosok gurunya itu setelah sekian lama.


“Ck. Kamu hanya menghubungiku ketika butuh saja.”


“Bukan begitu, Guru. Anu, aku…”


Namun, sang guru yang telah memutih rambutnya dan sangat keriput kulitnya itu justru tersenyum lantas membelai rambut hitam Helios dengan lembut.


“Itu bohong, kok. Aku tidak akan pernah marah karena persoalan begitu, justru aku senang melihatmu sedikit bergantung pada gurumu yang sudah bau tanah ini.”


“Guru…”


(Usap, usap).


“Hal yang wajar jika seorang murid meminta bantuan kepada gurunya di kala kesulitan.”


“Guru.”


“Serahkan pada gurumu ini terhadap masalah yang tidak bisa kamu pecahkan itu.”


“Yo, sepupu terhebatmu juga ada di sini untuk membantu, Yang Mulia.”


“Kak Rowen.”


Demikianlah hanya dengan kedatangan dua orang tersebut, pekerjaan penemuan antibiotik berjalan dengan lebih lancar.


***


Di tengah-tengah itu, Sara dan beberapa anggota kuil suci lainnya melakukan audiensi dengan Helios.


Mereka meminta agar Helios menyetujui niat mereka menjadi relawan dalam bencana black death tersebut sebagai tenaga medis.


“Sudah tugas kami sebagai pelayan suci untuk membantu umat manusia yang membutuhkan, Yang Mulia.”


Wajah Helios kusut. Bukannya dia tidak paham perasaan para anggota kuil suci tersebut, hanya saja black death terlalu berbahaya untuk ditangani oleh orang biasa.


“Bagaimana kalau menerima bantuan mereka saja, Master? Setidaknya itu akan mengurangi beban Anda dalam mensummon terlalu banyak golem sehingga Anda bisa berfokus pula pada penelitian antibiotiknya.”


Helios sedikit mempertimbangkan saran yang diajukan oleh Yasmin. Bagaimanapun memang benar dia kelelahan mengendalikan lebih dari seratus golem di dalam desa wilayah Lugwein tersebut.


Ini berbeda ketika Helios mengendalikan para familiarnya atau golem tempur ketika perang yang bisa diberikan perintah otomatis. Untuk merawat warga desa, diperlukan gerakan spesifik yang tidak mungkin dilakukan secara otomatis. Itulah sebabnya, Helios mesti menyalurkan mana dengan intensitas yang lebih besar dan dengan jenis aliran yang lebih kompleks lagi.


Jika seterusnya demikian, Helios tidak akan punya tenaga untuk mengurus hal yang lebih penting, yakni penemuan antibiotiknya. Helios bukannya tidak bisa menyerahkan hal itu kepada peneliti yang lain, hanya saja dia yakin bahwa kecerdasannya dalam bidang obat-obatan prominen di antara yang lain sehingga keberadaannya pasti akan sangat diperlukan di tempat tersebut.


Berdasarkan pertimbangan itu, Helios pun menyetujui proposal Sara dan kawan-kawan. Helios segera membawa mereka melalui gate langsung menuju ke Kota Tarz lantas bergerak ke desa yang terjangkit wabah.


Helios kemudian memberikan masing-masing kepada mereka masker yang aneh yang memiliki bentuk di bagian moncongnya yang begitu panjang menyerupai burung gagak. Tidak hanya pada tenaga bantuan medis saja, Helios menugaskan pula beberapa prajurit yang berjaga di sana untuk menemani Sara dan kawan-kawan menuju ke dalam setelah mengenakan pula masker dengan bentuk aneh tersebut.


“Dengar semuanya. Black death disebabkan oleh bakteri yang bisa terpapar di udara. Oleh karena itu, kalian perlu melindungi diri kalian dengan masker yang diperkuat oleh bau menyengat bawang putih dan berbagai herbal berbau menyengat lainnya. Kalian sama sekali tidak boleh melepaskan maskernya apapun yang terjadi. Ini juga tentunya tidak akan melindungi kalian seratus persen, tetapi akan meningkatkan peluang kalian untuk selamat di dalam.”


“Kalian perlu membagi diri kalian ke dalam dua kelompok. Satu kelompok akan ditugaskan ke ruang karantina pertama, sementara kelompok lainnya akan ditugaskan di ruang karantina kedua. Semua dari kalian jangan ada yang sekali-kali memasuki ruang karantina ketiga, apalagi keempat. Ada golem yang aku tempatkan di sana untuk menjaga tempat itu. Mereka bisa saja menyakiti kalian tanpa pandang bulu jika kalian melanggar pantangan ini.”


