
Aku mulai menjelaskan tentang rencanaku mengikuti ekspedisi ke hutan monster itu kepada semuanya. Namun sesuai dugaan, Albert langsung menentangnya.
“Master! Mana mungkin aku akan membiarkan Master mengunjungi tempat berbahaya seperti itu?! Aku menolak dengan tegas pelaksanaan ekspedisi ini! Bahkan aku saja tidak yakin bisa melindungi Master hanya dengan satu nyawaku ini di tempat yang penuh dengan monster itu.”
Aku tersenyum lembut kepada Albert lantas segera menjawab pertanyaannya itu.
“Oleh karena itulah, pada ekspedisi kali ini, aku akan menugaskan Yasmin sebagai pengawalku. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah memastikan keamanan penjagaan benteng pertahanan Kota Painfinn.”
“Apa itu? Mana mungkin gadis yang lemah sepertinya mampu menggantikan posisiku sebagai pengawal Master?”
Demikianlah tanggapan Albert seketika sembari merajuk begitu mendengarkan ucapanku itu.
Akan tetapi, Albert tidak tahu saja bahwa sejatinya Yasmin lebih baik sebagai pengawal seratus kali lipat dibandingkan dirinya atau mungkin lebih lagi.
Aku terlahir dengan bakat mampu melihat aliran mana seseorang. Itulah sebabnya pula aku mampu segera menyadari keanehan di tubuh Alice sehingga aku bisa segera mengerahkan familiarku untuk mencari tahu lebih detail tentang situasi berbahaya milik Alice itu.
Kali ini pun sama. Aku tidak mengatakan itu hanya sebagai gertakan sehingga Albert akan menyerah pada keputusanku.
Sesuai apa yang kukatakan, lebih dari siapapun di sini, Yasmin-lah yang terkuat.
Orang yang biasa bertarung dengan fisiknya biasanya akan memiliki aliran mana yang lebih tajam. Itu menunjukkan bagaimana keseringan mereka mengubah bentuk mana mereka ke dalam bentuk aura yang lebih dispesifikkan untuk penguatan fisik.
Sebaliknya, orang yang biasa bertarung dengan menggunakan tembakan sihir biasanya akan memiliki aliran mana yang lebih bulat dan tebal yang menunjukkan keseringan mereka dalam memadatkan mana untuk penyerangan.
Akan tetapi Yasmin berbeda, tidak hanya jumlah mana pada aliran mana-nya itu begitu besar, tetapi terlihat juga bagaimana aliran mana itu mengalir secara teratur yang menandakan bahwa sang pemilik mana sangat pandai untuk memanipulasi mana-nya, tidak hanya untuk serangan sihir, tetapi juga untuk penguatan fisik dengan aura.
Aku yang penasaran lantas beberapa hari yang lalu menyuruh Yasmin untuk menunjukkan hal itu padaku. Di luar dugaan, dia menunjukkannya begitu saja kepadaku tanpa terlihat niat sedikit pun untuk menyembunyikan kekuatannya.
Dan sesuai dugaan, Yasmin benar-benar seperti image yang kubayangkan sebelumnya, pandai menyerang dengan serangan sihir sekaligus dengan penguatan fisik melalui aura.
Walaupun Yasmin yatim-piatu, aku heran mengapa kuil suci dengan bodoh sampai membuang kartu hebat seperti Yasmin begitu saja. Apa selama di kuil suci, Yasmin menyembunyikan kekuatannya? Dan juga aneh bahwa aku yang dari dulu telah menyebarkan familiarku di seluruh penjuru kerajaan, sama sekali tidak menotice keberadaan hebat seperti Yasmin sebelumnya.
Seolah Yasmin tiba-tiba saja terlahir kembali sebagai orang yang berbeda.
Melupakan identitas Yasmin yang ambigu, mengenai kepercayaan, aku dengan yakin bisa mengatakan bahwa aku mempercayai gadis itu. Tidak terasa sedikit pun niat jahat pada aliran mana milik Yasmin kepadaku.
Seperti yang kalian tahu, aku sangat sensitif dengan aliran mana yang bahkan bisa membedakan antara niat jahat dan niat baik seseorang hanya dalam sekali merasakannya.
Itulah sebabnya, layaknya Albert, aku pun bisa mempercayakan belakang punggungku kepada Yasmin.
Oleh karena itu, mendengar kesombongan di dalam ucapan Albert yang tanpa mengetahui apa-apa tentang siapa Yasmin yang sebenarnya, muncullah niat usil di dalam diriku untuk mempertemukan mereka di dalam pertarungan latihan.
