
Di dalam mimpi Helios tersebut, Leon tersenyum lembut menatap Helios.
“Ada apa, Kakak? Mengapa Kakak murung begitu?”
“Bagaimana bisa aku tertawa, Leon. Kau telah meninggalkan aku di dunia ini.”
“Hahahahaha. Ini mengingatkan aku di saat aku menyelinap di kereta kuda Kakek Rogue waktu itu. Kakak berekspresi benar-benar sama seperti ini ketika Kakak berpikir aku telah diculik oleh orang-orang jahat.”
Kedua saudara itu saling bertukar kata. Leon di satu sisi ingin meringankan beban di hati Helios, namun Helios di sisi lain berupaya untuk mengunci hatinya rapat-rapat agar hatinya tak terpengaruh oleh emosi yang tiada berguna.
Helios sadar benar bahwa sosok Leon yang ada di hadapannya itu tidak lebih dari sekadar perwujudan keinginan di hati terdalamnya saja yang terwujud secara tidak sengaja lewat mimpinya. Sosok Leon di mimpinya, bukanlah sosok Leon yang sebenarnya.
“Apakah ini saatnya tertawa?! Tentu saja hal itu benar-benar berbeda! Waktu itu kita hanya terpisah tempat sehingga aku bisa segera menemukanmu dengan mencarimu! Tetapi kali ini, biarpun ingin kucari, aku tak tahu di mana tempat untuk menemukan arwah orang yang sudah mati.”
Mendengar ucapan Helios yang diucapkannya secara putus asa itu, Leon seketika menatap sendu ke arah kakaknya itu. Dia pun berlutut hingga posisi matanya sejajar dengan posisi mata Helios.
“Kakak, dengar. Aku tidak suka jika kematianku ini menjadi alasan kehancuran Kakak. Perihal setelah ini, masih akan ada banyak aral rintangan yang harus Kakak hadapi di dunia yang kejam ini. Jadi, aku ingin agar justru dengan kematianku ini, Kakak bisa menjadi lebih kuat. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.”
“Leon.”
Helios sejenak berpikir bahwa apakah itu memang keinginan Leon yang nyata. Namun, seketika dia teringat, ‘Ah, ini pasti adalah keinginanku di alam bawah sadarku.’
Helios lantas hanya menatap Leon, menunggu apa yang akan dikatakan oleh adiknya itu selanjutnya di dalam mimpinya.
“Aku ingin Kakak tumbuh menjadi kuat agar sanggup mendukung Kak Tius mewujudkan pemerintahan negara yang bersih. Aku ingin Kakak mendukung Kak Tius dalam menjatuhkan semua bangsawan korup yang sudah aku kumpulkan menjadi satu di faksiku. Sebenarnya, aku ingin melakukannya sendiri, tetapi apalah daya, aku tampaknya harus mengecewakan Kak Tius karena aku pada akhirnya tidak bisa menyelesaikan rencana kami ini perihal harus meninggal.”
“Apa yang…” Helios terperangah tanpa bisa banyak bicara. Walau demikian, Leon tetap melanjutkan ucapannya.
“Sebenarnya aku tidak pernah berniat sekalipun merebut tahta. Ini semua hanya rencanaku bersama Kak Tius saja untuk menjatuhkan sekaligus para bangsawan korup ketika tiba masanya.”
“Ah, tapi Kakak harus ingat bahwa keluarga Maxwell harus dikecualikan ya. Paman Aloquince memang sedikit culas, tetapi Keluarga Maxwell sendiri adalah keluarga yang baik, sesuai harapan dari keluarga dari Kakek Rogue. Dia hanya tidak beruntung mempunyai pewaris utama yang buruk. Ah, tapi Paman Alcus sendiri, anak kedua dari Kakek Rogue adalah orang yang berhati jujur. Dia juga bersahabat baik dengan Baron Losso, kepala akademi ksatria.”
