
Pada akhirnya Paman Algebra berhasil sampai ke istana Kerajaan Meglovia dengan selamat di sekitar waktu matahari masih cerah. Sesampainya di sana, Beliau segera menjenguk Ayahanda yang sedang terbaring di tempat tidur. Ada Ibunda juga di sana dan tampaknya Ibunda tidak nyaman berada di dekatku, jadi aku memilih untuk meninggalkan ruangan, meninggalkan Ilene di sana untuk mengontrol situasi.
Malamnya pun tiba. Aku dengan ditemani oleh Albert dan Yasmin sedang menatap keindahan bintang di langit melalui salah satu teras lantai dua istana. Tiba-tiba saja secara kebetulan, Paman Algebra juga berkunjung ke teras itu hingga kami pun saling berpapasan.
Seakan mengerti bahwa aku ingin mengobrol berdua saja dengan Paman, Yasmin beralasan untuk pergi membuatkan teh sebentar, sementara Albert memilih untuk meninggalkan kami dengan tetap berjaga di pintu masuk teras setelah dicolek oleh Yasmin.
“Bagaimana kehidupanmu, Nak, di kerajaan ini?”
“Biasa-biasa saja, Paman. Banyak sulitnya, namun banyak pula kenangan indahnya.”
Terlihat Paman merenung sejenak tampak ragu-ragu mengungkapkan apa yang sebenarnya ingin diungkapkannya.
“Paman dengar bahwa kamu tidak bisa memperoleh pendidikan formal karena larangan kuil suci Kerajaan Meglovia.”
Rupanya itu tentang pengucilanku.
“Walaupun aku tidak memperoleh pendidikan formal, aku tetap memperoleh pendidikan yang layak kok, Paman. Guru-guruku juga berbakat. Malahan, itu lebih baik sejak aku bisa memilih tim pengajarku sendiri. Aku bisa belajar apapun yang aku mau. Bukankah itu malah jauh lebih baik?”
Paman menatap jauh ke angkasanya. Matanya yang hitam sedalam warna langit yang gelap itu, sama persis dengan warna mataku.
“Bagaimana pun kita memungkirinya, terkadang perbedaan sedikit saja, entah itu warna rambut, warna kulit, dan warna mata, akan membuat seseorang merasa kita asing. Itu adalah hal yang wajar. Sejak manusia adalah makhluk yang egois. Jika bagimu terasa sulit hidup terasing di kerajaan ini, bagaimana jika ikut dengan Paman ke Ignitia saja? Aku yakin Nak Helios di sana bisa lebih berbaur sejak memiliki rekan sedarah sebangsa.”
Apa yang dikatakan Paman Algebra benar. Walaupun aku sama saja dengan saudara-saudariku yang lain yang memiliki darah seperempat bangsa Ignitia, hanya aku yang memiliki ciri-ciri fisik bangsa tersebut yang membuatku kelihatan berbeda dengan semua bangsa Meglovia yang ada di kerajaan ini.
Bahkan Ayahanda saja yang seperdua darahnya adalah bangsa Ignitia, tetap memiliki ciri-ciri fisik bangsa Meglovia. Melupakan ramalan tiran, hal itu saja sudah cukup membuatku terasing di tempat ini.
Jika itu aku yang dulu ditanya demikian sebelum mengenal Talia dan Albert, pasti sudah aku putuskan untuk mengikuti Paman. Namun seiring aku bertumbuh di kerajaan ini, banyak pengalaman yang telah terukir di kalbuku, baik itu kenangan yang indah, maupun yang buruk sekalian.
Semuanya tanpa sadar menjadi sangat berarti yang tidak ingin aku lepaskan lagi.
Lagipula, jika aku menyetujui Paman dan kali ini aku yang mengajak Talia, Albert, dan juga Alice ke tempat itu, tidak menutup kemungkinan bahwa kali ini mereka yang akan menerima perlakuan seperti apa yang sekarang ini kurasakan sejak ciri-ciri fisik mereka sangat berbeda dengan bangsa Ignitia.
Talia dengan rambut silver dan mata emasnya atau Albert dan Alice dengan warna rambut kuning cerahnya, juga merupakan ciri-ciri yang sangat mencolok jika berada di Kerajaan Ignitia.
“Aku pun telah memiliki hal penting di tempat ini yang ingin aku jaga baik-baik, Paman.”
Mendengar jawabanku itu, meski tak kuungkapkan secara terang-terangan, Paman segera mengerti apa yang kumaksudkan.
Aku telah menolak ajakannya.
Dia pun tampak menjadi sedih karena hal itu.
“Tapi terima kasih telah memikirkanku, Paman.”
Paman tampak tersenyum lega atas jawabanku. Berbeda dengan mata Paman yang hitam legam, telah bercampur sedikit warna putih di rambutnya. Tanpa terasa waktu telah berlalu begitu cepat. Paman yang sebelumnya terakhir kutemui masih segar-bugar, kini telah diliputi oleh tanda-tanda penuaan.
