
Seorang raja harus berkorban demi rakyatnya meski jika itu akan melukai diri dan keluarganya sendiri. Sebuah ide konyol yang takkan pernah kuakui.
Tidakkah kisah Cassandra si witch memberikan kalian pelajaran? Di dalam cerita itu, ayah Cassandra berkorban bahkan sampai harus kehilangan sirkuit sihirnya demi rakyat yang dicintainya.
Namun apa yang terjadi padanya?
Melihat kesempatan raja itu melemah, rakyat yang dibelanya itu sendirilah yang menghancurkan hidup sang raja bahkan sampai tega membunuhnya bersama dengan sang ratu demi mengakhiri ketiranan mutlak dari sang raja yang sangat mereka takuti yang mana ketika raja masih punya kekuatan, mereka terlalu takut untuk melakukan perlawanan.
Begitulah orang-orang kalangan bawah. Takut pada yang kuat, tetapi seketika menjadi hyena ketika melihat kelemahan kita.
Bukannya aku membenci rakyat jelata, justru sebaliknya, akulah yang paling tahu keunggulan mereka sejak semua guruku juga berasal dari kalangan rakyat jelata. Aku menghormati mereka sepenuh hati dan menganggap mereka tulus sebagai individu yang harus dihargai hak dan kewajibannya, yang masing-masingnya mampu secara setara memberikan kontribusi yang besar kepada negaranya.
Aku hanya tidak mau berakhir sama seperti ayah Cassandra yang bodoh itu.
Aku menjadi kaisar agar bisa memperoleh kekuatan untuk melindungi keluarga yang aku cintai, bukannya sebaliknya.
Tetapi kini aku disuruh mengkhianati cinta istriku sendiri demi mempertahankan posisiku sebagai kaisar? Memangnya mereka pikir mereka siapa? Cintaku kepada istriku jauh lebih penting daripada posisiku sebagai kaisar karena sejak awal aku menduduki posisi itu demi mempertahankan kebahagiaan kecilku itu.
Tetapi bahkan permintaan menikahi wanita lain justru datang dari istriku sendiri.
“Mengapa, Talia? Mengapa kamu mau berkorban sampai seperti itu? Bahkan tanpa restu rakyat Vlonhard, aku tetap memiliki kekuasaan di telapak tanganku yang membuatku bebas untuk melakukan apa saja!”
Usai audiensi Putri Lusiana itu, untuk pertama kalinya, aku ribut dengan Talia di kamar kami.
“Mas Lou, itu sama saja dengan seorang tiran, Mas. Aku tak mau Mas Lou berakhir menjadi tiran yang dibenci.”
“Memangnya apa ruginya dibenci oleh mereka? Mereka punya kekuatan apa untuk menjatuhkanku?! Jika perlu, aku bisa menggunakan kekuatanku untuk memanipulasi informasi keluar sehingga protes mereka tidak akan pernah bisa terdengar ke negeri tetangga!”
Sebenarnya, akulah yang paling paham apa yang sekumpulan orang lemah itu bisa lakukan. Sama dengan kisah ayah Cassandra dalam cerita Cassandra si witch, ayah Cassandra yang awalnya perkasa dan tak terkalahkan, dijebak oleh kumpulan orang lemah itu sehingga terjatuh dari tampuk kekuasaannya. Mereka memanfaatkan kelembutan hati sang raja, menggunakan skema licik untuk menjatuhkannya.
Melebihi penjajah dan penjarah mana pun, manusia lemah di dunia ini lebih takut akan kekuasaan mutlak, yang itu berarti apapun keinginan sang penguasa, tidak akan ada lagi yang mampu mencegahnya, tidak peduli bahwa sebenarnya penguasa itu adalah orang yang baik yang tidak akan pernah melakukan kesewenang-wenangan terhadap kekuasaan yang dipegangnya.
“Itu karena jika Mas Lou sampai terluka, maka Talia merasa tidak sanggup lagi hidup di dunia ini, Mas. Daripada mempermasalahkan perasaanku yang tersakiti karena cintaku harus terbagi, itu masih lebih baik selama Mas Lou ada di sampingku.”