“Terus yang selanjutnya, dengan bekerjasama bersama Kak Tius, aku harap Kakak mampu menekan pengaruh kuil suci. Mereka itu jelas sudah melenceng dari ajaran ketuhanan yang seharusnya. Mereka yang selalu meneriakkan bidat adalah arti bidat itu sendiri. Berkatnya, kita telah benar-benar jauh dari Tuhan kita yang seharusnya. Apa-apaan itu kita menyembah api yang bahkan bisa dengan mudah dipadamkan lewat air.”
“Dengan itu, aku berharap hidup Kakak bisa kembali bahagia setelah lepas dari jeratan penindasan kuil suci.”
“Leon, apa yang kamu bicarakan?”
Jelas Helios kebingungan.
Jika Leon yang ada di hadapannya benar-benar adalah penggambaran dari image sesuai ingatan Helios, maka tentu saja batas pengetahuannya adalah sebatas apa yang Helios ketahui pula.
Tetapi jelas-jelas bahwa apa yang disampaikan oleh Leon barusan adalah informasi baru yang juga sama sekali tak diketahui oleh Helios. Ataukah itu hanya sekadar harapan Helios dalam hati saja secara tidak sadar?
Tidak. Jelas jikalau demikian, Helios malah akan bertambah kesal karena itu berarti secara tidak sadar, dialah yang menginginkan adiknya itu berkorban secara kejam demi kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaan semua orang.
Dan jikalau saja informasi itu entah secara kebetulan benar di mana Helios mengetahuinya secara tak sadar, rasa amarahnya justru hanya akan dialihkan kepada Tius saja yang bisa-bisanya memanfaatkan adik laki-laki bungsu mereka itu secara kejam tanpa memperhatikan dampak yang akan disebabkan bagi masa depan Leon.
Tidak. Itu jelas-jelas salah. Helios berpikir bahwa ini hanyalah semacam mimpi buruk yang bahkan tak memiliki maksud dan tujuan apa-apa. Jika dipikirkan lagi, jika hal itu benar-benar terjadi, maka itu adalah suatu mimpi buruk bagi Helios yang sama saja dia menyaksikan pengorbanan adik laki-laki bungsunya itu di mana selama ini Helios hidup dalam ketidaktahuan.
“Yah, ini tidak nyata. Palingan ini hanya bagian mimpi buruk.”
“Hehehehehehe. Itu benar, Kak. Ini memang mimpi buruk karena hanya inilah satu-satunya cara aku bisa berkomunikasi dengan Kakak. Tapi apa yang aku katakan semuanya itu benar lho. Harap nanti konfirmasikan sendiri dengan Kak Tius.”
Sembari mengatakan hal tersebut, wujud Leon di dalam mimpi Helios semakin transparan.
“Ah, maaf, Kak . Tidak banyak waktu lagi. aku langsung ke intinya saja. Sebagai informasi terakhir, aku ingin Kakak berhati-hati dengan sekeliling Kakak karena ada satu pengkhianat yang tinggal di sisi Kakak. Dialah orang yang telah membunuhku.”
“Sebenarnya aku ingin mengatakan orangnya secara langsung, tetapi itu akan melanggar konsep mimpi buruk ini sendiri. Tetapi aku yakin, walaupun tanpa kuberitahu, dengan kecerdasan Kakak, Kakak pasti akan segera menemukan pelakunya sendiri. Benar kan, Kak?”
Leon sekali lagi tersenyum kepada Helios. Namun, informasi itu terlalu mengagetkan buat Helios sehingga dia hanya dapat mematung ternganga di hadapan Leon yang memberitahukan informasi tersebut.
Lambat laun, keberadaan Leon pun mulai menghilang.
“Ah, Leon!”
“Jaga diri Kakak ya. Karena kini tidak ada lagi aku yang bisa melindungi Kakak dan Kak Tius itu orangnya cuekan, maka kini Kakak yang harus melindungi diri Kakak sendiri. Dan juga, tolong lindungi Ilene sekalian menggantikanku ya, Kak.”
“Tidak, Leon! Jangan pergi dulu!”
Helios ingin menggapai sosok Leon yang mulai redup itu. Akan tetapi, dia gagal menggapainya karena Leon keburu tertelan duluan kembali ke dalam kegelapan.
“Leon!”
Sembari meneriakkan nama Leon tersebut, Helios terbangun dari tidurnya.
