
“Aku percaya padamu, Alice. Kamu akan sanggup untuk mengatasi trauma masa kecilmu itu.”
Dengan kata-kata penghiburan dari Helios itu, Alice tersenyum. Dia masih takut, namun langkahnya lebih ringan daripada yang sebelumnya.
“Terima kasih, Master, karena telah mempercayaiku.” Ujar Alice.
Sembari mengatakan hal tersebut, dia pun berlari menerjang ke asal munculnya serangan skill temptation milik the queen of huldra.
“Tebasan petir.”
Alice mengangkat pedangnya tinggi-tinggi lantas menebas ke arah sesuatu yang tampak kosong. Tidak, itu tidaklah kosong perihal di sanalah Melody, sang the queen of huldra, bersembunyi.
Petir berseliweran ke mana-mana hingga mengguncangkan seisi lantai dungeon, namun Helios dengan tanggap memasangkan barier demi mencegah reruntuhan mengenai Albert, Codi, dan Nunu yang sedang berada dalam ilusi birahi terliar mereka perihal skill temptation oleh the queen of huldra.
Sayangnya, itu meleset hanya sekitar dua sentimeter. Alice pun gagal mengenai the queen of huldra itu.
Melihat nyawanya sedikit lagi melayang, Melody, sang the queen of huldra, mengeluarkan keringat dingin. Dia lantas segera menyuruh para anak buahnya untuk mengepung Alice, sementara dia sendiri yang stealth-nya telah diketahui berniat untuk kabur.
Akan tetapi,
“Shaaaaaak.”
Barier es Helios berhasil mengurung sang the queen of huldra sebelum dia sempat melarikan diri. Walaupun memiliki kekuatan mental di level S, kemampuan bertarung dan stamina huldra sebenarnya hanya setara dengan monster level rendah. Begitu tertangkap, sehebat apapun huldra dalam membuat ilusi, dia tidak lebih hanya menjadi ikan piranha di dalam akuarium.
Dalam keadaan putus asa di dalam barier es Helios itu, Melody menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengendalikan para anak buahnya menjebak Helios ke dalam ilusi semu.
Para huldra itu berubah menjadi puluhan Talia, tunangan Helios, yang sedang tidak mengenakan busana sambil berpose dengan erotisnya.
Namun, hal itu justru membuat Helios semakin murka perihal para huldra telah melecehkan nama baik tunangannya tersebut.
Bagi Helios, Talia adalah sosok gadis suci nan polos. Melihat para huldra memanfaatkan wujud Talia untuk merangsang birahinya, Helios sama sekali tidak dapat memaafkannya.
Amukan es Helios yang tiba-tiba saja disertai angin kencang berseliweran ke mana-mana membantai para huldra itu.
Namun, itu tidak selesai sampai di situ. Beberapa huldra mengganti wujud mereka menjadi kenangan masa lalu Helios yang hidup bahagia bersama ayah dan ibunya, beserta Tius dan Leon yang masih kecil, juga Ilene yang masih bayi.
Akan tetapi tanpa pandang bulu, es-es Helios mencabik-cabik para huldra yang menyerupai keluarganya di masa lalu itu.
Namun demikian, sedikit air mata tumpah ke pipi Helios. Alice sama sekali tidak menyadari hal tersebut perihal Helios segera menghapusnya.
Dengan tatapan tajam penuh amarah, hawa membunuh Helios ditujukan kepada Melody. Sang the queen of huldra itu gemetaran. Dia merasakan inferior, bagaimana bisa skill rangsangan yang dia agung-agungkan itu sama sekali tidak berpengaruh pada pemuda yang ada di hadapannya tersebut.
Namun, melebihi perasaan inferiornya, itu adalah perasaan terdominasi, ketakutan dan keputusasaan, berada di dalam genggaman seseorang yang takkan mungkin pernah bisa dia kalahkan. Itu adalah tatapan mata psikopat.
Melody pun akhirnya menerima takdirnya bahkan sebelum Helios sendiri yang mengakhiri hidupnya dalam kekangan bongkahan es-nya.
“Master.”
Setelah Melody dikalahkan, Alice segera menghampiri Helios. Sementara itu, Nunu, Albert, dan Codi juga perlahan kembali ke kesadaran mereka.
“Hmm. Apa yang sedang terjadi, Tuan Helios? Eh, Albert, Codi, mengapa celana kalian basah? Apa kalian baru saja pipis di celana?”
Melupakan ekspresi malu Albert dan Codi, Helios segera menyalurkan mana-nya kepada ketiga orang tersebut untuk menstabilkan kembali mana mereka yang baru saja di bawah pengaruh skill temptation.
Usai itu, Helios pun mengambil kunci dari the queen of huldra, lantas segera menuju ke lantai terakhir.
“Ukh.”
Namun secara tiba-tiba, Helios kehilangan keseimbangan.
“Master!”
Alice segera menggapai Helios yang hampir saja jatuh kehilangan keseimbangan itu. Namun, di luar dugaan Alice, Helios balik menarik kerah Alice lantas mengincar bibir wanita itu. Helios secara tiba-tiba saja mencium Alice dengan penuh nafsu.
“Master!”
Kali ini Albert-lah yang segera menggapai tuannya perihal Alice yang mesum dan biasanya berkata kamu bisa menodai tubuhku tetapi tidak bisa menodai hatiku, seketika terdiam dengan pipi yang memerah.
