Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 219 – HARI YANG DIJANJIKAN



Seiring dengan persiapan yang berjalan semakin matang demi menghadapi bangsa Iblis, tiada yang lebih kukhawatirkan daripada keadaan keluargaku sendiri.


Aku memang naif.


Aku memang tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang pimpinan yang bisa mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan keluarga.


Namun, karena keluargaku ada-lah justru aku mempunyai semangat dan harapan untuk memenangkan peperangan melawan bangsa Iblis kini.


Helion kini menginjak usia 7 tahun.


Dia sudah mulai belajar pendidikan putra mahkota.


Tak kurasa aku telah bertambah tua.


Anak-anakku kini pun mulai semakin menginjakkan kaki ke umur yang lebih matang.


“Ayah. Apa Ayah baik-baik saja?”


“Tentu saja, Sayang. Ayah kan sekarang ada di hadapan Lion.”


-Srek.


Lion kecil kami tiba-tiba memelukku dengan hangat.


Badannya gemetaran.


Aku tak mengetahuinya, tetapi mungkin saja Lion kecil kami ini juga bisa menangkap situasi tidak biasa yang sedang terjadi di Benua Ernoa ini.


Kepanikan dan ketakutan.


Mana mungkin anak kami yang sensitif terhadap perasaan orang lain ini tidak menyadarinya.


“Ih, dasal Kakak manja! Minggil sana!”


Melihat Helion memelukku, Valia turut datang menciptakan ruang di antara kami.


“Kamu adik nakal! Mengapa memukul Kakak?”


“Itu kalna Kakak yang tellalu manja!”


Valia memprotes kakaknya yang terlalu dekat dengan ayahnya.


Karena khawatir mereka akan berakhir dengan bertengkar hebat, aku pun segera menggendong Valia kecil kami ke pangkuan kiriku sembari tetap mengelus-elus Lion kecil di sebelah kananku.


“Papa, Papa.”


Melihat Lion kecil dan Valia kecil mendominasiku, Aad kecil hanya mengawasi dari jauh sembari memanggil-manggil namaku.


Sementara itu, Illie kecil dan Illio kecil kami sudah lebih duluan merangkak ke pangkuanku sembari tertawa dengan bahagianya.


Karena kasihan pada Aad kecil yang hanya menatapku dengan tatapan mata seperti ingin dipeluk, akulah yang akhirnya melangkah dan membawanya ikut bergabung bersama saudara-saudarinya yang lain ke dalam pangkuanku.


“Allios! Ilyaas! Tidak ingin gabung sama Ayah? Sini Nak.”


Sementara itu, Allios dan Ilyaas masih asyik-asyikan main pedang-pedangan berdua.


Aku pun turut memanggil mereka bergabung.


Aku seketika dikelilingi oleh semua anakku.


Adapula ketiga istriku, Talia, Lusiana, dan Kak Vierra yang berada duduk tidak jauh di sampingku.


Sungguh suasana yang harmonis.


Aku pun merekam momen-momen berharga ini ke dalam artifak video kristal sebagai kenang-kenangan kami nantinya.


Aku berharap bisa memenangkan perang melawan bangsa Iblis tersebut agar kiranya video yang ada saat ini akan menjadi momen kenangan yang bahagia tidak hanya buatku, tetapi buat para istri dan anak-anakku kelak di masa depan.


Aku tak ingin ini justru akan menjadi kenangan memorialku yang berarti tak ada hari esok yang akan menungguku pasca bertarung melawan Raja Iblis tersebut.


“Master, aku berjanji pasti akan melindungi keluarga Anda dengan baik. Jadi Master, jaga diri Anda baik-baik selama di medan perang dan tidak perlu mencemaskan hal-hal yang lain. Anda hanya perlu berpikir untuk memenangkan pertarungan tersebut.”


“Lalu bagian melindungi Senior Nunu serahkan padaku.”


“Ih, apa-apaan sih, Junior.”


“Hehehe.”


Itu adalah duo Nunu dan Olo yang juga saat ini berada bersama kami sebagai pengawal.


Suasana istana memang tidak pernah sepi, terima kasih berkat keberadaan duo kocak mereka.


Sejak Olo yang bertindak sebagai pemimpin pasukan istana dan Nunu-lah yang memimpin bagian divisi sihirnya, Olo dan Nunu nantinya akan menjadi tonggak penting dalam pengawalan istana.


Dan aku percaya pada mereka berdua.


Selain itu bersama kami di sini, juga ada Adam dan juga Yasmin yang nantinya juga akan bersama-sama menjadi bagian pengawalan istana.


Adam masih tetap dengan sikapnya yang tenang tanpa banyak bergerak dan juga tanpa banyak berbicara.


Adapun untuk Yasmin,


“Ah.”


Tanpa sengaja pandangan mati kami saling bertemu.


Menanggapi itu, Yasmin hanya tersenyum lembut padaku.


Melihatnya, pikiran itu pun kembali terlintas.


Pasca perang ini usai, mau kami menang maupun kalah, keberadaan Yasmin akan selamanya menghilang dari dunia ini.


Jikalau begitu, hanyalah ini saatnya kesempatan bagiku bisa membuatnya senang sebelum pada akhirnya dia akan melanjutkan perjalanannya kembali kepada takdir manusianya untuk menghadapi alam sesudah kematian.


Aku sedih akan berpisah dengan Yasmin.


Sedari awal manusia tidak seharusnya mengingkari takdirnya.


