Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 32 – REUNI SAUDARA



Di dalam ruangan yang redup itu, Leon mengaktifkan salah satu kristal sihir yang terpampang di suatu atas meja.


Rupanya, siapa yang terhubung melalui jalur komunikasi itu adalah Jilk, sang butler kepercayaan Helios, Kakak Leon.


Leon pun bertanya kepada sang butler yang ternyata adalah mata-mata yang ditempatkannya untuk mengawasi pergerakan sang kakak, “Apakah kamu sudah menyelidikinya, Jilk?”


“Sepertinya, kecurigaan Anda benar, Master. Orang itu benar-benar mencurigakan.”


Mendengar hal itu, betapa Leon tidak dapat menyembunyikan amarahnya yang tergambar lewat tatapan mata liarnya yang bertambah bengis.


Namun, berupaya menahan amarahnya itu meledak, dia berkata kepada sang kakek, “Begitu rupanya. Sialan, kita kecolongan.”


“Apa tindakan yang harus kita ambil selanjutnya, Master.”


“Tetap awasi saja situasi di situ. Biar aku yang akan mengawasi pergerakan kakak sampah itu di sini untuk saat ini.”


Demikianlah, obrolan antara Leon dan sang mata-mata Jilk diakhiri.


***


Sementara itu, beberapa hari setelahnya, rombongan Helios, Albert, dan Yasmin tiba di ibukota kerajaan. Di luar dugaan mereka, berbeda dari sewaktu kepergian mereka yang tanpa diantar satu pun keluarga kerajaan dan prajurit istana, kini mereka disambut dengan meriah.


Dan siapa yang berdiri di tengah penyambutan mereka itu adalah langsung dari sang putra mahkota Kerajaan Meglovia sendiri. Dialah Tius Star Meglovia yang tidak lain adalah kakak kandung Helios satu-satunya.


“Yo, selamat datang, adikku, sang pangeran kedua, Helios.” Sapa Tius kepada Helios dengan senyum ramahnya.


Melihat itu, perasaan Helios pun bercampur-aduk. Ini pertama kalinya sejak tiga belas tahun silam, kakaknya itu kembali menyapanya. Sejak dia dikucilkan di istana kumuh yang terletak jauh dari istana utama itu, dia telah lama merasakan kehilangan cinta dari keluarganya.


“Ah, hormatku kepada sang bintang kerajaan, sang nomor dua di Kerajaan Meglovia, sang putra mahkota Tius Star Meglovia.” Helios pun hanya dapat menanggapi kakaknya itu dengan salam hormat formal yang kikuk.


Namun di luar dugaan Helios, Tius sendirilah yang kemudian maju untuk memeluk adiknya itu.


“Kamu telah berkeja keras, Helios.” Ujar Tius kepada Helios di dalam pelukannya yang penuh kehangatan itu sembari mengusap rambut hitam pekat Helios yang sangat berbeda dengan warna rambut anggota keluarga kerajaan lain yang berwarna emas.


“Kakak, hentikan! Jika Kakak melakukan ini, maka Kakak bisa saja memperoleh kecaman dari kuil suci. Kakak tidak bisa berinteraksi dengan aku yang kotor ini menurut mereka seperti ini karena akan membahayakan posisi Kakak sebagai putera mahkota.”


Akan tetapi, bukannya melepaskan pelukannya itu, Tius malah memeluk Helios dengan semakin erat.


Tius pun berkata kepada Helios, “Helios, dengar. Apa yang menjadi baik dan buruk itu tidak ditentukan oleh penilaian kuil suci, tetapi apa yang menjadi opini publik. Kamu telah bekerja keras sejauh ini dengan menemukan penyebab dan menghentikan secara permanen kekacauan hutan monster.”


“Kamu juga menemukan indikasi keterlibatan Kekaisaran Vlonhard pada masalah kekacauan di hutan monster itu sehingga kekuatan diplomasi kita semakin kuat dalam menentang kesewenang-wenangan kekaisaran. Kamu tidak tahu bahwa betapa famor kamu sudah sangat naik di masyarakat sehingga tidak ada alasan lagi bagi kuil suci untuk melakukan protes kepada keluarga kerajaan untuk memperlakukan kamu layaknya keluarga kerajaan.”


“Begitukah…” Helios hanya bereaksi dengan tampangnya yang sendu terhadap pernyataan kakaknya, Tius itu.


Helios berupaya tampak sesenang mungkin akan komentar dari kakaknya, Tius itu. Namun sayangnya, Helios juga selama ini tidak diam. Dia telah menyelidiki sendiri perkembangan kerajaan melalui familiar es-nya yang tersembunyi di mana-mana di tiap sudut kerajaan.


