Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 113 – CINTA



Sejak dahulu, aku sudah meyakini bahwa manusia adalah makhluk bodoh, emosional, dan egoistik yang hanya mengutamakan kepentingannya sendiri.


Manusia sejak dahulu kala adalah makhluk yang berpikiran sempit yang bahkan tega mengorbankan ratusan ribu nyawa orang lain hanya demi keselamatannya sendiri.


Manusia adalah makhluk berhati dingin yang senantiasa memanfaatkan pikiran mereka yang tidak logis untuk membenarkan tiap kesalahan yang mereka perbuat.


Lebih buruk lagi, manusia adalah makhluk yang selalu menganggap dirinya superior terhadap spesies lain. Manusia tiada hesitasi merusak alam, membabat pepohonan, dan bahkan tidak segan-segan memburu hewan liar dengan alasan pembenaran berupa peningkatan kesejahteraan umat manusia.


Begitulah hinanya manusia yang bahkan antarsesama mereka pun sering saling bunuh-membunuh hanya karena masalah sepele seperti perbedaan ras, bangsa, keturunan, dan bahkan asal negara.


Itulah sebabnya ketika aku menyaksikan Kak Tius yang selalu melakukan upaya terbaiknya dengan mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan rakyat, aku menghinakan dirinya.


Aku memandang Kak Tius sebagai orang bodoh, pecundang bodoh yang tidak tahu berharganya akan hidupnya sendiri itu.


“Hei, Helios. Aku tahu ini berat bagimu. Aku tahu selama ini kamu telah diasingkan sehingga tidak pernah menerima pendidikan yang layak sebagai keluarga kerajaan. Aku paham hal itu, jadi mari anggap saja bahwa kita tidak pernah membicarakan hal ini. Tapi jangan paksakan nilai yang kau bawa dari luar itu baik kepadaku maupun kepada Ilene karena kami atas nama keluarga kerajaan, akan bersedia melakukan pengorbanan apapun termasuk jika itu nyawa kami.”


Aku tidak mengingat lagi kapan kami terakhir saling berbicara, tetapi kurang lebih itulah yang dikatakannya padaku di pertemuan terakhir kami.


Sungguh Kakak yang bodoh, tidak, dia adalah orang yang bodoh dari sananya sebagai makhluk individu.


Bahkan percakapan terakhir kami yang aku ingat adalah ambisinya bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan demi kepentingan rakyat.


Apa hebatnya semua itu?


Memangnya berapa lama rakyat kira-kira bersedih setelah mengetahui kematianmu ini?


Sebulan? Dua bulan? Tidak, bahkan aku yakin mereka palingan akan bersedih hanya selama sehari dua hari, menangisi kepergian pahlawan mereka, mengantar kepergiannya dengan linangan air mata mereka yang khidmat. Namun setelah itu, aku yakin bahwa bahkan belum lewat tiga hari saja mereka akan segera melupakan kepergian pahlawan mereka itu untuk melanjutkan hidup masing-masing yang bahagia yang dibayar atas nyawa pahlawan mereka itu.


“Apa yang kamu katakan, Helios. Tentu saja itu sepadan. Demi calon bayimu dan demi masa depan cikal-bakal penerus bangsa ini, kita yang berdiri di puncak harus menjadi tiang dan atap yang kokoh demi melindungi mereka hingga mereka siap berkarya di dunia ini.”


Apakah setelah mengorbankan diri Kakak sendiri demi kepentingan negara lantas Kakak dikhianati sendiri oleh negeri tetangga yang dibayar dengan kematian Kakak, Kakak benar-benar akan hidup bahagia di alam sana?


Masa depan negara yang cerah, penerus bangsa berkompeten, rakyat yang kuat, apakah itu memang patut dibayar dengan nyawa Kakak?


Apa artinya memperjuangkan masa depan kerajaan itu jika Kakak tidak turut berada di sana menikmati hasilnya?


Kedamaian tanpa keberadaan pahlawan untuk turut menikmati hasil perjuangannya, bukankah itu terlalu ironi bahkan untuk menjadi sebuah cerita di dalam novel?


Aku benci Kakak. Aku benci Kak Tius yang selalu saja mengutamakan kepentingan rakyat, tetapi Kakak mengabaikanku ketika aku dikucilkan oleh mereka perihal ramalan suci itu.


Aku membenci orang-orang seperti Kakak yang selalu berpandangan bahwa kepentingan orang lain jauh lebih penting daripada kepentingan nyawa Kakak sendiri.


Bahkan di saat terakhir Kakak, Kakak pun akhirnya tewas karena melindungi Pangeran Rowen dari serangan assassin. Seharusnya waktu bahaya menimpa Kakak saat itu, Kakak lari saja mengutamakan nyawa Kakak sendiri.


Kakak tidak usah sok menjadi pahlawan yang melihat jauh ke depan siapa yang lebih dibutuhkan untuk selamat.


Memangnya apa yang bisa Kakak lakukan dengan tubuh lemah itu?


Kakak lemah, tetapi jiwa heroik Kakak sangat berlebihan. Bukankah itu timpang?


Lihat akibatnya sekarang, Kakak tewas, namun apa yang bisa Kakak wujudkan dengan kematian Kakak?


Kakak dikhianati dengan bodohnya oleh Cabalcus, dihinakan oleh Vlonhard, mereka hanya menginjak-injak jasad Kakak saja yang terbujur kaku dengan tawa kepuasan.


Itulah sejatinya Manusia, Kakak. Penuh keegoisan, penuh kejahatan, merasakan superioritas dengan menindas yang lemah.