Ah, begitu pula aku.


Tiada yang menjamin bahwa begitu perang ini usai, aku masih akan hidup di dunia ini.


Ada pula peluang di mana aku harus mati bersama dengan Raja Iblis Ozazil untuk menghentikan segala perang berkepanjangan ini.


***


Bencana memang adalah sesuatu yang selalu datang tanpa pernah diduga-duga oleh kebanyakan orang.


Bencana selalu datang di kala orang-orang berada di titik terlalainya.


Mungkin hal itu sebagai pengingat kepada kita bahwa begitu rapuhnya manusia dibandingkan dengan alam dan segala apa yang ada di dalamnya.


Begitulah adanya.


Manusia sejatinya sangatlah lemah dan rapuh.


Mungkin aku bisa dikategorikan sebagai manusia terkuat sejagat raya ini.


Namun, jika aku diminta melawan hukum alam, jelas aku tidak bisa.


Bagaimanapun, aku hanyalah satu di antara banyak manusia-manusia lemah itu.


Aku hanya terlahir dengan bakat yang lebih baik dibandingkan seluruh manusia lainnya di dunia.


Dan di hari di mana aku bersenda-gurau dengan riangnya bersama para istri dan anak-anakku itulah hari yang dijanjikan tersebut tiba.


Langit tiba-tiba menjadi sangat gelap.


Terjadi gerhana matahari dalam waktu sekejap sebagai pertanda terbukanya jalan bagi bangsa iblis melintasi lautan demi menuju ke tanah air Benua Ernoa ini.


Para prajurit sudah disiagakan sebelumnya bersama Leon dan Alice sebagai pemimpinnya di depan sehingga aku tak terlalu khawatir kalau bangsa iblis akan segera bisa menembus masuk ke Benua Ernoa.


Terlebih, di sana sudah ada pula formasi busur, atau lebih tepatnya wilayah hutan monster yang berisikan para monster yang telah berada di bawah kendaliku untuk membantu para prajurit menghadapi tentara bangsa iblis.


Aku harus berfokus menyimpan tenagaku demi pertarungan akhir melawan Raja Iblis Ozazil.


Itulah sebabnya pada kesempatan kali ini, aku tidak akan menggunakan para golem es-ku untuk menyupport para tentara.


Aku hanya menggunakan beberapa familiar burung es dalam jumlah minimal untuk tetap bisa mengawasi jalannya pertarungan secara real time.


Namun aku yakin pada ketangguhan mereka.


Tidak hanya aku saja yang selama ini terus berlatih.


Para prajurit pun tak henti-hentinya memanfaatkan waktu yang mereka miliki dengan baik untuk senantiasa meningkatkan kekuatan tempur mereka.


Sejak Paman Alcus von Maxwell yang memimpin mereka, aku tak perlu khawatir lagi soal menu latihan mereka termasuk output hasilnya.


Aku pun bersama Dokter Minerva bergegas menuju ke pusat medan perang agar bisa segera meyupport Alice sekaligus memasuki portal yang terbentuk yang langsung tembus ke markas Raja Iblis tersebut.


Albert dan Albexus yang sampai saat ini juga masih menyembunyikan identtias mereka sebagai orang lain, akan pula segera bergabung dengan kami berdua.


Namun secara tiba-tiba saja, Yasmin berlari kecil lantas menghentikan langkahku.


“Master!”


“Eh, ada apa, Yasmin?


Aku yang semula menatapnya bingung seketika terkaget dengan apa yang dikeluarkannya secara tiba-tiba dari kehampaan.


Pedang Alsbringer, pedang besar Toranium, perisai Alkasa, tongkat sihir Magenta, dan buku kebijakan Liza.


Kelima artifak pahlawan dan party-nya yang telah lama menghilang sejak bencana Apollo.


Dan kelima artifak seperti itu, baru saja dikeluarkan oleh Yasmin dari tempat antah-berantah.


“Ambillah benda-benda ini, Master. Dengan ini, kuyakin Master dan party Anda akan bisa mengalahkan Raja Iblis.”


“Yasmin? Artifak ini? Darimana kau mendapatkannya?”


“Itu, aku peroleh dari sisa-sisa barang yang tidak dihancurkan oleh Apollo, Master.”


“Apa? Bukankah Apollo menggila lantas menghancurkan seisi kota lalu kabur entah ke mana sembari membawa seluruh artifak?”


Yasmin menggelengkan kepalanya atas konfirmasi pertanyaanku itu.


“Tidak, Master. Itu salah. Aku membunuh Apollo lantas mengamankan artifak yang merupakan warisan dari kakakku, Hector, beserta para party-nya.”


Hector, pahlawan satu generasi sebelum Apollo.


Tidak, bukan itu yang penting.


Sehebat apa sebenarnya kekuatan tempur maksimal Yasmin sehingga dia mampu mengalahkan seorang pahlawan?


Apa jangan-jangan dia lebih hebat daripada Isis?


Namun, aku mengabaikan saja berbagai tanda tanya di kepalaku itu.


Aku pun mengambil artifak-artifak itu dari tangan Yasmin sembari mengucapkan,


“Terima kasih, Yasmin.”


Yasmin kemudian membalas ucapan terima kasihku itu dengan senyuman.


Aku pun kembali berpamitan padanya lantas pergi bersama Dokter Minerva ke medan perang.


“Semoga menang, Master.”


Masih dapat kudengar lirih Yasmin di belakang mendoakan tulus kemenangan kami.