Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 88 – SEBAGAI KELUARGA KERAJAAN



Kak Tius yang ramah, Kak Tius yang penyayang, Kak Tius yang berhati lembut, dan Kak Tius yang mengayomi adik-adiknya, apakah ujung-ujungnya, itu semua hanyalah topeng untuk menutupi semua ambisinya?


“Jadi benar bahwa Kakak telah menyuruh Leon selama ini menjadi penjahat di balik bayang-bayang untuk melakukan semua hal kotor yang Kakak perintahkan?!”


“Iya, itu benar, Helios. Makanya sebagai ganti Leon yang telah tiada, Kakak ingin kamu menggantikan perannya.”


Tanpa hesitasi, Kak Tius menjawab pertanyaanku itu. Tanpa merasa malu sedikit pun terhadap mayat Leon yang telah lama terbujur kaku di dalam tanah, dia mengakui semuanya. Dan yang lebih buruk lagi, kini giliranku yang ingin dibujuknya menggantikan Leon.


“Jangan harap aku seperti Leon yang bodoh yang bersedia menjadi boneka milik Kakak!”


“Kalau seperti itu, itu akan sedikit merepotkan, Helios. Agak berat kalau peran ini harus dimainkan oleh Ilene.”


Aku yang telah berada di puncak emosiku, semakin dirongrong oleh sesuatu yang lebih absurd lagi yang harus Kak Tius, tidak Si Tius bajingan itu katakan.


Aku dengan luapan amarah pun menarik kerah bajunya.


“Jangan pernah kau berpikir melibatkan Ilene pada ambisi kejimu itu, Yang Mulia Putra Mahkota!”


Mata itu menatapku dengan tatapan yang seolah mengatakan tidak mengerti mengapa aku sampai bertindak emosi seperti itu.


“Hei, Helios. Aku tahu ini berat bagimu. Aku tahu selama ini kamu telah diasingkan sehingga tidak pernah menerima pendidikan yang layak sebagai keluarga kerajaan. Aku paham hal itu, jadi mari anggap saja bahwa kita tidak pernah membicarakan hal ini. Tapi jangan paksakan nilai yang kau bawa dari luar itu baik kepadaku maupun kepada Ilene karena kami atas nama keluarga kerajaan, akan bersedia melakukan pengorbanan apapun termasuk jika itu nyawa kami.”


Tiada keraguan sedikit pun dari balik tatapan si bajingan Tius itu dalam mengatakannya.


“Tidak usah bersikap hipokrit di hadapanku! Lagian kau melakukan semua itu lantaran hanya ambisimu saja kan demi menjadi raja yang tanpa cacat di mata masyarakat?!”


Dia tersenyum padaku. Itu adalah senyum rubahnya seerti biasa. Aku sama sekali tidak pernah mengerti apa maksud senyumannya itu padaku. Lalu kemudian, dia tiba-tiba saja membelai rambutku. Rasanya hangat.


“Dasar adikku yang polos. Terkadang, aku iri dengan pola pikirmu yang sederhana. Jadi bagaimana kalau begini, maukah kau yang menjadi raja menggantikanku, Helios? Walau akan ada sedikit kekacauan dari kalangan kuil suci karena ramalan perlahan semakin dekat kepada kebenaran, tetapi aku masih sempat mengubah rencananya.”


“Apa maksudmu?”


“Akulah yang akan menggantikan posisi Leon di mana kamu akan menggantikan posisiku sebagai calon raja. Bagaimana? Kalau seperti itu, kamu takkan menolaknya, bukan?”


Aku menampik tangan yang membelai kepalaku itu dengan dingin. Dengan tegas, aku menolak tawaran dari sang putra mahkota yang tak kuduga adalah orang gila tersebut.


“Jangan harap aku sudi melakukan rencana gilamu itu! Tidak ada lagi yang perlu mati di antara kita, entah itu aku, Ilene, dan juga termasuk Kakak. Jadi Kakak pun aku harap untuk lebih menjaga diri dan sekeliling Kakak dengan lebih bijak.”


Aku segera meninggalkan Kak Tius dengan perasaan kesal yang bercampur-aduk. Terus terang, aku ingin sekali marah padanya. Tapi aku sadar, sejauh apapun aku marah, itu tiada gunanya jika orang yang menjadi sumber pelampiasan amarah kita tidak merasa bahwa perbuatannya itu adalah suatu kesalahan.


Lagipula, daripada rencana Kak Tius, apa yang sebenarnya membuat Leon meninggal adalah karena ketidakbecusanku menjaganya. Bukanlah faksi Kak Tius, bangsawan korup, ataupun faksi dari luar yang menjadi penyebab utamanya. Semuanya kembali karena ketidakbecusanku. Jika saja aku bisa menjadi kakak yang lebih mampu diandalkannya kala itu sehingga Leon lebih dapat terbuka padaku, maka musibah kematiannya mungkin bisa dicegah.