“Apa yang kulakukan? Bagaimana bisa skill temptation huldra rendahan itu berpengaruh padaku? Apa karena aku telah terlalu lama berpisah dengan Talia? Aku harus segera meminta maaf padanya.”
“Tidak apa-apa kok, Master. Aku baik-baik saja. Aku tahu bahwa Master masih terpengaruh dengan skill temptation queen huldra tadi.”
Alice-lah yang mengucapkan kalimat itu yang salah sangka bahwa ‘padanya’ yang diamksud oleh Helios itu merujuk untuknya.
Helios seketika tersadar. Dia juga harus meminta maaf kepada Alice. Dia menyesal bahwa apa yang dipikirkannya saat itu hanyalah untuk meminta maaf kepada Talia saja dengan melupakan Alice. Bagaimana pun, Alice juga seorang wanita yang tak pantas diperlakukan tidak senonoh.
Helios pun berlirih, “Maaf, Alice.”
Party Helios itu akhirnya memutuskan untuk menunda keberangkatan mereka ke lantai lima dungeon yang merupakan lantai terakhir di mana mereka akan berhadapan the last boss dungeon setidaknya sampai stamina mereka sedikit pulih.
Akan tetapi di luar harapan mereka, ada sesuatu kekuatan yang segera menarik mereka secara paksa ke lantai lima dungeon tersebut.
Jadilah dalam kondisi yang masih babak-belur itu, party Helios harus berhadapan dengan cockatrice yang saat ini berada di hadapan mereka.
Seekor monster yang berasal dari produk rekayasa genetika Milanda dengan memanfaatkan naga tingkat rendah, yang memiliki kepala dua di mana satu kepalanya mengeluarkan kabut beracun, sementara satu kepala lagi mengeluarkan listrik lewat mulutnya.
Dari lawan-lawan yang sebelumnya, jelas cockatrice jauh lebih kuat dan dikatakan bahwa makhluk tersebut adalah tunggangan yang diciptakan oleh the greatest ancient witch Milanda untuk menebarkan berbagai kekacauan di benua sepuluh ribu tahun silam.
Walau demikian, itu jelaslah bukan bahaya yang patut menggentarkan hati Helios sejak party-nya memiliki kekuatan di atas rata-rata yang akan sanggup jika hanya menghadapi seekor cockatrice yang masih digolongkan ke dalam level heroik tersebut.
Cockatrice tidaklah sekuat level legendary semisal the king of undead yang pernah dulu seketika menghancurkan prajurit Kota Painfinn, terlebih-lebih the greatest ancient witch Milanda yang berada di level mythic.
Namun kenyataannya, Helios menegang.
“Tenang saja, Yang Mulia Pangeran. Anda bersembunyi saja di belakangku. Biar aku saja yang akan mengalahkan monsternya.”
Kabut tebal yang tidak bisa dibandingkan tebalnya dengan kabut yang ada di luar dungeon membuat yang lain kecuali Albert tidak dapat melihat ekspresi gelisah Helios tersebut.
“Bukan. Bukan begitu, Albert. Ini gawat. Kita harus segera keluar dari dungeon ini.”
“Master?”
Helios tak lagi memperhatikan Albert lantas melangkah melewatinya.
Lalu Helios pun mengeluarkan jurus es maha dahsyat yang bahkan belum pernah disaksikan oleh Albert sebelumnya.
“Tsunami es.”
Dalam sekejap, kabut hilang dan cockatrice telah terbelah-belah menjadi beberapa bagian dalam kekangan es Helios.
“Ini?” Ujar Codi takjub akan kekuatan Helios yang baru saja disaksikannya. Tidak, daripada takjub, itu adalah ekspresi ketakutan berhadapan dengan kekuatan di luar logika manusia.
Tidak hanya Codi saja, baik Albert, Alice, maupun Nunu kurang lebih menampakkan ekspresi yang sama. Tetapi di luar daripada itu, Helios-lah yang justru lebih kaget.
Helios memang selama ini sengaja untuk menyembunyikan kekuatannya agar para saudaranya yang sedang bersaing memperebutkan tahta tidak waspada terhadapnya. Tetapi kekuatannya itu jauh lebih besar lagi dari yang sebelumnya. Keyakinan Helios pun bertambah bahwa memang ada yang telah berubah dari kekuatannya sejak insiden the king of undead itu entah karena sebab apa.
Namun, bukan saatnya dia memikirkan hal itu sebab sedari tadi hati Helios telah was-was karena kini koneksinya dengan semua familiarnya di luar dungeon telah terputus.
Selama ini, bahkan dengan semua ketebalan mana hutan monster ditambah kabut cockatrice, Helios setidaknya masih bisa mempertahankan beberapa koneksi yang lemah terhadap beberapa familiarnya di dunia luar. Sebanyak tiga masih bisa dia pertahankan, yakni koneksinya terhadap familiar yang mengawasi Yasmin, Damian, serta adik tercintanya, Leon.
Tetapi itu sekarang telah mutlak benar-benar hilang.
Helios pun tak dapat menahan kegelisahannya perihal sangat mengkhawatirkan keadaan Yasmin, terlebih entah tindakan bodoh apa lagi yang akan direncanakan oleh Leon di belakangnya. Dan lebih daripada itu, dia tak mampu melepaskan pikirannya dari Damian yang masih dia curigai sebagai mata-mata kekaisaran.