“Baiklah, kalau kau memang menganggap Yasmin sebagai wanita lemah, bagaimana kalau kamu berduel dengannya satu ronde, Albert?”
“Itu tidak mungkin, Master. Bagaimana aku akan bisa melukai wanita sepertinya…”
“Tidak usah khawatir tentang itu. Yasmin tidak selemah yang kamu pikirkan.”
Aku segera memotong keraguan Albert itu lantas dia pun pada akhirnya menerima tantangan duel tersebut dan tampak pula bahwa Yasmin tidak keberatan akannya.
“Maaf, Master. Aku tidak bisa menemukan senjata yang pas. Apakah sapu ijuk ini cukup?”
“Kalau kamu yakin dengan itu bisa mengalahkan Albert, maka tidak apa.”
“Terima kasaih, Master. Kalau begitu, aku pilih sapu ijuk ini saja sebagai senjataku.”
Ucap Yasmin dengan penuh percaya diri. Namun mendengar ucapan percaya diri dari Yasmin tersebut, Albert justru salah sangka dan mengira bahwa Yasmin telah menghinakannya.
“Hentikan omong-kosongmu itu! Bagaimana kamu bisa mengalahkan ksatria berpedang hanya dengan sapu ijuk itu saja?! Sudah cukup dengan semua penghinaanmu!”
Ini pertama kalinya aku melihat Albert meninggikan suaranya dengan penuh amarah seperti itu ketika aku berada di hadapannya sejak terakhir kali sewaktu aku dan tunanganku menyelinap keluar malam untuk menikmati pertunjukan ulang tahun ibukota di saat usiaku berumur 17 tahun di tahun lalu.
Apakah menjadi pengawalku memiliki arti yang lebih penting di dalam benak Albert melebihi dari dugaanku? Terkadang, aku yang telah bersamanya sejak kami berusia 7 tahun, tak dapat sama sekali memahami jalan pikirannya.
Namun, tentu saja itu tidak hanya Albert yang berpikir bahwa dia takkan mungkin dikalahkan oleh sosok gadis seperti Yasmin. Tampak semua yang berada di sini kecuali aku, sangat yakin akan kemenangan Albert.
Begitulah pertarungan antara Albert dan Yasmin dimulai. Albert segera bergerak maju mengarahkan pedang kayunya dengan cara menusuk ke arah Yasmin dengan tatapan yang tersirat niat yang sungguh-sungguh ingin membunuh.
Mungkin karena menyadarinya, Jilk hampir saja menghentikan pertarungan itu jika aku tidak segera mencegatnya.
Aku juga tidak menduga bahwa Albert akan bertindak seperti itu. Kupikir sebelumnya bahwa dia akan bersikap lebih lembut karena lawannya adalah wanita.
Tapi yah, itu tidak perlu sejak Yasmin jauh lebih unggul darinya.
Dengan sedikit goyangan sapu ijuknya, dengan sigap Yasmin mengubah alur tusukan pedang Albert yang semula tepat akan diarahkan ke perutnya itu.
Lantas dalam satu kali tinjuan tangan kirinya yang telah diselubungi oleh aura, Yasmin memukul kepala Albert yang membuat Albert seketika jatuh pingsan.
Semua mata terpelongo menyaksikan kehebatan Yasmin itu yang dengan tubuh rampingnya, mampu mengalahkan seorang ksatria berpedang yang berbadan besar dan kekar seperti Albert.
Kecuali aku tentu saja. Semuanya sesuai dengan apa yang kuprediksikan.
Albert pingsan untuk sejenak.
Mengambil kesempatan itu, kami kembali ke ruanganku di mansion. Aku kembali menjelaskan lebih detail kepada Curtiz dan Jilk tentang apa yang harus mereka lakukan selama aku, Yasmin, dan Alice pergi ke hutan monster.
Setelah itu, aku mengizinkan Curtiz dan Jilk untuk meninggalkan ruangan. Setelahnya, aku pun menjelaskan tentang detail strategi penyusupan kami ke hutan monster kepada para anggota penyusupan yakni Yasmin dan Alice.
Setelah semuanya hampir berakhir, Albert tiba-tiba kembali sadar dari pingsannya.
Setelah bangun dari pingsannya, di luar dugaan, dia segera mengganti gear-nya kembali lantas merengek seperti anak-anak agar juga diajak untuk ikut serta ke dalam ekspedisi.
Tentu saja aku menentangnya.
“Albert, bukankah kamu punya tugas yang lebih penting di sini? Aku tidak bisa mempercayakan keamanan kota Painfinn jika itu bukan kamu.”
Ujarku sungguh-sungguh kepada Albert.