“Untuk tenaga medis di ruang karantina kedua, yang perlu kalian lakukan di sana adalah mengganti IV solution pada pasien yang sudah kehabisan cairan infusnya. Di samping karena kalian adalah pelayan suci yang mempunyai sihir suci, kalian bisa menggunakan sihir suci kalian itu untuk meningkatkan vitalitas pasien secara berkala. Namun ingat bahwa vitalitas kalian adalah yang utama. Jangan sampai kalian membiarkan diri kalian ikut tertular penyakit itu.”


“Untuk tenaga medis di ruang karantina pertama, yang perlu kalian lakukan lebih santai. Kalian hanya perlu merawat pasien seperti biasa, namun jangan sampai ruang isolasi mereka terbuka. Tetapi kalian harus mengingat bahwa jika ada satu saja pasien yang menunjukkan gejala black death, kalian harus segera melaporkannya pada golem medis terdekat.”


“Ini pastinya kalian sudah tahu, tetapi aku hanya sekadar mengingatkan sekali lagi, tenaga medis yang sudah terlanjur menginjakkan kaki ke ruang karantina kedua, tidak boleh lagi menuju ke ruang karantina pertama. Begitu pula sejak kalian memasuki ruang karantina, kalian tidak boleh lagi keluar sebelum ada pemberitahuan lebih lanjut setelah melewati proses karantina khusus.”


“Adapun untuk para prajurit, tugas kalian hanya satu, lindungi para petugas medis dari pasien yang berbahaya. Soalnya tidak akan ada yang lebih mengerikan ketika manusia menunjukkan rasa ketakutannya menjelang kematiannya. Dan juga, jika kalian kebetulan melihat tikus atau hewan pengerat lainnya, kalian harus segera bunuh dan jangan sama sekali membiarkannya lolos, paham?!”


“Sesuai perintah keagungannya!”


Para petugas medis dan prajurit yang mengawal mereka pun mengenakan masker aneh tersebut, lantas bergerak masuk ke dalam desa yang diselubungi oleh kubah es raksasa.


“Master, apakah semuanya akan baik-baik saja?”


“Entahlah, Albert. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia hanyalah berusaha. Aku akan segera kembali ke ibukota untuk meneliti antibiotiknya. Kamu tetap jagalah tempat ini agar selalu terkontrol.”


“Sesuai perintah Anda, Master.”


Usai mengarahkan para sukarelawan, Helios pun kembali ke ibukota.


Helios menyadari tatapan mata dendam para warga yang dilarang menemui anggota keluarganya itu di wilayah karantina tersebut. Namun Helios memilih untuk mengabaikannya saat ini perihal itu adalah yang terbaik yang bisa dilakukannya.


Menurut Helios, lebih baik para warga takut akan ketiranannya ketimbang lebih banyak nyawa lagi yang harus dikorbankan perihal black death. Itu adalah berdasarkan pertimbangan untung-rugi yang matang, namun entah mengapa tatapan jahat para warga yang menatapnya itu membuat hatinya terluka.


***


Sesampainya kembali ke laboratorium, Dokter Minerva telah ada di sana bersama Guru Zizi. Rowen telah beranjak melakukan tugasnya dengan baik. Berkat dia, jalur koordinasi distribusi bahan penelitian menjadi lebih mudah dan fleksibel.


“Yang Mulia, Anda akhirnya tiba.”


“Ah, Dokter Minerva. Terima kasih atas kerja kerasnya. Ngomong-ngomong bagaimana hasilnya, Guru?”


“Berdasarkan deskipsi senyawa penisilin yang kamu maksud, aku mencarinya pada berbagai spesimen jamur alopondria yang kubiakkan dan sudah ada lima spesimen jamur yang diduga mengandung senyawa itu.”


Mendengar ucapan Guru Zizi, seketika perasaan Helios sedikit lega. Akhirnya terbuka jalan untuk memproduksi obatnya yang sempurna. Namun ketika Helios memikirkan korban yang akan terus berjatuhan dalam deret logaritmik begitu memasuki hari pertama besok ditambah waktu yang diperlukan untuk uji klinis obat yang bisa saja memakan waktu yang lebih lama, Helios kembali merasakan sekujur tubuhnya akan meleleh.


Akan tetapi ucapan Dokter Minerva-lah selanjutnya yang kali ini menyingkirkan kepenatan itu dari pikiran Helios.


“Bagaimanapun kita memanfaatkan segala tenaga medis yang ada di laboratorium, kita tidak akan sempat memproduksi massal obatnya, belum lagi menentukan campuran yang sesuai antara penisilin dan sulfonamida, belum lagi masalah efek sampingnya. Oleh karena itu, kita akan menggunakan sihir percepatan waktu untuk mensintesis penisilin dari jamur alopondria tersebut.”


“Sihir percepatan waktu? Apa itu mungkin dilakukan?” Helios yang belum pernah mendengar konsep bahwa waktu bisa dipercepat pun bertanya-tanya.