Helios sejenak keheranan karena sejak umur 7 tahun di mana kekuatan sihirnya menjadi semakin besar, dia hampir tidak pernah merasakan yang namanya tidur lagi. Namun kali ini, tidur Helios benar-benar nyenyak.
Di saat terbangun, Helios segera menyadari penyebabnya. Rupanya, telah ada sihir hitam yang melingkupinya. Aliran mana sihir hitam itu sendiri benar-benar redup, tampak disembunyikan dengan baik. Namun berkat kesensitifan indera Helios dalam merasakan mana, Helios tetap mampu menyadarinya.
Di situlah Helios tersadar, dia benar-benar telah sangat melemahkan penjagaan dirinya sehingga sihir hitam itu bisa merasuk ke tubuhnya lantas membuatnya tertidur lalu bermimpi buruk.
Tetapi sejenak kemudian, Helios kembali berpikir bahwa apakah itu benar-benar mimpi buruk? Dari pertanda sisa-sisa aliran mana sihir hitam, memang tidak salah lagi bahwa ada seseorang atau suatu makhluk yang hendak mencelakai Helios dengan mimpi buruk.
Namun, untuk dikatakan sebagai mimpi buruk, entah mengapa perasaan Helios ketika melaluinya justru menjadi lebih lega. Beban pikiran yang dulu menumpuk di kepalanya perihal kematian Leon, kini perlahan mulai reda.
Tetapi itu bukan saatnya Helios memikirkan semua itu. Saking dia terlarut dalam tidurnya, dia sampai melupakan bahwa Leon yang hendak dipeluknya di dalam mimpi tersebut telah berubah menjadi sosok lain di dunia nyata.
Helios terbangun sembari memeluk seseorang yang ada di hadapannya saat ini. Dialah sang tunangan Helios, Talia, yang kini dengan muka yang memerah di dalam pelukan Helios.
***
Di suatu tempat tidak jauh di mana posisi Helios berada, nampak seorang pemuda yang mukanya tersembunyi oleh sisik-sisik yang menyeramkan bersama dengan seorang nenek-nenek bungkuk yang tidak kalah menyeramkannya pula.
Sosok nenek-nenek itu tidak lain adalah Shipton, sang witch urutan keempat dari the great five witch, anak buah langsung sang raja iblis, sang witch mimpi buruk Shipton.
“Hei, anak muda, apakah ini sudah cukup? Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat agar orang itu tidak menyadari siapa pemberi sihir hitamnya, tetapi tampaknya dia masih bisa menyadari aliran mana-ku yang padahal sisa sangat sedikit itu.”
“Tidak apa-apa. Itu telah cukup untuk membuatnya meragukannya. Dengan demikian, dia pasti akan mencari tahu sendiri kebenaran yang sesungguhnya biarpun informasi itu datang dari tempat mencurigakan sekalipun. Bagaimana pun, jika apa yang dikatakan Nyonya Isis benar, aku tak ingin Baal memperoleh apa yang dia inginkan.”
“Tapi akankah kamu bersedia menjadi anjing peliharaan Nyonya Isis hanya dengan hadiah itu? Begitu kamu menjadi anjing peliharaannya, baik kehendak maupun kesadaran kamu akan mutlak dikuasainya. Kamu hanya akan menjadi seperti boneka bernafas saja.”
“Tidak masalah, jika itu untuk orang yang berharga bagiku, maka pengorbanan itu sepadan. Lagian, sisa bagianku yang tak sempat kupenuhi akan dilakukan dengan baik oleh orang itu. Tapi tak kuduga Anda mengkhawatirkan aku. Anda benar-benar sangat berbeda dengan para saudari Anda yang lain.”
“Aku mengatakan ini bukan karena mengkhawatirkanmu. Aku hanya tidak bisa menahan kekesalanku melihat manusia bodoh sepertimu selalu mampu terjerat rayuan witch sepertinya. Ya sudah, ayo kita kembali saja. Lagipula aku sudah memenuhi keinginanmu.”
“Sesuai keinginan Anda, Nona.”
Sejenak kemudian, kedua sosok menyeramkan itu, tak terlihat lagi di mana pun.