Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 221 – PERTEMUAN DENGAN RAJA IBLIS



Aku memasuki portal bersama Albert.


Berbeda dengan portal ciptaan Dokter Minerva, rasanya badan kami tercerai-berai lantas dibentuk ulang kembali selama proses kami tertransfer di portal.


Itu tidak seperti biasa di mana pandangan kami hanya tiba-tiba gelap untuk sesaat sebelum kami merasakan badan kami tertarik oleh suatu magnet kuat sebelum akhirnya kami sampai ke tempat tujuan.


Dokter Minerva telah betul-betul menyempurnakan penelitiannya dengan matang untuk lebih memperhatikan kenyamanan pengguna daripada sekadar fungsi portal itu sendiri.


Tetapi tidak adanya untuk Raja Iblis.


Sejak dia tidak punya kewajiban, keinginan, apalagi keperluan untuk itu.


Baginya, tentaranya hanyalah alat.


Jadi yang jelas asal semuanya bisa selamat sampai tujuan, Raja Iblis tidak terlalu memperhatikan faktor kenyamanan dalam membuat portal.


Aku dan Albert segera mengeluarkan muntah berkepanjangan begitu kami tiba di ujung portal yang lain.


Rasanya perut kami dikocok-kocok, tidak, bahkan lebih parah daripada itu, kami merasa tubuh kami itu sendiri yang dikocok-kocok.


Syukurlah ketika kami sampai ke ujung portal, tidak ada satu pun demon yang berada di situ sehingga kami tidak perlu bertarung dalam keadaan mabuk.


Namun begitu perasaanku mulai membaik dan memperhatikan keadaan sekitar, penampakan benua iblis benar-benar bertambah buruk dari yang kulihat di ingatan Rizard.


Beberapa familiarku pernah sampai ke ujung benua ini sebelum akhirnya dihabisi oleh tentara demon yang berjaga, tetapi ini pertama kalinya aku bisa melihat langsung ke dalamnya, bahkan kini aku bisa menapaki daerah yang lebih dalam.


Aku tidak tahu apa sebabnya, tetapi jika aku menggunakan familiarku di tempat yang terpisah dengan lautan, maka koneksinya juga akan berkurang.


Itu berlaku bagi Benua Ifrak dan Benua Asium yang jaraknya sudah cukup jauh. Apa tah lagi dengan benua iblis Armtemis yang dipisahkan dengan lautan dengan jarak yang lebih jauh lagi.


Aku dan Albert segera berjalan menyusuri tanah penuh kegelapan itu dengan langit yang juga masih gelap akibat gerhana matahari.


Tanah yang benar-benar hitam legam karena tercemar oleh mana mati sehingga tanaman selain tanaman sihir kegelapan tidak mungkin lagi dapat tumbuh di atasnya.


Air pun sudah tercemar ke taraf yang tak mungkin lagi dapat dikonsumsi.


Namun, aku tak perlu khawatir soal persediaan air sejak aku bisa mengekstraknya dari uap air di udara secara langsung dengan pertama-tama perlu memisahkan terlebih dahulu impurity mana mati yang turut bercampur di udara.


Namun tidak dengan makanan.


Aku tidak bisa menciptakan makanan dengan kekuatanku.


Dan saat ini kami di tengah-tengah benua iblis dengan racun bagi manusia di mana-mana. Kami bahkan tidak tahu lagi mana yang dapat dan mana yang tidak dapat kami konsumsi sejak semuanya terlihat beracun.


Aku bisa sedikit rune suci sehingga mungkin aku bisa memurnikan dulu makanan yang kami temukan sebelum kami makan, namun jelas itu memerlukan tenaga.


Aku yang berusaha makan untuk mencari tenaga malah jadinya harus mengeluarkan tenaga pula untuk mensterilkan makanan.


Aku bisa jikalau untuk diriku sendiri, namun dengan Albert bersamaku, mungkin itu akan sulit.


Aku juga tidak akan mungkin bisa mengabaikan soal makanan Albert.


Jadi satu hal yang harus kami lakukan.


Kami harus menghemat tenaga sebisa mungkin sehingga bekal makanan yang kami bawa bisa cukup sebelum akhirnya kami bisa mengalahkan Raja Iblis.


Inilah liciknya Raja Iblis.


Dia memaksa kami untuk bertarung di wilayahnya dengan ancaman para demon yang akan terus menyebar ke permukaan Gaia jika kami tidak segera membunuhnya.


Yah, tapi tidak mungkin si Raja Iblis berpikir sampai sejauh itu.


Pasti alasan mengapa dia tidak sendiri yang keluar mencariku adalah karena dia belum sepenuhnya bisa lepas dari segel yang diciptakan oleh pahlawan pertama Aries.