Apa yang telah kulakukan? Aku telah membuat wanita yang rapuh itu sampai menangis dengan putus asa. Aku… benar-benar seorang suami yang buruk.
Tekanan politik yang kuterima ternyata lebih kuat daripada yang aku pikirkan dan itu membuat Talia semakin frustasi. Aku bisa tahan menerimanya, namun jika ini melibatkan keluargaku, maka lain lagi ceritanya.
Karena tak tega dengan memburuknya dampak yang diterima oleh Talia, maka kuputuskanlah untuk mengambil langkah mundur satu langkah ke belakang.
Aku pun mengundang Lusiana untuk mengadakan audiensi sekali lagi bersamaku, tetapi kali ini dalam pertemuan privat. Tentu saja dia tetap membawa Adam bersamanya, begitu pula aku tetap membawa Albert bersamaku.
“Apakah kamu mencintaiku, Lusiana?”
“Hamba selalu yakin bahwa cinta dapat terbangun setelah pernikahan, Yang Mulia.”
“Kalau begitu, kuganti pertanyaanku. Apakah kamu bisa mencintaiku, Lusiana?”
“Jika itu perintah dari Yang Mulia, maka akan kulakukan.”
Itulah jawaban dari seorang putri yang selalu berpikiran logis itu. Cinta di matanya tak lebih hanya sekadar transaksi untung rugi belaka.
“Kamu bilang, kamu bersedia menjadi selir. Apa kamu yakin rakyat kamu akan puas dengan itu?”
“Pastinya masih akan timbul kemarahan di sana-sini. Tetapi pastinya mereka masih memiliki kesadaran diri untuk tidak menuntut hal yang di luar apa yang bisa mereka dapatkan. Sebagai negara yang kalah dalam perang, sudah sewajarnya aku tidak pantas memperoleh posisi sebagai ratu karena keturunan yang terlahir dari pasangan yang ditaklukkan, tidak pantas mewarisi posisi kaisar yang agung.”
Tiada terdeteksi sedikit pun keraguan apalagi kebohongan di setiap kata-kata Lusiana. Rasa penasaranku pun terdorong sedikit tentang ke mana arah ini akan berlanjut. Kusetujuilah proposal untuk menikahi Lusiana tersebut sebagai seorang selir.
Di bulan ke-7 tahun 532 kalender Kekaisaran Meglovia yang kini menjadi penguasa tunggal benua, aku menikahi Lusiana, mantan putri dari Kekaisaran Utara Vlonhard yang kini telah menjadi satu di bawah pundi-pundi Meglovia.
Tidak lama setelah itu, mungkin hanya berjarak lima hari dengan pernikahanku dan Lusiana, pernikahan antara Albert dan Lilia turut diselenggarakan. Walau dengan persiapan singkat, pernikahan Albert tentu saja tidak kalah mewahnya dengan pernikahanku sejak keluarga kekaisaran sendiri bekerjasama dengan duke ternama di utara ibukota yang menjadi sponsornya.
Walau demikian, tetap kutangkap raut kesedihan di wajah Albert. Tidak, itu bukan persoalan dia tidak senang menikahi Lilia. Justru dengan menikahi cucu dari Duke Glenn van Rodriguez itu, cahaya di mata Albert mulai tampak sedikit hidup. Dia masih seperti itu sejak aku tidak membawanya ke medan perang melawan penjajah Kerajaan Maosium di selatan.
Perihal itu, kepercayaan diri Albert menjadi semakin terkikis oleh rasa inferioritasnya terhadap Alice dan Yasmin, terlepas sebenarnya Albert sudah sangat kuat, hanya saja Alice dan Yasmin saja yang terlalu melampaui di atasnya.
Aku berpikir dan terus berpikir bagaimana bisa mengembalikan kepercayaan dirinya itu. Lalu keluarlah sebuah ide yang aku rasa cukup baik. Kebetulan sebentar lagi akan bertepatan dengan hari ulang tahun Helion yang pertama, jadi aku pun memutuskan untuk mengadakan turnamen beladiri pertama sejak resmi didirikannya Kekaisaran Meglovia yang menguasai seluruh lingkup Benua Ernoa ini untuk merayakan ulang tahun Helion yang pertama itu.