“Daripada berlari, aku lebih memilih untuk mengubah keadaan yang ada. Tiada satu pun ras di dunia ini yang bisa menjelek-jelekkan ras lainnya. Jika kita mengacu pada ciri-ciri umum rambut hitam, bukankah rata-rata penduduk Benua Ifrak dan Asium memiliki rambut hitam? Jadi bisa dikatakan rata-rata penduduk Benua Ernoa yang aneh. Jadi tidak sepantasnya penduduk benua ini sensitif dengan perbedaan ciri-ciri fisik. Bukankah begitu, Paman?”
Bagaimana pun warna rambutnya, suatu saat semuanya akan kembali menjadi putih dimakan usia. Bukankah itu aneh jika konflik antarnegara terjadi karena perbedaan konyol itu yang segera sirna ditelan oleh waktu?
***
Di tengah malam itu, aku merenung cukup lama di dalam kegelapan. Apa sebenarnya arti konflik bagi manusia itu? Kami konflik hanya karena masalah sederhana seperti perbedaan kebangsaan, kekayaan, kekuasaan, tahta, dan bahkan sampai wanita. Apakah manusia memang terlahir menjadi makhluk berakal, tetapi sangat bodoh memanfaatkan akalnya?
Tidak bisakah di antara sesama manusia saling memahami, mengalah, saling berbagi demi kedamaian dunia ini?
Aku memutuskan untuk tidak serakah akan tahta dan akan mendampingi Kak Tius menjadi raja yang bijak. Kuharap, dunia ini menjadi lebih baik lagi di masa depan.
Namun sejenak, muncul keraguan di hatiku. Akankah hari di mana antarsesama umat manusia terlepas dari konflik benar-benar akan terwujud?
Malam tengah larut. Aku dan rombonganku yang biasa pun, Albert dan Yasmin segera beranjak menuju ke kamarku. Aku sebenarnya sama sekali tak bisa merasakan kantuk, tetapi aku tak ingin dicurigai sebagai entitas aneh jika sampai ada yang menyadari bahwa aku selama ini tidak pernah tidur. Itulah sebabnya aku menuju ke kamarku untuk berpura-pura tertidur dengan mengusir Albert dan Yasmin kembali ke kamar mereka masing-masing.
Setidaknya itu yang kurencanakan. Namun tiba-tiba, pintu diketuk. Awalnya kukira itu adalah salah satu di antara Albert atau Yasmin yang kembali mengunjungiku, namun rupanya tamu tak terdugalah yang tiba kamarku.
Itu adalah Ibunda Theia.
“Nak Helios, aku dengar dari Kak Algebra bahwa kamu terluka cukup parah, Nak. Apakah lukamu baik-baik saja, Nak?”
Aku menganga agape melihat perkembangan yang tiba-tiba itu. Ibunda yang biasanya menatapku seakan menatap serangga yang bahkan ketika aku dikirim ke tempat berbahaya seperti Kota Painfinn yang merupakan sarang monster malah tersenyum bahagia seakan punuk di punggungnya akhirnya terlepas juga, kini tiba-tiba saja mengkhawatirkanku.
Tentu saja aku senang jika pada akhirnya aku juga bisa memperoleh perhatian Ibunda. Namun mengapa tiba-tiba? Saking aku sudah terbiasa dengan sikapnya selama 15 tahun ini, jadi rasanya aku merasa aneh jika dia tiba-tiba saja menjadi baik padaku.
“Aku baik-baik saja kok, B…”
“Yang Mulia… Yang Mulai Baginda Ratu! Anda melupakan obat Yang Mulia. Penyakit Anda bisa kambuh jika melupakan obatnya. Kumohon agar Yang Mulia Baginda Ratu meminumnya terlebih dahulu.”
Belum sempat aku menyelesaikan jawabanku terhadap pertanyaan khawatir Ibunda itu, seorang pelayan tampak tiba dengan membawa segelas air putih bersamanya yang dia klaim sebagai obat untuk Ibunda.
“Obat apa?”
Karena penasaran akan obat seperti apa itu dan memang kah Ibunda saat ini sedang sakit, aku pun bertanya. Siapa tahu ilmu medisku juga mampu menyembuhkan penyakit Beliau.
“Ah, ketimbang obat, ini berkah air suci dari kuil suci, Yang Mulia Pangeran. Untuk menenangkan stres Yang Mulia Baginda Ratu yang menumpuk, tiap minggu Yang Mulia selalu mengunjungi kuil suci untuk berdoa lantas diberikan air suci penenang jiwa di sana.”
Ah, ini pasti tentang stres yang dialami oleh Ibunda pasca kematian Leon. Jika demikian, ilmu medisku tidak bisa membantu banyak karena apa yang lebih dibutuhkan oleh Ibunda saat ini adalah keyakinan untuk melanjutkan hidup.
Obat-obatan medis hanya bisa membuatnya kecanduan saja. Terkadang, hal-hal takhayul seperti air suci penenang jiwa bisa lebih efektif untuk mengobati seseorang yang dilanda stres.
***
Kukira, sikap Ibunda telah akan membaik kepadaku sejak malam itu. Namun rupanya,
“Jangan dekat-dekat denganku, dasar anak pembawa sial!”
Beliau kembali pada tabiatnya yang biasa kepadaku.