Jadi, cara hidup Kakak itu salah. Salah besar!


Lalu kemudian, pemuda itu pun berdiri di hadapanku.


“Para pengungsi ini tidak ada kaitannya dengan pengkhianatan kerajaan. Jika Anda berniat untuk membalaskan dendam Anda pada pengkhiantan kerajaan, seharusnya cukup nyawa akulah yang Anda incar.”


Dia tanpa ragu ingin mengorbankan nyawanya sendiri demi melindungi orang lain.


Ah, mengapa masih ada lagi orang lain yang sama bodohnya dengan Kakak? Apakah kamu masih bisa berkata demikian ketika aku mulai mengeluarkan segala isi yang ada di ususmu?


“Kak Roggie, tolong bawa para pengungsi pergi dari sini.”


“Apa yang Yang Mulia Pangeran katakan? Mana mungkin aku melakukan itu? Jika ada yang harus mati, maka akulah yang harus mati, asalkan nyawa Yang Mulia Pangeran bisa selamat.”


Ah, ini mengesalkan.


Mereka berdua sama soknya. Apakah nyawa kalian itu semacam barang obralan murah yang dengan mudahnya akan kalian peroleh kembali? Jika kalian mati di tempat ini, di saat itu pulalah semuanya akan berakhir untuk kalian.


Ujung-ujungnya, kalian semua jauh lebih hipokrit daripada diriku.


“Anak muda, tolong jangan bunuh kami dan juga para bangsawan ini. Para bangsawan ini hanya menyelamatkan kami dari kezaliman Rahib Robell Zarkan pada kami yang tidak ingin mengikuti doktrinnya tentang pembenaran perang untuk penyatuan benua. Jika bukan karena para bangsawan ini, kami pasti sudah lama mati di tangan tiran keji itu.”


Entah mengapa aku sedikit tersentak mendengarkan kata ‘tiran keji’ keluar dari salah satu mulut para pengungsi kekaisaran itu? Apakah di alam bawah sadarku, aku telah membenarkan diriku sendiri sebagai tiran keji?


Tidak, itu tidak mungkin. Sejak awal aku tidak berniat sedikit pun atas tahta. Aku sama sekali tidak berniat untuk menjadi raja yang kerjanya hanya akan selalu memerintah. Jadi raja pun aku tidak niat, maka mana mungkin aku bisa menjadi tiran?


Selama ini aku sengaja bersembunyi di balik bayang-bayang Kak Tius agar orang-orang tidak menaruh harapan padaku di balik pesona Kak Tius yang mempesona sebagai calon raja yang ideal.


Ah, begitu rupanya.


Sekarang aku mengerti sikap Kak Tius itu.


Dia bersikap seperti itu, dia rusak, salah satu faktor penyebabnya adalah harapan orang-orang yang terlalu besar padanya. Lalu aku tanpa sadar menjadi salah satu di antara orang-orang itu yang membebankan harapan besar padanya yang pada akhirnya memberikan tekanan terlalu berlebihan kepada mental Kak Tius.


Itu sebabnya Kak Tius jadi rusak. Rupanya akulah yang telah menjadi salah satu penyebabnya.


Dan juga sekarang, aku mengerti mengapa sampai aku melewatkan Pangeran Stephanus dalam perburuanku. Dia tidak memiliki bau pengkhianat. Satu jawabannya, dia tidak bersalah.


Mungkin dia mengetahui rencana pemberontakan kerajaannya, mungkin dia tahu segalanya, tetapi tidak punya kuasa untuk menghentikannya.


Itulah sebabnya daripada harga dirinya itu rusak karena mentalnya yang pushover, melihat langsung pengkhianatan negaranya sendiri yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang dianutnya, dia lebih memilih mengungsi jauh ke perbatasan utara kerajaannya.


Lalu secara kebetulan, dia bertemu dengan para pengungsi anggota kuil suci kekaisaran yang memperoleh kezaliman dari Rahib Robell Zarkan. Karena kebaikan hatinya, dia pun membantu para pengungsi memperoleh tempat tinggal baru mereka.


Pushover ditambah kehipokritan. Dia tidak jauh dari Kak Tius, sama-sama pushover. Namun setidaknya, dia tidak lebih bodoh daripada Kak Tius. Dia tahu kapan waktu untuk menyerah. Walau demikian, dia pun pastinya lambat laun akan pula dirusak oleh dunia yang kejam ini.


Meski demikian, mengapa aku merasa iba padanya? Dia adalah salah satu keluarga orang yang telah membunuh kakakku, Tius. Buat apa aku iba padanya?


Hidup di dunia ini juga akan membuatnya semakin menderita saja dengan sifatnya yang rusak itu. Lebih baik jika aku membunuhnya sekarang daripada dia harus merasakan penderitaan yang sama seperti Kak Tius rasakan.


Aku pun melayangkan cakar tajamku tinggi-tinggi ke atas, bersiap untuk membunuh mereka semua. Namun kemudian, sebuah suara yang tak mungkin berada di sini saat ini tiba-tiba kudengarkan,


“Mas Lou, hentikan, Mas! Jangan biarkan diri Mas termakan oleh kegelapan! Aku tahu bahwa Mas adalah orang yang kuat untuk mampu melawan itu semua!”


Istriku tiba-tiba saja berada di hadapanku.


Jika bukan karena dirinya, kuyakin, aku pasti sudah dari dulu tenggelam ke dalam abyss yang sangat gelap itu.