Aku menetapkan Alice sebagai ketua panitia. Lalu untuk anggota-anggotanya, aku bebaskan dia untuk memilih siapapun yang dia anggap cocok untuk bekerjasama dengannya. Yah, pengangkatan Alice sebagai ketua panitia turnamen beladirinya, sebenarnya hanya sekadar alasan agar dia tidak dapat mengikuti turnamen itu.
Begitu pula untuk Yasmin, dia aku suruh untuk stand by melayaniku sebagai maid pribadi sehingga dia pun tidak akan mungkin sanggup untuk mengikuti turnamen beladiri tersebut. Dengan hilangnya dua pesaing terkuatnya, aku yakin kini Albert pasti akan sanggup untuk memenangkan turnamen beladiri itu dengan mudah.
Kemudian sebagai langkah terakhir, aku sisa membuat alasan saja bagaimana meyakinkan Albert agar bersedia ikut serta dalam turnamen. Itu cukup mudah membodohi Albert yang polos di mana aku hanya mengatakan kepadanya bahwa dia harus ikut dan memenangkan juara di pertandingan itu sebagai wakil yang menjaga nama baik istana kaisar.
Yang jelas kutahu Alice melaksanakannya dengan simpel yakni peserta bebas menantang siapa saja yang dikehendakinya untuk merebut peringkat mereka hingga akhirnya delapan besar peserta yang berhasil bertahan ditentukan.
Lalu sebagai delapan besar peserta yang bertahan, mereka adalah masing-masing:
Albert Ernest Lugwein, wakil istana kaisar
Vultan de Ignitia, wakil wilayah grand duchy Ignitia
Olbero Chalkie Obraham, wakil wilayah county Obraham (mantan wilayah Kekaisaran Vlonhard)
Adam fou Ligwartz, wakil istana selir pertama
Damian fin Helix, wakil kemiliteran istana
Ferrunt van Rodriguez, wakil wilayah duchy Rodriguez
Stephanus van Cabalcus, wakil wilayah grand duchy Cabalcus
Alcus von Maxwell, wakil wilayah county Maxwell
Tibalah hari H pertandingan.
Di kursi kehormatan itu, duduklah aku bersama dengan Talia yang turut membawa Helion putra kami yang tengah berusia tepat satu tahun di atas pangkuannya.
Di sebelah kami sebagai pengawal ada Yasmin dan kebetulan sebagai tambahan ada juga Nunu dan Olo.
Dapat kulihat dengan jelas ekspresi cemberut Olo itu.
“Kamu masih kesal dengan hasil pertandinganmu, Olo?”
“Dibilang kesal, sangat kesal, Tuan. Setiap peserta hanya diizinkan untuk melawan pemain bertahan sebanyak tiga kali saja. Di kesempatan pertama, aku memilih Tuan Albert dan aku kalah dengan sangat memalukan. Lalu kupikir karena pendiam, mungkin pengawal selir Anda itu lemah, jadi aku menantangnya di pertandingan kedua, tetapi aku juga kalah dengan lebih memalukan.”
“Lalu di kesempatan terakhir, karena aku berpikir dia masih cukup muda, aku memilih Tuan Vultan sebagai lawanku. Namun tanpa sempat berkedip, aku jatuh oleh gerakan pedang cepatnya. Benar-benar kekalahan yang begitu memalukan. Jika dipikir-pikir lagi, mengapa aku tidak melawan wakil kapten Damian saja ya, kurasa dia adalah peserta terlemah di antara peserta delapan besar lainnya. Jika demikian, mungkin ada kesempatan buatku untuk terpilih.”
Olo yang tidak bisa melupakan rasa kesalnya karena tidak bisa terpilih di turnamen inti hingga berakhir menjadi pengawal pendamping kaisar, menumpahkan segala kekesalannya. Yah bagaimanapun dia masih remaja berusia 18 tahun. Masih panjang jalan yang harus dilaluinya menuju tekad ksatrianya.