Akan tetapi, begitu kami mengintip dari balik bukit.


Kami bisa menyaksikannya.


Awalnya, kukira itu hanyalah kumpulan semut.


Namun bukit ini cukup tinggi untuk bisa melihat kumpulan semut yang berada di bawah.


Begitu aku mempertajam indera penglihatanku, bisalah kusaksikan.


Apa yang bergerombol di bawah mengelilingi kastil Raja Iblis di mana tower juga berada adalah para demon menjijikkan anak buah Raja Iblis tersebut.


“Aku akan menerobos lantas menarik perhatian mereka, Master. Manfaatkanlah kesempatan yang aku buka untuk menerobos langsung ke dalam kastil Raja Iblis.”


Aku mengangguk atas pernyataan Albert tersebut.


Albert pun berlari dan mulai menghadapi para demon yang menghalangi jalannya dengan pedang besarnya, artifak Toranium.


Itu seketika menghempaskan para demon di sekitar bagaikan tersambar gunung yang melayang.


Aku pun memanfaatkan kesempatan yang dibukakan oleh Albert itu untuk segera memasuki kastil Raja Iblis.


Aku tanpa sengaja menoleh ke belakang.


Kulihatlah, sosok yang kemungkinan adalah the heavenly four yang terakhir muncul.


Demon itu memiliki satu tanduk dengan senyum creepy di wajahnya yang juga memiliki cangkang luar tetapi berwarna hijau.


Tapi aku tidak menghentikan langkahku untuk membantu Albert.


Itu karena aku percaya padanya.


Albert tidaklah lemah.


Dia pasti akan bisa mengatasi para cecunguk demon tersebut.


Lagipula selama Raja Iblis berhasil dikalahkan, para demon pun akan otomatis kehilangan rasionalitasnya sehingga tidak lagi terkontrol dan akan mudah dikalahkan.


Yang kukhawatirkan adalah kemunculan the heavenly four terakhir itu.


Aku belum mengetahui sampai di taraf mana kekuatan mereka.


Tetapi berdasarkan keterangan Leon, satu dari mereka bahkan tidak bisa dibandingkan dengan gabungan kekuatan kelima witch.


Kuharap Albert dapat selamat.


Aku berjalan memasuki ruangan yang lebih dalam.


Hanya ada satu jalan yang tampak terus mengarah ke suatu ruangan yang lebih dalam.


Aku membuka pintu yang lebih dalam lantas berlari lagi ke arah yang lebih dalam.


Begitu aku mendapati pintu lagi, aku kembali membukanya lantas melanjutkan perjalananku.


Sayangnya pintu-pintu itu tidak terletak pada arah yang lurus dan datar, melainkan berkelok-kelok secara horisontal maupun vertikal sehingga aku harus berhati-hati agar jangan sampai terpedaya oleh sesuatu yang menyerupai jebakan labirin yang menghilangkan kesadaran penyintas tentang arah.


Aku mempertajam inderaku dengan baik sehingga walaupun aku bergerak berkelok-kelok, kupastikan bahwa aku tetap mengarah ke satu arah yang pasti.


Hingga pada suatu saat aku menyadari bahwa ini memanglah jebakan labirin.


Lalu dengan memanfaatkan ketajaman inderaku, aku menebak ke arah yang benar, tempat yang belum pernah aku jangkau atau tempat tersembunyi yang kemungkinan ada di suatu tempat yang keberadaannya sengaja disembunyikan.


Dengan membangun peta di dalam kesadaranku, aku pun merekonstruksi bentuk labirin tersebut hingga aku bisa memastikan mana jalan yang belum aku jelajahi atau bagian kosong mana yang mencurigakan yang kemungkinan terdapat suatu jalan rahasia.


Tepat di suatu persimpangan, aku pun menemukan keanehan tersebut.


Suatu kekosongan pada peta di alam imajinerku yang seharusnya ada jalan di situ, tapi nyatanya tidak ada.


Aku lantas memfokuskan pikiranku untuk menemukan suatu mekanisme tersembunyi di area tersebut.


Dan bingo.


Aku menemukannya.


Suatu pintu rahasia yang menghubungkan ke suatu jalan raksasa.


Lalu tepat di akhir jalan raksasa itu.


“Selamat datang, Hero! Bagaimana penyambutanku? Cukup memeriahkan suasana, bukan?”


“Tidak kuduga Raja Iblis adalah seorang yang jahil rupanya.”


Aku bertemu dengannya, sang Raja Iblis.


Keberadaannya hitam pekat yang bahkan tak lagi dapat dikenali bentuk wajahnya karena saking pekatnya kehitaman tubuh serta aura yang mengelilinginya.