Ditambah dengan ketidakbecusannya menyelamatkan nyawa seribu lebih prajuritnya di dalam serangan the king of undead itu, itu menjadi pemicu yang bagai nila setitik rusak susu sebelanga, prestasinya yang besar itu tidak pernah digubris sekalipun di dalam obrolan komunitas warga kerajaan apapun yang digantikan oleh penghinaan terhadapnya sebagai pangeran kejam yang dengam tega mengorbankan ribuan nyawa demi mencapai tujuannya.


Mereka telah mengklaim bahwa Helios telah dengan sengaja mengorbankan seribu lebih nyawa prajurit itu untuk mengukir prestasi yang sekarang diperolehnya dalam menghentikan secara permanen ketidakstabilan pergerakan monster di hutan monster.


Tanpa mengetahui berbagai pemikiran rumit Helios itu, Tius hanya tersenyum padanya sembari segera mengantar Helios kembali ke istana, namun kali ini Helios tidak diantar ke istana kumuhnya, melainkan ke istana utama.


“Kakak, ini?”


“Mulai hari ini, kamu juga akan tinggal di istana utama ini, Helios. Bukankah aneh sejak awal mengapa pangeran yang bukan anak selir, melainkan anak ratu sendiri, harus ditempatkan di istana yang jauh dari istana utama?”


“Tapi kalau begitu, kuil suci akan bergerak dan bisa jadi warga kerajaan ini akan melakukan demosntrasi besar-besaran…”


“Ini sudah disepakati oleh para bangsawan pejabat istana, jadi kurasa kekhawatiranmu itu tidak berarti, Helios. Yah walaupun ada beberapa pertentangan dari para sarjana dari akademi ksatria, tetapi sebaliknya tak ada yang menolak hal ini dari kalangan sarjana dari akademi sihir. Mereka juga tampaknya mulai menaruh hormat padamu sejak penemuanmu yang membanggakan tentang potion peningkat mana secara permanen itu.”


Ekpresi Helios masih tampak rumit saat itu. Namun jauh di lubuk hatinya, dia merasa senang karena setidaknya ada yang menghargai prestasi kecilnya itu.


Beberapa waktu berjalan, rombongan Helios dan Putra Mahkota pun tiba di istana kerajaan. Di sana, telah berdiri Ilene bersama beberapa pelayannya yang dipimpin oleh pelayan terpercaya Ilene, Mellina, memberikan hormat kepada rombongan yang baru tiba itu.


Helios pun mencuri pandang kepada adik perempuan satu-satunya itu lalu tersenyum padanya. Akan tetapi, ekspresi Ilene rupanya masih tidak berubah di hadapannya. Ilene masih takut-takut di hadapan Helios dan segera menunduk mengabaikan senyum Helios itu.


Helios tampak tak terganggu di luar dengan itu dan hanya mempertahankan senyumnya di hadapan Ilene yang telah membuang mukanya di hadapannya. Namun di lubuk hatinya, betapa Helios sebenarnya merasakan sakit yang menyengat karena perasaan diabaikan itu.


‘Yah, lagipula siapa yang akan memperlakukan orang yang diramalkan akan membunuhnya dengan sikap yang ramah. Justru sikap Ilene-lah yang paling wajar di antara saudara-saudaraku yang lain.’ Helios berusaha berpikir positif di dalam hatinya.


Namun tentu saja, tidak ada niat sedikit pun di hati Helios untuk menyingkirkan saudara-saudarinya itu demi tahta seperti yang diramalkan oleh kuil suci.


Bagaimana pun suasana canggung yang terjadi, sebenarnya pertemuan itu benar-benar penuh arti bagi mereka bertiga perihal ini pertama kalinya bagi mereka bertiga untuk bisa berkumpul sesama saudara. Jika saja Leon juga ada di situ, pastilah reuni keempat saudara itu akan lengkap.


Akan tetapi, suasana damai itu, tiba-tiba saja diusik dengan terjangan serangan sihir api yang datang dari jauh.


“Fyuuuush.”


“Pyar.”


Serangan itu terlihat akan ditujukan kepada Helios, namun Yasmin dengan sigap segera menangkisnya lalu Albert segera memposisikan dirinya di hadapan Helios untuk melindungi masternya itu.


Rupanya, serangan itu tidak lain dan tidak bukan dilontarkan oleh Leon, sang pangeran ketiga, adik kandung Helios sendiri.


“Aku begitu muak melihat kecoak merayap ke tempat bersih ini jadi aku tanpa sadar berusaha membakar kecoak itu. Yo, Kakak Sampah, lama tidak bertemu.”


Sapa Leon dengan tidak sopan kepada Helios sembari menyengir dengan menyeramkan.