“Master, mengapa tampilan Anda begitu kusut? Apa Yang Mulia Putra Mahkota mengatakan sesuatu yang membuat Anda tidak senang?”


Albert segera menyadari dari balik ekspresiku bahwa ada yang tidak beres pasca aku berbicara dengan Kak Tius. Namun, aku berusaha berdalih bahwa tidak terjadi apa-apa. Lagipula aku telah malas duluan untuk membicarakannya. Tiada yang membuat hatiku perih saat ini daripada kekecewaanku terhadap tindakan Kak Tius.


“Hormat hamba kepada sang rembulan yang bersinar terang mendampingi bintang, Yang Mulia Putri Mahkota Vierra Liz Meglovia.”


Albert segera melakukan salam tata karma standar kerajaan, sementara aku menunduk seadanya sebagai sesama anggota keluarga kerajaan yang sederajat. Dalam aturan Kerajaan Meglovia, kedudukan pangeran dan putri kerajaan adalah setara dengan putri mahkota. Hanya kedudukan putra mahkota-lah yang sedikit lebih tinggi di antara kami.


“Dik Helios sudah mau pulang? Tidak mau mengunjungi Ayahanda dulu yang sedang sakit?”


Demikianlah kata Kak Vierra padaku. Karena baru pertama kali mendengarnya, aku pun bertanya-tanya, “Ayahanda sakit? Mengapa aku baru pertama kali mendengarnya?”


Seketika aku tersadar. Sekitar tiga minggu lalu pernikahan aku dengan Talia, Ayahanda dan Ibunda memang tidak hadir lantaran mereka dikabarkan sakit. Aku tidak tahu bahwa kabar itu adalah benar. Semula, aku menduga bahwa itu adalah sekadar alasan mereka saja karena malas menghadiri pernikahan anak yang mereka benci.


Ataukah Ayah baru tertimpa sakit lantaran karma dari ucapannya yang beralasan sakit padahal kenyataannya tidak sewaktu hari pernikahan anaknya?


Namun, seketika aku teringat masa lalu. Walau hubungan kami kini buruk perihal ramalan suci itu, mengingat bagaimana Ayahanda dulu bermain denganku sewaktu kecil di tengah kesibukannya sebagai raja, aku tidak mungkin mengabaikannya. Jika semuanya bukan karena ramalan suci itu, kami pastinya sudah menjadi keluarga yang lebih bahagia.


Aku pun memutuskan untuk mengunjungi Ayahanda bersama Albert sebelum kembali.


Begitu aku memasuki kamar Ayahanda, kulihatlah sosok Ayahanda yang begitu rapuh yang kini hanya terlihat tinggal tulang dan kulit yang kusut saja. Benar-benar berbeda dari dua tahun yang lalu terakhir kali aku melihatnya.


“Ayahanda.”


Sapaku lembut padanya.


“Siapa?”


Pandangan Ayahanda pun tampak mulai rabun sehingga dia tidak menyadari siapa yang mengunjunginya.


“Ini aku, Ayah, Helios.”


“Oh, Nak Helios. Maafkan Ayahanda tak bisa pergi ke pernikahanmu waktu itu, Nak. Ayahanda masih harus terbaring sakit di tempat tidur karena kelelahan.”


Dengan lembut, Ayahanda tersenyum padaku dalam pandangannya yang terlihat rabun itu.


Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya selama ini? Apakah para anggota kuil suci istana tidak memperhatikan kesehatan Ayahanda dengan baik?


Tidak, sedari awal ini adalah salahku yang telah berupaya mengabaikan Beliau pasca kematian Leon. Bukan kesalahan Ayahanda, justru aku yang tanpa sadar menolak bertemu dengan kedua orang tuaku karena terlalu malu setelah gagal melindungi adikku Leon tepat di wilayahku sendiri.


Namun semuanya belum terlambat. Meski tidak sebaik Venia atau Guru Zizi, tetapi aku percaya kemampuan medisku sudah cukup terampil melebihi para anggota kuil suci istana. Mungkin aku bisa memulihkan kesehatan Ayahanda.


Namun, belum sempat aku memeriksa keadaan Beliau, Ibunda pun datang.


“Apa yang kau lakukan kemari anak terkutuk! Siapa yang mengizinkan anak terkutuk ini masuk kemari?! Pengawal! Pergi bawa dia jauh-jauh dari tempat ini dan jangan pernah biarkan dia datang kemari lagi membawa kesialan ke tempat ini!”


Aku diusir terang-terangan oleh Ibunda.